
Sementara Raikhal menuju ke gudang usai aku memberikan arahan mengenai barang yang aku butuhkan di atas lemari, aku berbelok ke arah dapur. Membuat dua gelas minuman rasa jeruk dalam gelas tanpa kaki. Lalu, pada salah satu gelas, aku memasukkan satu obat ke dalamnya.
Diam-diam tersenyum, sembari mengangkat gelas yang telah kuberikan obat tersebut dengan tangan kanan.
Aku menyusul Raikhal ke gudang. Hanya berdiri di ambang pintu, untuk memperhatikan bagaimana Raikhal susah payah bersaing dengan debu yang menumpuk di sana.
“Raikhal.” Aku memanggil, sembari memamerkan senyum terbaik. “Minum dulu? Sekalian nanti aku bantu turunin. Berat banget kayaknya.”
Aku mengulurkan minuman dengan santai. “Ish, aku selalu lupa. Padahal rencana, aku mau turunin pas ada kamu sama Mas Hendru. Cuman ya ... nggak tau kenapa ini selalu lupa. Sorry, jadi bikin kamu sibuk.”
“Nggak masalah. Bentar.”
Aku berdecak kecil. Lalu maju mendekat untuk memberikan minuman pada Raikhal.
“Minum dulu bentar. Abis itu lanjut.” Aku mengulurkan minuman lagi. Untuk meyakinkan pria itu, aku meminum sedikit bagian dari minumanku. “Nggak tau kenapa, cuaca makin ke sini makin berasa pengap. Atau cuman aku ya, yang gampang pengap sama haus? Kamu enggak?”
“Nggak perlu, Al. Kamu mendingan keluar deh. Soalnya ini berdebu.”
“Aku nggak bisa minum dengan tenang kalau ada yang sibuk kerja. Minum dikit aja. Biar aku nyaman minumnya.”
Raikhal langsung menghentikan pergerakannya, demi menatapku dengan sebelah alis yang terangkat.
“Seriusan ada orang seaneh itu?” tanya Raikhal heran, sembari berdecak geli dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“Ada dong. Aku orangnya.” Aku membalas santai, dengan tawa kecil. Aku kembali menyodorkan minuman. “Minum aja dulu. Biar ada tenaga buat lanjut angkat barangnya. Aku sekalian bantu.”
Raikhal tersenyum geli. Pada akhirnya, ia berjongkok di atas kursi yang menjadi pijakannya untuk berdiri saat ini. Aku memberikan minuman di tangan kanan, lalu menyesap minuman tanpa tambahan apa-apa dengan tenang. Sehingga Raikhal tidak perlu memiliki kecurigaan apa pun.
“Kamu, sama Eliza. Sejak kapan? Dasar emang Eliza. Dia nggak pernah cerita sama sekali tentang hubungan kalian. Dia juga berasa sombong banget akhir-akhir ini sampai aku dicuekin. Eh ternyata ... kalian pacaran.” Aku menggerutu hanya untuk menciptakan suasana nyaman di sini, antara aku dan Raikhal. “Dasar calon menantu sombong!”
__ADS_1
Raikhal tersenyum geli bahkan mengeluarkan sedikit kekehan mendengarnya. Ia semakin bersemangat, dan menghabiskan seisi minuman sebelum menyerahkan gelas padaku.
“Aku sama dia emang nggak niat buat gembor-gemborin hubungan. Tapi ya, nggak sembunyiin juga. Ya, standar lah.” Raikhal memberitahu mengenai status hubungan mereka, yang secara langsung mengirimkan nyeri-nyeri sakit di dalam dada. “Dia kemungkinan belum siap buat kasih tahu kamu aja, tapi kamu udah tahu duluan.”
Aku tersenyum, sembari memainkan dua gelas di tangan.
“Kamu keluar aja, Al. Biar aku yang turunin ini. Bisa sendiri kok.” Raikhal sekali lagi memberikan arahan, yang kali tidak aku tolak sama sekali.
Aku mundur, dan memperhatikan bagaimana susah payahnya pria itu menurunkan sebuah kardus yang berukuran besar dari atas lemari. Isinya sangat berat, dan memang sengaja aku lakukan. Agar memperlama pria itu di sini, sehingga efek obat akan bekerja.
Susah payah, Raikhal menggeser dan sedikit mengangkat kardus agar berada di pinggir lemari. Pria itu sesekali mendengkus saat debu masuk ke dalam hidungnya. Ia sedikit susah payah mencoba mengangkat kardus, dan sempat oleng.
Aku spontan bergerak maju usai meletakkan gelas di lantai. Aku menahan kursi yang dipijak oleh Raikhal. Selain menjaga pria itu agar tetap baik-baik saja. Aku ingin memastikan efek kerja dari obat yang sudah aku berikan itu.
