
Fahri berdiri mematung, tidak ada satu kata patah pun yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa Mas, diam. Kamu nggak bisa kan, menuruti apa mauku," ucapku dengan nada dingin, lalu ku buka pintu mobil dan melajukan dengan kencang. Sebelum melajukan ,aku sempat membunyikan klakson dan melambaikan tangan untuk Dila.
Ya, gadis itu sangat sedih , aku sangat tahu. Aku lihat dari kaca spion, Mas Fahri menatap Dila dengan lekat, entah apa yang sedang dipikirkan.
"Mari, Pak. kami duluan." Andre mengulurkan tangan seraya berpamitan.
Keindahan kota ini tidak serta merta membuat hatiku menjadi tenang. Entah apa yang akan aku lakukan setelah ini, hal yang paling aku benci, pulang kerumah dan harus menerima kenyataan bahwa sudah ada wanita lain yang menduduki istanaku.
Tak berselang lama aku memarkirkan mobil , mobil yang dikendarai Mas Fahri juga terparkir di sebelah mobilku.
"Sayang, tunggu, aku minta maaf! " seru Mas Fahri ketika aku membuka pintu rumah.
Entah, dia meminta maaf untuk apa, aku hanya menoleh lalu aku lanjutkan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
"Mas, sudah pulang! " suara Bilqis menyambut kepulangan Mas Fahri, ah membuatku sangat muak.
"Iya, tolong bawakan tas ini ke kamar. " titah Mas Fahri ,sebenarnya aku tidak ingin mendengar pembicaraan mereka , tapi, itu tidak mungkin karena kami berada satu atap yang sama.
__ADS_1
"Ke kamar Mbak Aisyah? " Bilqis masih meminta penjelasan, entah kenapa dia tidak langsung tanggap apa yang dititahkan oleh Mas Fahri.
"Ke kamarmu, " titah Mas Fahri seraya matanya tak lepas memandangku.
Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih untuk menghilangkan haus. Tak kusangka sudah ada Bilqis yang berada di belakangku, entah mau apa dia, mungkin dia akan menceramahiku lagi.
"Mbak, sampai kapan kamu akan seperti ini? " apa maksud dari perkataannya, aku hanya mengerutkan kening seraya terus menghabiskan air putih.
"Mbak, aku berbicara denganmu! " seru Bilqis karena sengaja aku meninggalkannya.
"Ngomong yang jelas, " malas harus berbicara dengan orang yang punya pemikiran cetek.
"Mau sampai kapan Mbak Aisyah seperti ini, sedang aku sudah menjadi istri sahnya Mas Fahri, poligami itu tidak dilarang, Mbak. Bahkan ini sunah, " aku hanya tersenyum kecut padanya, dia hanya menutupi kesalahannya dengan berdalih sunnah.
"Sampai Mas Fahri menceraikanmu, " ucapku dengan menatap matanya dengan tajam.
Aku tahu dia sangat terkejut dengan ucapanku, karena sampai detik ini , aku belum bisa menerimanya.
"Mbak jaga ucapanmu, Allah memang tidak melarang tentang perceraian, tapi Allah membencinya! " Bilqis terus saja menyuarakan itu, sepertinya dia akan terus menjejali telingaku tentang agama yang kayaknya belum ia pahami dengan benar.
__ADS_1
"Aisyah, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menceraikannya," tiba-tiba Mas Fahri menimpali pembicaraan kami, lantang sekali dia bersuara.
Aku menoleh ke arahnya, kulirik Bilqis dengan seksama , terlihat dia sangat bahagia karena mendapat pembelaan dari Mas Fahri.
"Mbak, persoalan ini akan selesai kalau Mbak mau menerimaku! " Bilqis terus saja berucap.
Aku menghela nafas, lalu aku keluarkan dengan pelan.
"Baiklah, aku akan merestui pernikahan kalian," aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada, sedang senyum terukir di wajah Mas Fahri dan juga Bilqis.
"Aku tahu Sayang, kamu orang baik." Mas Fahri mencium tanganku di depan Bilqis. Apa aku bahagia tentu saja tidak, karena menurutku , Mas Fahri telah melakukan pengkhianatan.
"Tapi, dengan satu syarat, " aku menepis tanganku ketika bibir Mas Fahri mulai mencium tanganku.
"Syarat? 'ucap mereka bebarengan.
" Ya, dengan syarat, Mas Fahri harus menikah lagi, "ucapku dengan senyum penuh kemenangan.
" Apa! "Bilqis terkejut dengan ucapan yang baru saja terlontar dari bibirku.
__ADS_1
Aku ingin tahu, seberapa sabarnya dan kuatnya dia, jika suaminya mempunyai istri lagi.
Tapi , aku sudah tahu jawabannya , dari bulatan mata yang mendadak melotot , karena permintaanku....