
Meskipun Devan abadi tapi dia masih bisa merasakan sakit seperti manusia lainnya. Sakit dari serangan fisik maupun serangan batin.
"Aku tak tahu, mengapa orang baik seperti mereka harus meninggal di tangan orang-orang kotor seperti kalian," ucap Devan melangkah ke depan.
Devan mulai membuat barrier yang sangat besar, dia berpikir untuk tidak menyisakan mereka satupun saat itu.
"Hahaha ... mau kemana kalian?" dengan bengisnya dia membantai satu persatu manusia yang berada di depannya.
Dor! "Ahahaha ... ahahaha ..." terdengar suara tembakan ke arah Devan, tapi peluru itu tak bisa menjangkau dan menembus perisai Oracle milik Devan. Perisai itu seolah olah melayang di belakang Devan tetapi akan langsung bisa memblokir serangan dari segala arah, "Apa itu?" ucap pasrah pria itu sebelum devan memenggal kepalanya.
Meskipun Devan abadi tapi dia juga merasakan sakit, tapi dengan Oracle yang melindungi, bahkan Dewa pun tak bisa melukainya.
"Tak ku sangka pedang yang terlihat besar ini ternyata cukup ringan." Devan mengencangkan genggamannya dan semakin brutal membantai orang yang berada di sana.
Cruel Judge adalah pedang yang sangat ringan, bahkan jika orang biasa yang memegangnya maka orang itu seperti memegang sebuah ranting pohon, bisa di ibaratkan seperti itu karena ringan nya pedang ini. Meskipun pedang ini memiliki panjang menyerupai longsword tapi sebenarnya ini bukanlah longsword.
"Sudah cukup! sekarang saatnya untuk serius." Devan berhenti sejenak dari pembantaian yang dia lakukan.
"Apa yang kamu bicarakan? dari tadi kamu terus membantai satu persatu dari kami dan kamu anggap itu hanya permainan bagimu!" teriak salah satu preman itu menangis dan sangat ketakutan.
"Kalau aku mau, sudah aku bunuh kalian semua dari tadi. Bagiku kalian hanyalah sebuah sampah yang hanya harus di hilangkan dari muka bumi ini!" Devan menatap para manusia hina itu yang berlari tak kenal arah seperti ternak yang akan disembelih.
Diantara mereka, ada yang mencoba untuk keluar dari barrier milik Devan. Barrier milik Devan tak bisa ditembus orang biasa meskipun begitu Devan hanya bisa menggunakannya sebatas jaring yang hanya bisa menangkap ikan kecil.
Devan tertawa kecil merendahkan para preman tersebut yang bahkan sekarang tak bisa dianggap preman lagi. Para orang tak beradab itu seperti serangga di mata Devan
"Apa kamu tak memiliki sedikit rasa kemanusiaan dalam hatimu, hah! Bagaimana bisa kamu membunuh orang dengan mudahnya dan tak merasa bersalah sama sekali?" teriak salah satu preman itu seperti sudah menyerah atas kehidupan mereka.
"Yah ... aku tak percaya akan diceramahi oleh sampah sampah seperti kalian. Ingatlah ini, sebelum kalian mati! aku bukanlah manusia, aku adalah Raja! sesali lah perbuatan busuk kalian di neraka nanti." Devan meremas wajahnya dan tertawa di saat yang bersamaan.
__ADS_1
"Apa yang kau bilang bocah gila? semuanya, serang bocah gila itu. Apa kalian tak malu terus terusan ditindas oleh bocah itu, serang!" ucap salah satu dari mereka dengan wajah yang terlihat sangat marah.
"Serang!" sahut lainnya.
"Ya, begini harusnya! kalau kalian hanya berlarian seperti hewan ternak maka tak akan seru lagi. Ayo kemari lah wahai sampah, aku akan membersihkan dosa kalian!" Devan mengacungkan jari tengahnya ke segerombolan orang yang berlari ke arahnya.
Devan mulai membunuh lagi satu persatu dari mereka yang maju. Pertarungan antara Devan dan kumpulan sampah itu tak imbang sama sekali. Meskipun para manusia sampah itu membawa senjata api dan benda tajam, tapi yang mereka lawan adalah sosok Raja yang tak bisa mereka raih.
"Ba-bagaimana bocah sialan ini begitu kuat? andai aku yang memiliki kekuatan itu ..." ucapnya sebelum tubuhnya terbelah menjadi dua.
Melihat kawannya di bantai satu per satu oleh Devan para preman itu menjadi takut. Mereka yang awalnya punya keberanian untuk melawan balik, menjadi ketakutan dan memutuskan untuk berlari menjauh dari Devan.
"hahahaha ... maju kalian semua! ya terus, terus! kemarilah ... akan aku hapus dosa kalian hahaha ..." Devan tertawa terbahak bahak melihat para preman itu yang terlihat seperti bebek yang berlarian tak kenal arah.
