ALANA : Mengejar Cinta Anak Tiri

ALANA : Mengejar Cinta Anak Tiri
Memulai Rencana


__ADS_3

“Lo nggak dibikin tidur sama suami ya, sampai harus ... beli obat tidur?” Dewi datang menghampiriku tanpa aba-aba, langsung mengatakan tuduhan tidak benar tadi, sembari menyerahkan obat sesuai request.


“Kepo!” Aku balas dengan sinis, sembari mengamankan obat ke dalam saku pakaian. “Thanks. Gue duluan.”


Aku pikir, tidak perlu melakukan apa pun lagi sekarang, jadi aku menutup buku. Kemudian berjalan meninggalkan Dewi seorang diri di kursi taman. Aku berjalan lamban, hanya demi memperhatikan sekitar. Setelah cukup lama menjadi penggemar Raikhal, aku sedikit tahu jadwal pria itu. Dan yakin, ia akan lewat atau setidaknya berada di sekitar sini tidak lama kemudian.


Benar saja, aku menemukan Raikhal berjalan bersama teman-teman lelakinya menuju parkiran. Mereka mengobrol dengan sangat seru, sehingga tidak menyadari bahwa aku mulai mendekat pada mereka.


Sampai di parkiran, obrolan mereka mengenai pengerjaan tugas nanti belum juga selesai. Aku juga merasa muak terus menunggu. Jadi, aku segera menerobos teman-teman Raikhal, sehingga semua perhatian kini mengarah padaku.


“Aku bisa pulang bareng kamu, Rai? Kita searah juga, ‘kan?” tanyaku sopan, sembari tersenyum ramah pada setiap orang. Sekadar menjaga image di depan mereka sebagai ibu tiri yang baik.


Raikhal awalnya tampak ragu, bahkan saling beradu pandang dengan rekannya yang lain. Aku memandang mengiba pada Raikhal, berharap bahwa ia akan bersimpati.


“Aku tadi udah telepon Mas Bumi, tapi kayaknya agak sibuk. Mas Hendru juga nggak sempet jemput. Jadi aku nggak bisa numpang sama siapapun.” Aku bersuara dengan sangat perlahan dan hati-hati. Agar tidak terdengar agresif. “Itu pun kalau kamu nggak keberatan kalau aku ikut kamu.”


“Masalahnya, Al, aku sama temen-temen mau ke tempat lain dulu. Nggak langsung ke rumah,” kata Raikhal dengan canggung.


“Kalau kalian nggak keberatan, aku bisa ikut sama kalian. Nggak bakalan ganggu sama sekali.” Aku meyakinkan mereka sembari memamerkan senyum terbaikku pada mereka. “Janji. Aku cuman bakalan lihat dan tungguin kalian. Syukur-syukur kalau dapat ilmu baru dari senior.”


Raikhal dan teman-temannya saling memandang. Aku menunggu penuh harap.


“Oke. Tapi aku nggak janji ini bakalan cepet.” Raikhal memutuskan pada akhirnya, membuatku tersenyum senang.


“Iya. Nggak masalah.” Aku meyakinkan Raikhal sembari mendekat pada si anak tiriku. “Makasih sebelumnya.”


Aku langsung menuju ke mobil Raikhal, dan tanpa bertanya, masuk ke kursi depan samping kemudi. Raikhal sempat mencegah, membuatku urung membuka pintu dengan pandangan bertanya. Namun, Raikhal tidak mengatakan apa pun.


Aku penasaran pada awalnya. Namun, setelah masuk, aku sudah tahu jawabannya.


Ketika aku sudah duduk, Raikhal belum masuk. Ia tiba-tiba membuka kursi bagian belakang, dan masuklah Eliza di sana.


Cih.

__ADS_1


Aku tersenyum mendengkus pada sosok perempuan di kursi belakang. Pandangan aku alihkan ke tempat lain, menunjukkan kemarahan.


Ketika Raikhal sudah masuk ke bagian kemudi, aku tersenyum manis pada pria itu.


Eliza, tunggu saja ... aku akan merebut Raikhal dari kamu.


...🍁...


Ada dua hal utama yang selalu aku lakukan di sini: sebuah kafe tempat Raikhal menyelesaikan tugasnya bersama yang lain. Mendekat pada pria itu sembari memberikan perhatian terbaik, serta menghalangi Eliza untuk dekat dengan Raikhal.


Sejauh ini berhasil, sehingga Eliza sangat kentara terlihat kesal.


Memang ini yang aku inginkan, walau ini masih sangat belum sebanding dengan apa yang aku rasakan dulu. Ketika Eliza ternyata menikamku dari belakang, dan malah mendekati Raikhal. Sialan!


