Akulah Sang Raja

Akulah Sang Raja
Selamat Tinggal


__ADS_3

Perisai Oracle yang melindungi jasad Reka dan Zasa dari sambaran petir itu perlahan bersinar dan menghilang begitupun pedang Cruel Judge yang dipegang Devan saat itu, kedua senjata itu seperti perlahan lenyap bersamaan dengan terbunuhnya semua orang itu. Devan berjalan menghampiri jasad Reka dan Zasa. Devan hanya berdiam di samping kedua jasad tersebut.


"Cepat pergi dari sini!" teriak salah satu Polisi itu.


Dor!


Dor!


Warga yang mendengar suara tembakan tersebut menjadi sedikit kaget, meskipun mereka berkumpul jauh dari tempat kejadian tersebut. Mereka merasa senang saat mengetahui para preman itu menghilang dari wilayah itu.


"Akhirnya, kita bebas!"


Sorak para warga membubarkan diri setelah melihat kejadian itu. Mereka bisa hidup tenang sekarang, tanpa rasa takut yang selama ini mereka rasakan.


Pria dengan pakaian militer lengkap itu berjalan menuju ke arah Devan yang jaraknya lebih dari 500 meter dari peleton. Dengan hati-hati dia mendekati Devan yang saat itu hanya terduduk lemas dengan pandangan kosong.


"Komandan, jangan ke sana. Orang itu berbahaya!" teriak salah anggota memperingatinya.


"Diam kalian, apa kalian semua buta? pria itu bahkan tak mengancam kita,"


Mendengar teriakan amarah dari komandan nya semua anggota yang tadinya ribut jadi diam. Komandan itu berjalan pelan berhadapan dengan Devan.


"Perkenalkan aku Jack, kepala pasukan dari peleton ini" ucap Jack dengan tegas.


Devan hanya terdiam dengan pandangan yang kosong, dia seperti tak memperdulikan apa yang dikatakan pria tersebut.


"Anak muda, bagaimana aku bisa mengetahui namamu jika kamu hanya diam" dengan senyuman kecil jack mencoba lebih mendekati Devan.


"Diam!"


"Anak mu ..."


"Diam, apa gunanya memperkenalkan diri saat ini!" Teriak Devan keras.


"Aku hanya ingin membantumu," dengan sabar Jack mencoba menenangkan Devan.


Mendengar perkataan itu, Devan terdiam sebentar. Devan melihat kedua tangannya yang berlumuran darah, Devan tertawa saat itu dengan menggenggam tangannya seperti mencoba menahan amarahnya.

__ADS_1


Jack hanya bisa terdiam saat itu, dia menyadari kesalahannya. Jika dia tahu ini lebih awal, mungkin setidaknya dua gadis itu tak akan menjadi korban. Melihat pemandangan yang sangat memilukan tersebut, tanpa diberitahu pun orang akan mengetahui apa yang terjadi.


Suasana menjadi menegangkan, para anggota peleton hanya bisa menunggu dari kejauhan dan tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Membantu? jangan bercanda kau sialan. Terlambat, semuanya sudah terlambat." Dengan tatapan tajam Devan seperti ingin melampiaskan emosinya kepada Jack.


Devan kaget saat melihat orang yang berdiri tak jauh darinya itu ternyata menangis. Semua amarahnya seakan hilang setelah melihat itu. Devan membuang tatapan matanya dan hanya bisa terdiam setelah itu.


"Aku hanya ingin pemakaman yang layak untuk kedua gadis ini," ucap Devan lirih.


"Mereka berdua adalah Reka dan Zasa, mereka adalah kakak beradik yang menjadi korban dari eksploitasi manusia yang tak beradab itu." Tangan Devan menunjuk ke arah lubang besar bekas sambaran petir yang sangat dahsyat tersebut.


"Aku minta maaf." Jack menundukkan kepalanya, "Jika saja tak ada musuh dalam selimut dan jika saja aku lebih berkompeten maka semua ini tak akan terjadi," ucapnya dengan badan membungkuk di belakang Devan.


"Jack, aku mau proses pemakaman dilakukan segera," jawab singkat Devan menanggapinya.


"Setidaknya, biarkan aku mengetahui namamu anak muda."


"Devan, Devano Devan."


"Ikutlah denganku Devan, ganti pakaianmu dengan pakaian yang layak. Tak sopan jika kita pergi ke pemakaman dengan pakaian yang penuh darah seperti itu," ucap Jack sambil memegang pundak Devan.