"Ini tidak adil bocah gila!" teriak salah satu preman.
Kena kau, "Sekarang Jawab pertanyaanku! Apakah membunuh orang tak bersalah adalah keadilan bagimu?" Devan menarik kerah orang itu.dengan kasar.
Orang itu tak bisa menjawab pertanyaan Devan. Dia hanya bisa menangis dan berteriak tak jelas saat itu, teriakannya sangat keras hingga membuat semua orang yang berada di sana hanya bisa terdiam sesaat.
"Sekarang sesali lah perbuatanmu di neraka," ucap Devan menusuk jantung pria itu dengan perlahan hingga membuatnya meninggal.
Setelah membunuh orang itu Devan langsung membuang mayatnya begitu saja dan dia pun berteriak dengan lantang ke arah sekumpulan preman itu, "Dengar kalian semua! jika kalian ingin keadilan maka akan aku turuti." Senyum Devan menyeringai.
Devan menancapkan Cruel Judge di tanah dan setelah menancapkan pedang nya di tanah Devan pergi menjauh dari pedang itu. Devan seolah olah ingin memberikan pedang itu kepada para preman tersebut
"Kalian sudah tau kan bagaimana pedang ini membantai sampah seperti kalian. Itu adalah sebuah pedang yang bisa memotong tulang seperti memotong kertas, tak ada yang tak bisa dipotong olehnya. Jika kalian bisa mencabut dan mengangkat pedang itu, maka pedang itu akan menjadi milik kalian," seringai Devan semakin terlihat jelas saat itu.
"Kalian dengar apa yang dikatakan bocah itu, sekarang berkumpul dan mari kita cabut pedang ini bersama-sama," ucap salah satu satu dari mereka dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Semua berbondong-bondong menuju ke arah pedang itu ditancapkan. Dengan mudah merekapun bisa mencabut pedang tersebut.
"Bocah gila yang bodoh, hahaha ... apa kamu kira kami akan mencabut bergantian satu persatu," ucapnya dengan bangga karena berhasil mencabut pedang tersebut.
Orang yang memegang pedang itu dengan cepat menghancurkan barrier milik Devan, "Kau bocah terbodoh yang pernah aku temui. Bagaimana sekarang? kami bebas, sekali lagi dengan pedang ini aku yang akan menjadi penguasa selanjutnya di wilayah ini," ucap sombong dari seseorang yang memegang pedang tersebut.
"Serang! bocah itu tak memegang senjata sekarang. Serang, cepat serang!" teriak preman lainnya.
"Terima kasih, kalian para sampah idiot, Hahaha ..." ucap Devan.
Tak lama kemudian orang yang memegang Cruel Judge berteriak kesakitan. Tubuhnya terbakar hingga menjadi abu. Pedang itu pun terbang menuju arah Devan, dengan indah kembali ke genggaman Devan.
"Hahaha ... apa kalian ingin menggunakan pedang ini?" Devan mengangkat pedangnya menghadap langit.
Orang-orang itupun terperangkap dalam barrier yang di buat Devan, "Sial, aku tak bisa bergerak."
Kini para manusia tak beradab itu terlihat seperti burung dalam sangkar yang kecil. mereka berdesak desakan, saling mendorong bahkan ada yang terinjak-injak dibuatnya. Namun tak peduli seberapa keras mereka mencoba untuk keluar, barrier itu tak bisa dihancurkan.
"Lihatlah, ini adalah Cruel Judge. Berbahagialah kalian bisa mati dengan pedang ini. Sampah idiot seperti kalian harusnya mati lebih mengenaskan daripada ini. Kematian kalian tak sebanding dengan anak yang kalian bunuh, anak yang kalian eksploitasi," Wajah Devan terlihat sangat marah waktu itu.
"Berakhir sudah ..." Mereka semua membuang senjata yang dipegangnya.
"Wahai jiwa-jiwa yang busuk. semoga di kehidupan kalian selanjutnya, kalian bisa mengerti arti dari kemanusiaan." Devan memperkuat genggamannya dan mengarahkan Cruel Judge ke langit.
Pedang Cruel Judge Devan bersinar hingga menembus langit, yang membuat langit mendung itu seolah menyerap cahaya dari pedang tersebut. Semua orang yang melihat itu hanya bisa pasrah dan takjub akan keindahan itu. Halilintar mulai bergemuruh saat itu juga, awan mendung itu seperti berputar mengelilingi cahaya yang menembus langit tersebut.
"Sekarang, persiapkan diri kalian!"
Dengan satu kali ayunan, sebuah petir yang sangat besar menyambar tepat ke arah para preman itu. Barrier yang mengelilinginya ikut hancur karena sambaran petir tersebut. Orang-orang yang berada di sana berteriak dengan sangat keras karena kesakitan yang luar biasa. Tubuh mereka lenyap tak tersisa hingga menjadi debu karena efek dari sambaran petir tersebut.
__ADS_1