Akulah Sang Raja

Akulah Sang Raja
Evolusi Raja


__ADS_3

"Ini salah ... harusnya tak seperti ini! harusnya tak seperti ini! harusnya tak seperti ini ...!" teriak Devan tak bisa menerima kenyataan pahit itu.


"Woi anak muda, atau aku panggil bocah saja. Kapan kita bisa mulai? mana omongan besar mu tadi, hahaha ..." cercaan terus terlontar dari mulut para orang tak beradab tersebut.


Devan terus berteriak seperti orang kerasukan setan. Barrier raksasa yang semula mengelilinginya menyusut hingga hanya menyelimuti tubuh kedua perempuan tak bersalah itu.


"Barrier nya sudah hilang, serang!" orang-orang itu mulai membuang senjata tajam mereka.


Sesuai instruksi dari Bos, maka prajurit militer itu mulai membagikan senjata api pada semua orang yang ada di sana. "Ingat, dia memiliki kemampuan spesial barrier. Saat barriernya menghilang itulah saat kita menyerangnya."


"Tembak!"


Ribuan peluru mengarah tubuh Devan. Rasa sakit tertembak di sekujur tubuhnya tak sebanding dengan rasa sakit saat kehilangan orang yang berharga baginya. "Apa gunanya aku hidup? tunggu aku Reka ... Zasa!" Devan seperti orang yang kehilangan akal sehatnya, dia sudah pasrah dan tak peduli jika dirinya mati sekarang.


Meskipun dihujani peluru di sekujur tubuhnya, Devan masih terus terdiam kaku dan tak melakukan apapun, tatapannya menjadi kosong saat itu. "Tembak, terus tembak aku!" ucap Devan berbisik pada dirinya sendiri yang berharap jika dia bisa segera mati saat itu juga.


"Kalian sedang lihat apa? cepat tembak!" Bos para orang tak beradab itu menjadi sedikit takut.


"Tapi bos, kita sudah menembaki dia lebih dari sepuluh menit. Sekarang amunisi kita habis," ucap salah satu preman.


Pria berbadan besar dan bertato itu menjadi murka saat ada yang membantah perkataannya. "Kalau aku bilang tembak, ya tembak!" Dia memukul wajah orang itu dengan sangat keras menggunakan senapan laras panjang, hingga membuat hidungnya patah.


"Apa kalian buta? cepat ambil peluru lagi! yang lainnya tetap menembak," teriak orang berbadan besar dan bertato tersebut.


Suara tembakan yang begitu memekakkan telinga membuat tak ada warga yang berani melihatnya. Bahkan saat polisi yang asli datang, mereka hanya berjaga untuk mengevakuasi masyarakat di wilayah tersebut.


"Bos gawat ... gawat!" ucap salah satu anggotanya dengan nafas yang tidak beraturan.


"Sekarang apa lagi?" bentak pria berbadan besar tersebut.


"Amunisi ... kita kehabisan amunisi! tadi aku hanya menyiapkan sedikit karena cuma ber urusan dengan satu orang pikirku," ucapnya dengan membungkuk tak berani melihat wajahnya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? bukannya sudah ku perintah untuk membawa amunisi lengkap. Apa kamu tak melihat lawan kita adalah pengguna kemampuan spesial. Kenapa tak menggubris omonganku ... mati saja kau!" pria besar tersebut langsung membunuh bawahan nya dengan menusukkan pisau di lehernya.


Bos preman itu adalah seorang yang sangat berhati hati dan cerdas, dia sudah menyiapkan rencana. Tapi saat ada yang mengganggu rencananya maka dia akan menjadi sangat murka, "Apa kau tak melihat ekspresi Vincent saat itu? apa kau menganggap itu lelucon?"


"Kalian dengar ... jika kalian tak mau mati seperti si bodoh ini, sekarang gunakan senjata tajam itu," dia menunjuk ke tumpukan senjata jarak dekat seperti parang, sajam dan lain-lain yang sempat di buang tadi.


"Aku tak peduli! jika kulihat bocah itu masih hidup, kalian akan aku bunuh," teriak pria berbadan besar itu dengan angkuhnya.


"Serang!" ucap serentak para preman tersebut.


Keadaan Devan sangat parah waktu itu. Darahnya sudah banyak hilang karena tembakan peluru. "Reka ... Zasa ... Tung ..." tubuh Devan jatuh terlentang di tanah. Dia sudah tak memiliki keinginan untuk hidup dan bersiap untuk menyusul mereka berdua.


Disaat yang bersamaan terlihat di langit awan yang membentuk wanita bersayap, cahaya yang terang mengiringinya. "Apa dia adalah malaikat yang akan menjemput ku?" Devan tersenyum karena sebentar lagi dia akan mati.


Malaikat itu mulai mendekat ke tubuh Devan, alih-alih mengambil rohnya tapi malaikat itu malah menyembuhkan Devan yang terbaring sekarat di tanah.


