
Sinar matahari yang menghangatkan menembus kelopak matanya yang tertutup. Membuatnya mengerjap beberapa kali. Matanya menangkap sebuah pemandangan yang begitu indah.
Wajah tampan seorang Elvano, sendu dan begitu nyaman saat tertidur. Tak ingin rasanya melewatkan setiap detik waktu yang berharga ini. Bahkan indra penciuman nya juga merasa begitu beruntung. Bisa menghirup aroma khas tubuh Elvano dari dekat.
Bibirnya melengkung tersenyum. Mengingat hal terakhir yang mereka bicarakan sebelum akhirnya terlelap. Bagaikan mimpi jika saat ini dirinya ada di dalam pelukan pria lain selain sang suami.
"Sya," panggil Elvano.
Isyana tersentak dari lamunan nya. Dia tersenyum manis pada pria berwajah maskulin itu. Kini wajah mereka begitu dekat. Isyana bisa menatap jelas netra kecoklatan Elvano.
"Kamu sudah bangun? Gimana persaan mu? Apa agak enakan?" tanya Elvano seraya mengusap rambut yang menutupi wajah Isyana.
Deg-deg deg-deg.
Wanita itu mengatur nafas nya yang mulai tidak beraturan. Apakah ini cinta? Rasanya begitu berbeda ketika dia berada dekat dengan Iqbal sang suami. Bahkan membuat dadanya bergetar hebat seperti sekarang saja, tidak.
"A-aku baik-baik saja, El." Isyana tersenyum kemudian menunduk dan menenggelamkan kembali wajahnya pada dada bidang Elvano yang polos.
__ADS_1
"Syukurlah, Sya. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, aku sangat mengkhawatirkan mu," ucap Elvano seraya mengecup pucuk kepala Isyana dan mendekapnya erat.
"Sudah pagi, El...apakah kamu mau kita seperti ini sampai ada orang yang datang menggrebek kita disini?"
Elvano tersasar dia pun segera melepaskan pelukan nya. Membiarkan wanita nya itu bangun. Dengan tangan yang menyilang menutupi tubuh bagian depan nya.
Elvano ikut beranjak menggapai baju kaos nya yang terserak di lantai. Kemudian memberikan nya pada Isyana.
"Pakai ini...bajumu basah semalam."
Isyana meraih baju Elvano kemudian mulai mengenakan nya. "El..." panggil Isyana.
"Makasih ya, buat semalam..."
Elvano tersenyum kemudian mengusap pucuk kepala Isyana dengan lembut. "Sama-sama, Sya..."
Di perjalanan pulang ke hotel mereka. Isyana hanya diam dan menatap pemandangan diluar jendela mobil. Sesekali ia tersenyum mengingat hal semalam. Begitu malunya dia saat menyatakan cinta pertama kali. Bukan kah seharusnya pria bukan wanita.
__ADS_1
Elvano menoleh kearah Isyana yang duduk disebelahnya. Masih bingung dengan kelanjutan hubungan mereka. Setelah saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Yang jels sekarang Elvano sangat bahagia, perasaan nya tak bertepuk sebelah tangan.
Ia meraih tangan Isyana. Membuat wanita itu tersentak kaget dan menoleh kearahnya. Diraih nya punggung tangan Isyana lalu mengecupnya dengan lembut.
Mereka saling menatap dan tersenyum. Semu merah nampak tergambar diwajah Isyana. Rasanya ingin terbang ke langit ketujuh saat itu juga. Benar-benar bagai dunia milik mereka berdua.
Sesampainya di hotel, Elvano mengantar Isyana ke kamarnya. Sambil membawakan sebuah totebag yang berisikan pakaian Isyana yang basah.
"El," panggil Isyana saat Elvano hendak berbalik ke kamarnya. Pria itu kembali menoleh.
"Mau makan siang bersama?" tanya Isyana.
Elvano mengangguk dan tersenyum. "Aku mau," jawab nya.
"Aku ke kamar mu nanti siang ya, kita pesan makanan restauran terus makan dikamarmu," ucap Isyana yang dijawab anggukan lagi oleh Elvano.
Di dalam kamarnya. Elvano merebahkan tubuhnya yang terasa sedikit pegal ke atas ranjang. Menatap kearah langit-langit kamar. Perasaan nya pada Isyana semakin dalam.
__ADS_1
Terlintas pikiran untuk hidup bersama Isyana dan meninggalkan Nabila yang rasanya sudah hambar. Sudah tidak ada perasaan cinta yang tertinggal. Semakin hari semakin terkikis juga perasaan nya pada Nabila. Mengingat sikap dan cara bicara wanita itu yang begitu kasar padanya. Tetapi mereka punya Nino yang memerlukan kedua orang tuanya lengkap. Elvano dibuat semakin dilema.
Elvano menutup matanya dan menghela nafas panjang. "Pikirkan baik-baik, El...jangan sampai nanti kamu mengambil keputusan salah dan membuatmu menyesal," ucap nya pada diri sendiri.