Aku Atau Dia Yang Pelakor

Aku Atau Dia Yang Pelakor
BAB 1


__ADS_3

Siang itu udara begitu panas. Isyana mendapat kabar dari pelayan rumah bahwa sang suami Iqbal, meminta supir pribadinya untuk mengantarkan setelan kerja ke apartemen mereka. Apartemen milik Isyana pribadi yang dia beli sebelum menikah dengan Iqbal.


Isyana (25 tahun)



Sudah dua hari suaminya itu tidak pulang ke rumah karena alasan pekerjaan di luar kota. Sekarang dia sudah pulang tapi malah menginap di apartemen. Tentu membuat Isyana sedikit menerka-nerka mengapa sang suami merahasiakan kepulangan nya. Bahkan jika Isyana tadi tidak sengaja mendengar percakapan suaminya itu di telepon dengan pelayan rumah. Dia tidak akan tahu bahwa sang suami sudah pulang.


"Bu Lastri, biar saya saja yang mengantarkan bajunya Mas Iqbal," ucap Isyana dengan lembut kepada pelayan rumah berusia 40an tahun itu.


"Tapi Nyonya..." jawab pelayan bernama Bu Lastri itu dengan terbata.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya juga sangat rindu dengan mas Iqbal...sekali-kali saya ingin memberikan kejutan untuknya..."


"Baiklah, Nyonya..."


Isyana pun diantar oleh supir pribadi sang suami yang sempat disuruh pulang ke rumah untuk mengambil baju kerjanya. Isyana juga tidak lupa mengingatkan kepada supir tersebut untuk tidak mengatakan apa-apa kepada Iqbal bahwa dirinya sendiri yang akan mengantarkan baju tersebut.


Dengan anggun nya Isyana mengenakan setelan kerja andalan nya, celana kain putih, kemeja hitam yang dipadukan jas berwarna putih, serta sepatu hak tinggi yang membuatnya semakin elegan.


"Kenapa Mas Iqbal tidak memberitahuku kalau dia sudah pulang? Dan malah menginap di apartemen?"


Isyana terus bertanya-tanya didalam perjalanan. Hatinya merasa sedikit ada yang tidak beres. Namun dengan sifat Isyana yang punya pemikiran luas, dia memilih untuk membuang jauh-jauh pikiran buruk tentang sang suami.


"Selamat datang," sambut para pegawai apartemen pada Isyana.


Tak berlama-lama Isyana langsung berjalan ke arah lift. Lalu menekan tombol lantai 15, dan menunggu hingga lift itu sampai pada tujuannya.


Didepan pintu unit apartemen 105B Isyana memegangi dadanya yang tiba-tiba berdetak kencang. Ragu untuk menempelkan kartu akses unit untuk membuka pintu, namun tetap dia lakukan.


Pintu pun terbuka. Isyana mencondongkan badan nya ke depan. Lalu dia berjalan masuk menyusuri lorong kearah kamar.


Langkah Isyana terhenti saat sepatu hak tingginya menginjak sehelai kain yang sangat menjijikan tergeletak di lantai.


Mata Isyana membulat, wajah tenangnya seketika berubah menjadi sinis. Melihat kain tersebut ternyata adalah CD wanita berwarna hitam.


"****..." umpat Isyana pelan.


Isyana pun mengedarkan pandangan nya menyapu seisi kamar yang terasa hangat itu. Ia berjalan beberapa langkah lagi ke depan. Lalu ia berjongkok meraih kemeja sang suami yang juga berserak dilantai. Dihirup nya aroma parfum wanita di kemeja tersebut.


"Mas Iqbal? Menjijikkan sekali aku mau muntah melihat semua ini..."


Isyana tidak bodoh, dia pasti sudah mengerti keadaan ini. Keadaan dimana sang suami telak didepan matanya telah berselingkuh. Bahkan dengan tidak malunya ia melakukan hubungan intim di dalam apartemen milik Isyana.

__ADS_1


Isyana menarik nafas dalam-dalam dengan mata tertutup. Seutas senyuman tipis terbentuk di ujung bibirnya. Tangan nya mengepal kuat, menahan amarah dalam dirinya.


Bersamaan saat itu tiba-tiba terdengar suara ******* dan tertawa genit seorang pria dan wanita dari dalam kamar mandi.


"Ah...jangan disitu...geli!"


"Enggak sayang tenang aja, aku hanya ingin..."


"Iqbal sudah, kamu nakal banget sih!"


Isyana semakin bergetar mendengar semua itu. Tidak pernah dia membayangkan bahwa suaminya akan berani bermain api dibelakangnya.


