ALANA : Mengejar Cinta Anak Tiri

ALANA : Mengejar Cinta Anak Tiri
Hari Pertama Menikah


__ADS_3

Ini malam pertamaku menyandang status istri, dan rasanya lebih didominasi jengkel, sebal, marah, dan kecewa, ketimbang bahagia yang mendebarkan. Lagipula, siapa juga yang akan senang jika menikahi seorang pria berusia 40 tahunan?


Awalnya, aku berniat untuk beristirahat sejenak dengan duduk di pinggir tempat tidur. Namun, setelah aku berpikir selama beberapa menit, aku memutuskan untuk membersihkan badan saja, kemudian bersiap untuk tidur sebelum Hendru masuk kamar. Dengan begitu, aku bisa selamat—setidaknya malam ini—dari ancaman unboxing si om-om tua.


Ide yang sangat bagus!


Namun, setelah aku melucuti semua pakaian dan telah basah di bawah pancuran air, barulah teringat sesuatu. Bahwa aku belum membawa pakaianku di sini. Sementara pakaian pengantin ... sudah basah.


Aku mengusap wajah secara kasar karena frustrasi. Bagaimana sekarang? Aku tidak mungkin hanya mengenakan handuk semalaman penuh. Salahkan juga aku yang tidak meminta bantuan Mas Bumi untuk membawakan barang-barang dari rumah. Sekarang ... bagaimana?


Hawa dingin mulai menusuk kulit, karena aku sudah terlalu lama berada di bawah pancuran air. Kepalaku mulai pusing, sudah tidak tahan berada di kamar mandi. Shower aku matikan, dua handuk yang terlipat aku raih; satunya untuk menutupi tubuh, sementara yang lainnya untuk rambut.


Sebelum keluar, terlebih dahulu aku memastikan bahwa handuk yang membalut tubuh ini sudah kuat dan tidak akan jatuh. Telinga aku tempelkan ke daun pintu, untuk mengecek apakah Hendru sudah masuk kamar atau belum.


Tidak ada suara grasah-grusuh, tidak ada langkah kaki, tidak ada derit lemari terbuka atau sejenisnya, jadi secara hati-hati aku melangkah keluar dari kamar mandi. Sangat waspada, sampai kakiku harus berjinjit saat menyentuh ubin putih. Napasku berembus lega saat tidak menemukan siapapun di sini.


Rambut aku keringkan terlebih dahulu, lalu menggosok tubuh agar segera kering. Namun, kondisiku masih setengah basah ketika mendengar kenop pintu diputar. Tanpa berpikir, aku langsung melompat ke atas tempat tidur, memegang ujung selimut, kemudian menggulung diri sendiri hingga mirip seperti kepompong. Posisi aku perbaiki membelakangi kedatangan Hendru yang semakin mendekat. Agar tidak ditanyai hak-hal buruk, mataku langsung memejam erat.


"Kamu sudah tidur, Alana?" tanya Hendru, yang sama sekali tidak berniat aku dengarkan.


Tidak ada lagi pertanyaan lanjutan. Hanya terdengar suara langkah menjauh, tetapi aku masih belum berani membuka mata. Sampai, suara pintu dibanting ringan terdengar, sepertinya dekat, jadi kutebak bahwa pria itu ada di kamar mandi sekarang. Napasku berembus lega. Aku bersiap untuk kembali memejam, tetapi urung saat melihat di dekat kaki ranjang ada sebuah koper.


Susah payah, aku berguling dua kali sampai bisa terlepas dari jeratan selimut. Aku turun dari tempat tidur untuk membuka koper, dan mengambil beberapa potong pakaian: dalaman, sweater, serta celana panjang.


Menggunakan kesempatan saat terdengar shower menyala, aku segera mengenakan pakaian dengan buru-buru. Hampir menjerit frustrasi saat kaitan penopang dadaku terlepas saat aku akan mengenakan sweater. Terpaksa, aku harus memasang ulang tanpa memutar posisinya. Aku juga terus menatap waspada ke arah pintu, takut-takut jika terbuka secara mendadak.


Argh!


Kenapa kaitannya tidak mau bersatu? Aku menjerit dalam hati, karena suara shower sudah berhenti. Aku tidak peduli lagi dengan kondisi bra, langsung memakai sweater. Untuk ****** *****, lumayan mudah meluncur dari kaki hingga ke pinggul. Namun untuk celana panjang, ini cukup sulit apalagi dalam kondisi panik. Aku sampai harus melomoat-lompat, dan setelah terpasang sempurna, tubuh langsung kubanting ke atas tempat tidur, kemudian berguling lagi untuk membuat diriku seperti berada dalam kepompong.


Huft. Sekarang lega sepenuhnya.


Aku memejam tenang, saat mendengar suara pintu dibuka. Tidak perlu memikirkan apa pun lagi, aku berniat untuk membawa kesadaranku ke alam mimpi yang indah ... bertemu Raikhal di sana. Setidaknya, walau hanya sekadar mimpi, aku akan sangat bahagia jika ada Raikhal di sana.


