
Aku mengintip melalu celah gorden di jendela kamar Raikhal, memperhatikan bagaimana kemarahan menjadi teman kepergian Eliza malam ini. Sudut bibirku terangkat membentuk senyum menyeringai tipis. Satu bagian dari rasa sakitku sudah terbalaskan.
Eliza, ini belum seberapa.
Sebuah taksi menjadi kendaraan yang akan mengantar kepergian Eliza. Perempuan itu menghilang dari sekitaran rumah. Aku masih berdiam di dekat jendela, demi memperhatikan bagaimana alam mendukungku dan Raikhal untuk tidur bersama malam ini. Langit begitu cerah dengan deretan bintang bersinar sebagai penghiasnya. Sementara rembulan secara bebas memamerkan cahayanya, tanpa ada hambatan awan apa pun.
Kupikir, aku dan Raikhal seperti rembulan itu.
Namun, pemikiran itu tidak dapat bertahan lama. Karena, aku menemukan sebuah mobil berbelok memasuki pekarangan rumah. Segera, gorden aku tutup sempurna, lalu mencoba berpikir tenang.
Hendru sudah pulang, bahkan sebelum aku melakukan sesuatu.
Maka, untuk saat ini, masih ada satu awan penghalang rembulan indahku malam ini. Aku harus menyingkirkan Hendru sebelum rencana ini gagal.
Jadi, aku segera keluar dari kamar Raikhal. Tidak lupa memastikan pintu tertutup rapat, lalu menuju dapur. Berpura-pura menyiapkan makan malam.
Aku sedang menumis bawang ketika sepasang lengan melingkar di pinggangku, serta sebuah dagu bersandar di pundakku. Kebiasaan ini seharusnya terlihat sangat mesra dan manis bagi pasangan lain, tetapi rasanya tidak berlaku bagiku dan Hendru. Selalu saja, didekati pria ini terasa begitu menjijikkan.
“Sorry, Mas. Aku baru mau masak. Soalnya baru pulang kampus. Ini, ganti baju aja aku belum. Mas mandi gih, biar aku siapin makan malam dulu.” Aku menyarankan, dengan niatan agar pria ini segera menyingkir dari sampingku sesegera mungkin.
“Kenapa nggak pesen aja, Sayang?” tanya Hendru. “Kalau nggak sempet masak, ya beli aja, Sayang. Suami kamu kerja keras kayak gini ya cuman buat bikin kamu bahagia.”
Aku langsung menoleh pada Hendru. “Emang boleh? Nanti aku kelihatan banget nggak bisa jadi istri yang berguna.”
“Siapa yang bilang nggak boleh, Sayang? Boleh banget dong.”
“Ya udah, deh. Pesen aja, ya?” Aku mencoba mengelak dengan ancang-ancang hendak memesan makanan. “Mas mandi aja dulu, ya? Biar pas Mas udah seger, makanannya juga udah siap.”
“Hm ... oke deh.” Hendru untungnya tidak banyak membantah. Ia segera menuju ke kamar ketika aku mencoba memesan makanan.
Huh, akhirnya!
__ADS_1
Sekarang, aku kembali mengotak-atik dapur, dengan mengambil gelas dan membuat minuman lagi. Tidak lupa menambahkan satu obat ke dalamnya.
Aku tidak sabar menunggu makan malam, jadi, aku mengambil nampan untuk mengalasi gelas. Lalu menuju ke kamar untuk memberikan minuman ini secara langsung.
Ketika baru saja membuka pintu kamar, aku tersentak kaget karena menemukan Hendru sedang melepaskan pakaian. Segera, aku menutup pintu. Bukan sekadar memberikan privasi untuk pria itu. Namun, aku juga jijik melihat tubuhnya tersebut.
Iyuw!
“Masuk aja, Alana.”
Namun, arahan Hendru tampaknya tidak terlalu masalah. Aku mencoba untuk masuk secara perlahan, lalu tersenyum hangat pada Hendru yang sedang dalam kondisi bertelanjang dada.
“Mas pasti capek abis pulang kerja, tapi aku malah nggak nyediain apa-apa.” Aku meletakkan nampan di atas nakas, lalu mengangkat gelasnya. “Jadi, aku buatin Mas minuman spesial buat bantu hilangin haus.”
Aku terus tersenyum hangat di setiap akhir kalimat untuk mendapatkan kepercayaan Hendru, dan pria tua bodoh ini tidak sesulit menaklukkan Raikhal. Ia dengan senang hati menerima minuman pemberianku.
