ALANA : Mengejar Cinta Anak Tiri

ALANA : Mengejar Cinta Anak Tiri
Awal sang Penggoda


__ADS_3

Suara grasah-grusuh di belakang punggungku, sama sekali tidak aku pedulikan. Mataku sangat fokus memandangi halaman melalui jendela kamar, di mana anak tiri kesayangan sedang keluar dari mobilnya dengan ponsel hampir tidak pernah lepas dari telinga.


Walau aku sama sekali tidak bisa mendengarkan apa yang mereka obrolan, aku bisa memprediksi satu hal. Bahwa Raekhal sedang berbincang mesra dengan kekasihnya, dan hal itu sangat sukses membuat darahku terasa mendidih.


“Alana, kamu perhatiin apa, Sayang?” Sepasang lengan berbulu tipis muncul dari arah belakang melalui sela-sela lenganku saat pertanyaan tersebut diajukan. Ia memeluk mesra di area pinggang, disusul sebuah beban bertumpu di salah satu pundakku.


Tanpa menoleh ke belakang, aku sudah sangat tahu pelakunya. Hendru si tua bangka yang menyebalkan.


Aku sempat melirik tangannya yang sangat kurang ajar bertengger manis di pinggangku sekilas. Demi meredam dua gejolak amarah berbeda dalam diri, aku mencoba memejam dengan sangat erat sembari mengepalkan tangan di sisi tubuh.


Sehingga ketika aku mulai membuka mata, aku bisa menciptakan senyum manis di bibir walau terpaksa, lalu menjawab pertanyaan si tua bangka.


“Aku lagi perhatiin Raekhal, Mas.” Aku menjawab jujur, sama sekali tidak mengelak dari hal itu. “Dia selalu pulang larut malam. Di rumah juga sibuk belajar. Aku cuman khawatirkan kesehatannya kalau dia sesibuk itu, Mas.”


“Oh, masalah itu.”


Kurasakan Hendru semakin maju, dan membawaku semakin mendekat ke jendela sehingga ia bisa mengintip objek pandanganku saat ini.


“Saya sudah selalu bilang sama dia, Sayang. Cuman ya, dasar gen saya turun sempurna ke dia, dia juga ikutan workaholic kayak saya. Maafin ya, sudah buat kamu khawatir,” jelas Hendru. Jemari lembutnya membawa rambutku berpindah ke sisi bahu yang lain, sehingga ia bisa bebas menempelkan dagunya di pundakku yang kosong itu.


Sialan! Aku tidak suka posisi in—ouh!


Aku tersentak kaget ketika merasakan sensasi kenyal nan basah menempel di kulit leherku. Segera, aku menatap tajam pada Hendru sembari menjauhkan kepala dari bibir kurang ajarnya itu.


“Kamu seksi banget malam ini, Alana.” Hendru bergumam lirih sembari menurunkan tangannya dari pinggangku menuju salah satu pahaku. “Kita sudah terlambat memulai malam pertama. Gimana kalau sekarang—“


“Aku lagi laper, Mas.” Aku segera mengelak ketika Hendru sedang lengah. Sehingga pelukan pria itu bisa lepas dari tubuhku. “Lagi nggak enak badan juga.”


“Ah iya. Makan malam. Saya hampir lupa, saking nggak fokusnya setelah lihat kamu.” Hendru tersenyum canggung, kemudian mengusap puncak kepalaku. “Ayo, turun makan malam.”


Aku menggeleng lemah, sembari menunjukkan senyum terbaik yang bisa aku berikan.


“Duluan aja, Mas. Nanti aku bakalan nyusul, kok.” Aku meyakinkan pria itu sembari menggenggam jemarinya. “Aku mau ganti pakaian dulu kayaknya. Pilih yang nyaman. Ini ketat banget.”

__ADS_1


“Ya udah kalau gitu,” kata Hendru yang dengan mudah menyetujui ucapanku. “Nggak bagus juga kalau Raekhal lihat kamu kayak gini. Bisa-bisa, saya saingan sama anak sendiri.”


Dan memang itu yang aku inginkan, bod0h!


Aku memaki dalam hati dengan bibir tersenyum. Terus mempertahankan ekspresi manis ini, sampai Hendru keluar dari kamar.


Dengan langkah anggun, aku berjalan menuju cermin yang setinggi tubuhku. Lalu memandangi diri sendiri. Sejujurnya kagum, bahwa tubuh ini lumayan menarik. Bahkan, ketika aku mengangkat dada ... aku sangat bangga karena ukurannya.


