Aku Terlahir Kembali Di Dunia Sihir Dan Pedang

Aku Terlahir Kembali Di Dunia Sihir Dan Pedang
Berkunjung ke toko keluarga stevani


__ADS_3

Setelah beberapa masalah yang dihadapi, akhirnya kami tiba di tempat ujian praktik. Oh ya, Stevani memiliki tiga elemen dalam ujiannya, yaitu api, air, dan angin.


Dia juga mengakui bahwa dia sedikit kesulitan saat menghadapi ujian tulis sebelumnya.


Di tempat ujian praktik, ada seorang putri Britania yang sedang menguji kemampuan sihirnya. Dia tampak anggun dengan setiap melafalkan mantranya, dan semua orang terkesima dengan keahliannya. Ditambah lagi, dia memiliki keistimewaan menjadi pemilik empat elemen di tubuhnya. Namun, hal itu tidak cukup mengubah pandanganku tentangnya sebagai seorang putri yang arogan.


Setelah putri Britania tersebut menunjukkan sihirnya dalam pertunjukan yang menakjubkan, satu per satu murid lain dipanggil untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.


Akhirnya, giliran pun tiba untukku. Karena aku ingin mengendalikan kekuatanku, aku hanya sedikit menunjukkan kemampuan sihirku.


Aku mengeluarkan elemen umum, yaitu angin dan air. Untuk ujian kekuatan elemen angin, seorang petugas menempatkan batu-batu di atas sebuah meja. Aku memulai dengan membaca mantra "ventus debilis." Angin keluar dari tongkat sihiku dan mengarah ke batu-batu tersebut. Namun, dengan tak terduga, batu-batu itu tidak jatuh atau bergerak. Petugas yang mengawasi tampak terkejut, dan bisikan yang sama seperti sebelumnya terdengar lagi, "Bukankah dia orang yang elemennya tidak terdeteksi?"


Setelah itu, petugas menyuruhku untuk ujian selanjutnya, yaitu elemen air. Di depanku, ada sebuah wadah yang berisi air, dan aku diminta untuk mengendalikan air tersebut dan menuangkannya ke wadah yang ada di sebelahnya. Aku membaca mantra "rih debil," dan tiba-tiba hanya sedikit air yang terangkat dan jatuh ke wadah. Aku bisa mendengar bisikan dari beberapa murid, "Pantas saja elemennya tidak terdeteksi," ucap salah satu dari mereka.


Aku tidak menyangka telah membuat dua kesalahan berturut-turut, membuatku pesimis untuk lulus ujian di Sekolah Britania ini. Namun, Stevani berhasil melewati ujian, meskipun dia terlihat agak kikuk.


Setelah kami selesai ujian sihir, kami disuruh kembali keesokan harinya untuk mengetahui apakah kami lulus atau tidak.


Aku dan Stevani kembali bersama-sama. Stevani menceritakan bahwa dia tinggal di kota ini karena orang tuanya membuka sebuah toko di sini. Dia mengajakku untuk mampir ke toko itu, dan aku setuju karena aku sedang lapar.

__ADS_1


Kami terus berjalan sambil berbincang-bincang, melewati bangunan kota yang indah dan terstruktur rapi.


Akhirnya, kami sampai di toko keluarga Stevani. Kami masuk


ke toko sambil disambut oleh suara wanita yang terdengar dari dalam, "Selamat datang!" Suara itu ternyata dari ibu Stevani. "Oh, Stevani, kamu sudah kembali. Bagaimana ujianmu tadi?" tanya ibunya.


"Aku berhasil melewati ujian, meskipun agak malu. Tapi aku berhasil," jawab Stevani kepada ibunya. Tiba-tiba, ibu Stevani melihatku dengan rasa penasaran, dan dengan sigap, Stevani langsung memperkenalkanku kepada ibunya.


