
Sumpah, aku takut, tapi rasa penasaran ini memberikan sebuah keberanian.
"Mbak! " aku pegang pundaknya , meski jantung ini berdetak semakin kencang.
"Alhamdulillah." aku mengelus dada ketika tahu dia beneran manusia.
"Kenapa menangis di tengah-tengah kegelapan?"
Dia hanya diam, lalu menatap bintang yang bertaburan diatas sana , lalu dia mendekapku erat dan menenggelamkan wajah di dadaku. Aku yang kebingungan membelai rambut panjangnya.
"Menangislah jika menangis bisa membuatmu lega, " ucapku , lalu dia merenggangkan pelukan. Menatapku dengan lekat.
"Mbak, apa salahku , mengapa dia meninggalkanku, " ucapnya seraya tersedu.
"Suamiku menalakku, ketika aku sedang berjuang untuk kelangsungan hidup anakku, "
Hatiku ikut hancur kala mendengar ucapannya , harusnya ada seseorang yang memberi support.
"Kenapa dia mentalak kamu dan anakmu kenapa? "
"Suamiku menikah lagi dan memintaku untuk menerima istri keduanya, tapi aku menolak karena aku tidak mau ada orang ketiga di antara kami, dengan entengnya dia mentalak karena lebih memilih dia dan yang lebih membuatku sakit, dia tidak mau berurusan dengan kami lagi , termasuk membiayai pengobatan anakku, "
Aku mengelus dada, kenapa ceritanya hampir sama denganku.
"Boleh aku melihat anakmu? " perempuan itu menuntunku dan membukakan pintu , aku hanya bisa diam terpaku melihat pemandangan di depan mata. Anak sekecil itu harus merasakan sakit yang sedemikian rupa.
Hanya alat-alat ini yang bisa membuatnya masih bisa bertahan.
"Aku tidak tahu, aku sedang dilema, kalau aku cabut semua alat ini , kemungkinan besar dia akan meninggalkanku untuk selamanya. Sedangkan untuk melanjutkan hidupnya, biayanya tidak sedikit, "ucapnya dengan suara parau.
Aku sangat merasakan bagaimana kegundahannya, air mata ini tak mau berhenti menetes.
" Aku punya penawaran untukmu, ayo ikut aku, "aku menatapnya dengan lekat, mungkin ini gila , atau aku yang mengambil kesempatan dalam situasi ini, tapi dari lubuk hati yang terdalam , aku ingin melihat senyum anak ini.
__ADS_1
" Penawaran apa? "ucapnya dengan wajah cemas.
" Ikut aku. "Wanita yang aku taksir baru berumur sekitar 25 nan itu mengekor di belakangku.
" Duduklah. "titahku padanya, dengan wajah yang penuh tanda tanya , dia menuruti perkataanku.
" Aku bisa memberimu uang untuk kehidupanmu dan pengobatan anakmu, "ucapku sedikit gugup, meski ragu aku akan menawarkan satu pekerjaan karena kemungkinannya dia akan menolak.
" Dengan segampang itu! "dia memicingkan mata, serasa tak percaya.
" Tentu saja tidak, kamu akan melakukan sesuatu untukku, "aku meyakinkan Ayu, ya, aku tahu namanya karena sesekali dia menyebut namanya.
" Maksudnya, aku akan bekerja untukmu?"Ayu mulai menangkap pembicaraan aku dan aku menanggapi dengan senyum.
Bahagia bukan! Karena sebentar lagi , aku akan memberi pelajaran pada Bilqis, aku hanya ingin dia merasakan apa yang aku rasakan, kali ini aku sangat yakin kalau Ayu akan menyetujui permintaanku.
"Yups, tepat sekali. " aku menyilangkan kaki seraya memandang ribuan bintang yang menemani kami malam ini.
Ini bukan balas dendam, aku hanya ingin membuat kapok wanita yang menjadi duri dalam rumah tanggaku.
"Sebenarnya aku punya misi Ayu, cerita kehidupan kita hampir sama, cuma yang membedakan , Allah belum mempercayakan aku untuk menjadi seorang ibu dan sampai sekarang aku masih mencoba mempertahankan rumah tanggaku , meski sesak di dada selalu aku rasakan, " aku menjeda perkataanku, mengambil nafas dalam sebelum aku melanjutkan ceritaku.
