ALANA : Mengejar Cinta Anak Tiri

ALANA : Mengejar Cinta Anak Tiri
Ancaman Eliza


__ADS_3

Mendengar benda pecah dari ruangan sebelah, aku terpaksa harus meninggalkan keindahan fisik Raikhal demi mengecek apa yang dilakukan oleh si tua bangka. Aku buru-buru mengenakan sepatu tanpa sempurna, lalu keluar dari kamar.


Berpindah ke kamar sebelah, aku diam di ambang pintu yang baru saja aku buka ketika menemukan Hendru sudah berbaring tidak sadarkan diri di dekat meja nakas. Pecahan piring berada di sekitar tubuhnya, bisa berakibat fatal jika tidak memindahkan pria itu sesegera mungkin.


Sejujurnya, malas untuk meladeni Hendru. Namun, daripada kejadian ini berakhir mencurigakan, maka aku terpaksa ....


Aku mendekat ke arah Hendru, berlutut di sampingnya demi meraih tangan pria itu untuk aku topang. Susah payah, aku berdiri dengan segenap kekuatan, tetapi sialan! Pria ini terlalu berat! Cih, efek karena dosanya terlalu banyak sebagai manusia, jadi dosa dan kesalahan itu bertransformasi menjadi beban yang sangat sulit digerakkan.


Huft. Aku menghela napas panjang, sembari berdiri untuk merenggangkan otot-otot punggung yang terasa nyeri setelah percobaan pertama.


Karena gagal, aku mencoba cara lain. Yaitu dengan menyingkirkan pecahan kaca lebih dulu. Setelahnya, aku menyeret lengan pria itu dengan susah payah hingga sampai di pinggir ranjang. Lalu mengerahkan segenap tenaga untuk mengangkat tubuhnya sedikit demi sedikit sampai akhirnya setengah tengkurap di atas ranjang.


Fiuh, sedikit lagi.


Aku mengangkat salah satu kaki Hendru terlebih dahulu untuk membuat pria itu naik ke atas ranjang. Setelah sukses, sekarang giliran kakinya yang satu lagi. Aku bahkan menggeram kuat ketika mencoba mengangkat kaki pria itu dengan segenap tenaga, sampai ....


Kaki tersebut ringan untuk aku angkat karena ... memang bergerak sendiri. Aku baru saja menghela napas puas, ketika menyadari ada sesuatu yang salah.


Sial!


Aku dihantam kaki Hendru dengan sangat keras sampai limbung dan jatuh telentang di atas ranjang. Ketika aku berniat untuk menyingkirkan pria itu, ia malah semakin mengeratkan kaitan kakinya di tubuhku, diikuti oleh sebuah lengan yang melingkari dadaku, serta mencegah pergerakanku.


Aish ... sialan!


Pria ini bukannya sedang tidak sadar? Aku celingak-celinguk mengecek wajahnya, dan mengetahui bahasa si keriput tua ini sudah terlihat sangat tenang dengan mata memejam. Dalam posisi miring ini, bibirnya mengerucut khas seperti bayi. Terlihat menggemaskan sejujurnya, tetapi karena ia sudah tua, jadi tidak lagi. Malah menjijikkan! Dan menyebalkan, karena pria siapkan ini terus menekan kakiku.


Karena seluruh tenaga sudah aku kerahkan dalam memindahkan dirinya dari lantai ke ranjang, sekarang tangan pegalku tidak lagi mampu mengangkat kaki dan tangan pria ini. Aku terjebak dalam rasa sesak dan jengkel.


Sesak, karena Hendru menekan dadaku, serta fakta bahwa kami malah berakhir tidur berdua.

__ADS_1


Jengkel, karena aku sudah mengorbankan banyak hal untuk merencanakan hal ini, demi tidur bersama Raikhal, tetapi pria tua sialan ini ....


ARGHHHH!


Aku terjebak!


...🍁...


Aku terbangun dengan rasa pegal di sekujur tubuh. Mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk, aku menoleh ke samping dengan niat untuk mengubah posisi dan merenggangkan otot yang nyeri. Namun, aku benar-benar tidak bisa bergerak.


Aku membuka mata setelah membiasakan diri dengan cahaya. Awalnya masih sulit sampai aku harus mengerutkan kening dengan dalam. Kemudian secara perlahan, cahaya yang awalnya menyilaukan, kini mulai meredup dan menggambarkan sosok wajah tengah tertidur dalam ... sialan.