"Brengsek, menjijikan sekali kamu Mas."


Isyana mengatur nafasnya, tetap berusaha terlihat anggun dan santai. Walau sebenarnya dia sangat marah dan ingin mendobrak pintu kamar mandi itu. Tapi tidak dia lakukan.


Isyana berbalik dan berjalan kearah balkon kamar. Dia bersandar dipagar sambil menatap kearah pintu kamar mandi.


"Sangat rendahan..." tukasnya kembali dengan tersenyum tipis.


"...bisa-bisanya kamu Mas berbuat hal serendah ini? Apakah karena kamu punya mainan lain, selama tiga bulan terakhir kamu tidak pernah menyentuk ku sama sekali..."


Isyana membalikan badan nya memilih untuk menatap keindahan kota dari balkon tersebut.


"Heh, lucu sekali. Didalam sana suamiku sedang memadu kasih dengan wanita lain...tapi entah kenapa aku tidak merasakan apa-apa..."


Setelah ia berbicara pada dirinya sendiri Isyana pun kembali berjalan masuk kedalam kamar. Meletakan paper bag yang berisi pakaian sang suami keatas tempat tidur.


Dia melirik kearah kamar mandi dan tersenyum tipis. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari unit tersebut.


"Maaf Mas, perilaku mu yang rendahan seperti ini tidak cocok dengan wanita berkelas seperti ku...ckck."


Isyana kembali dengan raut wajah biasa dengan pakaian rapi, seperti tidak ada yang terjadi. Pembalasan dendam apa yang akan dia lakukan? Hanya itu yang sekarang Isyana pikirkan sepanjang jalan menuju lift.


"Apakah ini karma?"


Saat pintu lift tertutup. Tiba-tiba Isyana terhuyung dan hampir terjatuh jika dirinya tidak sempat memegang dinding stainless lift. Pandangan nya berputar dan terasa begitu mual.


"Isyana kamu harus kuat, laki-laki seperti Mas Iqbal tidak mendapatkan dirimu...biarkan dia berbuat semaunya dengan sampah itu!"


Pintu lift pun terbuka. Isyana cepat-cepat berdiri tegak dan merapikan jasnya lalu keluar dari dalam lift.


BRAK!!!

__ADS_1


Karena terburu-buru Isyana sampai tidak sengaja menabrak bahu seorang pria. Pandangan nya yang masih kabur dan sedikit berputar membuatnya terhuyung kembali.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya pria tersebut.


Dengan sigap pria tersebut meraih tubuh ramping Isyana dengan tangan kekarnya. Hampir saja Isyana terjatuh kelantai.


Isyana masih menunduk sempat syok. Namun dia merasa kenal dengan suara pria tersebut, dan sentuhan nya itu terasa begitu akrab. Suara serak berat yang sedikit chadel, karena susah berucap huruf R.


Perlahan wanita cantik itu menegakkan pandangan nya. Matanya membulat tidak percaya. "Pak Elvano?"


Cepat-cepat Isyana berdiri sendiri dan merapikan jas serta rambutnya.


"Bu Isyana?"


Pria itu juga nampak sangat terkejut melihat Isyana. Wanita anggun yang tidak pernah berubah. Masih cantik dan sama seperti tiga bulan lalu terakhir kali mereka bertemu.


Pria itu tersenyum manis dengan sangat ramah. Membuat Isyana masih terdiam mematung. Tidak berekspresi dan memandang intens wajah pria bernama Elvano itu.


"Bu Isyana? Apa anda baik-baik saja?"


"Bu Isyana?"


"Bu Isyana?"


Isyana pun tersentak kaget saat Elvano mengibas udara didepan wajahnya.


"I-iya saya baik-baik saja..." jawab Isyana tersenyum kikuk dengan pipi yang memerah dan terasa panas.


"Apakah ini nyata?" batin Isyana.


Elvano kembali tersenyum dan tatapan matanya terasa begitu hangat. Dia menyodorkan tangan nya di depan Isyana.


"Senang bisa bertemu dengan anda kembali, Bu Isyana."


Isyana menggigit bibir bawahnya membalas tatapan hangat Elvano dan menjabat tangan nya.


Elvano (30 tahun)



"Senang juga bisa bertemu dengan anda kembali, Pak Elvano Mubarak."


Deg...deg...deg...deg.

__ADS_1


"Sepertinya ini nyata, hatiku kembali berdegup kencang dihadapan nya seperti ini...seperti tiga bulan yang lalu saat bertemu Elvano untuk pertama kalinya," batin Isyana.


...To be continued......


__ADS_2