"Wahai orang yang terpilih ... sekarang bukan saatnya untuk kematian mu. Bangkitlah Raja! sekarang engkau aku berkati dengan tubuh yang abadi, tubuh dimana kamu tak akan bisa mati meskipun engkau menginginkannya. Aku akan memberikan kepadamu sebuah pedang yang bisa memotong apapun, serta sebuah perisai yang akan melindungi mu dari segala macam bahaya di dunia. Sekarang bangkitlah!"


Terlihat tubuh Devan beregenerasi sangat cepat. Luka yang diakibatkan oleh tembakan itu seolah hilang begitu saja, darah yang tercecer dimana mana seperti tertarik dan kembali lagi ke tubuh Devan. Sebuah pedang terlihat melayang di samping tubuh Devan dan perisai yang memutarinya seperti sedang menjaganya.


Hanya Devan yang bisa melihat sosok malaikat itu. Para preman itu hanya melihat jika tubuh Devan beregenerasi dengan sangat cepat. Apa ribuan peluru itu tak berefek kepadanya? semua yang melihat itu menjadi sangat ketakutan.


"Sebenarnya apa yang kita lawan sekarang?" Dia membuang senjata api yang semula dia pegang itu.


"Bukankah kita hanya harus membunuh anak kecil, tapi apa itu? apa dia abadi?" ucapnya putus asa.


Semua hanya bisa terdiam mematung. Mereka hanya bisa menelan ludah saat melihat darah itu mulai kembali ke tubuh Devan.


"Apa yang kalian lakukan? cepat serang sebelum dia bangun, gunakan senjata apapun. serang!" teriak Bos preman itu dengan angkuh.


Devan bangkit dan melihat ke Arah Jasad Reka dan Zasa yang sampai akhir pun masih Devan lindungi dari hantaman peluru-peluru tersebut dengan menggunakan barriernya. "Maaf Reka ... Zasa harusnya aku melakukan ini sejak awal," ucap Devan meratapi kedua perempuan itu.

__ADS_1


Karena telah mendapatkan luka fisik dan luka batin yang teramat kuat, rambut Devan perlahan memudar dan berubah warna menjadi putih. "Aku akan membalaskan kematian kalian!" Terlihat mata Devan yang dipenuhi dengan dendam dan amarah.


"Untuk kalian sampah! apa kalian penasaran bagaimana cara kalian mati?" teriak Devan kepada sekumpulan orang tak beradab itu.


Semua preman ketakutan, mereka tak berani bergerak bahkan berbicara saat itu. Mereka melihat Devan sebagai monster abadi yang tak bisa mati.


"Kenapa kalian masih diam? pasti ada batasan saat menggunakan kemampuan itu. sekarang serang!" teriak Bos preman itu meyakinkan para bawahannya, dengan menodongkan pistol ke hadapan mereka.


"Apa kalian mau dibunuh olehku atau membunuh Bos kalian itu?" ucap Devan kepada semua orang yang mematung itu.


Pandangan dari anggota preman tersebut menjadi angkuh mereka tersenyum kecil dan menjadi liar. Mereka seperti menemukan harapan hidup saat mendengar perkataan Devan itu.


"Mari kita serang Bos, serang!" teriak dari orang-orang memprovokasi.


"Bunuh ... bunuh!" Dengan kompak mereka mulai berjalan perlahan ke arah pria itu.


"Apa kalian sudah gila? jangan becanda..." ucap Bos itu ketakutan dengan badan yang gemetar.


"Bunuh!" teriak dari salah satu preman itu berlari menuju ke arahnya dengan kapak besar di tangannya.


"Kalian preman rendahan gila. sekarang matilah kalian ..." ucap Bos tersebut sambil terus menembaki anggotanya sendiri. Karena jumlah peluru pistolnya tak sebanding dengan jumlah anggotanya, akhirnya Bos itu kehabisan peluru dan diapun berlari sekuat tenaga untuk menjauh dari sana.


"Sekarang si gendut brengsek itu sudah kehabisan peluru. Maju!" ucap salah satu dari mereka.


"Ti-tidak ... menjauh dariku!" teriak Bos itu ter engah-engah. Namun semua hanya tertawa saat menyaksikannya begitu menyedihkan.


Terlihat jika para preman tersebut menangkap Bos nya sendiri. "Ternyata Bos bermental tempe yang takut kematian, hahaha ..." Hinaan dan cacian terlontar dari mulut mereka.


"Kalian semua anak lont*," ucapan terakhir dari mulut Bos preman itu sebelum mereka mencabik cabik setiap tubuhnya, memotong tangannya, mencongkel matanya dan terus menusuknya dengan belati hingga pria itu mati.


"Sudah menjadi sifat manusia untuk saling berkhianat," ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Devan melangkah maju, dia mulai mengangkat pedang yang berada di sampingnya itu, "Pedang yang sangat indah." Devan memandangi pedang itu dengan seksama.


"Jadi ini adalah pedang dan perisai yang dipinjamkan oleh malaikat itu, Cruel Judge dan Oracle," Pedang itu mulai bersinar dengan cahaya emasnya dan perisai itu juga mulai bersinar dengan cahaya peraknya.


__ADS_2