Akhir Cinta Shira

Akhir Cinta Shira
Di Tepi Danau


__ADS_3

Ansel terbangun menjelang subuh. ia membuka matanya melihat gadis yang masih tidur dalam pelukannya. Ia membaringkan wanita itu perlahan agar tidak membangunkannya. Ia menatap lekat wajah gadis itu, ia mengusap lembut rambutnya, ia melihat darah di bajunya yang telah mengering karena ulah Vara.


"Kasihan gadis ini, pasti kamu sangat ketakutan..." Gumam Ansel dalam hati. Lalu ia meninggalkan gadis itu, dan menemui Vara


"Vara,, bangunlah..." bisik Ansel di telinga Vara...sambil mengusap rambutnya. Vara pun langsung membuka matanya, dan duduk bersandar....


" Bangun dan mandilah...Saya akan menyuruh mang Ujang buat menyiapakan sarapan" Vara bergegas turun dari tempat tidur menuju kamar mandi...


"Mang Ujang....!"


"Iya den,.." Mang Ujang buru buru keluar kamar dan mendekati Ansel. "Kunaon atu den?"


"Mang ujang, tolong belikan makanan untuk sarapan ya...." Ansel mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar dan menyerahkan pada Mang Ujang. Mang Ujang menerima uangnya dan bergegas pergi mengendarai motornya. Warung makan agak jauh, karena rumah ini berada di jalan pegunungan yang jauh dari keramaian.


"Ansel..." Vara sudah berada di belakang memeluk Ansel yang sedang berdiri di balkon. Ansel langsung memegang tangannya dan membalikkan badannya agar bisa berhadapan dengan Vara.


"Vara...sebenarnya apa yang telah kamu lakukan, sehingga polisi mau menahanmu... Aku tau kamu pasti menyembunyikan sesuatu dari aku, kalau tidak kamu tidak akan menjadikan gadis itu sebagai tawanan agar polisi tak membawamu.." tanya Ansel lembut, seraya memegang pipi Vara.


"Maafkan aku An...." Vara langsung menangis memeluk Ansel dan membenamkan wajahnya di dada Ansel.


"Katakan padaku, apa yang telah kamu lakukan ..."


"Maafkan aku... lebih baik kamu bunuh aku sekarang" sambil terus menangis Vara memegang kedua telapak tangan Ansel dan menuntun agar memegang leher Vara dan mencekiknya...


"Sebenarnya apa yang kamu lakukan, hingga kamu seperti ini... cerita padaku....?" Ansel mulai tak sabar, ia memegang pipi Vara dengan kuat dan menghempaskannya. Ansel benar benar ingin tau sendiri dari mulut Vara, sebelum Vara dijemput polisi pagi ini seperti yang telah ia sepakati tadi malam kepada pihak kepolisian.

__ADS_1


"Katakan!!" Ansel mulai berteriak karena Vara masih tidak mau mengakui, tapi Vara masih saja diam membisu ia hanya bisa menangis. ia bersimpuh dan memegang kaki Ansel seraya memohon maaf... Ansel semakin bingung dan marah.


"Ooh...Tuhan....sebenarnya apa yang telah wanita ini perbuat...mengapa jadi seperti ini" gumam Ansel dalam hati.


Tiba tiba Mang Ujang datang membawa bungkusan tas kresek, nafanya agak terengah engah, mungkin karena dia berlari naik ke balkon.


"A...a..ada yang nyariin Aden...!"ucap mang ujang terbata. Belum sempat Ansel menjawab di belakang Mang Ujang sudah ada dua orang yang berdiri dan dua orang berlari mendekati menahan Vara. Tak lain mereka adalah anggota kepolisian. Vara berusaha melepaskan diri dari cekalan polisi, tapi akhirnya mereka bisa memborgol Vara.


Vara sudah tidak bisa berkata apa apa, dia terus menangis meminta tolong pada Ansel agar membebaskannya. Ansel tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa melihat calon istrinya berlalu dibawa oleh pihak yang berwajib.


"Pak Ansel...Maaf kami harus menahan Nona Vara karena kasus pembunuhan ibu Pak Ansel tahun lalu, kami menemukan bukti yang kuat seminggu yang lalu bahwa Nona Vara terlibat pembunuhan ibu Pak Ansel .." Ucapan polisi tersebut bagai sambaran petir di telinga Ansel. Dia terdiam, tak percaya...tapi inilah kenyataan yang harus ia hadapi, bahwa calon istrinyalah dibalik kematian ibunya.


"Pak Ansel bisa datang ke kantor polisi lusa, untuk tau lebih jelasnya..., sekarang kami mohon diri...!" Ansel hanya bisa mengangguk dan menjatuhkan tubuhnya di kursi, sepertinya dia syok mendengar kenyataan yang sebenarnya. Polisi itu pun lalu meninggalkan rumah ini.


