ALANA : Mengejar Cinta Anak Tiri

ALANA : Mengejar Cinta Anak Tiri
Antara Suami dan Kekasih Hati


__ADS_3

Sangat sulit untuk tenang hari ini. Hendru selalu mengekor ke mana pun aku pergi. Rasanya muak, diikuti pria tua ini, sampai aku rasanya mau berteriak, tetapi masih suka posisi ibu tiri ini agar bisa memiliki Raikhal nantinya.


Jadilah, setiap kali aku merasa muak, aku hanya bisa menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya secara perlahan.


"Mas ...." Aku memanggil lembut Hendru, kali ini bukan menggunakan embel-embel 'pak', sehingga pria tua di sampingku ini langsung melebarkan mata senang saat melihatku. "Aku lagi pengen sendiri, boleh? Aku masih ... gugup setelah pernikahan. Please ... kasih aku ruang buat adaptasi, ya?" Dengan nada lembut, aku membujuk, sehingga dengan mudah, pria tua ini mengangguki permintaanku.


"Oh, oke. Maaf kalau bikin kamu nggak nyaman. Kamu sekarang bebas ngapain aja di rumah," jawab Hendru, dengan sangat antusias.


"Makasih, Mas ...." Aku tersenyum lebar, agar Hendru semakin luluh terhadapku, yang dengan ini, aku bisa semakin mudah memanfaatkannya demi kebutuhan sendiri. "Aku ... mau buat kue aja kayaknya. Mas suka kue apa? Raikhal?"


"Apa pun yang kamu buat, kami pasti bakalan suka," jawab Hendru dengan cepat.


Aku mengangguk lembut, lalu berdiri meninggalkan ruang menonton televisi. Selama perjalanan, mataku merotasi sekali karena sebal dengan pernikahan ini, terutama semua sikap Hendru. Mungkin benar kata orang, semakin tua seseorang, semakin kekanakan sifatnya.


Sialnya, aku sulit tahan dengan semua sikap Hendru. Muak! Apalagi jika ditambah kedekatan Raikhal dan Eliza, rasanya ... aku hanya ingin mengayunkan pisau pada Eliza dan Hendru, sehingga Raikhal hanya menjadi milikku seorang.


Beruntungnya, untuk saat sekarang, aku masih bisa berpikir sehat. Logikaku masih bekerja, jadi ... aku membatalkan niat untuk memegang pisau—memilih membuka lemari atas, serta kulkas untuk membuat biskuit. Aku tidak bisa menggunakan kekerasan dalam setiap masalah. Harus tetap berpegang teguh pada kelembutan, yang dengan itu aku bisa menguasai banyak hal secara perlahan.


Sudut bibir kananku terangkat membentuk senyum sinis. Rasanya membahagiakan, walau hanya dikhayalkan, dan aku berjanji, ini bukan sebatas mimpi. Suatu saat, Raikhal menjadi milikku pasti akan terkabul.


Sekarang, aku akan membuatkan kue yang selalu Raikhal puji setiap kali kubawa ke panti asuhan. Karena ini tidak akan cukup dengan menyingkirkan Eliza dan Hendru saja, tetapi aku juga harus tahu alasan mengapa pria itu tidak bisa menyukaiku, malah memilih Eliza yang bahkan baru ia kenali beberapa hari.


Apa karena Eliza cantik?


Pergerakan tanganku mengaduk adonan langsung terhenti memikirkan hal itu. Yeah, kuakui, Eliza sangat cantik dengan kulit seputih susu karena ia blasteran Indonesia-Rusia. Hidungnya mancung sempurna, dengan mata biru yang indah. Rambutnya kecokelatan, selembut sutra.


Napasku berubah cepat, ketika kekesalan semakin sulit untuk kubendung. Kegiatan mengaduk adonan menggunakan tangan berubah menjadi kasar. Bahkan secara sengaja, aku memukul-mukul adonan seperti sedang menyakiti Eliza.


Jika memang benar fisik yang menjadi penentu mengapa Raikhal menjatuhkan pilihan pada Eliza, maka ... aku bukan harus menghabisi Eliza, tetapi cukup dengan merusak tampilannya.


Pisau dari tempatnya aku keluarkan menggunakan tangan kiri. Senyum optimis muncul saat aku melihat kilauan yang ditampilkan pisau setiap kali aku menggerakkannya.

__ADS_1


...***...


Aku girang bukan kepalang saat Raikhal dengan sangat lahap memakan semua kue yang kubuat tadi. Beruntungnya, aku menyisakan di satu wadah khusus untuknya, karena jika tidak, Hendru yang rakus hampir menghabiskan semua kue buatanku.


"Aku seneng kalau kamu suka," ucapku.


