Akhir Cinta Shira

Akhir Cinta Shira
Kembali


__ADS_3

Jam 11 malam mereka sampai dikediaman keluarga Shira. Rumah yang biasanya gelap setelah jam 10 malam kini masih terang.


"Assalamu'alaikum...." ucap Ansel sambil mengetok pintu.


"Wassalamu'alaikum..." terdengar jawaban dari Bu Maya sambil membuka pintu.


"Shira...,kamu gak apa apa nak? kamu baik-baik saja? tidak ada yang luka?" Bu Maya langsung memegang pipi Shira dengan kedua tangannya,dia begitu khawatir dengan keadaan Shira. Memastikan anaknya tidak terluka sedikitpun, ia menciumi pipi Shira seakan-akan lama tak berjumpa.


"Shira gak apa apa apa bu, Shira baik baik saja" Shira memeluk ibunya, lukanya sengaja ia tutupi dengan rambutnya. Shira tak ingin ibunya khawatir.


"Silahkan masuk dulu Nak...!" ibu Maya mempersilahkan Ansel untuk masuk dan pergi ke dapur membuatkan minuman untuk mereka.


"Terimakasih bu..." Ansel langsung masuk dan duduk di sofa. Dia melihat pigura yang terpasang di tembok, banyak foto foto masa kecil shira yang penuh dengan senyum. Dia bisa menebak bahwa Shira adalah anak tunggal di keluarga ini, terlihat banyak foto keluarga tapi hanya ada Shira ditengah tengah antara Pak Beni dan Bu Maya.


Tiba tiba Pak Beni masuk ke ruang tamu, terlihat Pak Beni begitu sangat marah, ia mengepalkan tangannya dan mendekati Ansel.


"KAU APAKAN PUTRIKU?" Satu pukulan mendarat di pelipis Ansel. Ansel hanya bisa menerimanya tak ada sedikit rasa ingin menepis atau membalas pukulan itu,karena rasa bersalahnya.Dia hanya bisa duduk terdiam, menerima kemarahan Pak Beni karena ulah Vara.


"Ayah, dia tidak bersalah..! Dia sudah menolong Shira...!" Shira mencoba meredam amarah ayahnya, ia memeluk ayahnya sambil menangis.


"Maafkan saya Pak, sudah membuat ibu dan bapak khawatir.." Ucap Ansel dengan tenang seraya menunduk.


"Ini memang kesalahan saya, bapak boleh marah, silahkan bapak pukul saya, jika itu membuat bapak merasa puas dan mampu memaafkan saya"


"Kemana kau bawa putriku?" masih dengan nada amarah Pak Beni. Pak Beni sebenarnya masih ingin menghajar Ansel, tapi tangannya sudah ditahan oleh Shira.

__ADS_1


"Ayah....Shira gak apa-apa, ia tidak bersalah, ayah harus percaya sama Shira" Shira memegang tangan ayahnya dan membawanya untuk duduk.


"Sudah pak...yang penting sekarang anak kita sudah berada di rumah, dia baik-baik saja."


Bu Maya coba ikut membujuk Pak Beni agar meredam amarahnya.


"Monggo Nak, silahkan diminum dulu tehnya."


"Ya bu,terimakasih" Ansel langsung meraih secangkir teh dan meneguknya.


"Pak,Bu, saya mohon maaf yang sebesar besarnya atas kejadian yang menimpa putri bapak dan ibu. Itu semua diluar kendali saya. Saya akan bertanggungjawab dengan apa yang terjadi dengan Shira kemarin".


"Dimana wanita gila yang membawa putriku itu?


"Sampai terjadi apa-apa sama Shira, akan ku bunuh kau" Gertak Pak Beni dan pergi meninggalkan mereka.


"Buat ibu yang penting Shira baik-baik saja Nak, itu sudah lebih dari cukup dan maaf atas kelakuan bapak tadi,bapak memang seperti itu kalau sedang marah."


"Sekali lagi saya mohon maaf bu sudah membuat bapak dan ibu khawatir, saya juga tidak tahu kalau akan ada kejadian seperti ini yang menimpa putri ibu, tapi saya pastikan saya akan benar-benar akan bertanggungjawab jika terjadi apa-apa dengan putri ibu".


