Aku Atau Dia Yang Pelakor

Aku Atau Dia Yang Pelakor
Bab 12


__ADS_3

Di dalam kamar Isyana. Elvano duduk dipinggir tempat tidur. Pria itu memegangi pelipisnya yang terasa sedikit perih. Juga pipinya yang lebam karena tonjokan dari beberapa orang yang ingin melecehkan Isyana tadi.


Walaupun begitu Elvano puas telah memukul salah satu dari mereka sampai pingsan. Karena berani sekali mengganggu wanita yang datang bersamanya.


Elvano menatap ke arah Isyana yang sibuk mondar mandir seperti sedang mencari seuatu. Wanita itu sedang mencari kotak P3k. Ketika bel pintu berbunyi, Isyana segera menghambur ke arah pintu. Membuka nya dengan cepat. Seorang pelayan membawakan kompres es bafu serta kotak p3k kecil.


Isyana duduk di sebelah Elvano. Memiringkan sedikit badan Elvano untuk berhadapan dengan nya. Dia menatap nyeri pelipis pria dihadapan nya itu yang berdarah.


"Aku bisa mengobatinya sendiri, Sya," ucap Elvano tersenyum.


Wanita itu mendengus kesal lalu menyatukan kedua tangan Elvano dibawah. "Husshhh, sudah diam gak!"


Isyana mulai menaruh betadine di kapas putih secukupnya. Elvano tersenyum diam diam memperhatikan gerakan tangan Isyana dan menatap wajah sendunya yang khawatir.


"Lagi pula Sya, ini gak sakit sama sekali kok," ucap Elvano lagi.


"Awwh..." Dia meringis saat merasakan perih waktu Isyana menempelkan kapas di lukanya. Membuat wanita itu terkekeh pelan.

__ADS_1


"Pelan-pelan, Sya..."


Isyana lagi-lagi tertawa, melihat tingkah Elvano yang sok jagoan. "Katanya gak sakit, masa cuma disentuh gitu aja teriak," ledek Isyana.


"Eh siapa yang teriak, aku gak teriak."


"Itu kamu tadi teriak kan kesakitan." Isyana mengambil kompres es batunya kemudian menempelkan nya pada lebam dipipi Elvano.


Elvano lagi lagi kesakitan. Dia fidak sengaja memegang tangan Isyana. Keduanya tersentak dan saling menatap. Kedua mata indah itu kini trngah menatap nya. Elvano tersadar dan langsung mengalihkan pandangan nya. Begitu pun dengan Isyana.


"Tuh kan, kamu kesakitan..." Isyana mencoba memecah keheningan.


"El...dingin, hahah!" Isyana tertawa geli sambil terus menghindar. Akhirnya terjadilah aksi saling tarik menarik kompres es batu. Yang membuat keduanya terjatuh bersamaan ke lantai.


Isyana jatuh tepat dibawah Elvano yang menindihnya. Wanita itu menjadi tegang saat kedua mata mereka saling bertatap. Seperti ada sebuah ikatan yang membuat mereka nyaman.


Jantungnya semakin tidak menentu. Merasakan deruan nafas pria yang kini ada diatasnya itu. Mengenai batang hidung nya dan membuat pori pori diwajahnya meremang. Tanpa sadar Isyana malah menutup kelopak matanya yang indah, seperti sedang menunggu sesuatu.

__ADS_1


Elvano memandangi wajah cantik Isyana yang begitu lembut. Dadanya bergejolak hampir tidak bisa berpikir dengan jernih. Melihat wanita itu yang tiba-tiba menutup matanya, membuat pria berahang tegas itu perlahan mendekatkan wajahnya.


Dalam sekejap menyatukan kedua bibir mereka. ******* dan menghisap lembut bibir lembab milik wanita cantik yang diam -diam dia kagumi beberapa hari ini. Beberapa detik keduanya terbuai dalam ciuman itu.


Elvano tersentak kaget dan langsung membuka matanya. Saat menyadari perlakuan nya terhadap Isyana. Begitu pun sebaliknya, wanita itu juga membuka matanya dan menatap Elvano yang wajahnya tepat dihadapan nya.


Secepat mungkin Elvano beranjak dan berdiri. Dia gelagapan dan salah tingkah. Begitu juga dengan Isyana yang berdiri merapikan baju dan rambutnya. Wajahnya merah seperti tomat. Bodoh sekali! Pikirnya.


"Mmm, Sya..." ucap Elvano gugup.


"I-iya, El?" Isyana menoleh dengan wajah merah nya menatap pria disebelahnya yang semakin gugup. Entah matanya sedang memandang ke arah mana, dia bicara tanpa melihat ke arah Isyana.


"A-aku balik ya, sudah malam...bye," ucap nya seraya berlalu dengan cepat keluar dari kamar Isyana.


Wanita itu memating menatap kepergian pria yang baru saja mencium nya dengan sangat lembut. Ada secerca perasaan sedih yang dia rasakan. Bagaikan habis manis sepah dibuang. Elvano pergi begitu saja setelah mencium dirinya.


Sedangkan diluar kamar. Elvano bersandar di pintu kamar Isyana. Mengingat hal bofoh yang trlah dia lakukan. Tiba-tiba terbesit wajah sang anak dan istrinya, yang membuat dirinya sangat merasa bersalah.

__ADS_1


"Kamu benar-benar, Brengsek, El," umpat nya sambil mengusap wajah dengan kasar.


__ADS_2