
"Status"
...Level: 1 Exp : 0/25...
...Skill : Appraisal...
...Pekerjaan: Belum ditentukan...
...Kekuatan : 9...
...Kecepatan : 3...
...Stamina : 7...
...Mana : 0...
...Daya tahan sihir : 0...
...Daya tahan fisik : 1...
...Combat Power 20...
"Dengan status seperti ini aku tidak akan bisa merubah apapun meskipun aku ingin, padahal aku hanya ingin hidup dengan tenang dan mati seperti orang normal tapi kenapa sangat sulit"
"tok..tok..tok"
"Masuk," sahut Arcelio.
terlihat Claudia yang saat itu sudah membersihkan diri dan berpakaian layak ditemani Louis di sampingnya.
"Salam Pangeran Arcelio, dengan ini Claudia sudah diberikan pakaian dan makanan yang layak kalau begitu saya pamit," ucap Louis dengan sedikit membungkukkan badan.
"Kerja bagus Louis kamu boleh pergi sekarang" timpal singkat Arcelio.
Mendengar itu Louis pun sedikit tersenyum dan dia pun bergegas untuk melanjutkan patrolinya di sekitar istana.
"Jadi Claudia"
Belum sempat menjawab tapi Arcelio langsung melemparkan pisau di hadapan Claudia yang sedang berlutut di depannya.
"Aapaa maksudnya ini Pangeran" jawab Claudia gemetar dengan mengangkat wajah melihat Pangeran disertai senyuman palsu yang dipaksakan.
keringat dingin mulai terlihat berjatuhan dari wajahnya, matanya terbuka lebar karena kaget dan syok, dia tidak tahu apa maksud dari perbuatan Pangeran ini.
"Tidak aku hanya memastikan, jika kamu ingin membunuhku saat ini adalah waktu yang tepat karena saat ini aku sangat lemah dan Louis juga tidak sedang berada di sampingku"
"Aku takut jika tidak akan ada lagi kesempatan seperti ini di masa depan" ucap Arcelio dengan sedikit mengangkat wajah nya.
__ADS_1
"Ak..u....aku.." sahut Claudia terbata-bata dengan mata yang berkaca-kaca.
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Arcelio langsung duduk di hadapan Claudia, Arcelio dengan cepat mengambil pisau dan mengarahkan pisau itu di lehernya, hanya dengan sedikit dorongan pisau itu bisa dengan mudah menembus leher Arcelio saat itu juga.
"Jadi.... aku bilang, kamu hanya punya dua pilihan sekarang, membunuhku saat ini juga atau bersumpah setia kepadaku" jawab Arcelio tegas.
Setelah Melihat dan Mendengar ucapan itu Claudia langsung bersujud di hadapan Arcelio, dia tidak tahu kenapa hal ini terjadi.
Claudia berfikir hal ini terjadi karena Pangeran tidak menyukainya atau mungkin rumor buruk yang selama menyertainya, atau mungkin ini adalah hari di mana dirinya akan dieksekusi pikirnya.
"Aku Claudia bersumpah atas jiwa dan raga akan selalu setia kepada anda Pangeran Arcelio" jawab Claudia dengan memekik kan suara dan tubuh yang terlihat gemetar.
Melihat itu Arcelio langsung membuang pisau yang dipegangnya, karena pisau yang dilempar terlalu keras akhirnya pisau itu berbenturan dengan dinding dan jatuh di lantai sehingga menimbulkan bunyi yang keras waktu itu.
Mendengar suara yang keras itu Claudia mengangkat wajahnya perlahan.
...Status...
...Claudia...
...Combat power: 70...
...{Ahli Strategi dan Politik}...
...{setia kepada Kerajaan Lasthe}...
...{Setia Kepada Arcelio}...
"Maafkan aku" ucap Arcelio dengan nada berat.
Claudia langsung menoleh ke arah Arcelio, dan membalas pelukan Arcelio.
"Pangeran apa kamu ragu kepadaku" Tanya Claudia.
"Tidak, aku mempercayaimu" jawab Arcelio sembari merapatkan pelukannya.
"Lalu, kenapa anda melakukan ini kepadaku" sahut Claudia dengan mata yang mulai memerah.