“Makanannya usahaku pesen. Seharusnya dikit lagi sampai. Mas siap-siap aja dulu, ya? Aku siapin makan malamnya.” Setelah mengatakan itu, aku langsung berdiri. Lalu meninggalkan kamar. Tidak lupa menutup pintu serapat mungkin.
Namun, keinginan untuk sekadar mengecek itu tidak bisa berjalan sempurna. Aku tergugah untuk masuk ke dalam ruangan, dan terpaksa aku lakukan. Aku masuk ke dalam, menutup dan mengunci pintu, lalu berjalan perlahan menuju tempat tidur di mana Raikhal sedang berbaring dalam keadaan bertelanjang dada.
Aku melepaskan sepatu flat shoes yang mengalasi kaki, kemudian naik untuk berbaring di samping pria itu. Dalam posisi menyamping menghadap Raikhal, aku sekarang bisa memuaskan diri sendiri memandangi pria itu.
Dengan gerakan lembut, aku membawa wajah Raikhal menghadap diriku. Sekarang, memuaskan. Telapak tanganku yang masih menempel di pipinya, tetap bertengger di sana untuk menikmati kelembutan kulit pria itu. Sementara mataku tetap mengamati setiap bagian tubuh dari pria ini.
Mulai dari bulu mata lentiknya yang akan sangat sempurna ketika menaungi sepasang netra cokelat milik Raikhal. Hidung mancung sempurnanya, serta bibir pink segar yang berisi milik Raikhal.
Sialan!
Aku jadi tergugah ketika memandangi bibir Raikhal. Ketika jempolku bergerak lembut ke sana, dan membuka bibir bawahnya, aku semakin tertarik. Sangat kenyal di bagian ini.
Aku susah payah meneguk ludah secara kasar. Ketika deretan pertanyaan muncul dalam kepalaku.
__ADS_1
Bagaimana rasa bibirnya ini? Jelas manis. Namun, apa boleh aku ... mencicipinya?
Tapi ....
Tidak ada yang bisa melarangku saat ini.
Aku tersenyum puas. Aku mengusap pipi Raikhal dengan gerakan yang sangat lembut, lalu menurunkan tangan ke lehernya. Semakin turun ke bagian dadanya yang kasar dan terpahat sempurna. Aku selalu menelan saliva ketika merasai kulitnya yang lembut.
Raikhal ... sialan! Ia membuatku semakin tergugah untuk terus merasai tubuhnya. Aku semakin menurunkan tangan, sembari merapatkan tubuh padanya. Sebelah kakiku naik, dan menimpa pahanya.
Kami sangat menempel sekarang ini. Hanya perlu melepaskan pakaian di tubuhku, maka, kulit kami akan bertemu. Namun, tidak aku lakukan. Belum.
“Kenapa harus Eliza, Rai?” Aku bertanya dengan suara lirih bercampur gemetar, tidak terima dengan keputusan pria ini. “Aku kurang apa dari Eliza? Aku ... lebih ****! Darinya. Kenapa?”
Aku bertanya dengan geram, hingga tidak sadar menepuk pipi Raikhal. Namun selanjutnya, aku mengusap bekas pukulan tersebut dengan lembut.
“Sorry, aku kelepasan.” Aku berkata dengan jujur. “Rasai di sini, Rai.” Aku menempelkan telapak tangan Raikhal tepat di depan dadaku. “Di sini, jantung aku berdebar khusus buat kamu, Rai. Cuman buat kamu .... Kenapa Tuhan malah ... mempermainkan kita?”
Aku merasa kesal dengan takdir ini, tetapi, aku tidak bisa memutar waktu.
“Karena Tuhan mau mempermainkan kita, maka aku nggak keberatan buat main-main di depan Tuhan sekarang.” Aku meyakinkan diri sendiri, lalu memainkan jempol mengusap pipi Raikhal.
Semakin diperhatikan, aku kian tergugah dengan tubuh di depanku ini. Terutama sepasang bibirnya yang menggugah. Terlihat sangat kenyal, segar, dan menggugah.
Aku mendekatkan wajah tanpa sadar. Semakin mengikis jarak antara wajah kami, sembari aku memiringkan sedikit kepala. Mataku perlahan memejam, bahkan berhenti bernapas ketika kulit bibirku bertemu dengan kekenyalan bibir Raikhal.
Sial, ini sangat ... menggoda. Aku mencoba membuka bibir, ingin serius menghisap kekenyalan bibir Raikhal, tetapi ....
PRANK!!
...🍁...
__ADS_1