
Hari kedua Isyana berada di Newyork.
Tangan nya merenggang, tubuhnya menggeliat di atas ranjang. Isyana membuka mata nya perlahan sambil mengucek mata. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman mengingat kembali waktu semalam.
Pagi ini begitu cerah secerah hatinya. Isyana beranjak dari tempat tidur. Berjalan dengan pelan kearah kamar mandi sambil memeriksa pesan dari sang suami. Tapi tidak ada satu pesan sama sekali, bahkan nomor Iqbal tidak aktif saat dia coba hubungi.
Elvano sudah rapi dengan setelan kasualnya. Celana jeans hitam, baju kaos hitam serta paduan jaket levis dan sepatu kets putih. Dia nampak begitu tampan dan sempurna.
Elvano meraih ponselnya segera menghubungi Nino anaknya. Walaupun Elvano yang selalu sibuk dengan kerjaan nya. Akan tetapi dia sangat menyayangi Nino, bahkan sehari saja tidak melihat anak kesayangan nya itu saja membuatnya sangat rindu.
"Hai, jagoan ku," sapa Elvano saat panggilan vidio tersambung.
Anak laki-laki yang wajahnya tidak buang jauh darinya. Ketampanan Elvano ternyata turun ke sang anak.
"Ayah...Nino kangen ayah," ucap Nino dengan gemasnya.
"Ayah juga kangen Nino...jagoan ayah mau bobo ya?"
"Iya ayah, ini Nino mau bobo soalnya besok sekolah."
__ADS_1
"Bunda kamu mana?"
Dahi Elvano mengerut saat melihat wajah sedih Nino. "Ada apa jagoan ayah?"
"Bunda belum ada pulang dari semalam," jawab Nino pelan.
"Benarkah?" Elvano seketika terkejut.
"Kamu kemana Nabila? Kamu membohongiku lagi!" batin Elvano.
"Sekarang jagoan ayah sebaiknya bobo, karena besok sekolah kan sayang...gak usah terlalu memikirkan mamah ya, mungkin mamah sedang ada kerjaan. Nanti ayah akan menghubungi Bunda ya...."
Elvano pun mencoba menghubungi nomor Nabila beberapa kali. Tidak ada jawaban sama sekali. Membuat Elvano sedikit kesal. Wanita yang tidak bertanggung jawab pikirnya. Tega sekali Nabila tidak pulang ke rumah seharian untuk mengurus anak nya.
Bel pintunya tiba-tiba berbunyi. Pandangan nya pun beralih ke arah pintu kamar yang letak nya tidak jauh dari tempat dia duduk.
Ketika dia membuka pintu. Elvano tertegun dengan keindahan didepan nya. Cantik, itulah yang terbesit dibenak Elvano. Saat melihat Isyana yang berdiri didepan nya. Sambil tersenyum manis.
"Pagi El," sapa Isyana.
__ADS_1
"Pa-pagi juga, Syana." Elvano tergugup.
"Sebentar, aku ambil kunci mobil dulu ya..."
Isyana mengangguk. Elvano pun kembali ke kamar untuk mengambil kunci mobil. Lalu mereka berdua pun pergi bersama.
Di dalam mobil. Isyana sibuk memperhatikan beberapa berkas ditangan nya. Elvano tersenyum tipis sesekali melirik kearah wanita cantik itu.
"Kayanya ditempat yang akan kita jadikan lokasi acara, ada danau kecil dan taman bunganya...bagaimana menurutmu?"
Isyana menoleh kearah Elvano. Pria itu terbyata juga sedang menatap nya, membuat kedua mata mereka bertemu. Isyana mengalihkan pandangan nya, merasa begitu gugup ditatap seperti itu oleh Elvano.
"Oh, baguslah aku sangat menyukai tempat seperti itu...atur saja yang menurutmu itu bagus," kata Elvano.
"Baiklah, aku tidak akan mengecewakan kepercayaan mu," ucap Isyana.
Elvano memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Kemudian dia keluar dari mobil. Menghampiri sorang nenek tua yang duduk di kursi halte. Kemudian memberikan sebuah paper bag kepada Nenek tua itu.
Isyana tersenyum melihat Elvano dari kejauhan. Pria yang sangat baik hati. Membuat Isyana semakin ingin mengenal sosok Elvano lebih jauh lagi.
__ADS_1
...To Be Continued....