“Kenapa, Rai? Kamu baik-baik aja?” tanyaku dengan suara khawatir.
Syukurlah aku menggunakan dosis cukup tinggi untuk obat ini, sehingga bereaksi lebih cepat. Jadi, aku tidak perlu menunggu terlalu lama.
Aku membantu Raikhal menurunkan kardus di atas lantai. Lalu menuntun pria itu untuk turun dari kursi. Saat itu, Raikhal sudah kesulitan untuk mempertahankan pijakannya. Ia oleng ke arahku, sehingga aku harus mundur ke dinding untuk bersandar selama Raikhal sulit mengendalikan diri.
“Raikhal?” Aku memanggil nama pria itu dengan suara lirih. Tanganku yang semula berada di pinggir tubuh, kini mulai bergerak ke belakang punggung Raikhal. Lalu mengusapnya dengan gerakan lembut, menyusuri pertengahan punggung pria itu untuk naik sampai ke tengkuknya. Aku sempat memainkan jari di sana, sebelum meremas rambutnya. “Kamu baik-baik aja?”
Namun, tidak ada balasan. Dan beban berat di tubuhku semakin terasa.
“Rai?” panggilku, dan sekali lagi, tidak ada balasan.
Aku tersenyum senang. Rencana pertama ... sudah selesai.
Sekarang, dua tahap lagi sebelum menghabiskan malam indah dengan Raikhal-ku.
__ADS_1
...🍁...
Aku tidak tahu pasti ini panggilan ke berapa yang datang ke ponsel Raikhal selama aku membawa pria itu menuju kamarnya. Namun, aku baru mengangkatnya setelah sekian lama. Panggilan dari kekasihnya, tentu saja, Eliza.
“Halo.” Aku menyapa lebih dahulu, sengaja.
“Kok kamu yang angkat?” Eliza balas bertanya kebingungan.
“Oh, ini. Mendadak ada rapat keluarga antara aku, Mas Hendru sama Raikhal. Raikhal lagi bicara sama Mas Hendru, bahas sesuatu yang penting. Kayaknya, El, ini nggak bakalan bisa selesai cepet. Kamu bisa pulang sendiri, nggak? Raikhal nggak sempet buat antar kamu pulang.” Aku menjelaskan dengan detail, sembari mengapit ponsel di antara telinga dan bahu.
Sementara tanganku aktif membuka sepatu dan kaus kaki Raikhal. Lalu berakhir pada kemeja yang membalut tubuhnya. Jemariku dengan sangat perlahan dan hati-hati bergerak mencapai kancing paling atas untuk dibuka.
“Kok mendadak?” tanya Eliza, dengan suara tidak percaya. “Tadi bukannya kamu cuman minta buat bantu angkatin barang? Emang barang apaan? Aku harus bicara secara langsung sama Raikhal dulu baru percaya.”
“Kamu bisa bicara sama dia sepuasnya besok, El. Aku sendiri masih susah beradaptasi sama kebiasaan keluarga kami ini. Tapi, kalau Mas Hendru udah minta buat rapat dadakan, semua kerjaan kami harus ditunda. Jadi—“
“Aku nggak percaya!” balas Eliza dengan tegas. “Aku harus bicara sama Raikhal lebih dulu! Kasih hapenya ke Raikhal, atau ....”
“Mau ke sini?” lanjutku dengan tenang. Kini, jemariku sudah tiba di kancing paling akhir. “Ayo, masuk ke sini. Tapi ya, jangan heran kalau Raikhal marah setelah kamu datang ke sini nantinya. Karena keberadaan kamu bisa aja makin nambah pertanyaan dan tuntutan buat Raikhal. Dari sini, seharusnya kamu sedikit paham, kenapa Raikhal belum secara resmi pertemukan kamu sama Mas Hendru.”
Tidak ada balasan. Aku tersenyum miring. Otakku memang sangat lancar dalam memilah balasan dusta.
“Astaga,” Aku meneguk ludah secara kasar ketika mulai melihat bahkan menyentuh pahatan sempurna di tubuh Raikhal. Bibirku tersenyum kecil saat jemari pentilku secara liar mulai bergerak tidak terkendali—terhenti di depan retsleting celana Raikhal. “Gilian aku, El. Kamu bisa pulang sendiri kan?”
Tidak ada balasan, tetapi aku sama sekali tidak peduli. Aku melepaskan kancing di celana tersebut, lalu memberikan kalimat terakhir sebelum mematikan sambungan telepon.
“Tolong ... jangan ganggu kami malam ini ya, Eliza ....”
...🍁...
__ADS_1