Namun, niatku tidak bisa terealisasi dengan mulus, karena suara grasah-grusuh dari sekitar. Entah apa saja yang pria tua ini lakukan, aku tidak mau peduli, tetapi ... suaranya cukup mengganggu. Pada akhirnya, aku hanya bisa mengatur napas agar lebih sabar lagi.


"Kamu tidak makan malam, Alana?" tanya Hendru lagi, yang membuatku sedikit mengerutkan kening.


Kenapa pria ini bertanya lagi?


Aku tetap diam di tempat, tanpa pernah membuka mata lagi, tetapi ... mataku malah berkhianat dengan terbuka secara otomatis saat merasakan bahwa tempat tidur di belakangku bergerak. Aku sedikit meringkuk, sebagai bentuk perlindungan diri.


Pergerakan berhenti, ketika tubuhku sedikit terdorong ke depan. Tubuhku kian kaku, hingga aku bahkan lupa bernapas ketika sebuah lengan melewati tubuhku, bertengger di bagian perut. Mataku memejam semakin erat, berharap agar bisa tertidur secepat mungkin, dan malam menyebalkan ini bisa kulalui.


"Saya tau kamu belum tidur, Alana," bisik Hendru tepat di belakang telingaku, menyebabkan rasa merinding di sekujur tubuh karena udara panas yang ia embuskan.

__ADS_1


"S—saya udah mau tidur, Pak," jawabku gugup dengan suara lirih. Toh sudah ketahuan, jadi aku semakin meringkuk seperti bayi dalam kandungan. "Hari ini ... saya lumayan ... capek."


"Padahal, ini malam yang paling saya tunggu, Alana ... setelah sekian tahun."


Pria tua ini mengendus ceruk leherku udah menyingkirkan rambut setengah basahku di sana. Aku langsung bergidik ngeri tanpa bisa dicegah. Dibandingkan gugup malam pertama, sekarang aku didominasi oleh rasa jijik akan pria tua ini.


"Pak ... saya ngantuk." Kali ini, aku tidak meminta dengan nada lembut. Lagipula, untuk apa juga aku bersandiwara sekarang?


Aku mengelak kecil dari pelukan Hendru. Memejamkan mata, aku memaksa diriku untuk segera terlelap, dengan mengabaikan pria di belakang punggungku.


Awalnya, Hendru melepas pelukannya sebentar. Hanya sekadar untuk menyingkirkan rambutku yang menutupi wajah. Selanjutnya, ia kembali melekatkan tangan di perut, bahkan lebih erat kali ini.


Aku mengetatkan rahang. Mataku yang dalam posisi memejam, terasa memanas. Benci situasi ini. Jijik dengan pria ini.


Hendru sepertinya sangat suka menambahkan garam di atas lukaku. Pria ini ... mencium pelipisku sekilas, disusul ucapan lembutnya.


"Selamat malam."


...***...


Beberapa menit setelah membuka mata di pagi ini, aku tidak langsung meninggalkan tempat tidur. Tetap berbaring di tempat, untuk meyakinkan diri bahwa kini, statusku sudah berubah. Bukan menjadi istri dari pria yang kucintai, tetapi ... malah menjadi milik pria tua yang seharusnya tinggal menghitung waktu sebelum kematiannya.


Aku mengembuskan napas kasar. Jeratan selimut aku lepaskan dari tubuh, kemudian bangun. Kedua kakiku diturunkan menyentuh ubin putih yang dingin. Aku bersiap ke kamar mandi, sebelum turun nantinya. Namun, langkahku terhenti saat baru saja melangkah.


Koperku ... tidak ada.


Ekspresiku kembali seperti semula: datar. Aku tidak mau terlalu peduli dengan Hendru. Sekarang, aku hanya perlu fokus untuk mencari di mana keberadaan barang-barangku.


Di salah satu dinding kamar, terdapat sebuah tirai lebar yang mencapai langit-langit ruangan. Aku membukanya, dan menemukan ruangan penuh rak-rak pakaian tergantung di sini, dan di antaranya adalah pakaianku.


Awalnya aku ingin mandi, tetapi karena perut sudah berbunyi minta diisi, maka aku meninggalkan kamar ini menuju lantai dasar. Kakiku dengan mudahnya melangkah ke dapur, karena memang sudah mencium aroma bumbu masakan yang sangat enak.


Saat pertama kali masuk ke ruang makan, aku disambut sosok Raikhal yang tengah duduk di salah satu kursi, memamerkan senyum hangatnya. Hanya hal sederhana seperti itu, aku sudah hampir lemas, sehingga butuh bersandar di dinding.


"Selamat pagi ...."


Sapaan terdengar, dari Hendru yang baru saja masuk dengan membawa piring berisi makanan di tangannya, diletakkan di atas meja, depan sebuah kursi kosong sampingnya. Pria itu turut menarik kursi, sembari menunjukkan senyum yang sama seperti Raikhal, tetapi malah membuatku merasa jijik.


