
Pagi ini hujan turun melanda kota kecil kami yang berada dipinggir kota. Aku harus berangkat kesekolah menggunakan payung biruku untuk kesekolah. Jujur saja aku sedikit tak menyukai hujan. Itu menganggu aktifitasku. Seperti biasa aku pergi kerumah Natsu terlebih dahulu. Berangkat bersamanya sudah menjadi bagian rutinitasku sebelum kesekolah.
Sesampainya dirumahnya kulihat dia sudah menungguku didepan pintu gerbang rumahnya. Dia berbeda dari kemarin, terlihat tak bersemangat, entah apa yang terjdi dengannya kemarin dan semalam. Inginku bertanya tapi pasti tidak akan dijawab olehnya. Akhirnya kuurungkan niatku untuk bertanya walau aku merasa begitu penasaran dan juga khawatir.
Sampai dikelasnya dia langsung masuk begitu saja, tak menghiraukan diriku yang berada disampingnya. Padahal dia selalu berbicara sesuatu hal padaku sebelum masuk kekelasnya. Tapi kali ini berbeda.
Akhirnya di jam pelajaran aku tak fokus pada pelajaran, karena hal itu aku dinasehati guruku. Menyebalkan, batinku. Yah tapi itu salahku juga. Tapi aku memang sedikit khawatir dengan Natsu. Sangat jarang dia seperti ini. Pada akhirnya aku tak bisa menahan perasaanku lagi. Saat jam istirahat kutanyai dia tentang apa yang terjadi kemarin.
"Natsu, jawab dengan jujur kau kenapa!" tanyaku agak berteriak. Tentu saja pertanyaan dan nada bicaraku membuatnya kaget. Sejenak dia hanya diam saja. Lalu tiba tiba mengangkat bibirnys untuk menjawab.
"Ketua OSIS menawariku untuk bergabung dengan OSIS" jawabnya pelan
"Eh, bukannya bagus itu" ucapku senang. Tapi tidak bagi Natsu. Jika itu aku pasti akan langsung kuterima. Menjadi bagian OSIS walau berat tapi itu berarti OSIS mengakui dirimu.
"Mungkin kau senang, dan akan langsung menerimanya jika ditawari itu" jawabnya agak meninggi. Apa yang dia katakan sama seperti yang kupikirkan. Dia bisa membaca pikiranku ya, batinku
"Tapi tidak untukku. Menjadi bagian OSIS itu berarti aku akan jarang bertemu atau bersama deganmu lagi, Sakura. Aku akan jarang pulang dan berangkat bersama denganmu" sambungnya
Ya, yang dipikirkannya memang benar sih. Aku juga tidak ingin jarang bersama dengan Natsu temanku yang terbaik. Bahkan yang terbaik diantara yang terbaik. Tapi jika dia menolak bukankah itu menyia nyiakan kesempatan emas. Kau akan lebih mudah berprestasi dan populer jika kau menjadi bagian anggota OSIS.
"Aku sudah memutuskannya.." ucapnya lagi
__ADS_1
"Memutuskan apa?" tanyaku bingung dengan yang diucapkannya.
"Sudah memutuskan untuk menolak ajakan itu"
"Kau yakin?" tanyaku lagi. Mungkin saja dia sedang bercanda.
"Iya" ucapnya lagi. Kali ini penuh dengan keyakinan. "Keputusanku sudah bulat. Aku akan pergi menemui ketua OSIS dan mengatakan jawabanku" ujarnya sembari berdiri dan meninggalkan kelasku.
Yah aku tidak bisa apa apa. Begitulah Natsu, jika sudah memutuskan akan sulit untuk merubahnya lagi. Aku akui dia sedikit...keras kepala. Tapi aku suka dengan sifatnya itu. Dia juga tak akan sembarangan mengambil keputusan. Aku yakin apapun keputusannya itulah yang terbaik baginya. Aku akan mendukungnya.
Pulang sekolah, kulihat diwajahnya, dia tersenyum lebar. Aku yakin dia pasti sedang bahagia. Tentu saja. Dia tidak akan menjadi anggota OSIS. Dia sudah kembali menjadi Natsu yang lama. Natsu yang ceria. Dia bebas dari beban pikirannya yang menganggunya.
Aku berharap tidak akan ada masalah yang membuatnya harus menghilangkan senyum manis di wajahnya itu. Jujur saja dia memang cukup manis jika tersenyum. Dia juga terlihat jadi semakin cantik. Banyak orang yang menyukai senyumannya itu.
Natsu memiliki 1 kakak laki laki namanya Haru Ikishima. Sama seperti Natsu yang namanya diambil ketika waktu mereka lahir. Natsu diambil dari kata Musim Panas, itu karena Natsu lahir di Musim Panas. Dan Kak Haru dia lahir di Musim Semi.
Dirumahnya terlihat sepi, hanya ada ibunya yang sedang berada dihalaman belakang. Sepertinya sedang menanam bunga. Menanam bunga salah satu hobi ibunya Natsu.
"Dimana Kak Haru?" tanyaku
"Katanya dia pergi ke kampusnya" jawabnya sembari meletakan cemilan ringan dimeja
__ADS_1
"Hmmm...jadi dia sudah berangkat lagi?" tanyaku lagi
"Iya"
"Tapi kenapa kakakku belum ya?"
"Eh kak Kyo belum berangkat?"
"Belum" jawabku sambil mengambil minuman yang baru diletakan Natsu.
"Aku juga belum melihatnya akhir akhir ini. Dimana dia?" tanyanya
"Dia ada dirumah, hanya saja memang akhir akhir ini jarang keluar, karena tugas kampusnya" jawabku seadanya
****
Setelah selesai, aku langsung berpamitan pulang dengan Natsu dan juga ibunya. Takut hari mulai bertambah gelap. Bisa bisa kakakku marah nanti. Sampainya dirumah tak kulihat siapapun disana. Diruang tamu, dapur, kamar mandi, bahkan di kamar dan gudang juga tidak ada.
Jika ibu dan ayah tidak ada itu sudah wajar mereka pergi bekerja. Tapi untuk kakakku, kemana dia pergi. Tidak bilang juga padaku akan pergi. Bahkan pintupun tak dia kunci. Sebenarnya kemana manusia menyebalkan itu pergi sih. Akhirnya aku tak peduli lagi kemana kakakku pergi, aku pergi kekamar mandi, dan mandi. Setelah selesai aku pergi kedapur untuk membuat makan malam.
Tiba tiba saja ada yang membuka pintu, aku terkejut. Waktu jam pulang kerja ayah dan ibu masih 3 jam lagi. Lalu siapa yang masuk? apakah kakak? tapi kalau memang dia seharusnya dia mengucapkan salam bukan. Kulirik pintu depan sambil berjaga jaga dan waspada, sembari memegang ponselku.Jika dia pencuri aku akan bersembunyi dan menelfon petugas. Kuamati siapa orang yang tengah melepas sepatunya itu. Saat dia berbalik ternyata dia memang adalah kakakku.
__ADS_1
To Be Continued...