Aku langsung memalingkan wajah ke arah lain ketika tidak sengaja memperhatikan Hendru dengan saksama. Secara perlahan, aku mulai menemukan ingatan semalam, serta tenagaku. Meski sedikit pegal, aku tetap berusaha untuk mengangkat tangan Hendru dengan pelan, dan berhasil terlepas.


Sementara untuk kakinya, aku tetap berusaha melepaskannya dengan pelan. Jangan sampai pria ini terbangun lebih cepat. Aku menekan gigi dengan sangat kuat selama berusaha melepaskan kakinya. Begitu pelan ... hati-hati ... akhirnya ... terlepas.


Aku mengembuskan napas lega. Setelah turun dari ranjang, aku merenggangkan otot leher, pundak, punggung, serta pinggang. Melakukan sedikit pemanasan, kemudian berlari ke kamar sebelah untuk mengecek apakah pujaan hatiku masih tidur atau belum. Berharap ia masih tertidur sehingga aku bisa berbaring sebentar di sisinya, serta melanjutkan ciuman kami yang sempat tertunda.


Namun tetap saja, kosong.


Aku sontak panik, dan langsung keluar kamar demi menemukan pria itu. Setiap sudut rumah aku cek, tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Raikhal. Membuatku sedikit panik dengan berbagai macam pikiran karena kepergiannya yang mendadak.


Aku terpaksa keluar rumah. Mengecek di sekitar, dan tidak menemukan keberadaan mobil Raikhal sama sekali.


Oh tidak! Jangan katakan dia sudah berangkat sekarang! Aku belum mencuci otak Raikhal sebelum bertemu Eliza. Jika mereka bertemu, Eliza bisa saja mengungkapkan alasan bohongku semalam, dan Raikhal bisa sangat membenciku.


Aku kembali masuk ke rumah dengan buru-buru. Tidak lagi mandi, aku hanya menggosok gigi dan mencuci wajah. Bahkan tidak sempat mengenakan riasan. Aku langsung berangkat setelah mengenakan pakaian dan menarik tas pundak.


Sebuah taksi aku hentikan, yang akan membawaku ke kampus. Selama di perjalanan, aku berusaha mengenakan make up, sembari terus mencoba menghubungi Raikhal agar ia mau mendengarkan diriku lebih dahulu sebelum bicara dengan kekasihnya.

__ADS_1


Namun, tidak pernah ada jawaban. Membuatku merasa semakin gelisah. Karena jika Raikhal sudah membenciku, maka selesai sudah. Aku tidak punya peluang lagi untuk mendekatinya.


Tiba di depan kampus, aku juga sudah menyelesaikan make up. Taksi aku bayar sebelum turun, lalu berlari-lari memasuki pekarangan kampus.


Tempat pertama yang aku datangi adalah parkiran. Mencari mobil Raikhal di sana, tetapi ... tidak ada.


Ke mana pria itu sebenarnya? Aku sekarang tidak lagi terburu-buru masuk ke halaman kampus karena menyadari hal ini.


Didorong rasa penasaran, aku segera menelepon Raikhal berulang kali. Sembari itu, aku berjalan lemah ke kursi taman di bawah pohon.


Tepat setelah aku duduk di kursi, panggilan teleponku yang ke sekian akhirnya diterima.


“Halo.” Aku buru-buru menyapa. “Kamu di mana, Rai?”


“Di restoran.” Suara perempuan terdengar, yang aku yakini berasal dari Eliza. Apalagi, dengan nada yang terdengar santai dan mengejek, aku sangat yakin dia yang memegang ponsel Raikhal sekarang. “Kami lagi sarapan.”


Aku meneguk ludah secara kasar, ketika tanganku mengepal kuat di atas paha.


“Aku mau bicara sama Raikhal! Berikan ponselnya ke dia!”


“Nggak bisa, Al. Raikhal lagi sibuk pesen makanan. Lain kali aja ya kalian bicaranya.”


Sialan! Dia berniat balas dendam?


“Eliza!” Aku memanggil dengan suara nyaring tidak peduli jika ada banyak pasang mata yang melirik ke arahku.


“Eh udah dulu ya, Al. Aku sama Raikhal mau makan dulu,” ucap Eliza. “Eh btw, aku kasih kisi-kisi. Kamu mendingan siapin jawaban deh, buat rencana licik kamu kemarin ke Raikhal. Aku bakalan cerita sikap kamu kemarin ke aku sama Raikhal. Bye ....”


Sialan!

__ADS_1


Bagaimana sekarang?


...🍁...


__ADS_2