
Ketika aku berdiri di depan pintu, ternyata sudah ada Mama sedang duduk disana, sedang mengobrol dengan sepupuku. Dia memang yang selalu mengantarkan kemanapun Mama pergi.
Bagaimana kalau Mama mendengar keributan tadi, ah… biarkan saja, aku terus berjalan menuju Mama yang sedang duduk dan mengobrol serius.
"Mama." aku meraih tangan Mama lalu mencium punggung tangannya.
Mama membalas mencium dan memelukku dengan hangat.
"Kamu mau pergi? " tanya Mama.
"Iya, Ma. mau cari angin, " aku beralibi, sebenarnya aku sedang muak dengan mereka berdua.
Setelah basa basi Mama pamit dan menuju kamar Mas Fahri. Mama yang selalu menjadi pertimbanganku untuk menggugat cerai Mas Fahri, Mama yang sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri, tidak pernah membahas tentang keturunan sebagaimana yang sering di pertanyakan oleh para mertua lainnya.
Aku mendengar keributan di dalam sana, sepertinya Mama marah pada Mas Fahri . Entah, apa memang dia mendengar pertengkaran kami tadi.
"Dani, tante pergi dulu, ya, " pamitku pada Dani.
Aku melenggang pergi, seraya berharap bisa menemukan wanita yang mau bekerja sama denganku , mau menjadi istri ketiga sumaiku.
********
Pov Bilqis.
Mama mendatangi kami dengan wajah memerah, tidak seperti biasanya Mama seperti itu.
__ADS_1
"Fahri, jangan pernah kamu ceraikan Aisyah, dia menantu kesayanganku! " seru Mama.
Tidak ada jawaban dari Mas Fahri, dia diam seribu bahasa hingga aku berusaha berdiri dan menemui mertuaku.
"Mama, tidak ada yang mau menceraikan Mbak Aisyah! "seruku seraya meremas perut karena masih merasakan nyeri akibat di kuret.
Mertuaku sontak menoleh ke arahku begitu juga dengan Mas Fahri, ada gurat khawatir di wajah Mas Fahri karena aku terus meringis.
"Jika masih sakit berbaring saja, dulu, " titah Mas Fahri.
"Tidak, Mas, ini harus aku luruskan , bahwa disini tidak ada perceraian tidak aku begitupun juga Mbak Aisyah, " aku berharap, Mama mau membujuk Mbak Aisyah setelah mendengar penjelasanku.
"Yang dikatakan Bilqis sangat benar, tidak akan ada perceraian di antara kami, " Mas Fahri membelaku, tentu menambah amunisi tersendiri, menambah semangat untuk mempertahankan pernikahan ini dan menyuarakan tidak ada yang salah dengan poligami.
Aku mendengar hembusan kasar dari mulut Mama, entah kenapa hingga dia menghembuskan nafas sekasar itu, apa Mama juga mau menentangku?
"Tidak ada satu wanita manapun mau berbagi raga, begitupun juga Aisyah. Kalian menikah dengan diam-diam, bahkan Mama juga tidak kalian beritahu. Mama merasa sakit, merasa tak dianggap , apalagi dengan Aisyah, tentu luka yang kalian torehkan untuk Aisyah terlalu dalam. "Mama melepaskan kedua tangannya dari pipiku, aku merasa sangat tertampar dengan ucapan beliau.
Apa aku begitu berambisi ingin memiliki Mas Fahri hingga aku melalaikan perasaan Mbak Aisyah, ah .. tidak ! Tentu Mbak Aisyah yang terlalu lebay menanggapi semua ini, andaikata dia bilang ''ya aku menyetujui'' tentu tidak akan ada keruwetan seperti ini.
"Bilqis, kalau kamu diposisi Aisyah, Mama yakin, kamu akan berbuat melebihi apa yang Aisyah lakukan, atau mungkin kamu tidak akan setegar Aisyah, " ucap Mama lagi.