"Alana beneran hebat banget bikin kue. Semua yang makan, kayaknya bakalan ketagihan," kata Hendru, memberikan tanggapan tidak bergunanya.


"Sebentar, aku ambil minum dulu." Raikhal berdiri dari sofa, hendak kucegah, tetapi urung karena Hendru tiba-tiba menahan lenganku agar tidak bergerak.


"Kamu seharian ini kayak menghindar dari saya, Alana. Ada sesuatu yang salah?" tanya Hendru.


Aku tersenyum lembut, meski sebenarnya sangat malas untuk menanggapi pria ini. "Nggak sih, Mas. Kenapa berpikir kayak gitu? Aku cuman ... lagi adaptasi aja. Satu rumah dengan orang baru—walaupun kita udah saling kenal, tetap aja kerasa aneh sama aku."


Hendru mengangguk-angguk, seolah mengerti apa yang aku ucapkan.


"Kalau begitu, kita bisa latihan sambil kamu coba adaptasi."


Menanggapi pertanyaanku, Hendru menggeser posisi duduknya semakin mendekat padaku. Sebelah tangannya yang semula menggenggam lenganku, kini berpindah ke wajahku, memberikan usapan lembut yang memberikan efek merinding. Aku sampai harus meremas pakaian di atas paha agar bisa bertahan dari sensasi yang pria tua ini timbulkan.


Aku mengerti maksud 'latihan'nya segera saat pria itu memajukan wajah dengan mata setengah menutup. Sontak, aku mengelak dengan menjauh hingga ujung sofa agar pria ini tidak bisa menggapaiku.


Meski sudah menikah dengan Hendru, aku bertekad untuk memberikan tubuhku—terutama ciuman pertamaku—hanya untuk Raikhal! Bagaimana pun caranya, aku harus bisa menghindari Hendru, dan segala tuntutan masalah ranjangnya.


"Kenapa?" tanya Hendru, sedikit kecewa tercetak di keningnya, dan aku sama sekali tidak peduli dengan fakta itu.


"Nanti Raikhal balik lagi ke sini, gimana? Ih, Mas! Mas mah enak, bisa sembarangan. Aku ... masih gadis ... malu lah, kalau di tempat kayak gini."


"Ya udah, ayo ke kamar!"


Hendru ingin berdiri, tetapi aku menahannya dengan mencengkeram lengannya menggunakan kedua tangan.

__ADS_1


"Aku masih mau nonton, Mas .... Ini juga masih jam delapan malam." Aku merengek manja, karena hanya dengan ini aku bisa meluluhkan Hendru sesuai kemauanku.


Benar saja, pria ini langsung patuh. Senyumnya melebar, dengan pipi merona. Dia bahkan ingin mengalahkan bucin-nya para anak muda, padahal usianya sudah kepala empat! Dasar tidak sadar diri!


Hendru meraih pundakku, untuk membaringkan aku di bahunya. Bersamaan dengan itu, Raikhal juga datang kembali ke ruang keluarga, kali ini membawa serta laptop serta ponselnya.


"Kenapa nggak belajar di kamar aja, Rai?" tanya Hendru, peduli.


"Nggak belajar kok, Pa," jawab Raikhal, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


Entah mengapa, amarahku langsung naik saat membayangkan Raikhal sedang asyik bermesraan dengan Eliza melalui chat atau telepon. Namun, aku sama sekali tidak punya solusi untuk mencegah hal ini terjadi.


Uh, pikirkan sesuatu, Alana! Pikirkan .... Jangan sampai Raikhal dan Eliza semakin dekat.


"Rai, aku bisa belajar bareng sama kamu? Soalnya beberapa materi aku nggak paham, maklum, otak lemot." Aku bersuara, dan membuat Raikhal menengadah dengan wajah terkejut sebentar.


Raikhal terlihat menatap papanya sebentar, dan aku juga memandang memelas pada Hendru, sehingga ia langsung mengangguk memberikan izin.


"Boleh, Lan." Raikhal mengiyakan. "Nanti—"


"Sekarang bisa? Mumpung luang." Akut tidak akan membiarkan kalian berdua bahagia dan mesra!


"Oh, oke. Boleh." Raikhal mengiyakan dengan gugup, dan aku tersenyum mendengarnya.


"Belajar di kamar kamu, ya? Biar nggak keganggu," ucapku lagi. Lalu melirik Hendru meminta izin ketika Raikhal tampak tidak nyaman.


"Sana, kalian belajar di kamar." Hendru tidak keberatan mengizinkan.


Aku tersenyum puas. Saatnya PDKT dengan gebetanku tanpa diganggu suamiku.


...🍁...

__ADS_1


__ADS_2