
Pagi ini aku sengaja tidak melayani semua kebutuhan Mas Fahri, biar saja bukankah sudah ada Bilqis yang akan ada 24 jam yang pastinya akan sigap melayaninya.
Aku sibuk mencari berkas-berkas yang akan aku ajukan ke pengadilan untuk mengurus surat gugatan cerai.
Di lantai bawah terdengar riuh, entah ada apa atau mungkin sedang merayakan apa.
Semakin lama aku kepo, karena tawa mereka yang menggema. Aku suka sebel sendiri dengan jiwa kepoku yang kadang datang disaat tidak tepat.
"Mbak Aisyah, aku hamil." Bilqis berlari ketika menyadari kedatanganku.
Dia terlihat sangat bahagia sedangkan aku hanya bisa menangis darah. Sakit teramat sakit ketika mengetahui Bilqis tengah berbadan dua.
Ah… apakah aku juga harus mendoakan Bilqis keguguran? Sama halnya denganku?
"Selamat," ucapku datar dan merenggangkan pelukannya.
"Terima kasih, Mbak." Bilqis berlalu dari hadapanku dan duduk kembali di meja makan. Dia duduk di samping Mas Fahri seraya tangan tidak mau lepas dari lengan kekar suamiku.
"Duduk, Syah," ucap Mas Fahri, entah aku lihat ada gurat tak enak dari wajahnya.
Aku tersenyum kecut dan tidak menjawab ucapannya, kutarik kursi dan mulai duduk di hadapan mereka.
Merutuki diri sendiri kenapa bisa aku sarapan satu meja bersama mereka. Keadaan yang sangat aku benci, tapi aku tidak berdaya.
"Sini aku ambilkan lauknya," ucap Mas Fahri.
"Aku bisa sendiri," rasa lapar ini jadi hilang. Bahkan melihat kebucinan Bilqis membuat perutku menjadi mual.
Entah apa ini rasa cemburuku karena masih tersisa sebuah rasa pada Mas Fahri, atau aku memang tidak suka melihat orang sebucin itu.
Aku hanya mengaduk nasi yang sudah berada di atas piring, sedang suara manja Bilqis terus menghiasi, sarapan pagi ini.
Ponselku berbunyi, nama Dila yang tertera di layar ponsel, senyumku dengan spontan mengembang.
"Halo, Sayang, " jawabku ketika suara bocah itu terdengar nyaring.
__ADS_1
"Hari ini Dila ada pentas, apa tante mau menemaniku? Teman-temanku ditemani mamanya semua, sedang aku… ., "
Dila memotong ucapannya, tapi aku tahu dia hendak berucap apa, isakan tangisnya terdengar lirih, tapi teramat menyayat hatiku.
"Sayang, jangan paksa tante, dia sedang sibuk, banyak desain yang belum diselesaikan. Ayah saja ya, yang menemani Dila, " suara Mas Andre sedang menenangkan anak gadisnya, Dila semakin terisak.
"Nggak, tante hari ini akan menemani Dila, kamu senang, Sayang, "Dila menjerit, mungkin dia sedang berjingkrak karena kegirangan.
Entah kenapa, Dila seperti obat yang memang dikirimkan oleh Allah untuk mengobati semua lukaku.
Mendengar tawanya, rasa sakit yang baru saja tergoreskan, sembuh seketika.
" Aisyah, mau kemana kamu! "seru Mas Fahri.
Selalu tidak ada rasa legowo di wajah suamiku itu, ketika aku mau bertemu dengan Dila. Padahal kebahagiaanku bersamanya, sedangkan ketika sedang bersama Mas Fahri, dadaku selalu sesak.
" Aku mau bertemu dengan Dila dan akan menemaninya pentas di sekolahnya,"
"Bersama dengan Andre?" Rahang Mas Fahri sudah mengeras, aku sangat tahu dia tidak suka dan akan melarangku bertemu dengan Dila.
"Aku tidak memerlukan izin mu, Mas." aku tak menghiraukannya, kakiku terus menaiki anak tangga, hingga sampai di kamar.
