
Mobil yang dikendarai Elvano memasuki parkiran sebuah taman. Di depan sana sudah bisa terlihat sebuah tempat yang dipenuhi pohon pinus yang tinggi menjulang. Disebelah kirinya ada danau kecil yang indah.
Tak menunggu perintah Isyana langsung keluar dari mobil. Memandang ke sekelilingnya, nyaman dan sejuk pikirnya. "Hah...indah seklai."
"Bagaimana? Apa kamu suka dengan tempat ini?" tanya Elvano yang baru saja keluar dari mobil.
Sambil membawa tas milik Isyana yang tertinggal di mobil. Lalu memberikan kepada yang punya.
"Makasih," ucap Isyana tersenyum.
"Sama-sama..."
Mereka pun mulai berjalan mengelilingi tempat itu. Sambil membicarakan hal mengenai pekerjaan. Tidak terasa hari semakin siang.
Isyana melihat ada sebuah batang pohon yang sudah tumbang. Segera dia berlari kearah batang pohon tersebut.
Elvano menatap heran Isyana yang berlari. "Mau apa dia?" tanya Elvano dalam hati.
__ADS_1
Pria itu menarik sedikit ujung bibir nya, melihat Isyana yang mulai menaiki batang pohon tersebut. Dengan tangan yang terentang dan badan yang bergoyang sedikit tak seimbang. Dia perlahan mendekat.
Dia berjalan perlahan mengikuti langkah wanita disebelahnya yang tengah berjalan diatas sebuah batang pohon. Terkadang tubuhnya yang bergoyang tak seimbang. Membuat rasa ingin membantu dalam dirinya keluar. Sampai saat Isyana benar-benar kehilangan keseimbangan.
"Aahhh," teriak Isyana pelan saat merasakan tubuhnya akan terjatuh.
Namun dengan secepat kilat sebuah tangan memegangi lengan nya. Menahan agar tubuhnya tidak terjatuh. Isyana menatap kesebelah, wajah mereka saling berdekatan. Terdiam sejenak merasakan deruan nafas pria ber-rahang tegas disebelahnya itu yang beraroma mint. Berhasil membuat degup jantungnya seperti sebuah drum yang dimainkan.
"Maaf," ucap Elvano yang tersadar lrbih dulu karena sudah berani menatap wanita di sebelahnya itu.
"Jika kamu gak keberatan, pegang saja tanganku," tawar Elvano seraya tersenyum.
Isyana terlihat ragu dan menimbang-nimbang sesuatu. Dan beberapa saat kemudian dia mengangguk setuju. Perlahan dia menaruh telapak tangan nya diatas telapak tangan Elvano yang sudah menunggu dari tadi.
Kedua telapak tangan itu menyatu, saling bertautan dengan hangat. Isyana tersenyum bahagia melewati batang pohon itu sampai keujung. Dengan tangan yang digenggam oleh Elvano.
"Terima kasih, El," ucap Isyana.
__ADS_1
"No problem," jawab Elvano seraya memasukan kembali tangan nya kedalam saku.
Tidak lama setelah itu tiba-tiba saja hujan turun dengan begitu deras. Tanpa ada tanda-tanda sama sekali. Hari yang cerah itu seketika menjadi basah karena hujan yang begitu deras.
"Ah hujan, " teriak Isyana sambil menutupi kepala nya dengan tangan.
"Ayo pergi dari sini," ajak Elvano.
Pria itu langsung meraih salah satu tangan Isyana. Menggenggamnya erat. Menarik nya berlari ditengah guyuran hujan yang semakin deras. Isyana meraskan dadanya kembali berdegup sangat cepat. Pipinya yang merona bahkan tidak terlihat karena wajahnya yang sudah basah di terpa air hujan. Dia hanya bisa diam mengikugi langkah pria berpunggung tegap di depan nya itu.
Elvano menarik Isyana berteduh di sebuah kedai kopi terdekat. Kedai kopi berrema klasik itu terlihat sangat ramai di dalam nya. Mengingat keadaan mereka yang setengah basah. Elvano menarik kursi untuk wanita yang tangan nya dia genggam sedari tadi.
"Disini boleh juga," ucap Isyana tersenyum. Tangan nya menyilang di dada seolah sedang memeluk diri sendiri. Karena kedinginan akibat guyuran air hujan.
"Baiklah, tunggu sebentar aku akan segera kembali," ucap Elvano yang segera berlalu masuk kedalam kedai kopi itu.
Dua orang sejoli juga baru saja sampai dikedai kopi itu. Terlihat mereka juga sedang menghindari hujan. Mereka sempat menatap Isyana yang juga duduk di salah satu kursi didepan kedai tersebut.
__ADS_1