Akulah Sang Raja

Akulah Sang Raja
Chapter 7 - Hal Yang Mustahil


__ADS_3

Aura jingga itu perlahan memudar dan berganti warna, "Pangeran ... Pangeran! hahaha ..." Tawa Alexandra menggila, dia bersiap untuk menyerang Pangeran yang tidak takut sedikitpun waktu itu.


Saat menggunakan aura, Alexandra akan selalu lepas kendali, oleh karena itu dia akan sebisa mungkin tidak menggunakannya untuk menyerang orang lain. "Alexandra, sadarlah!" Louis sekuat tenaga berteriak untuk menyadarkan Alexandra.


"Majulah!"


Arcelio dengan tenang memasang kuda-kuda bertahan, dia mulai menyeimbangkan dirinya dan fokus. "Huft ..." Arcelio menarik nafas dalam-dalam.


"Tidak mungkin, kuda-kuda itu! apa Pangeran berniat menangkis serangannya secara langsung?" Louis yang melihat itu semakin panik dan berantakan. Dia hanya bisa menahan nafas karena tidak ada yang bisa dilakukannya saat itu.


"Hyaaaa ..." Alexandra langsung berlari menerjang Pangeran Arcelio yang saat itu sedang dalam posisi bertahan.


"Pangeran!" teriak Alexandra. Dia langsung mencoba untuk memukul Pangeran dengan sekuat tenaga.


"Tidak ...!" teriak Louis dengan mengulurkan tangannya seperti meraih sesuatu.


"Sudah kuduga," seringai Arcelio.


Alexandra waktu itu mengincar kepala Arcelio. 'Swosh!' pukulannya terdengar seperti sebuah dentuman keras batu yang menghantam sebuah tanah.


Arcelio mencoba menghindarinya, tetapi karena pukulan Alexandra yang begitu cepat, akhirnya sedikit mengenai pipi kirinya. serempet dari pukulan Alexandra meninggalkan bekas seperti sayatan di wajah Arcelio.


"Aku tahu, kau mencoba untuk mengincar kepalaku. Alexandra!" Sesaat setelah pukulan Alexandra menggores wajah Arcelio, dengan cepat Arcelio meraih lengan atas Alexandra.


"Maaf Alexandra, ini akan terasa sedikit sakit." setelah menarik lengan Alexandra, Arcelio segera menendang kaki Alexandra. Dengan cepat dia membelakangi Alexandra dan membantingnya.


Gedebum!


Alexandra jatuh dengan sangat keras, sehingga membuat tanah di sekitar situ retak. "Maaf Alexandra, semakin besar energi yang kamu gunakan untuk menyerangku, maka semakin besar pula pembalikan serangan itu berbalik pada penyerangnya," ini adalah teknik dari Akido ucapnya pelan.


Dikarenakan penggunaan aura yang berlebihan, Alexandra pingsan di tempat pada waktu itu. Tidak ada rasa benci dalam hati Arcelio, malahan dia menjadi senang karena prajuritnya bisa menerobos keranah yang lebih tinggi.


Louis yang melihat itu hanya bisa kagum, "Panjang umur Pangeran!" dia pun pingsan karena efek dari aura milik Alexandra yang mengenainya tadi.


...[Status]...


...Nama: Arcelio...


...Level: 1 Exp : 0/25...


...Skill : Appraisal...


...Pekerjaan: Belum ditentukan...


...Kekuatan : 80...

__ADS_1


...Kecepatan : 40...


...Stamina : 70...


...Mana : 0...


...Daya tahan sihir : 0...


...Daya tahan fisik : 90...


...{Combat Power 280}...


...***...


Mendengar kekalahan Alexandra, Istana pun menjadi gempar. Tak ada yang menyangka jika Alexandra akan dikalahkan dalam sebuah duel, apalagi orang yang mengalahkan Alexandra adalah seorang Pangeran yang dikenal selalu mengurung diri di kamarnya.


"Apa? Alexandra dikalahkan?"


"Benar sekali tuan," ucap lelaki tua itu.


"Jangan bercanda kau kakek tua, lalu siapa yang mengalahkannya?"


"Pangeran Arcelio, Tuan."


"Sudah kukatakan untuk tidak bercanda!"


"Bagaimana bisa monster betina itu dikalahkan?" ucapnya, karena dia masih merasa kebingungan mendengar berita kekalahan Alexandra.


...***...


"Apa yang kalian lakukan Alexandra, Louis?" ucap Arcelio saat melihat mereka berdua bersujud di depan kamarnya pada pagi buta itu.


"Pangeran, tolong hukum saya seberat-beratnya. Saya merasa sangat bersalah, saya berjanji tidak akan menggunakan aura lagi!" ucapkan Alexandra dengan membenturkan kepalanya ke lantai.


Arcelio tidak mengatakan sepatah kata pun waktu itu, dengan memasang wajar dingin dia memandangi kedua orang yang sedang bersujud kepadanya.