Segera aku sambar tas dan tidak lupa menyimpan berkas yang tadi sudah aku siapkan. Pikirku nanti saja setelah acara Dila selesai semua akan aku urus.
"Kamu beneran mau pergi, Mbak? Bukankah Mas Fahri sudah melarangmu," ucap Bilqis yang ternyata sudah menungguku di tangga paling bawah.
"Bukan urusanmu, kalau Mas Fahri mau menceraikanmu, atau mau menikah lagi, aku akan menjadi Aisyah yang dulu, penurut dan penuh kasih sayang,"
Bilqis tertegun mendengar penuturanku, aku segera keluar dari rumah dan mengeluarkan mobil dari dalam garasi.
"Syah!" suara Mas fahri terdengar nyaring dan aku pura-pura tidak mendengarnya.
"Syah, harusnya hari ini kamu ikut bahagia dan menemani kami ke dokter!"seru Mas Fahri.
Apa dia ingin aku bahagia atas kehamilan Bilqis? Dasar tidak waras! Aku tahu itu hanya sebuah tameng, karena sebenarnya dia cemburu pada Mas Andre.
__ADS_1
Mas Fahri menghadangku ketika mobil sudah mulai ku lajukan. Dia berdiri di tengah gerbang.
"Mas, kalau mau bunuh diri silahkan. Aku tidak peduli, tapi aku mohon jangan sampai kamu tertabrak mobil mewahku, karena aku tidak mau dia kotor karena terkena darahmu! " aku meninggikan suara karena deru mobil mulai terdengar bising.
Raut wajah nya terheran-heran, karena sikapku yang sangat berubah, seharusnya dia sadar kenapa aku begini, bukannya terus menceramahi tentang poligami.
Mas Fahri mulai menepi, sedang aku terus melajukan mobil. Untung aku tidak menghiraukannya, jadi aku bisa tepat waktu disekolah Dila.
Senyumnya mengembang ketika aku mulai keluar dari mobil, tangannya melambai dan dengan sigap aku membalas lambaiannya.
"Sudah menunggu lama, Sayang? " Dila memelukku erat.
"Syah, aku titip Dila sebentar, ada meeting," ucap Mas Andre dengan mimik wajah tak enak.
"Iya, silahkan. Dila akan aman bersamaku,"Dila menuntunku menuju kelas, dimana dia akan menampilkan salah satu bakatnya. Bahkan dia sama sekali tidak keberatan jika Ayahnya tidak menemaninya hari ini.
Bersamanya aku benar-benar lupa dengan kekisruhan hidup yang sedang ku jalani. Aku ingin hidup bahagia seperti ini.
Setelah selesai acara aku mengajak Dila ke butik dan tidak lupa dua buah ice cream kubeli. Dia berjingkrak karena ice cream yang ia inginkan tercapai. Senyumnya terus mengembang di wajah gembulnya. Membuatku gemas ingin mencubitnya. Aku hanya terkekeh melihat tingkah lucunya.
"Makasih Tante," ucap Dila, dia terlihat manis sekali.
"Tante, kapan-kapan aku ajak ke makam Mama ya,"ucap Dila seraya menikmati ice.
" Siap, Sayang, "
"Syah, nanti kamu juga bisa bahagia dengan anak yang sedang dikandung Bilqis! " entah sedari kapan Mas Fahri disini, apa dia membuntuti aku. Kalau iya ,sungguh keterlaluan, dia benar-benar menyangka kalau aku ada main dengan Mas Andre.
Dila menatap manik mataku, di sana seperti ada ingin penjelasan atas ucapan dari Mas Fahri.
"Dila, dengarkan Tante. Tante sangat suka dan bahagia sekali bisa bertemu dengan kamu ok. Karena kamu menyayangi tante dengan tulus, tidak seperti om Fahri, "kuusap kedua pipinya.
Entah terkena setan dari mana, ketika aku selesai berucap dia langsung mengangkat tangan hendak menampar, apa dia merasa tersinggung dengan ucapanku.
"Maaf, Mas. Jangan kasar sama wanita ! "
__ADS_1
Seorang pria menahan tangan Mas Fahri yang hendak terjun ke pipiku....