
"Kenapa kalian diam," aku menelisik kedua mata Bilqis , aku bisa membaca dari sorot matanya, dia tidak akan pernah mau suaminya menikah lagi.
"Syah, kenapa kamu seperti ini, oh aku tahu , untuk menutupi perselingkuhan kamu, kamu meminta agar aku menikah lagi , iya! " seru Mas Fahri.
Aku tak menyangka suamiku itu bisa punya pikiran sepicik itu ,aku hanya tersenyum kecut melihat mereka berdua.
"Bukan aku yang selingkuh, Mas. Tapi, kamu , kalian berselingkuh, tapi agama kalian buat tameng, apakah kalian lupa kalau kalian menikah secara diam-diam! " kesabaranku mulai teruji, aku tidak bisa lagi untuk mengendalikannya. Ucapan Mas Fahri sungguh keterlaluan.
"Menikah diam-diam bukan berarti selingkuh , paham kamu! " Mas Fahri sudah berani membentakku, padahal dia sangat tahu, aku tidak bisa dibentak-bentak , air mata ini berdesakan ingin keluar, tapi sebisa mungkin aku tahan, karena tidak akan ada air mata yang jatuh di depan kedua manusia ini.
"Kalau bukan selingkuh apa namanya hah! Kalian hanya mempermainkan islam dengan dalih poligami. Bilang saja, kalau kalian pemburu ************, " aku tidak bisa diam jika aku dihina apalagi di fitnah, aku akan terus melawan omongan siapapun yang telah memfitnahku.
"Jaga, mulutmu Aisyah! " untuk kali pertamanya Mas Fahri menamparku, perih , tapi lebih perih hatiku.
Aku melihat Bilqis meneteskan air mata, mungkin dia tersinggung dengan ucapanku, tapi masa bodoh.
"Kamu keterlaluan Mbak Aisyah, "ucap Bilqis seraya tersedu.
" Satu hal yang harus kamu tahu, Bilqis. Wanita baik-baik tidak akan merebut suami orang, apalagi menikah dengan secara diam-diam dan jilbab besarmu ini hanya untuk menutupi kelakuanmu yang bejat ini, "
Air mata Bilqis terus berlinang deras, tapi entah terbuat dari apa hatinya, dia tetap menyuarakan poligami dan apa yang mereka jalani adalah benar.
"Mas, kita jangan sampai kalah, kalau apa yang kita lakukan adalah sebagian dari sunnah rasul. Jadi, kita jangan sampai kalah, "aku mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
Sunnah apa yang mereka maksud, jika salah satu dari kami merasa terzalimi, maka tidak ada sunnah di dalamnya.
Adil, selalu itu yang diucapkan oleh Mas Fahri , adil di bagian mananya, sudah jelas tidak ada keadilan di pernikahan ini untuk sebuah perasaan.
"Meski Aisyah menghinamu seperti ini? " lamat -lamat aku mendengar ucapan dari Mas Fahri.
Aku melihat Bilqis mengangguk dan Mas Fahri merengkuh tubuh mungilnya.
Ah… harusnya aku tidak melihat pemandangan ini. Aku menaiki tangga menuju kamar pribadiku, gerah sekali rasanya , sesampainya di kamar aku memilih mandi dan merendamkan tubuh dengan air hangat di dalam bathup.
Setelah ritual mandi ku selesai, segera aku memakai baju tidur dan segera menuruni tangga. dapur adalah tujuanku, untuk membuat segelas coklat hangat, minuman kesukaanku.
"Syah, maafkan aku," suara Mas Fahri , entah sejak kapan dia berada di belakangku.
Kulewati Mas Fahri begitu saja, kulirik sebentar , ada seulas rasa bersalah di wajahnya, tapi itu semua tidak membuat runtuh pertahananku.
"Syah kamu masih marah." Mas Fahri menarik tanganku hingga membuat aku tidak bisa berjalan dan aku memilih untuk berhenti.
"Apa aku harus berkoar jika aku marah denganmu. Bahkan kemarahan ini sudah naik level menjadi sebuah kekecewaan." aku mengibas tangan Mas Fahri dan segera berlalu dari hadapannya.
Menjauh dari orang yang pernah aku cintai melebihi diriku itu lebih baik. Daripada harus melihatnya dan rasa sakit itu semakin mendalam.
Sesampainya di kamar, aku mengunci pintu dari dalam dan memilih duduk di balkon. memandang ribuan bintang yang bertengger di langit membuat perasaanku merasa lebih baik.
__ADS_1
Aku menyeruput coklat hangat perlahan ,seraya menikmati kerlap kerlip lampu kota yang terlihat begitu indah.
Ponselku terus berdering, entah siapa malam-malam begini yang mengirim pesan whatsapp.
Aku buka layar ponsel dan Dila nama yang tertera di sana. "Kenapa anak ini, malam-malam begini menghubungiku, "
Takut terjadi dengan Dila aku segera duduk dan fokus ke layar ponsel.
"Aisyah, maaf jika karena aku dan juga Dila membuat ribut rumah tanggamu , sampaikan maafku kepada suamimu," pesan dari Dila, aku sangat yakin ini bukan Dila melainkan papanya , Mas Andre.
"Aku lihat, sepertinya kamu sedang ada masalah, kamu bisa ko' berbagi beban denganku, " tulisnya lagi.
Aku hanya membaca beberapa pesan yang dikirim oleh Mas Andre, sedikitpun aku tidak berniat untuk membalas pesannya, aku sadar , aku masih menjadi istri Mas Fahri. Jadi, tidaklah mungkin aku akan berbalas pesan dengan seorang pria yang bukan mahramku.
Aku beranjak dari duduk dan membuang asal ponsel pintarku ke sembarang tempat, jika ponselku rusak juga tidak masalah aku bisa membelinya.
Aku membuang nafas dalam seraya menandaskan minuman coklatku. "Apa aku harus menggugat cerai mas Fahri? " aku sungguh pusing dibuatnya.
"Apa Mas Fahri menikah lagi , karena aku tidak bisa memberi keturunan. " aku meremas perutku, merutuki nasib yang belum berpihak denganku , tak terasa air mata ini keluar tanpa permisi, merutuki rumah tangga yang tidak tahu akan nasibnya, akankah menuju surga bersama Mas Fahri yang selama ini aku harapkan tidak akan pernah terwujud?.
Aku menutup pintu dan membiarkan angin masuk melalui jendela yang sengaja aku buka.
Kubaringkan tubuhku , karena mata terasa berat karena kantuk telah melanda , berharap bangun tidur nanti , aku bisa menemukan sebuah pencerahan dari problema yang sedang aku hadapi.
__ADS_1
Jika berpisah bisa membuatku bahagia, mungkin akan segera aku lakukan, daripada bertahan hanya membuatku sakit, karena sudah jelas , aku bukan wanita satu-satunya yang ada di dasar hatinya....