Aku melangkah ke sana, duduk. Meski harus berdampingan dengan Hendru, tetapi aku bersyukur di posisi ini. Aku bisa melihat Raikhal yang tepat di depanku. Kapan lagi bisa menghabiskan waktu lama saling berhadapan seperti ini?


Aku tersenyum geli, sembari menyingkirkan rambut-rambut ke belakang telinga.


"Kamu nggak bawa ikat rambut?" tanya Hendru, yang baru saja aku 'hah'kan, pria itu sudah berdiri di sampingku. Mengumpulkan semua rambutku untuk diputasr, dilengkungkan, lalu diselipkan di antara rambut lainnya. "Selesai."


Aku mengangguk kaku. "Terima kasih," ucapku pelan, yang dibalas senyum tipis dari Hendru saat ia kembali ke posisi duduknya.

__ADS_1


Pandangan aku arahkan ke depan, pada sosok Raikhal yang juga tersenyum ke arah kami. Sangat menyebalkan, karena aku berharap pria di depanku inilah yang memberikan perhatian tadi.


Nafsu makanku seketika anjlok memikirkan nasib buruk ini. Aku yang susah payah mendapatkan hati Raikhal, malah berakhir menikahi ayahnya sendiri.


Takdir apalagi yang lebih gila dari ini? Aku menopang pipi menggunakan telapak tangan.


"Btw, Pa. Aku panggil Alana apa? Mama? Kayaknya kemudaan nggak, sih?" tanya Raikhal.


Uh, bahkan hanya mendengar suara anak tiriku ini, aku langsung bersemangat. Kedua tangan aku lipat di atas meja, agar bisa fokus pada obrolan saat ini, karena Raikhal yang memulainya.


"Tetap panggil Alana aja kali, ya?" Hendru balas bertanya padaku, meminta pendapat.


Aku, demi menjaga kesan anggun di hadapan Raikhal, mengangguk lembut atas ucapan Hendru.


"Panggil nama aja, kayak biasa," jawabku. "Lagian, aku juga lebih muda dari kamu. Panggil 'Kakak' aja rasanya nggak enak, apalagi 'Mama'."


"Oke." Raikhal melebarkan senyum sebagai tanggapan, lalu menyantap sarapannya.


Melihat pria ini begitu lahap menyantap makanan, aku jadi ikut tergugah untuk mengisi perut. Lagipula, pada cicipan pertama, masakan Hendru tidak terlalu buruk. Aku mengangguk-angguk saat suapan pertama.


"Kamu suka?" tanya Hendru, yang berhasil melumpuhkan pergerakanku saat tangannya mengusap kepala.


Secara kaku, aku mengangguk. Aku tetap melanjutkan makan, meski tidak senyaman sebelumnya. Diam-diam, aku menyimpan semua kebencian yang pria ini berikan dalam semua perhatiannya. Sayangnya, untuk sekarang, aku belum bisa mengungkapkan betapa kesalnya aku pada sikap Hendru.


Aku hanya perlu menunggu waktu saja.


Raikhal menjadi yang pertama menyelesaikan sarapan. Pria itu berdiri dengan membawa ranselnya di pundak.


"Kamu mau berangkat kuliah, Raikhal?" tanyaku sigap, sebelum pria itu benar-benar meninggalkan kursinya.


"Iya, seperti biasa." Raikhal menjawab santai. "Kamu tetap di rumah aja, nikmati waktu libur. Cuman beberapa hari aja, kan?"


Aku mengangguk kecil. Pandangan aku tundukkan ke arah meja. Bibir bawah aku gigit secara perlahan, saat otakku mulai merencanakan hal baru. Kali ini harus teliti, agar tidak terjadi kesalahan fatal sekarang.


Poin plus dari status 'mama tiri' ini, aku tidak punya batasan untuk mendekati Raikhal. Sembari itu, aku akan mendapatkan hati Raikhal. Namun sebelumnya, aku harus menyingkirkan Eliza lebih dulu.


Tanganku mengepal kuat mengingat—mantan—sahabatku itu. Rasanya ... ingin menghancurkan Eliza dalam genggamanku, karena dia sudah merebut Raikhal yang sudah aku perjuangkan. Aku pasti akan membalas sakit hatiku ....


Lamunanku terbuyarkan saat kepalan tanganku digenggam lembut. Saat menoleh, tampak wajah memuakkan Hendru yang tengah tersenyum.


"Hari ini kamu libur, saya juga ... jadi, mau habisin hari ini sama saya, Alana?"


Aku mengetatkan rahang mendengar kalimat menjijikkan itu. Mataku menatapnya nyalang sesaat, lalu menunduk agar Hendru tidak membacanya. Lalu mengangguk kecil.


Sepertinya, selain Eliza, aku juga harus memulai rencanaku untuk menyingkirkan si tua ini.

__ADS_1


Mungkin aku perlu mencari tahu racun yang cocok untuk pria tua ini.


...🍁...


__ADS_2