"Baiklah bu, ini mungkin sudah larut malam saya pamit dulu, besok saya akan kembali kemari dan ini kartu nama saya, ibu bisa menghubungi kapan saja,atau mencari saya di alamat ini" Ansel memberikan kartu namanya pada bu Maya.


"Hati-hati Nak dijalan, ini sudah larut malam"


"Shira...maaf atas perbuatan Vara kemarin, besok kamu tidak usah berangkat kerja dulu sampai kamu benar-benar yakin untuk kembali kerja, besok saya akan mengunjungimu lagi, saya pulang dulu". Ansel menjabat tangan Shira dan ibu Maya,mengucapkan salam dan bergegas pergi meninggalkan rumah kediaman keluarga Shira. Ia melajukan mobil mewahnya dengan cukup kencang karena memang jalanan sudah sangat sepi.

__ADS_1


"Shira, kamu istirahat dulu gih, kamu terlihat sangat lelah, besok pagi saja kamu cerita ke ibu"


Shira mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur menatap langit-langit kamarnya mengingat kembali kejadian yang menimpanya. Ia juga tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Di hatinya ada rasa kasihan kepada Ansel yang sekarang ini menjadi bos di tempat kerjanya. Ia membayangkan perasaan Ansel yang sedang hancur atas kematian ibunya yang didalangi oleh calon istrinya.


ANSEL POV


Ansel mengendari mobilnya dengan cukup kencang, tapi berlawanan arah dengan arah jalan kerumahnya. Ternyata dia menuju sebuah bar, dan memarkirkan mobilnya disebuah bar yang sering ia kunjungi dulu.


"Tumben Sel, lu ngajak janjian sama gue disini, lagi ada masalah?" Tanya laki-laki yang baru saja datang menghampiri Ansel, menyerobot minuman yang dipegang Ansel dan menenggaknya sampai habis. Laki-laki ini adalah teman kuliahnya dulu, Ferdian namanya, sudah lama mereka tidak bertemu sejak Ansel memutuskan untuk bertunangan dengan Vara dan meninggalkan dunia malam.


"Lu tau gak Fer, ternyata Vara pembunuh nyokap gue..."


"Serius lu??" Ferdian kaget begitu mendengar pembunuh nyokap temennya ini adalah tunangannya. Dia gak habis pikir, Vara yang kelihatan sangat menyayangi Ansel tega menghabisi nyawa ibunya. Dia sangat prihatin melihat kondisi Ansel saat ini. Ansel yang sudah lama meninggalkan dunia malam,meninggalkan minuman keras kini kembali lagi.


"Rasanya kepalaku mau pecah memikirkan hal ini." Ansel terus saja menenggak minuman setan itu, sampai telah menghabiskan 2 botol.


"Pantes aja lu tumben dateng kesini. Gimana ceritanya calon bini lu bisa membunuh nyokap lu?"


"Gue juga belum begitu jelas, karena gue belum dapat keterangan dari polisi".


"Jadi Vara sudah dibawa ke kantor polisi?"


"hmmm"..Ansel hanya mengangguk, ia lalu menaruh kepalanya dimeja, ia memainkan bibir gelas minumannya dengan jarinya,ia sepertinya sudah mulai mabuk dan Ferdian membiarkannya. Ferdian hanya menemani dan ia tak ingin mabuk, takut Ansel membuat ulah di bar. Sampai akhirnya jam 3 pagi Ansel sudah mabuk berat, ia benar-benar sudah tidak kuat mengangkat kepalanya. Akhirnya Ferdian memutuskan untuk mengantarkan Ansel pulang.


Di rumah besar ini Ansel hanya tinggal seorang diri, hanya ada dua assisten rumah tangga yang datang ketika pagi dan pulang pada jam 8 malam. Rumah ini terasa sangat sepi apalagi Ansel yang kemarin-kemarin jarang di rumah karena harus keluar kota.

__ADS_1


__ADS_2