AKU BAHAGIA TANPA MU MAS!!!

AKU BAHAGIA TANPA MU MAS!!!
AKU BAHAGIA TANPA MU MAS!!! BAB 10


__ADS_3

"Aww, " Bilqis menjerit, entah kenapa dia, atau hanya akting semata.


"Kamu kenapa, Sayang? " Mas Fahri terlihat sangat cemas. Dia ingin beranjak dari tidurnya dan menghampiri istri keduanya. Tapi, benturan di kepala karena kecelakaan itu, membuat kepala Mas Fahri mendadak pusing ketika akan duduk.


"Sudah, lah, berbaring saja. Biar aku yang mengurus Bilqis, " aku yang tak tega melihatnya terus saja memegangi kepalanya, akhirnya mengalah dan meruntuhkan semua ego untuk merawat Bilqis. Perempuan yang dinikahi diam-diam oleh suamiku.


Aku berjalan menuju tempat dimana Bilqis sedang berbaring, dia hendak mengambil minum.


"Makasih, Mbak." aku mengambilkan air mineral yang berada di meja tak jauh dari ranjang sempitnya.


"Apanya yang sakit? " ada rasa tak tega melihat Bilqis yang terlihat sangat pucat dan terus memegangi perutnya.


"Perut, Mbak. Tadi habis di kuret, "ucap Bilqis , seraya air mata terus membanjiri pipinya, aku sangat tahu, dia keguguran mungkin diakibatkan oleh benturan juga.


Aku hanya diam dan menyandarkan tubuh di tembok seraya memainkan ponsel.


"Ini gara-gara kamu Mbak! Kalau kamu tidak bertemu dengan pria lain, semua ini tidak akan pernah terjadi. Janin ini pasti akan tumbuh sehat di rahimku! "seru Bilqis dengan tersedu.


Aku menghentikan aktivitasku dan memandangnya dengan tajam. Entah terbuat dari apa hatinya itu, dengan gampangnya menyalahkan orang lain.


" Dan perlu kamu ketahui, kalau kamu tidak merebut suamiku , ini tidak akan pernah terjadi. Paham kamu! Kamu hanyalah seorang benalu!"aku memilih keluar dari ruangan, terlalu lama bersama dengan mereka membuatku gila.


Namun, ketika aku membuka pintu, ada Mama yang ternyata sedang berdiri di depan pintu, apakah Mama sudah lama?


" Mama."aku mencium punggung tangannya dan dia mencium kepalaku, sebelum ini dia tidak pernah melakukannya.


"Silahkan masuk Mama ."Mama hanya tersenyum dan mengelus pipiku.


"Kalau mau keluar sebentar sana, biar Mama yang menjaga mereka, "aku hanya mengangguk.


"Bagaimana keadaanmu," aku melihat dari celah pintu, Mama sedang membelai putranya.


" Kamu itu harus bersyukur punya istri seperti Aisyah, meski dia tidak suka dengan Bilqis, tapi dia dengan telaten merawatnya, "aku terharu mendengarnya. Aku sangat beruntung mempunyai mertua sepertinya, meski aku belum bisa memberikan cucu, tapi kasih sayangnya masih sama dan itu yang membuat semakin berat pertimbanganku untuk menceraikan Mas Fahri.


"Jangan kamu paksa Aisyah untuk menerima pernikahan kedua mu, itu tidak mudah, nak. Meski poligami dibolehkan di agama kita,"ucap Mama lagi, aku semakin tergugu.Ternyata , Mama sebegitu perhatiannya dan dia tidak pernah ikut campur dengan rumah tangga kami.


Aku penasaran dengan ekspresi wajah Mas Fahri ketika Mama mengatakan itu, apakah ada rasa bersalah atau wajah kesombongannya di perlihatkan.

__ADS_1


Aku memilih untuk pergi ke kantin rumah sakit , memesan coklat panas akan membuat otak aku kembali fresh.


Setelah minuman berada di hadapanku, segera kuangkat dan ku minum perlahan.


"Aisyah! " sapa seseorang ketika aku meletakkan coklat panas.


"Mila! " aku menoleh dan mendapatkan sahabatku setelah sekian lama tidak berkomunikasi apalagi ketemu.


"Cie yang baru saja honeymoon! " ledekku pada Mila.


"Kamu, kok' sedang disini? Siapa yang sakit?" Mila duduk di depanku dan seperti biasa dia menyeruput minuman kesukaanku.


"Mas Fahri, kemarin kecelakaan, "


"Bersama gundiknya? " Mila mendelik dan wajahnya sangat penasaran akan penjelasanku.


Aku diam dan menghela nafas sebentar dan mengangguk.


"Gila emang dan kamu yang mengurus mereka!" aku mengangguk lagi.


"Kalau aku jadi kamu, akan kubiarkan mereka mati! "umpatnya.


Sesampainya aku di kamar Mas Fahri ,ternyata ada seseorang yang sama sekali aku tidak kenal.


"Assalamualaikum. "ucapku seraya membuka pintu.


Wanita paruh baya itu menoleh seraya menjawab salamku, tatapannya menandakan ketidak sukaannya padaku.