"Aku ingin maduku merasakan apa yang aku rasakan, dengan membawakan madu untuknya, sebelumnya aku sudah membicarakannya dengan baik-baik, tapi dia menolak, sehingga aku menemukanmu malam ini dan aku rasa kamulah orang yang bisa menolongku, " aku menatap lekat manik matanya , wajahnya sangat serius menyimak ucapanku.
"Jadi maksudmu , kamu akan menjadikan aku sebagai madumu juga? "
"Tepat sekali dan kamu akan mendapatkan bayaran yang sangat mahal atas pekerjaanmu , jika kamu setuju. " aku menyandarkan punggung di kursi , aku sangat yakin kalau Ayu tidak akan berpikir panjang untuk mengatakan ia.
"Maaf, Mbak, aku tidak mau, " Aku tersentak dengan penolakan ini, mataku membulat tak percaya.
"Kamu yakin? Ini demi anakmu, "aku mencoba meyakinkannya lagi.
" Aku mau bekerja apapun demi anakku, yang penting jangan yang ini, kalau aku menerima pekerjaan ini, hanya demi sebuah uang, apa tanggapan anakku tentangku, jika aku menjadi seorang pelakor, aku lebih bangga anakku mengenalku sebagai orang pekerja keras , meski sebagai buruh cuci , atau apalah.. "Ayu menjeda ucapannya dan menatap lekat mataku.
__ADS_1
" Aku bukan pelakor yang akan mengorbankan apapun demi selembar uang dan aku menolak pekerjaan ini, terima kasih. "Ayu beranjak dari duduknya dan meninggalkan aku di kegelapan malam.
Apa aku sejahat itu? Menyeret seseorang dalam masalahku dengan iming-iming uang hanya demi egoku.
Aku memejamkan mata, hatiku terketuk dengan ucapan Ayu, dia yang diberi ujian lebih dari aku saja bisa setegar dan setabah itu, sedang aku?
Aku berlari kecil mengejar Ayu. "Ada apa lagi? " ucapnya tanpa menoleh ke arahku.
"Tidak, aku tidak akan berkata apa-apa lagi. " aku meninggalkan beberapa lembar uang, berharap bisa membantu.
"Aku tidak mau dikasihani, " ucapnya dengan nada dingin.
"Aku tidak mengasihanimu, ini hanya tanda berterima kasih, karena kamu telah menyadarkan aku. " setelah meletakkan uang, aku keluar dari kamar ini, aku juga tidak peduli jika uang yang aku kasih mau dibuang atau dibakar sekalipun.
Aku kembali ke kamar Mas Fahri, aku berjalan ke arah ranjang, aku pandangi lekat-lekat pria yang pernah membuatku tertawa sepanjang hari.
"Kenapa memandangku seperti itu, " suara Mas Fahri membuatku berjingkat.
Apa dia tahu kalau sedari tadi aku mandanginya? Ah… peduli amat.
"Tidak, aku hanya sedang berpikir, setelah kalian pulang ke rumah, kayaknya aku akan mengadakan syukuran dan mengundang seluruh keluarga kita, " Mas Fahri tercengang, karena kedua orang tuaku tidak mengetahui kalau Mas Fahri sudah menikah lagi.
"Tapi, Sayang! " Mas Fahri terlihat sangat pucat, selama ini aku memang tidak pernah bercerita tentang apapun pada kedua orang tuaku, aku tidak mau membuat mereka kecewa.
Namun, kali ini mereka harus tahu karena aku sudah capek, kenyataannya aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri, aku butuh Bunda dan Ayah.
"Kamu jangan khawatir, Mas . Biar aku yang menjelaskan pada mereka, kamu tinggal duduk manis dengan istri mudamu, "
Wajah Mas Fahri semakin pucat, dia sangat tahu, dulu Ayah sudah mewanti-wanti agar tidak menyakiti hati putri semata wayangnya, atau dia akan mengambil aku dari sisi Mas Fahri.
"Sudah , lah, nggak usah mengadakan syukuran,"ujar Mas Fahri.
"Ini penting, Mas, "
__ADS_1
"Aku juga setuju! " seru Bilqis , aku selalu heran sama dia, selalu saja nimbrung jika aku sedang ngobrol berdua dengan Mas Fahri.
"Nanti biar aku saja yang berbicara pada Ayah Mbak Aisyah , aku yakin, mereka akan menerima, tidak seperti Mbak Aisyah, " amarahku semakin bergemuruh, tapi sebisa mungkin aku tahan, karena aku punya kejutan untuk mereka berdua....