"Biarkan aku membawa gadis kecil ini," ucap Jack kepada Devan.


Jack yang waktu itu menggendong Zasa berjalan menuju ke peleton. Dengan cepat dia memandu Devan menuju ke peleton.


"Kalian, cepat panggil ambulan dan segera lakukan pemakaman yang layak bagi ke dua gadis ini," teriaknya ke peleton.


"Siap pak," sahut semua anggota peleton.


"Lakukan pemakaman tertutup dan jauhkan dari media," teriak Jack.


"Siap pak, laksanakan!"


...***...


Proses pemakaman dilakukan pukul 17:00, Devan waktu itu menunjukkan tempat pemakaman yang berada di samping ibu dan ayahnya mereka. Debat kecil terjadi saat mencari tempat pemakaman tapi setelah mendengar alasan Devan, akhirnya Jack menyetujuinya.

__ADS_1


Devan meletakkan bunga terakhir sebelum peti mati di tutup. Devan memandang wajah mereka berdua, dia mencoba tegar untuk memberikan senyuman di akhir pertemuan. Tapi seberapa pun Devan mencoba tegar, air mata Devan terus menetes di pipinya.


Setelah peti mati ditutup, Jack memberi sinyal untuk segera memakamkan mereka berdua. Devan menaburkan bunga di atas peti mati. Proses pemakaman itu hanya dilakukan oleh beberapa orang yang bertanggung jawab atas pemakaman itu, Devan serta Jack.


"Hei Reka, Zasa apa kalian masih mendengar ku? aku sadar betul perpisahan sangat menyakitkan, tapi aku tak menyangka perpisahan akan sesakit ini."


"Reka, aku sangat menyesal. Mungkin jika aku tak menemui mu malam itu, mungkin kamu masih bisa bercanda bersama Zasa."


Devan menangis tersedu sedu sambil meratapi makam ke dua gadis itu. Dia mencoba untuk tidak menunjukkan sisi lemahnya, tapi seberapa keras dia menahan kesedihan akan selalu mengalahkannya.


"Apa kalian ingat waktu kita bercanda bersama, waktu kita makan bersama. Aku pikir aku terlalu bodoh, aku tak sadar jika waktu waktu yang kita habiskan bersama adalah waktu terindah yang pernah kumiliki."


"Hei Reka, Zasa apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sangat kesepian, tak ada lagi tempat pulang untukku. Aku sudah tak memiliki saudara, orang tua bahkan teman."


"Reka aku minta maaf jika bukan karena aku jika bukan..." teriak Devan.


"Tenangkan dirimu anak muda, ikhlaskan mereka berdua. Tolong jangan meratapi makam seperti itu, aku turut berduka atas semua kejadian yang menimpa mereka berdua," ucap Jack sambil memegang pundak Devan. Dia mencoba memenangkan Devan padahal air matanya mengucur deras melihat itu semua.


...***...


Pukul 18:00 langit menjadi gelap, satu persatu pengurus makam berpamitan lalu pulang. Hanya Devan dan Jack yang masih berada di makam tersebut.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan mulai sekarang anak muda," ucap Jack kepada Devan.


"Entahlah, aku juga tak tahu," sahut Devan.


"Hei bagaimana jika kamu bergabung ke peleton ku, akan banyak hak istimewa untuk mu. Kamu tak perlu lagi hidup dalam bayang bayang jika kamu mau bergabung ke peleton ku, aku akan bertanggung jawab penuh untukmu," ucap Jack meyakinkan Devan.


"Terima kasih Jack untuk semuanya, tapi untuk sekarang tolong biarkan aku sendiri," ucap Devan lemas dan pasrah.


"Setidaknya, ambil ini anak muda. Ini adalah nomor telepon pribadiku."


"Anak muda, lakukan apa yang kamu suka, tapi ingat jangan melenceng dari jalan kebajikan. Aku tak mau jika pertemuan kita selanjutnya akan menjadi musuh," ucap Jack kepada Devan. Jack pun pergi meninggalkan pemakaman itu.


"Maaf jika aku merepotkan mu." Devan membungkukkan badannya kepada Jack yang saat itu hendak pergi.


"Ini bukan apa-apa anak muda, ini memang sudah kewajibanku." Jack berjalan menjauh, dia mengangkat tangannya seolah memberi sinyal jika dia akan pergi meninggalkan pemakaman itu.

__ADS_1


__ADS_2