
"El, di-dingin," ucap Isyana gemetar.
Elvano tersadar dia kembali berlari kearah wnita itu. Berjongkok menatap nya penuh dengan kekhawatiran. Terlintas suatu cara yang bisa menghangatkan tubuh Isyana di saat seperti ini. Elvano ingat saat itu dia menjalani pelatihan camping, karena hobinya yang mendaki. Elvano sempat mengikuti beberapa pelatihan.
"Sya, aku tidak tahu harus mulai dari mana...tapi ini satu satunya cara yang bisa kita lakukan sekarang," ucap Elvano ragu seraya menatap dalam kemata Isyana.
Wanita itu mengangguk dengan penuh kepercayaan dalam tatapan nya. Seakan memberi ruang Elvano untuk melakukan sesuatu padanya. Agar dia tidak merasakan dingin yang mencekam ini.
"Kamu yakin, Sya?" Lagi-lagi Elvano bertanya. Dan dijawab anggukan oleh Isyana.
"Aku harus membuka baju yang kamu kenakan, Sya. Maaf bukan aku mau mencari kesempatan disaat seperti ini, tapi i--"
Isyana menutup mulut Elvano dengan tangan nya. Dia mengangguk tersenyum. "A-aku percaya padamu, El."
Elvano tertegun dengan perkataan Isyana. Wanita itu, dia mempercayakan tubuhnya pada laki-laki yang dia baru kenal. Elvano mengusap lembut wajah Isyana, lalu mengecup kening nya dengan hangat.
"Aku tidak akan mengkhianati kepercayaanmu, Sya," tutur Elvano dengan sungguh-sungguh.
Isyana pun menutup matanya dan mengikuti arahan yang di berikan oleh Elvano. Dia membiarkan pria itu melepaskan jaket bulu, serta baju yang dia pakai. Bahkan bra nya juga di lepaskan.
Walaupun ini sebagai pertolongan pertama yang Elvano lakukan. Jujur Isyana tidak bisa membohongi perasaan nya. Ketika jari jemari Elvano yang bersentuhan dengan kulit lembutnya. Membuat tubuhnya meremang.
Begitu pun juga dengan Elvano yang terus menahan dirinya agar tetap fokus menolong Isyana. Jantungnya berdebar hebat saat melepaskan satu persatu yang Isyana kenakan di bagian atas tubuhnya. Kini wanita itu tidak mengenakan sehelai benangpun untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
Elvano lalu melepaskan baju yang dia kenakan dan memakai kembali jaket kulitnya tanpa memakai dalaman.
__ADS_1
Perlahan dia naik keatas sofa. Merebahkan tubuhnya disebelah Isyana. Kemudian menatik wanita itu kedalam dekapan tubuhbya yang hangat.
"Sya, maafkan aku..."
Isyana merasakan kehangatan dalm dekapan Elvano. Perlahan dia merasa sedikit nyaman. Kehangatan mulai kembali. Isyana menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Elvano. Dan melingkarkan tangannya di tubuh hangat pria itu.
Elvano juga semakin mengeratkan pelukan nya. Seraya ikut menyelimuti tubuh polis Isyana dengan jaket yang dia kenakan. Beberapa kali dia juga menghujami pucuk kepala Isyana denga. Kecupan hangat.
"El," panggil Isyana pelan dengan kepala yang masih bersembunyi dalam dekapan nya.
Wanita itu kemudian menengadahkan kepalanya berusaha menatap wajah pria yang saat ini memeluknya.
"Iya, Sya? Apa kmu masih merasa dingin?" tanya Elvano yang juga menunduk menatap lekat mata Isyana.
"Syukurlah, sebaiknya kamu tidur saja...biarkan aku yang menjagamu," ucap Elvano puji syukur karena Isyana merasa agak baikan.
"El," panggilnya lagi.
"Iya, Sya?" jawab Elvano lembut.
"El," panggilnya kembali, membuat Elvano mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Ada apa, Sya? Katakan saja," ucap Elvano yang mulai penasaran dengan apa yang hendak Isyana katakan.
"El, apakah aku salah?"
__ADS_1
Elvano semakin mengerutkan dahinya. Menatap lekat kedalam mata indah di hadapan nya itu.
"Salah apa? Sya?" tanya nya.
"Mmm...salah jika aku mencintaimu?"
Deg.
Jantung Elvano berdebar sangat kencang. Apakah ini mimpi? Apa yang dia dengar tidak salah kan. Wanita yang beberapa hari ini selalu hadir dalam mimpinya. Dan juga membuat hatinya goyah, mengatakn bahwa dia mencintai dirinya.
"Sya? Kamu sedang sakit, sebaiknya kamu istirahat. Bicara mu sudah melantur."
Elvano berusaha mengatur perasaan nya. Mungkin saja saat ini Isyana sedang dalam keadaan sakit yang membuat bicaranya aneh-aneh dan tidak jelas.
"Aku sadar El, aku serius dengan ucapan ku...mungkin kamu mikirnya aku ini wanita brengsek! Tapi semakin aku berusaha menjauh perasaan itu semakin membuatku sakit. Aku tersiksa jika terus memendamnya," ucap Isyana yang tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Sya, jangan menangis..." Elvano sedikit tergetar saat melihat air mata Isyana menetes. Dia menatap lekat mencari sebuah ketulusan di mata wanita itu.
Dia semkin yakin tatapan teduh itu tidak pernah bohong. Apakah yang dia rasakan ini tidak bertepuk sebelah tangan? Karena Elvano juga mencintai Isyana.
"Maafkan aku, El...tidak seharusnya aku berkata seperti ini," ucap Isyana lagi yang melai sesak karena sudah sangat tidak tahu malu. Taoi mau bagaimana lagi? Perasaan tidak bisa di bohongi.
"Jangan menangis, Sya." Elvano mengusap kembali air mata Isyana dan mengecup kening nya dengan lembut. Elvano semakin mengeratkan dekapan nya.
"Aku juga mencintaimu, Sya. Entah bagaimana ini bisa terjadi, tapi aku juga merasakan hal yang sama denganmu," tutur Elvano.
__ADS_1