"Aden yang sabar ya...," Ucap mang Ujang sambil menyodorkan segelas air putih pada Ansel. Ansel sering membawa Vara ke rumah ini, jadi Mang Ujang tau hubungan antara majikannya dengan Vara.


"Maaf...aku mengagetkanmu...Kamu sudah mandi? Sekarang kita makan yuk...!" Shira hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Ansel.


Di meja makan sudah terhidang makanan. "Ayo duduk" Ansel menyeret kursi untuk Shira dan mempersilahkan duduk. Ansel lalu duduk di samping kanan Shira. Shira hanya diam. tanpa pikir panjang Ansel lalu mengambilkan nasi,sayur dan lauk lalu menyodorkan di depan Shira. "Makanlah..., agar perut kamu tidak kosong" Shira mengangguk. Sepertinya Shira masih enggan untuk mengeluarkan suaranya.


Shira tak menghabiskan makanannya, sementara piring Ansel telah kosong. Ansel menyodorkan segelas minuman pada Shira. Shira langsung meneguk habis.


"Aku Ansel, boleh tau nama kamu?" tanya Ansel memulai pembicaraan setelah selesai makan.


"Aku Shira mas..." Jawab Shira lirih.

__ADS_1


"Aku sudah menghubungi keluargamu memberi kabar pada mereka bahwa kamu baik baik saja agar mereka tidak khawatir" ucap Ansel supaya mengurangi sedikit beban pikiran Shira


"Iya mas...terima kasih..."


"Mas, bisa anterin aku pulang sekarang...aku ingin pulang...aku takut..." Rengek Shira.


"Hmmm....aku akan mengantarmu pulang nanti, sekarang aku obati dulu lukamu" Ansel mengambil kotak P3K dan mengeluarkan botol alkohol lalu menuang alkohol itu pada sepotong kapas. "Sini aku obati lukamu.." Ansel lalu menyibak rambut Shira lalu mengusap usapkan kapas pada leher Shira yang terluka sambil meniupnya agar mengurangi rasa sakit.


"Aaaww,,,sakit mas....pelan pelan..." teriak Shira spontan menoleh Ansel sambil memegang menahan tangan Ansel... Mereka akhirnya bertatapan dengan jarak yang dekat. Sejenak mereka bertatapan,...akhirnya Ansel tersadar.... "Maaf" Ansel memalingkan mukanya, sementara Shira mukanya memerah... Jantung mereka sama sama berdebar lebih kencang, terasa panas dingin karena salah tingkah.


"Bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang" Ansel mencoba menghilangkan rasa canggungnya.


"Hmmm" Shira mengangguk.


Mereka telah bersiap untuk pulang. Tak butuh waktu untuk berkemas,karena mereka datang tanpa membawa apa apa. Shira langsung membuka pintu mobil belakang dan masuk. "Duduklah di depan, kalau kau di belakang aku jadi seperti sopir pribadi untukmu..." Ansel menyuruhnya untuk pindah tempat duduk di sampingnya.


"Istri mas Ansel dimana?" tanya Shira.


"Dia sudah kembali..." Jawab Ansel singkat. Lalu Shira pindah tempat duduk dan Ansel mulai melajukan mobilnya. Di tengah perjalanan Ansel menghentikan mobilnya di dekat sebuah danau yang indah di kelilingi pepohonan, airnya sangat jernih...disekelilingnya hamparan rumput yang hijau...


"Turunlah...! temani aku di sini sebentar..." dengan raut wajah yang tiba tiba murung, Ansel meminta Shira untuk menemaninya. Ansel langsung duduk di hamparan rumput di tepi danau, ia mengambil batu dan melemparkan ke danau. Shira pun ikut duduk disampingnya... Suasana begitu sepi.


Di wajah Ansel, laki laki yang berusia 30th ini terlihat memikul beban yang sangat besar....rasa kecewa yang begitu mendalam...pandangannya terkadang juga tampak kosong bahkan selama di danau ia hanya diam selama beberapa jam di sana, tidak seperti sebelumnya yang tampak begitu perhatian.


"Apa yang sudah kamu lakukakan terhadap mamaku!!!" Tiba tiba Ansel menerkam Shira, Shira terjatuh dan kepalan tangannya mendarat tepat di sisi kiri wajah Shira. Shira memalingkan wajahnya, ia menangis... Sesaat Ansel tersadar, dia langsung menjatuhkan diri di sebelah Shira, menutup matanya dengan kedua tangannya.... "Apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku masih saja membuat gadis ini ketakutan..."

__ADS_1


Shira duduk melipat kakinya, menangis membenamkan wajahnya di lutut dan di tutupi dengan tangannya.


"Maafkan aku..." Ansel meraih kepala Shira, membawanya ke dalam pelukannya,menyeka air matanya dengan jarinya... "Maaf...." beberapa kali mencium kening Shira dan mengelus rambutnya tapi Shira masih saja terisak membenamkan wajahnya di dada Ansel...


__ADS_2