Selama proses belajar Raikhal, aku dengan mudah berbaur dengan rekan-rekannya sehingga mudah mendapatkan akses untuk ikut campur. Sekadar bertanya-tanya mengenai topik obrolan mereka, dan berhasil. Ini sangat mudah.


Namun, setelah selesai. Satu-persatu rekan Raikhal mulai menjauh sampai tersisa tiga orang saja: aku, Raikhal, dan Eliza sialan.


Sialan memang.


Aku tetap mengikuti dengan santai sembari mendengarkan objek pertengkaran mereka.


“Sorry, sayang. Cuman sebentar aja, kok. Abis anter Alana, kita bakalan langsung ke restoran buat dinner. Sorry, aku nggak bisa ninggalin Alana gitu aja. Dia istri papa. Plis, mengerti aku, ya?”


Cih. Sayang? Raikhal memanggil Eliza dengan kata sialan itu? Aku mendecih dalam hati. Kedua tanganku mengepal kuat di dalam saku kardigan army yang kukenakan. Mata tajamku mengarah lurus pada keduanya.


Namun, ekspresiku segera berubah saat melihat bahwa Raikhal sedang menoleh hanya untuk mengetahui keberadaanku.


“Sorry, Raikhal. Aku ... nggak berani pulang sendiri. Maaf banget kalau bikin kamu sama Eliza ... debat masalah ini. Sorry banget. Next time, aku bakalan latihan buat naik motor atau apa ... biar nggak perlu bebanin kalian lagi.”


“Nggak papa, Alana.” Raikhal melambatkan langkahnya hanya untuk menyamakan langkah kami, dan jantung lemahku ini langsung berdebar lebih kuat dari biasanya akibat perasaan padanya. “Kamu keluarga aku juga. Aku berkewajiban buat pastikan, belahan jiwa papa sampai di rumah dengan selamat. Aku nggak mau papa jadi duda yang kedua kalinya.”


Aku mendengkus geli, sembari menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya. Aku tersenyum ramah pada Raikhal dan juga Eliza.

__ADS_1


Eliza bergerak jauh lebih cepat dari kami berdua. Seketika membuat Raikhal kebingungan memihak. Aku mengerti kegelisahan pria itu, sehingga aku tersenyum tenang padanya.


“Nggak papa. Kejar aja. Dia nanti makin ngambek. Aku segera nyusul kok.” Aku meyakinkan Raikhal, sehingga ia bisa meninggalkanku.


Cih. Aku mencibir lagi. Apanya yang spesial dari Eliza? Dari segi fisik, dia sama sekali tidak ada bandingannya denganku. Tubuh Eliza tripleks, datar. Tidak ada yang menarik. Wajahnya juga lebih sering pucat daripada segar seperti diriku.


Tidak ada menariknya. Namun, bagaimana bisa Raikhal malah jatuh hati pada perempuan itu?


Aku yakin ada sesuatu yang membuat most wanted tergiur padanya. Aku sangat yakin. Namun, apa itu?


Mataku memicing sambil berpikir. Sembari itu, kakiku terus melangkah secara perlahan.


Sampai tiba di parkiran, aku langsung masuk ke mobil. Niatnya di posisiku semula: di kursi depan. Namun, Eliza ternyata sudah mengisinya. Sementara Raikhal yang belum masuk, tampak tidak nyaman.


“Aku di belakang.” Aku memberitahu Raikhal sembari menunjukkan senyum terbaikku, agar pemuda itu bisa tenang.


Aku masuk ke kursi belakang. Lalu mempertimbangkan ide yang ada di kepalaku sembari meremas dengan kuat obat di kantong.


Berulang kali, aku mengembuskan napas demi meyakinkan diri sendiri. Aku tersenyum tipis. Tidak sabar sampai di rumah.


Pandangan lebih sering aku arahkan ke jendela selama dalam perjalanan, sampai akhirnya, mobil berhenti di depan rumah.


Sekarang, saatnya menjalankan rencana.


Aku turun dari mobil, tetapi tidak langsung menutup pintu.


“Rai,” panggilku dengan nada memelas. “Sebenarnya, aku mau ambil satu barang di atas lemari di gudang. Aku nggak nyampe walaupun udah pakai kursi. Mau minta tolong sama Mas Hendru, nggak pernah inget. Padahal, aku harus kumpulin tugas besok. Kamu bisa bantu aku sebentar? Ambil barang itu?”


Raikhal dan Eliza saling berpandangan. Setelah mendapatkan anggukan dari kekasihnya, Raikhal akhirnya keluar dari mobil. Eliza juga mengambil ancang-ancang berniat membuka mobil, tetapi aku segera mencegah.


“Raikhal ... cuman sebentar di dalam, Eliza ....” Aku tersenyum menyeringai.


...🍁...

__ADS_1


__ADS_2