Kali ini, aku tidak bisa berkata apa-apa , begitupun juga dengan Mas Fahri, apa iya jika aku di posisi Mbak Aisyah juga akan berbuat demikian bahkan melebihi itu, aku rasa tidak! Karena aku paham agama dan paham bahwa poligami adalah sunnah . Tentunya aku akan lebih bisa menerimanya dengan besar hati bukan!
"Dan kamu Fahri, baru seperti ini saja , kamu sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Mama tidak yakin kamu bisa berbuat adil, poligami itu berat tidak semudah membalikkan telapak tangan, " imbuh Mama, tapi, hatiku menyangkal dengan semua perkataan Mama, aku sangat yakin , Mas Fahri bisa adil dengan seadil-adilnya.
__ADS_1
Aku melihat Mas Fahri dengan pandangan kosong, apa iya , Mas Fahri termakan omongan Mama , lalu akan menceraikan aku dan akan menjadikan Mbak Aisyah satu-satunya di hati Mas Fahri.
Tidak! Ini tidak boleh terjadi , aku harus berbuat sesuatu.
"Mama ,Bilqis yakin. Mas Fahri akan sangat bisa adil terhadap aku dan Mbak Aisyah, " aku menimpali dan Mama menatapku dengan tajam, apakah aku sudah menjadi menantu jahat seperti serial di tv, ah .... tidak , aku masih menjadi menantu baik dan akan menjadi menantu kesayangan.
"Aku tidak tahu dengan jalan pikiranmu, Nduk , sepertinya apa yang dari tadi Mama katakan tidak kamu resapi, atau memang kamu yang keras kepala? " imbuh Mama , aku terperanjat dengan ucapan Mama , bagaimana bisa Mama bisa menilaiku seperti ini.
"Bilqis duduklah, dari tadi kamu berdiri, nanti perutmu semakin perih, "titah Mas Fahri , aku baru sadar kalau aku sudah berdiri lebih dari setengah jam, pantas perutku mulai kram.
" Kamu kenapa , Nduk, perutnya nyeri?" Mama bertanya dengan penuh perhatian, aku tidak paham dengan sikap Mama, tadi dia seperti sedang mengintimidasiku, sekarang memperlihatkan kepeduliannya padaku.
" Rasa itu sering Aisyah rasakan, dia belum punya anak bukan berarti dia mandul, dia sering keguguran hingga membuatnya stres. Tapi , dia tidak pernah mengeluh, semangat hidupnya selalu berkobar. Itu mengapa aku tidak pernah menyinggung tentang anak pada Aisyah. Karena ujian yang dia jalani begitu berat, bahkan jika Mama sendiri yang berada di posisi Aisyah, belum tentu bisa setegar itu, "ucap Mama seraya berdiri di depan jendela, seakan dia mengatakan bahwa Mbak Aisyah adalah wanita paling tegar dan wanita terbaik yang pernah ada di muka bumi ini.
Namun, jika memang demikian, kenapa tidak bisa menerima pernikahan kami?
" Aisyah kemana , Ma? "tanya Mas Fahri.
Kenapa tiba-tiba Mas Fahri menanyakan Mbak Aisyah?.
" Tadi Mama bertemu Aisyah, katanya ingin mencari udara segar, mungkin sedang ke taman, "ucap Mama.
" Aku akan menyusul Aisyah, Ma. "Mas Fahri menurunkan kaki dari ranjang dan mulai berdiri, dengan sigap Mama mepapah Mas Fahri .
" Awwwww!" kenapa tiba-tiba perut ini terasa begitu nyeri.
__ADS_1
Mama dan Mas Fahri menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku yang sedang meringis kesakitan.
"Kamu kenapa? " wajah Mas Fahri terlihat sangat cemas, aku tersenyum padanya dan setelah itu, pandangan kabut, aku tidak bisa melihat apa-apa lagi, hanya bisa merasakan kalau tubuhku sedang dibopong dan dibaringkan di pembaringan. setelah itu aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi....