Akhir Cinta Shira

Akhir Cinta Shira
Si Bos


__ADS_3

Malam semakin larut, hujan disertai angin tak kunjung berhenti. Di depan kantor Shira masih sibuk dengan aplikasi ojeknya. Rasanya seperti ingin menangis, karena beberapa kali ia memesan ojek,driver tidak ditemukan. Mungkin karena hujan yang begitu mencekam, para driver online mematikan aplikasinya. Ia terlihat begitu resah. Dan ia baru sadar belum memberi kabar pada bapak ibunya. Tanpa pikir panjang ia langsung menelpon bapaknya.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam, Shira. Kamu dimana Nak?" Jawab ibunya dari ujung telpon.


"Masih di kantor bu, ini masih nunggu ojek, bapak ibu gak perlu khawatir."


"Apa bapak aja yang jemput?"


"Gak usah bu, ini bentar lagi ojeknya juga datang"


"Ya udah, hati hati ya Nak."


"Ya bu, wassalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam Nak."


Sesekali Shira melihat jam di tangannya, sudah jam 20:30.


"Ya Allah...kapan hujan akan berhenti" gumam Shira.


"Mbak, nunggu jemputan...?" sapa laki laki yang baru saja keluar.


"Iya mas, nunggu ojek."


"Ooh...Mbak di divisi apa?"


"Divisi keuangan mas."


"Kok jam segini baru pulang?"


"Iya mas, kemarin sempat gak masuk beberapa hari jadi agak keteteran kerjaannya" Shira cengengesan.


"Mas sendiri di divisi apa?"


"Marketing. Nama mbak siapa? Aku Lucki" Laki laki itu mengulurkan tangannya untuk mengajaknya berkenalan.


"Saya Shira mas." Shira pun menjabatnya. Tapi tangan Shira tak kunjung dilepaskan. Ia pun langsung menarik paksa tangannya.


Tiiiiiiiiinnnnn.... Ansel yang menyaksikan dari jauh mereka sedari tadi dari mobil tiba tiba menghampiri mereka dan membunyikan klakson mobilnya... Ia membuka jendela dan menyuruh Shira untuk masuk ke mobilnya.


"Shira....Masuk!!" Teriak Ansel.


"Eh, iiiya Pak.." Karena sudah larut malam dan hujan tak kunjung berhenti Shira terpaksa menghampiri mobil Ansel dan masuk di kursi belakang.


"Pindah depan!"


Dengan lemas Shira pindah duduk di depan. Lalu Ansel mulai menjalankan mobilnya.


"Ini sudah malam, kenapa masih di situ?" Dengan nada keras Ansel bertanya.


"Gak ada ojek pak." Jawab Shira tertunduk lemas.


"Pakai jaketnya." Ansel menyodorkan jaket miliknya, karena ia melihat Shira seperti kedinginan.


"Gak usah pak, terimakasih" Shira menolaknya. Ansel lalu menepikan mobilnya dan tiba tiba berhenti.


"Pakai jaketnya atau mobilnya gak akan jalan." gertak Ansel.


"Iya pak." Shira langsung memakai jaketnya. Dan mobil mulai berjalan kembali.


"Maaf pak, apa nanti ini gak ada yang marah?" tanya Shira ragu ragu.


"Siapa yang akan marah memangnya?"


"Istri bapak. Saya takut pak." Shira masih mengingat kejadian di pesta malam itu.


"hmmm" hanya jawaban itu ia dapat.

__ADS_1


"Loh pak, ini mau kemana? Rumah saya arahnya lurus." Shira kebingungan, dia menoleh kebelakang celingukan.


"Bapak, ini mau kemana?" Ia kembali bertanya. Namun mobil tiba tiba masuk di area restoran dan berhenti.


"Kamu belum makan kan? sekarang turun, kita makan dulu."


Dengan muka malas, Shira keluar mobil dan mengikuti bosnya.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya. Selamat datang di restoran kami. Ada yang bisa saya bantu." Dengan sopan pelayan menyambut mereka.


"Ya, saya ingin makan malam untuk dua orang."


"Baik Tuan, silahkan ikuti saya" Pelayan ini mencarikan tempat duduk kosong untuk mereka berdua.


"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya."


"Terimakasih. Bisakah saya lihat daftar menunya?"


"Ini Tuan daftar menunya."


"Saya pesan corn chowder dan avocado juice"


"Saya sama kayak bapak aja."


"Baik, jadi dua corn chowder dan dua avocado juice . Mohon ditunggu Tuan Nyonya, kami akan segera menyiapkan pesanannya." Lalu pelayan itu berlalu. Shira masih tidak bisa berkata kata.


"Sudah tidak apa apa lukamu?" Ansel memulai percakapan.


"Sudah gak apa apa pak, tinggal ngilangin bekasnya saja."


"Besok saya carikan obat buat penghilang bekas luka."


"Gak usah pak, ini besok juga hilang sendiri."


"Biar cepat hilangnya, jadi gak perlu ditutup tutupi lagi."


"Permisi,,ini pesanan Tuan dan Nyonya." Pelayan memotong pembicaraan mereka berdua dan menghidangkan menu yang dipesan mereka.


"Selesaikan makanmu, setelah ini saya antar pulang"


Shira hanya mengangguk. Ia mulai resah karena malam semakin larut. Bapak ibunya mungkin sudah mulai khawatir menunggu kepulangannya.


"Kenapa?" Tanya pak Ansel.


"Gak kenapa kenapa-kenapa pak, cuma...."


"Saya tadi sudah menelpon ibu kamu, kalau pulang agak terlambat dan saya yang akan mengantarkan kamu pulang, dan ibu kamu berucap syukur."


"Serius pak?" Shira terlihat kegirangan sampai tanpa sadar ia menggenggam tangan Ansel. Ansel hanya mengangguk dan tersenyum.


Upzzz....Shira tersadar. "Maaf pak, gak sengaja..." Ia lalu melepaskan genggaman tangannya mengusap usap tangan yang ia pegang seperti membersihkan debu.


"Ini tangan halus banget ...hehehe ...makhlum lah, belum pernah megang cucian, anak sultan gitu..." batin Shira sambil cengar-cengir.


"Kenapa kamu cengar-cengir gitu?"


"Hehehe...gak apa apa pak, tangan bapak kayak habis disetrika..." Shira kembali cekikikan.


"Dasar aneh..." Pak Ansel menoyor jidat Shira.


"Eh, bapak saya aja belum pernah noyor saya lho pak, bapak malah berani noyor saya"


"Mau lagi...?"


Shira hanya geleng geleng. Rasa humorisnya sudah kembali, setelah tau bapak ibunya gak akan khawatir kalau ia pulang larut.


"Mau nambah makannya?"


"Boleh pak? dibungkus buat satu RT ya pak..."

__ADS_1


"Boleh... pesan aja... tapi bayar sendiri!"


"hmmm...."


"Udah Ra makannya?"


"Udah pak."


"Ok. Kalau begitu kita pulang sekarang." Tak lupa Ansel meminta bill dan membayarnya. Lalu mereka kembali ke mobil. Perjalanan mereka masih diiringi hujan lebat.


"Besok kamu ada acara?" Kebetulan besok adalah akhir pekan. Hari libur ....


"Ada pak, kenapa? Mau nyuruh saya lembur?"


"Acara kemana?"


"Ya biasalah pak, anak muda... mau ngerefresh otak, kerja terus butuh piknik ini pak."


"Ada yang ngajak ketemuan tuh ..." goda Ansel.


"Siapa pak?"


"Rama."


Twiiing.... Shira langsung mencari ponsel di tasnya. Sejak dikembalikan tadi, ia belum sempat membuka pesan. Jarinya langsung saja berselancar di layar ponsel miliknya. Ansel hanya geleng geleng melihat tingkah Shira.


"iiiiih .... bapak sengaja ya buka pesannya?" Shira langsung mengernyitkan dahinya, dan melototi pria di sebelahnya.


"Penasaran saja sama obrolan anak jaman now...hahaha...."


"Cih....itu mah bapak bukan penasaran tapi kepo..."


"Cowok kamu emang tinggal dimana?"


"Cowok yang mana pak?"


"Emang cowok kamu ada berapa?"


"Enaknya berapa ya pak? hehehehe."


"Rama itu bukan cowok saya pak ... tepatnya mantan."


"Oohhh...jadi pernah juga jagain jodohnya orang..."


"Bapak apaan sih..."


Obrolan mereka terhenti karena mobil sudah berhenti di halaman rumah Shira.


Bapak dan Ibunya sudah menunggu kedatangan mereka. Ibu Shira langsung mendekati mobil membawa payung menyambut anaknya.


"Terimakasih ya pak, sudah jauh jauh nganterin saya. Kapan kapan lagi ya pak, malam pak." Boro boro disuruh mampir buat ngopi malah ngelunjak ini...


"Saya pamit dulu bu, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam...".


Ansel hanya membunyikan klakson dan menunduk ketika berpamitan dengan Pak Beni.


"Shira, kenapa pulangnya sampai jam segini?"


"Gak ada ojek bu, mungkin karena hujannya pakai angin, jadi gak ada yang berani narik."


"Bapak belum tidur?" Sapa Shira yang melihat muka garangnya bapaknya.


"Belum, bapak nungguin kamu. Kenapa tadi gak minta jemput saja sama bapak?"


"Shira gak tega pak, hujannya kayak gitu...takut bapak kenapa-kenapa."


"Iya, enakan pakai mobil bos ya...Panas gak kepanasan, hujan gak kehujanan.!"

__ADS_1


"Tenang aja, besok Shira beliin mobil bapak.hehehe..."


__ADS_2