
Seruan kata 'sah' dari seluruh saksi yang hadir dalam akad ini seperti mengirimkan sejuta bilah pisau ke lubuk hati. Dadaku sesak oleh beban penyesalan, tetapi aku bahkan tidak bisa menangis karena takut make up yang telah dibayar puluhan juta ini hancur sia-sia, jadi, aku hanya bisa menunduk dalam selama proses doa berlangsung, acara salim pada ... pria tua yang tidak ingin kupanggil suami ini. Bahkan, ketika pria tua itu mencium keningku, perasaan mual mendadak datang, tetapi berusaha aku tahan.
Setelah semua sesi selesai, aku mengedarkan pandangan berkaca-kaca ini ke sekitar, hingga bertemu pandang dengan pria yang seharusnya mengucapkan qabul di sampingku sekarang. Pria dalam setelan rapi itu tampak semakin gagah memesona. Pakaian serba hitam yang melekat di kulit putihnya, semakin memancarkan aura memesona.
Sungguh ... demi apa pun, aku ingin menjadi istrinya, tetapi ... sial! Aku malah berakhir menikahi pria tua yang adalah ... ayah angkat dari gebetanku itu.
Bagaimana ini terjadi?
Semuanya bermula ketika ide bodoh menghampiriku empat bulan lalu.
...***...
Namanya Raikhal Ahmad Artoni, seorang pria dengan segudang kelebihan yang menyebabkannya begitu banyak disukai oleh kaum wanita, salah satunya diriku. Jumlah penggemar Raikhal tidak bisa dihitung. Hampir ke mana pun pergi, pria itu pasti ada pemujanya. Bahkan walau ke tempat baru, pasti ada saja wanita baru jatuh hati padanya. Walau bukan selebgram, Raikhal sudah meraih 920 ribu followers di Instagram.
Jelas, aku sadar diri. Pria yang kucintai disukai oleh ribuan wanita dari berbagai kalangan. Ada si mahasiswi populer yang cantik nan kaya raya, ada si pintar, ada si heboh, ada si hebat, dan juga beberapa dari penggemar Raikhal adalah wanita berkarir bagus: dokter, pengusaha, dan aktris.
Jadi, bisa bayangkan sainganku?
Meski dihadapkan fakta bahwa kemungkinan aku memiliki pria itu hanyalah nol koma nol, nol, nol, nol, nol, nol, satu persen, tetapi ... aku ingin berharap. Aku ingin menjadi kekasihnya seumur hidup. Aku ingin memiliki pria sempurna itu untuk menjadi milikku seorang.
Poin plus seorang Raikhal adalah ... dia sangat setia dengan status jomlonya. Terhitung pria itu baru memacari dua orang: saat SMP, dan saat masih menjadi mahasiswa baru karena keterpaksaan. Setelah putus dari pacar terakhirnya, pria itu tidak pernah lagi menjalin hubungan dengan wanita mana pun, sehingga para kaum pria yang iri pada sosok Raikhal mencap pria itu sebagai pesuka sesama jenis.
Namun, aku yakin, Raikhal tidak seperti itu. Meski Raikhal terlihat dingin pada hampir semua wanita, aku tahu Raikhal tidak belok. Ia hanya tidak ingin membuat seorang wanita terbawa perasaan karena sikap istimewanya, karena korban baper pria itu cukup banyak, padahal hanya dilirik kurang dua detik.
Aku tahu semua hal tentang pria itu, karena ... sangat-sangat mencintainya, dan berusaha mencari celah untuk memiliki pria itu. Mengumpulkan data dari berbagai internet, aku akhirnya mencoba beberapa hal yang bisa membuatku beda dari yang lain.
Jika semua wanita berusaha mencari perhatian Raikhal, maka aku pertama kali harus mendapatkan hati dari orang paling berharga dalam hidup Raikhal, yaitu ayahnya.
Cukup sulit untuk mencari data-data mengenai keluarga Raikhal, karena pria itu sangat menyembunyikannya. Pun juga, ayah Raikhal adalah seorang pengusaha kaya yang tidak suka terekspos, sehingga sulit untuk dicari oleh orang biasa.
