
Karena mabuk semalam, Ansel bangun dengan kepala berat, mata enggan terbuka padahal jam sudah menunjukkan jam 12 siang. Ia bergegas bangun dan menyuruh asisten rumah tangganya untuk membuatkan sup.
"Mbok Nah,..." Panggil Ansel kepada salah satu ARTnya.
Ansel biasa memanggil mbok Nah, Tonah nama panjangnya ia berasal dari jogja umurnya sekitar 50th, mbok Nah lah yang mengurus Ansel dari ia masih bayi hingga sekarang. Ia yang menyiapkan segala keperluan tuan mudanya. Sementara Pak Basuki suami mbok Tonah yang membersihkan rumah dan taman.
"Ya Mas ..." sahut mbok Nah seraya mendekati tuannya.
"Mbok tolong buatkan saya sup hangat, dan bersihkan kamar saya, buang semua foto Vara yang ada di kamar!" perintah Ansel pada mbok Nah.
"Tapi...kenapa dibuang mas?"
"Lakukan saja apa yang saya suruh, jangan banyak tanya" bentak Ansel
Mbok Nah kaget dengan perlakuan Ansel pada konya kali ini. Tak sekalipun sejak ia dewasa berani membentak Mbok Nah.
"I...ii...iya mas.." mbok Nah bergegas pergi ke dapur meninggalkan Ansel. mbok Nah masih bingung dengan perlakuan Ansel.
"Kenapa dengan mas Ansel ya? Bukannya harusnya dia bahagia dengan pernikahannya dengan non Vara? Kenapa malah suruh membuang semua foto non Vara? Sebenarnya apa yang terjadi" pikir mbok nah.
"haiz...mbuh...luwehlah...aku ning kene yo gur kerjo..." gerutu mbok Nah.
("haiz...taulah...terserah...aku disini hanya kerja...")
Setelah Ansel mandi, dia menunggu mbok Nah menghidangkan sup yang ia minta di meja makan.
"Mbok Naaah....kenapa lama sekali...?? teriak Ansel.
"Ya Mas...sebentar..." Dengan tergopoh-gopoh mbok Nah sedikit berlari membawa satu mangkok sup hangat untuk tuannya.
"Ini mas supnya"
"Makasih mbok. Mbok Nah jangan lupa bersihkan kamar saya..!"
"Iya mas...nanti saya bersihkan."
"Jangan nanti mbok Naaaah....sekarang....!" jelas Ansel
"Iya mas." Mbok Nah langsung menuju ke kamar Ansel sedikit berlari.
Ansel langsung memakan sup itu sampai habis. Badannya kini terlihat lebih segar. Ia lalu meraih ponsel di samping meja makannya lalu bergegas pergi, menaiki mobil mewahnya. Ia melajukan mobilnya menuju rumah Shira. Tak berapa lama dia sudah sampai di depan rumah Shira. Terlihat Shira sedang duduk di teras rumahnya, sedang asyik bercanda dengan kucing kesayangannya sampai tidak menyadari kehadiran Ansel.
"Assalamu'alaikum..."
"Wassalamu'alaikum..." jawab Shira sedikit kaget.
"Kenapa Pak Ansel ada di sini?" tanya Shira.
"Tadi malam saya sudah berjanji saya akan kembali ke sini. Bagaimana keadaanmu?"
"Saya baik baik saja kok Pak. Kemungkinan besok saya sudah mau kembali bekerja."
"Oya Pak mari silahkan masuk..."
"Tidak usah, di sini saja." Ansel langsung duduk di kursi teras diikuti Shira.
"Bagaimana lukamu?" tanpa sadar Ansel mencoba menyibak rambut Shira yang menutupi luka di leher Shira. Tapi Shira langsung menepisnya.
"Sudah tidak apa apa Pak." jawab Shira cepat.
"Pak Ansel tidak perlu khawatir, Bapak juga tidak usah merasa bersalah atas kejadian kemarin, karena itu semata bukan kesalahan bapak, saya justru berterimakasih pada bapak sudah menolong saya."
__ADS_1
"Jelas saya bertanggungjawab atas kejadian kemarin, karena pelakunya tunangan saya."
"Maaf pak, tolong tidak usah dibahas lagi, saya tidak apa-apa."
Ansel hanya mengangguk...
"Ibu, Bapak ada?"
"Ibu baru saja pergi Pak. Kalau Bapak kerja pulang baru nanti sore."
"Hmmm..."
"Shira, boleh minta nomer ponsel kamu?"
Shira langsung mencari nomor kontaknya dan memberikan ponselnya kepada Ansel agar mencatat nomornya.
"Shhhhhhht......."
Tiba tiba mereka dikagetkan suara rem motor mendadak berhenti...
"Shira....!" teriak pembonceng motor itu.
"Nana! Vira!" teriak Shira dengan senyum semringah.
"Ya ampyuuun....dua duan aja nih, nanti ada setannya lho..." Vira nyerocos sambil mendekati Shira dan Ansel.