Seharunya, jika Raekhal pria normal, maka seharusnya ... mudah baginya tergiur dengan tubuh indah milikku. Walau itu sekadar nafsu, bukan cinta.


Aku tidak peduli lagi dengan urusan cinta sekarang. Terpenting adalah ... aku bisa memiliki Raekhal. Menghabiskan malam pertamaku dengannya ....


Impian yang sangat indah.


Maka, aku gegas berganti pakaian. Memilih setelan lingerie terseksi dari lemari yang berwarna hitam. Aku terus memperhatikan diri sendiri sembari memberikan nilai. Sangat sempurna.


Sekarang, aku mengamankan pakaian ini dengan kimono tidur hitam. Aku mengikatnya dengan anggun, kemudian tersenyum puas.


Aku kembali mundur, dan memperhatikan bayangan di cermin sekali lagi. Bagian kerah kimono aku tarik sampai longgar, dan ... keluarkanlah pesona kalian gunung-gunung manisku.


...🍁...


Benar apa yang dikatakan orang lain. Bahwa sesuci apa pun seorang lelaki, otaknya tidak akan pernah bersih dari sesuatu yang menggugah. Seperti godaan dari dua manisku ini yang berhasil membuat Raekhal sesekali mencuri lirik ke sana saat aku secara sengaja makan sembari sedikit menunduk.


Saat aku melirik Raekhal, ia buru-buru memalingkan wajah ke arah lain, membuatku tersenyum geli atas sikapnya itu.


Dasar!


Raekhal tampak sangat kaku ketika mencoba menunduk dalam. Aku tahu dengan baik, bahwa itu adalah salah satu usahanya untuk menghindari godaan manis ini. Usaha lain yang Raekhal lakukan adalah mempercepat kegiatan makannya.


Namun, aku memiliki ide cemerlang. Aku meminum air sebelum ayah-anak ini, lalu berdiri. Tidak lama kemudian, Raekhal juga sudah selesai dengan makan malamnya. Sehingga ... aku punya alasan.


Aku mendekati Raekhal dengan langkah sensual dengan senyum tipis. Aku mengambil piring pria itu, tidak lupa menempelkan dua gunung kenyalku di salah satu lengannya.

__ADS_1


“Sini, biar aku bawa sekalian ke tempat cuci piring.” Aku memberitahu, dan itu membuat Hendru sempat melirikku.


Namun, aku hanya perlu memamerkan senyum terbaikku pada pria itu sehingga Hendru tidak akan bisa menaruh curiga.


Aku membawa piring-piring kotor ke bagian dapur, lalu saat aku kembali, aku menemukan Raekhal sangat buru-buru keluar dari ruangan.


Aku diam-diam tersenyum. Bersandar pada dinding, aku memainkan tali kimono tidurku sembari berpikir.


Raekhal bisa saja takluk jika aku luluhkan secara perlahan. Aku yakin, dia akan tertarik padaku, walau hanya didasarkan nafsu. Tidak masalah, asalkan aku bisa memiliknya.


Aku bisa menggunakan cara ini untuk menaklukkan Raekhal secara perlahan.


Namun, rasanya aku tidak bisa sesabar itu.


Hm ....


Apa perlu, aku menggunakan jalan pintas untuk membuat Raekhal takluk?


Aku diam-diam tersenyum memikirkan langkah selanjutnya, sembari menunduk untuk memandang kimonoku yang longgar.


Namun, bayangan manis di kepalaku seketika buyar saat sesosok pria berdiri di depanku dengan jarak yang begitu dekat. Aku mendongak, menemukan Hendru orang itu. Ia membawa salah satu lengannya menempel di dinding seolah mengurungku.


“Kamu bilang mau ganti baju yang lebih normal,” bisik Hendru dengan suara lirih. “Tapi kenapa malah pakai yang lebih menggoda? Sengaja mau siksa saya, hm?”


Hendru membawa tangannya ke bawah daguku, mengajakku untuk mendongak memandangnya ketika ia mencoba membungkuk demi mengikis jarak.


Cih, aroma mulutnya tercium seperti orang tua. Tidak sesegar Raekhal. Aku jijik dengan pria ini, tetapi ...


Bagaimana caranya terlepas dari jeratan Hendru tanpa membuat pria ini merasa curiga?


Aku harus mempertahankan keperawanan ini hanya untuk Raekhal seorang.


...🍁...

__ADS_1


__ADS_2