"Ibu, perkenalkan ini Eryk, teman baruku. Dia juga menyelamatkanku tadi saat aku diganggu oleh preman kota," ucap Stevani kepada ibunya. Aku pun dengan sigap memperkenalkan diriku, "Perkenalkan, nama saya Eryk Etienne," ucapku sambil sedikit menundukkan kepala.


Ibu Stevani, seolah memahami situasi, menjawab, "Oh, begitu. Senang bertemu denganmu, Eryk. Terima kasih atas apa yang telah kamu lakukan untuk Stevani."


"Aku tidak sempat memberitahumu, Bu, karena aku tadi sudah terlambat. Jadi aku tidak punya banyak waktu. Lagipula, ada Eryk bersamaku," jawab Stevani.


Tiba-tiba, seorang pria kekar keluar dari belakang, sepertinya dari dapur toko, dan berteriak, "Siapa yang berani mengganggu putriku? Sini, kupatahkan lehernya!" ucap pria tersebut.


Dia melihatku dengan wajah garangnya dan berkata, "Apakah kamu orang yang mengganggu putriku?" yang membuatku menelan air ludahku sendiri. Sebelum aku menjawab, Bibi Ginny langsung menghentikan ayah Stevani, "Apa yang kamu lakukan, Suamiku? Dia adalah penyelamat putri kita," ucap Bibi Ginny.


Sontak setelah perkataan itu, wajah ayah Stevani langsung berubah dari garang menjadi lembut. Perubahan yang signifikan itu membuatku terkejut. Dia langsung menjabat tanganku dengan kuat, yang membuat tanganku kesakitan, lalu dia memperkenalkan dirinya, "Perkenalkan, namaku George Marwin. Aku adalah ayahnya Stevani. Senang bertemu denganmu. Panggil saja aku Paman George," ucapnya. Aku sekali lagi memperkenalkan diriku, "Perkenalkan, namaku Eryk Etienne. Senang bertemu dengan Paman," ucapku.

__ADS_1


Lalu, dengan ekspresi seakan mengingat sesuatu, Paman George berkata, "Etienne seakan tidak asing bagiku. Ah, lupakan saja. Ayo, duduk dulu dan mari kita makan roti buatan kami. Roti buatan kami terkenal enak, lo."


Kemudian aku duduk di kursi bersama Stevani, Bibi, dan Paman. Dia mengambil roti sambil berbisik. Aku tidak tahu apa yang mereka bisikkan, tapi entah kenapa, itu sedikit menyangkut diriku dan Stevani.


Aku selalu lupa untuk menanyakan pertanyaan ini kepada Stevani, "Oh, iya, Stevani, aku tidak tahu nama putri kaisar itu. Bisakah engkau memberitahuku namanya?" tanyaku.


Lalu Stevani menjawab, "Apakah kamu benar-benar tidak tahu namanya? Ia orang terkenal di kota ini."


"Tidak, aku tidak tahu sama sekali," jawabku.


Bagaimana aku bisa tahu nama putri kaisar sedangkan nama kaisar itu sendiri aku tidak tahu.


Lalu Stevani melanjutkan perkataannya, "Ia bernama Sofia Weasley. Ia anak ketiga Kaisar Arthur. Ia dikenal agak arogan oleh orang-orang. Kenapa kamu bertanya begitu?" jawab Stevani sekaligus bertanya. "Aku hanya penasaran


saja dengan dia," jawabku.


Lalu, di tengah perbincangan kami, datanglah Paman dan Bibi yang menyuguhkanku roti dan teh. Aku disuruh makan sebagai tanda terima kasih karena telah menolong Stevani. Ini agak berlebihan menurutku, tapi aku mengiyakan. Aku tahu ini tidak baik karena terlalu mempercayai orang dengan cepat itu tidak baik, tapi karena aku percaya bahwa aku bisa menjaga diri dengan sihirku.


Kami berbincang-bincang sambil makan bersama. Ini terasa seperti saat makan bersama keluargaku di rumah.

__ADS_1


Malam pun tiba, dan aku menginap di rumah Stevani.


__ADS_2