"Apa apaan sih lu...mau kesini gak kasih kabar dulu.."
Vira dan Shira langsung cipika cipiki diikuti oleh Nana lalu menjabat tangan Ansel.
"Vira"
"Ansel"
"Ansel"
Mereka berkenalan satu sama lain. Tak enak dengan kedatangan mereka berdua Ansel langsung berpamitan.
"Ra, saya pamit dulu... saya harus pergi ke Bali sekarang, ada pekerjaan yang mesti saya selesaikan di sana untuk beberapa hari kedepan, tolong sampaikan salam untuk ibu dan bapak."
Shira hanya mengangguk diikuti senyum tipis dibibirnya.
"Mari, saya duluan..." Pamit Ansel pada kedua teman Shira. Ia langsung menghampiri mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan ketiga gadis cantik yang tak sadar melongo melihat kepergiannya hingga mobil itu tak terlihat.
"Ra, gue gak lagi mimpi kan? Guanteeeng buangeet cowok lu...tajir pula... Coba coba cubit gue Ra..." Vira menyodorkan tangannya pada Shira, Shira bener langsung mencubitnya.
"Aawwww, sakit tau' ..." teriak Vira meringis kesakitan.
"Katanya tadi suruh nyubit, ya gue cubit ..."
"hhhhhhh" Nana dan Shira tertawa puas melihat temannya mengusap usap tangan bekas cubitan Shira.
"Kok lu gak pernah cerita sama kita kalo lu punya cowok sekece itu"
"Iya lu Ra, gak pernah cerita" Nana ikut menimpali pertanyaan Vira.
"Itu bukan cowok gue, itu bos gue..."
"Berarti masih ada kesempatan dong buat PDKT..."
"Mimpi lu Vir...hhhhh"
__ADS_1
Ketika mereka bertiga berkumpul ada saja bahan untuk bercanda, ngobrol kesana kemari tak ada habisnya. Sampai lupa waktu. Hingga suara ponsel berdering mengalihkan pembicaraan mereka. Tapi tak ada satupun yang mengelurkan ponsel.
"Ponsel lu Ra?" Tanya Nana pada Shira.
"Bukan.." Shira meraih ponsel yang berada di kursi, ada panggilan telpon tapi ponsel ini bukan miliknya. ia tak berani menerima panggilan ini. Tapi panggilan kedua Shira memutuskan untuk menerima panggilan telpon dari Yezsa yang terlihat dilayar ponselnya.
"Assalamu'alaikum..." dengan ragu Shira mengucapkan salam.
Sejenak tidak ada jawaban.
"Siapa ini?" agak ketus suara wanita dari seberang bukannya menjawab salam terlebih dahulu.
"Saya Shira"
"Bisa bicara dengan Ansel?"
'What?' Shira kaget ternyata ponsel ini milik Ansel.
"Maaf mbak, ini ponsel Pak Ansel tertinggal"
"Dimana dia sekarang?
"Saya kurang tau mbak, tapi tadi Pak Ansel bilang dia harus ke Bali"
'tuuut....tuuuut....tuuut...'
Tanpa basa basi sambungan telpon langsung dimatikan dari seberang...
"Gak sopan banget ...!" gerutu Shira.
Tiba tiba Shira sadar, ia mencari cari ponselnya tapi tak ditemukan. Shira lalu menyerobot ponsel milik Nana dan melakukan panggilan ke nomer ponselnya. Tapi tak ada suara ponsel berdering di dekat mereka, malah ada yang menjawab panggilan.
"Hallo..." terdengar suara laki laki yang menjawab.
"iya, hallo..." jawab Shira sambil meringis menepuk jidatnya. ia sadar ponselnya tertukar dengan bos barunya.
"Maaf ini siapa?" ternyata dari seberang telpon belum menyadari bahwa ponsel yang ia pegang bukan miliknya.
"Ini Shira Pak"
"Iya, ada apa Ra?"
"Bapak...ponselnya tertukar...."
Sejenak tak ada jawaban
"Maaf Ra, saya gak sengaja, gimana ini...mana saya sudah ada di bandara Ngurah Rai" Terdengar jawaban agak kebingungan dan rasa bersalah.
"Ya sudah Pak, bisa di tukar kalau bapak sudah kembali"
"Maaf Ra, saya benar benar tidak tau..."
"Iya Pak gak apa apa...saya matiin ya Pak. Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum"
"Eh,Pak Pak sebentar, barusan ada panggilan telpon untuk bapak dari Yezsa."
"Iya Ra, terimakasih. Nanti kalau ada telpon lagi bilang saja kalau kamu teman saya. Sudah dulu ya Ra, ini saya buru buru, Assalamu'alaikum"
"Wassalamu'alaikumsalam..."
__ADS_1
'Hwaaaaaaa........' mana ponselnya tidak di pasword lagi....hikz...hikz....