"Oh, ini istri kamu yang menentang poligami itu!" serunya ketika aku berjalan menuju dimana dia sedang duduk dan aku akan menyalaminya.


Aku berhenti melangkah dan mengurungkan niat untuk memberi penghormatan padanya.


"Pantas saja menentang , dilihat dari penampilannya dia orang yang tidak paham akan agama, apalagi kalau mengakui kalau poligami itu adalah sebagian dari as sunnah!" wanita itu menatap tajam ke arahku , dihina seperti ini rasanya aku tak terima, tapi aku sadar sekarang sedang berada di tempat dimana sangat dilarang untuk berdebat.


Namun, yang aku sayangkan, Mas Fahri hanya diam dan hanya memandangku, aku tidak peduli mereka dari kalangan kyai, sekali mereka menyakiti, aku tidak akan tinggal diam.


"Mengaku paling paham soal agama, tapi akhlak di bawah standar, "ucapku.

__ADS_1


"Yang sopan, Aisyah! Dia adalah budhe Karimah adik dari mendiang ayah Bilqis! "seru Mas Fahri dia sekarang sudah berani membentakku di depan orang lain.


Aku mengerjap, ke seluruh ruangan , mencari keberadaan Mama, berharap Mama mendengarnya , agar beliau tahu putranya sekarang sudah berubah.


Aku melirik wanita yang namanya baru saja disebut oleh mas Fahri. Ya, Bude Karimah , wanita umurnya jauh dariku . yang seharusnya aku hormati, tapi, aku rasa dia sangat tidak patut aku hormati, dia melirik sinis dan tersenyum jumawa karena mendapat pembelaan dari suamiku.


"Aku akan bersikap sopan dengan orang yang bisa menghargai seseorang! " Mas Fahri menatapku tajam.


"Sudah, lah , berbicara dengan orang bodoh seperti dia percuma saja " ucapnya seraya berlalu dari hadapanku dan kembali menemui Bilqis.


"Lihat , Mas, orang seperti itu harus dihormati? Cara menghargai seseorang saja tidak bisa, orang sombong seperti dia tidak patut mendapat penghormatan, "


Aku menjatuhkan bobot tubuhku di kursi yang tidak jauh darinya, aku memandang tajam manik matanya , dia menatapku seakan mau menerkam.


"Kenapa Mas melihatku seperti itu , kalau kamu sudah lupa cara menghormati istrimu, aku juga tidak akan sudi menghormatimu! "Mas Fahri masih menatapku , aku tidak peduli.


Karimah berpamitan dia bersikap ramah dengan suamiku dan berkata agar selalu menjaga Bilqis dan jangan sampai melukai hatinya, aku yang mendengarnya hanya tersenyum kecut.


Setelah Karimah berlalu dari ruangan ini, aku kembali duduk dan memeriksa ponsel.


" Bik, tolong bawakan beberapa baju untuk Bilqis dan juga Mas Fahri dan untukku juga , sekarang , ya, "aku mengirim pesan pada bik Narti , wanita tua yang sangat aku hormati, meski statusnya sebagai pembantu , tapi aku tidak menganggap demikian.


" Siap, "balas bik Narti, aku memang sengaja mengajarkan tentang media sosial terlebih WA karena suatu saat aku pasti akan membutuhkannya.


Setelah menunggu cukup lama, Pak Kasim dan Bik Narti datang dan membawakan beberapa baju ganti untuk kami.


"Bik! " ucap Mas Fahri terkejut, sedang aku berpamitan pada Bik Narti untuk menuju kamar mandi, guna mengganti pakaian.


"Bibik membawa apa? "remang-remang , aku mendengar percakapan mereka.


" Nak Aisyah minta di bawakan baju ganti untuk kalian, "ucap Bik Narti.


Setelah selesai mengganti baju, aku juga meminta Bilqis untuk mengganti bajunya karena pasti gerah, dengan wajah tidak enak hati, Bilqis menuruti perkataanku dan aku papah menuju kamar mandi , setelah selesai , kini giliran Mas Fahri.


" Lihat, Mbak, kemuliaan hati Nak Aisyah , dia dengan ikhlas merawat kalian , meski kalian selalu menyakiti hatinya, "kini Bik Narti berkata dengan Bilqis, ketika aku hendak menggantikan baju untuk Mas Fahri dia berpamitan ingin melihat keadaannya, aku tersenyum mendengar ucapan wanita yang telah menemaniku sejak aku masih sendiri, dia sangat tahu baik burukku.


" Syah , aku ingin kita kembali harmonis, aku sangat mencintaimu, "ucap Mas Fahri, apa hatiku bergetar saat mendengarnya? Tidak! Sama sekali tidak! Dia telah melakukan pengkhianatan , jadi rasa ini sudah berubah.

__ADS_1


" Syah , jangan kau diam saja , katakan sesuatu!"seru Mas Fahri , aku masih diam, apa yang harus aku katakan , tidakkah dia tahu kalau luka ini begitu menganga.


" Aisyah , rasa ini masih sama, meski ada Bilqis di tengah-tengah kita! "serunya lagi, aku masih dengan pendirianku " Diam"....


__ADS_2