
Aku dan stevani pergi mendaftar dan mengurus syarat-syarat yang diperlukan, Setelah mendaftar, aku diarahkan untuk mengikuti ujian. Ada dua jenis ujian yang harus aku lalui, yaitu ujian tulis dan ujian praktek. Dengan pengetahuan yang diberikan oleh Sir Hobit, aku yakin bisa melewati ujian ini.
Saat aku menunggu bersama Stevani dan beberapa murid lainnya, tiba-tiba seorang murid cantik masuk ke dalam ruangan. Pandangan semua orang langsung tertuju padanya. "Apakah dia putri itu?" ucap salah satu orang di sekitarku dengan penasaran. Karena penasaran, aku pun bertanya kepada Stevani, "Siapa dia, Stevani?" tanyaku.
Stevani terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaanku, lalu menjawab, "Kamu tidak tahu dia? Dia adalah putri dari Kaisar Britania. Dia juga terkenal pintar dan mahir dalam sihir. Aku agak terkejut bahwa kamu tidak tahu hal yang umum seperti ini," kata Stevani menjawab.
Putri itu melangkah dengan anggun melewati sekelompok murid. Dia didampingi oleh beberapa pelayan yang setia yang berjalan di belakangnya. Tatapan sinis dari putri itu melayang kepada murid-murid yang mereka lewati.
Tatapan itu membuatku merasa putri tersebut sombong. Segera setelah itu, akhirnya giliran para murid baru dipanggil untuk mengikuti ujian. Ujian pertama yang kami hadapi adalah ujian tulis, di mana kami diuji untuk menjawab pertanyaan seputar asal-usul sihir. Aku merasa yakin dan mampu menjawab semua pertanyaan dengan baik.
Setelah ujian tulis selesai, kami diarahkan untuk mengikuti ujian praktek. Sebelum memulai ujian, kami harus melakukan pemeriksaan terhadap jumlah elemen yang kami kuasai dalam lingkaran sihir.
Masing-masing dari kami memiliki elemen sihir yang beragam, ada yang memiliki elemen angin, api, dan berbagai elemen lainnya. Namun, yang membuat banyak orang terkejut adalah fakta bahwa putri Kaisar memiliki kekuasaan atas empat elemen. Pengguna yang mampu mengendalikan tiga elemen saja sudah dianggap langka, apalagi empat.
Namun, masalahku adalah lingkaran sihir yang digunakan adalah lingkaran sihir yang sangat umum. Lingkaran sihir tersebut tidak mampu mendeteksi semua elemen yang ada dalam diriku yang dimana aku mempunyai elemen yang lebih dari kalangan banyak orang.
__ADS_1
Aku merasa gugup karena bayangan ketakutan jika elemenku tidak terdeteksi, maka aku tidak akan diterima. Satu per satu, murid-murid lain dipanggil namanya.
"Eryk Etienne!" teriak salah satu petugas dengan keras.
Akhirnya, tibalah giliranku. Aku maju dengan gugup dan berdiri di tengah lingkaran sihir. Hatiku berdebar kencang saat petugas berkata, "Mari kita mulai."
"Aku siap," jawabku dengan nada gemetar.
Petugas mengaktifkan lingkaran sihir dengan mengucapkan, "Aktivasi elemen."
Cahaya terang menerangi sekeliling lingkaran sihir, dan seperti yang aku khawatirkan, elemen batuku tidak bersinar.
Mereka mencoba beberapa kali, namun tidak ada hasil yang memuaskan. Pandangan sinis dari murid-murid sekitar mulai terasa, dan bisikan sindiran mulai terdengar di telingaku.
Setelah upaya deteksi elemen yang tidak berhasil, petugas-petugas tersebut berdiskusi sebentar dan akhirnya memutuskan untuk meminta aku untuk menunggu hingga hasil ujian keluar. Mereka tidak mengizinkanku untuk ikut dalam ujian praktek.
__ADS_1
"Kamu silahkan menunggu hasil ujian keluar besok dan bisa pulang sekarang," ucap petugas dengan nada acuh.
Ucapannya begitu mengusir dan membuatku merasa tidak dihargai. Aku merasa tidak terima dan bertanya, "Bagaimana dengan ujian prakteknya?"
Petugas dengan sikap sinis menjawab, "Kamu saja tidak memiliki kekuatan sihir, bagaimana mungkin kamu bisa ikut dalam ujian praktek?"
Aku merasa kesal dan tidak terima dengan perlakuan petugas tersebut. Aku memutuskan untuk menunjukkan kekuatanku, walaupun hanya kekuatan biasa yang bisa digunakan oleh orang-orang umum.
Tanpa ragu, aku mengarahkan energi sihirku ke telapak tangan. Cahaya kecil berkilauan dan aku mengeluarkan sedikit kekuatan sihir yang ku miliki. Kekuatan tersebut mungkin tidak sebesar yang dimiliki oleh mereka yang mampu mengendalikan elemen, tetapi aku ingin menunjukkan bahwa aku memiliki potensi dan semangat untuk belajar dan berkembang.
Beberapa murid di sekitarku terkejut melihat kekuatan sihir yang ku tunjukkan. Pandangan sinis mereka perlahan berubah menjadi kekaguman dan penasaran. Aku merasa sedikit lega, meskipun masih belum puas dengan perlakuan petugas.
"Dengan kemampuan yang aku miliki, aku tetap ingin mengikuti ujian praktek," ucapku dengan suara tegas.
Petugas terlihat terkejut dan tidak menyangka bahwa aku memiliki kekuatan sihir meskipun hanya sedikit. Mereka saling pandang sejenak, lalu salah satu petugas mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Kamu bisa mengikuti ujian praktek, tapi ingatlah bahwa kekuatanmu terbatas," kata petugas dengan sedikit penyesalan.
Setelah itu akupun pergi ketempat ujian praktek, aku tidak akan membiarkan halangan seperti itu membuatku terhambat