"Pangeran?" ucap Alexandra kebingungan karena tidak ada respon sama sekali darinya. Alexandra berpikir jika Pangeran sangat marah pada dirinya. Akhirnya dengan memberikan diri, Alexandra mengangkat wajahnya untuk melihat Pangeran.


"Alexandra! tidak ada yang mengatakan jika kamu dilarang menggunakan aura, aku akan sangat kecewa jika kamu tidak menggunakan aura lagi. Alexandra! gunakanlah aura untuk kebajikan dan melindungi kerajaan ini. jika kamu lepas kendali saat menggunakan aura, aku berjanji akan menghentikanmu," ucap Arcelio mencoba untuk meyakinkan Alexandra.


"Tapi Pangeran, bekas luka itu? saya sangat merasa bersalah, ini merupakan sebuah kesalahan yang fatal yang dilakukan oleh seorang Ksatria. jika Pangeran ingin saya mati hari ini pun saya akan melakukannya," ucap Alexandra dengan penuh penyesalan.


"Tidak, dari awal aku yang meminta untuk melakukan pertandingan itu."


"Saya melakukan sebuah kesalahan dimana seorang Ksatria yang harusnya melindungi anda, tapi malah ... ini adalah hal yang sangat memalukan bagi seorang Ksatria," ucap Alexandra menundukkan kepala, dia merasa sangat malu pada dirinya sendiri dan penyesalan yang sangat besar selalu menghantuinya setelah kejadian itu.

__ADS_1


Arcelio berjongkok di depan keduanya, dia mulai menepuk kedua bahu mereka seperti menandakan jika apa yang terjadi waktu itu bukanlah masalah besar. "Dengarkan aku kalian berdua! dulu aku adalah seorang yang lemah, tapi sekarang berbeda. Aku adalah Pangeran! ya benar, Aku adalah Pangeran kalian. Aku akan melindungi sesuatu yang berharga bagiku tidak peduli apapun bayarannya, dan kalian merupakan salah satu orang yang berharga bagiku."


Mendengar itu Louis yang sedang bersujud dihadapan Arcelio mengangkat wajahnya, Louis menangis seperti anak kecil. Alexandra yang mendengar itu menjadi sangat kagum kepada Pangeran Arcelio, dia bersumpah akan menjadi pedang Pangeran atau orang yang akan melindungi Pangeran meskipun mengorbankan nyawanya sendiri.


"Kalian berdua bisa istirahat untuk hari ini," ucap Arcelio kepada mereka.


"Tidak! Aku akan terus berlatih, aku tidak akan kalah dengan Alexandra dan suatu saat aku juga akan menjadi pedang yang bisa diandalkan oleh Tuan Arcelio." ucap Louis dengan penuh semangat disertai sedikit air mata yang masih menetes di pipinya.


"Kau tidak usah sok keren di hadapan Pangeran! dasar adik tidak berguna!" Alexandra mengeplak kepala Louis.


"Hah? apa kau bilang kakak sialan!"


...[Status]...


...Alexandra...


...Combat Power: 930...


...{Prajurit bintang ⭐⭐⭐}...


...{Menghormati Arcelio}...


...[Status]...


...Louis...


...Combat power: 120...


...{Prajurit puncak bintang ⭐}...


...{Setia kepada Arcelio}...


Seperti biasa mereka pun berkelahi, mereka seperti air dan minyak yang tidak bisa disatukan. Arcelio yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecil.


...***...


Tok tok tok!


"Masuk!" ucap Arcelio yang saat itu sedang duduk di dalam ruangan pribadinya, yang mana dulu merupakan bekas ruang kerja Raja yang sebelumnya.


Seorang wanita dengan pakaian formal kerajaan masuk ke ruangan itu, dia menggunakan sebuah pakaian semi militer yang biasanya digunakan oleh para-para petinggi kerajaan ataupun penasehat kerajaan.


"Salam Pangeran, ini adalah laporan tentang keadaan Kerajaan ini, hampir satu bulan saya mengamati kondisi di dalam maupun di luar Istana ini. Saya sudah mencari informasi dari beberapa sumber yang kredibel. Saya sudah merangkumnya menjadi beberapa bagian," ucap wanita itu menjelaskan tentang lembaran yang diberikan kepada Arcelio.


"Kerja bagus Claudia, meskipun aku merasa bersalah karena telah mempekerjakan mu sendiri. Aku sangat bersyukur kamu ada disini, terima kasih!" ucap Arcelio kepada seorang wanita itu dengan sedikit membungkuk kan kepalanya.

__ADS_1


"Saya merasa terhormat atas sanjungan anda Pangeran." Jawab wanita dengan salam formal Kerajaan, dimana tangan kanannya menyilang di dada dan badan yang sedikit membungkuk ke depan.


__ADS_2