"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa memberitahumu sekarang"
Mereka pun saling berpelukan dan Claudia waktu itu mulai menangis di pelukan Arcelio. Arcelio yang melihat Claudia menangis mulai mengusap air mata dengan lembut seakan sedang mengusap air matanya sendiri.
Tak ada yang tahu mengapa Arcelio melakukan itu, apakah untuk menuntut kesetiaan, kurasa tidak karena Arcelio memiliki skill appraisal. Satu-satunya alasan yang masuk akal kenapa Arcelio bersikap seperti itu adalah karena Claudia mengingatkan nya kepada Zasa.
Saat pertama kali Arcelio melihat Claudia di penjara dia dibebani oleh dua masalah yaitu perasaan bersalah dan kebetulan yang tidak wajar atau cenderung menakutkan bagi Arcelio.
...***...
__ADS_1
Setelah kejadian itu Arcelio meminta Claudia untuk menemaninya berkeliling di istana Kerajaan Lasthe. Dan kebetulan saat itu dia melihat Louis yang sedang menjalankan tugas berpatroli di sekitar istana, Louis pun yang melihat mereka berdua menghampirinya dan memberi salam.
"Selamat Sore Pangeran" ucap Louis formal dan sedikit membungkukkan badan.
"Selamat sore" jawab Arcelio singkat menanggapi salam Louis.
"Apakah anda menikmati saat berkeliling di istana tuan" tanya Louis saat itu.
"Tentu, apalagi aku ditemani Claudia yang dengan sabar menjelaskan semuanya"
Claudia yang mendengar itu tersipu malu, dia seperti merapikan rambut padahal rambutnya tidak berantakan.
"Louis sepertinya sudah cukup untuk hari ini"
"Untuk sekarang tolong antarkan Claudia pulang"
"Dan untuk Claudia tolong beristirahatlah dengan baik, karena mungkin besok aku akan memintamu untuk mengajariku banyak hal"
sebelumnya Arcelio dan Louis sudah berdiskusi tentang tempat yang akan ditinggali Claudia, karena Arcelio berfikir jika Claudia adalah salah satu orang penting bagi Arcelio maka mereka berdua sepakat jika tempat yang akan ditinggali Claudia akan berada di sekitar kawasan istana yang dekat dengan Arcelio.
Louis sebenarnya sangat antusias dengan pembicaraan mereka tetapi karena tugas dia pun segera berpamitan kepada Pangeran.
Setelah melihat Louis dan Claudia pergi, Arcelio terdiam sebentar dia memandang sekitar dan melihat indahnya langit senja waktu itu.
...***...
"Jadi pada dasarnya tidak semua orang bisa menggunakan sihir"
"Menurut buku yang aku pinjam di perpustakaan tadi hanya beberapa orang saja yang bisa menggunakan sihir"
"Bakat sihir sudah ditentukan dari lahir, biasanya orang yang memiliki bakat sihir akan memiliki mana pada tubuh mereka"
"Jadi apakah aku tidak memiliki bakat untuk bisa menggunakan sihir mengingat jumlah mana ku adalah nol"
Arcelio yang saat itu berada di dalam kamarnya terlihat serius untuk memahami dan membaca buku yang telah ia pinjam tadi.
Tanpa ia sadari waktu berjalan sangat cepat, para pelayan yang waktu itu berada di luar kamarnya mulai masuk dan mempersiapkan kamar Pangeran itu, yang mana menandakan jika itu adalah waktu untuk tidur.
Arcelio waktu itu berada di balkon di depan kamarnya ia melihat bulan yang sangat indah yang membuat siapapun akan takjub dengan keindahannya.
"Tuan kamarnya sudah siap" ucap salah satu dari kedua pelayan itu.
Mendengar itu Arcelio langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Ya terima kasih, kerja bagus kalian, selamat malam" ucap Arcelio kepada pelayannya itu.
Mendengar itu kedua pelayan wanita yang berada di depan Arcelio menjadi sedikit kaget, karena tuan yang selama ini hanya berdiam diri dan tidak mengucapkan sepatah kata pun berterima kasih kepada mereka, ini kali pertama dia mendapatkan ucapan itu.
__ADS_1
"Kalau begitu kami pamit" ucap kedua Pelayan wanita itu.
"Ya, sampai jumpa besok" sahut Arcelio dengan senyuman kecil.