Namun, ketertutupan keluarga Raikhal tidak berlaku bagiku. Aku berhasil menemukannya dengan bantuan kakakku.
Jadilah ... aku sekarang memiliki kartu as untuk mendapatkan si pujaan hati.
Karena pria pertama kali melihat dari penampilan, gaya tomboi yang kugemari dari zaman SMP terpaksa kuubah sekarang-sekarang ini. Beruntung, kakakku walaupun seorang pria, sangat tahu caranya membuat tampilanku begitu sempurna. Tidak centil ala-ala penggemar Raikhal lainnya, tetapi sangat anggun dan berkelas, sehingga aku sangat percaya diri untuk menjalin kedekatan dengan orang tua tunggal Raikhal.
Ada empat hari full secara acak yang kukorbankan tidak mengikuti mata kuliah apa pun, demi mencari tahu kebiasaan ayah Raikhal yang bernama Hendru itu. Setiap pagi, Hendru datang ke kantornya dengan pakaian informal, lalu sorenya mendatangi beberapa panti asuhan yang ia bangun sendiri.
Sungguh, selama mengikuti Hendru, aku semakin kagum pada Raikhal. Dari pria berusia senja ini ternyata semua sifat baik anti sombong yang ada dalam diri Raikhal. Sungguh, bahkan jika ada pria lain yang lebih tampan dari Raikhal, aku tidak akan pernah menghapus pujaanku itu dari lubuk hati terdalam.
Lalu, setelah memastikan bahwa jadwal pria itu berlangsung tetap, maka aku mulai rencanaku untuk menarik perhatian Hendru, agar pria tua itu mau menjodohkanku dengan Raikhal.
__ADS_1
Pertama-tama, aku menawarkan diri untuk bergabung mengurus panti asuhan secara sukarela tanpa bayaran. Pengurus panti jelas menerima maksudku dengan senang hati, apalagi setelah yakin dengan karakterku.
Beberapa hari awal aku bergabung, aku tidak menunjukkan agresivitas sedikitpun. Aku bahkan bersikap seolah Hendru adalah orang asing, agar semuanya terlihat murni. Namun, satu hal yang tidak disadari oleh siapapun, bahwa aku sengaja membuat diriku sering terlihat oleh Hendru, dalam kondisi sedang bermain bersama anak-anak. Sesekali, aku melirik pada pria itu, dan merasa bahwa rencana mulai berjalan sempurna karena Hendru mulai mencari tahu mengenai diriku. Apalagi pria itu pernah mengajakku untuk mengobrol intens berdua, karena merasa kagum dengan kemauanku mengurus anak-anak panti tanpa bayaran.
Uh, proses ini membutuhkan waktu sekitar tiga bulanan. Sangat lama, tetapi aku hanya bisa terus menjalankan rencana. Karena sekalinya gagal, aku bahkan mungkin dibenci oleh Raikhal selamanya.
Hasil pertama yang kudapatkan dari usaha ini adalah aku dipercaya oleh Hendru untuk bertemu secara khusus dengan anaknya ... Yash! Raikhal!
Sungguh, aku yang sebelumnya hanya penggemar rahasia, cuma bisa mengandalkan layar ponsel, serta pandangan jarak jauh untuk melihat pria ini akhirnya dapat bertemu begitu dekat. Sungguh, dalam keadaan seperti ini, aku susah payah menahan diri agar tidak kelepasan jingkrak-jingkrak karena bahagia. Aku harus tetap mempertahankan kesan elegan: wanita mahal yang tidak mudah tertarik pada pria karena parasnya.
"Nama aku Alana." Hanya itu yang kuutarakan saat pertama kali berkenalan, padahal ... aku sangat ingin memuja-muji pria ini, dan mengutarakan banyak hal tentang bagaimana besarnya aku ingin memiliki pria ini, tetapi ... tidak bisa. Tidak. Agar rencana ini sukses besar, aku harus susah payah menahan diri.
Namun, sumpah, ketika aku menyalami tangan Raikhal dan merasakan kehangatan telapak pria itu, aku hampir tidak mau mencuci tangan selama delapan hari. Katakanlah bodoh, setiap kali mandi aku akan memasangkan kantongan plastik agar tanganku tidak basah. Hanya karena aku menyentuh kotoran ayam tanpa sengaja saat membersihkan sepatu salah seorang anak, aku terpaksa membasuh tanganku dengan jengkel.
Aku dan Raikhal sesekali bertemu karena dia ternyata suka membantu ayahnya dalam mendistribusikan bantuan ke panti asuhan. Aku selalu memanfaatkan kesempatan itu untuk berkenalan lebih jauh dengannya, sekadar hal-hal formal.
"Oh serius? Astaga, demi apa? Aku juga kuliah di sana. Kok kita hampir nggak pernah ketemu, ya?" tanyaku pura-pura syok saat Raikhal menyebutkan tempatnya kuliah. "Ah, astaga ... kayaknya karena aku lebih sering di perpus, jarang bergaul, jadi ... kurang kenal. Maaf banget, ya."
"Kamu kayak apa aja. Santai aja kali. Lagian, kamu juga nggak ada kewajiban kenal saya," jawab Raikhal.
Serius, aku yang terlalu menyukai pria ini sampai harus merekam setiap obrolan kami, untuk kemudian kuputar setiap malam sebelum tidur.
Dan sungguh ... ini tidak mudah.
Setelah setahun lamanya, aku sudah sangat kenal seluk-beluk keluarga Raikhal, bahkan diizinkan untuk rajin bertamu walau jarang Raikhal di rumah karena terlalu aktif berbagai kegiatan. Namun, tidak masalah, karena kembali ke tujuan utama, aku hanya ingin menarik simpati Hendru. Membawakan pria itu kue-kue tiap kali berkunjung, membuatku diberikan sebuah kesempatan untuk menganggap rumah megah Hendru seperti rumah sendiri. Dia bahkan mulai menceritakan mengenai kematian istrinya saat Raikhal masih kecil.
"Pak Hendru nggak merasa kalau ... Raikhal ini butuh sosok perempuan dalam hidupnya?" tanyaku kala itu, dan Hendru mengangguki ucapanku.
"Benar," katanya. Hanya itu, tetapi kupikir, ia pasti mulai mempertimbangkan masalah ini.
Kupikir, tidak akan lama setelah itu ... Hendru pasti akan memilihku untuk menjadi sosok perempuan pendamping Raikhal itu.
Karena kakak laki-lakiku tidak bisa dipercaya untuk dijadikan teman curhat, sementara semua kebahagiaan yang aku rasakan terlalu meluap-luap, maka aku menceritakan masalah ini ke sahabat baikku yang ada di luar negeri. Saat libur, ia datang berkunjung, dan tinggal di rumahku. Selama beberapa hari itu, kuajak juga dia ke panti asuhan, sekadar ingin pamer pada Hendru bahwa aku ini sangat pintar, dan semua sahabatku berkelas. Jadi, Hendru tidak punya celah apa pun untuk menolakku sebagai menantu.
Butuh satu setengah tahun, sampai Hendru mengabarkan akan datang ke rumah bersama Raikhal, ingin menemui keluargaku. Sungguh ... aku sangat bahagia ketika menceritakan itu pada sahabatku: Eliza dan kakakku: Bumi. Ayah-ibu di kampung langsung kujemput dengan menggunakan semua uang tabungan. Sangat senang ketika menceritakan pada semua keluargaku ... bahwa aku akan menikahi pria yang kucintai, dan mengangkat derajat hidup.
Benar saja, seperti dugaan! Hendru datang melamar ke rumah. Begitu sopan meminta persetujuan orang tua dan kakakku untuk menjadikanku ....
"Saya ingin melamar Alana Rheaga Putri untuk menjadi istri saya."
Makjleb!
__ADS_1
Aku sampai melotot mendengar ucapan itu. Orang tuaku saling memandang, dan Kak Bumi juga menatapku terkejut. Aku merasa syok, tetapi tetap mencoba untuk berpikir positif, bahwa telingaku mungkin sudah tertutupi kotoran kuning terlalu tebal sampai salah dengar.
"M—maksudnya, Pak?" tanyaku, dengan suara gemetar.
"Saya ingin melamar kamu menjadi istri saya, Alana. Walaupun kamu sangat muda, tetapi entah kenapa ... saya menemukan sosok figur keibuan dari diri kamu, yang sangat cocok untuk menggantikan almarhumah istri saya. Demi Tuhan yamg menjadi saksi ... saya tidak akan pernah membuat kamu menyesal sudah memilih pria tua seperti saya ini sebagai suami."
Ucapannya begitu menjanjikan, tetapi ....
WHAT THE HELL! AKU MAU MENIKAH DENGAN RAIKHAL, BUKAN BAPAKNYA!
...***...
Sayangnya, aku tidak bisa langsung menolak lamaran itu, serta tidak bisa mengutarakan secara langsung bahwa yang ingin aku terima lamarannya adalah Raikhal, karena bisa saja merusak citra buruk yang berusaha aku bangun.
Aku pikir, aku harus memberitahu secara halus pada Hendru agar PRIA ITU SADAR DIRI BAHWA DIRINYA SUDAH TERLALU TUA MENIKAHI ANAK GADIS SEPERTIKU!
Sial, sungguh! Kenapa pria itu malah melamarku untuk dirinya sendiri? Apa ia tidak berpikir bahwa pria itu hanya perlu memasrahkan diri menunggu ajal menjemput? Bisa-bisanya ... aku yang lebih muda dari putranya ini malah ingin dijadikan ibu tiri Raikhal..
Dengan alasan bahwa aku harus memikirkan pendidikan dan karir, akhirnya Hendru memberiku waktu untuk berpikir. Kesempatan ini harus kugunakan sebaik mungkin.
Namun ... masalah buruk lainnya terjadi. Ketika esok harinya setelah lamaran aku melihat Raikhal datang lagi ke rumah, tetapi bukan untuk bertemu denganku, melainkan ... mengajak Eliza jalan-jalan.
Aku ... kehabisan kata-kata melihat sahabatku sendiri menusukku dari belakang, tetapi ... aku bahkan tidak bisa melakukan protes karena takut Eliza akan mengatakan semuanya.
Namun ... lusanya, dengan sangat bahagia Eliza bercerita bahwa ia berpacaran dengan Raikhal ... aku langsung patah hati. Aku ingin ... menjambak wanita sialan ini, dan ... benar-benar kulakukan. Persetan bahwa Eliza tamu di rumah, aku langsung mengusirnya dengan kasar.
Sialnya ... Eliza diterima oleh keluarga Raikhal, dan tinggal di sana. Meski aku tidak diberitakan buruk oleh Eliza ke keluarga Hendru saat datang bertamu ke sana, tetap saja ... aku merasa geram melihat Eliza.
Tentang bagaimana bahagianya manusia munafik itu di depanku bersama Raikhal ... aku hanya bisa mencengkeram tangan sendiri dan menusuk kulit menggunakan kuku-kuku tajamku. Aku tidak bisa melakukan apa pun selain menyimpan lukanya di lubuk hati. Tanpa rela sedikit pun, aku tidak mau membiarkan Eliza hidup tenang mulai hari ini.
Aku bersumpah! Aku akan melakukan apa pun untuk memisahkan mereka, dan aku juga tidak mau Raikhal-ku dimiliki oleh siapapun, kecuali diriku.
Namun, bagaimana caranya agar bisa menghalangi semua wanita termasuk Eliza untuk mendekati Raikhal jika aku tidak bisa memiliki Raikhal untuk diriku sendiri?
Lalu ... aku melihat Hendru. Pria ini satu-satunya yang dipatuhi oleh Raikhal apa pun itu. Maka, aku ingin menggeser posisi Hendru, untuk menjadi yang nomor satu menjaga hidup Raikhal dari semua gadis ... dengan cara .....
Menjadi ibu tirinya.
Hanya dengan ini ... aku bisa mengatur Raikhal sesuai kemauanku, serta melakukan pendekatan lebih lanjut dengan pujaan hatiku. Serta ... mempersiapkan kematian Hendru agar aku bisa lepas dari ikatan pernikahan, dan memiliki Raikhal. Keuntungan lainnya ... harta Hendru juga akan jatuh padaku.
...🍁...
__ADS_1