Albar The Strongest Man

Albar The Strongest Man
Perjalanan ke hutan kematian


__ADS_3

Kami berjalan memasuki hutan yang lumayan kecil, disana terdapat banyak monster lemah seperti goblin, kobold, serigala hutan, semut besar, dan lain lain...


Disana Redva menyuruh zen untuk mengalahkan mereka semua sebagai latihan dan tampaknya zen sudah semakin kuat saja dalam sehari. Zen dapat mengalahkan mereka semua dengan mudah kecuali beruang. Zen terlihat kesusahan melawan beruang itu, Tapi pada akhirnya dia menemukan kelemahan beruang itu dan berhasil membunuhnya sebagai makanan nanti. Dan zen menggunakan cincinnya untuk mengambil mayat beruang itu.


"Huh... Huh... Akhirnya aku menang!" Ucap Zen kecapekan


"Kerja bagus Zen!" Ucap Redva


Zen mengambil mayat itu menggunakan cincin penyimpanannya dan seketika dia ingat akan sesuatu.


"Oh iya!!! Ini aku lupa membagikannya pada tuan dan kakak Redva!" Ucapnya sambil memberi kita sebuah cincin penyimpanan


"Terimakasih tuan!" Entah mengapa Redva berterimakasih padaku


"Sudahlah, Ayo lanjut!!!" Ucapku dan melanjutkan perjalanan


Monster demi monster zen kalahkan membuat dia semakin terbiasa dan dengan mudah mengalahkan seekor beruang tanpa memerlukan banyak usaha. Zen ternyata adalah seorang yang sangat jenius dalam hal pengalaman. Itu membuatku tersenyum melihat zen.


Kami bertemu dengan monster yang lumayan kuat yaitu ular hutan beracun. Hal itu membuat aku khawatir pada Zen.


"Zen! Mundur!!!" Teriakku


"Tidak apa apa tuan, Aku akan mengalahkannya!" Ucap Zen dengan percaya diri


"Huh... Redva, Kamu jaga zen!" Ucapku


"Baik tuan!" Redva mulai menjadi lebih dekat dengan zen untuk melindunginya ketika dalam bahaya


Shhh...


"Hiyaaa!!!!" Zen menyerang ular itu secara vertikal


Serangan zen tidak mengenai tubuh ular itu dan ular itu membalas serangan zen dengan pecutan ekornya.


Cpaak!!!


Zen terkena serangan itu membuat zen terpental agak jauh.


"Ughh..." Zen batuk darah membuat zen tidak bisa bergerak


Slash...


Seketika tubuh ular itu terbelah menjadi dua oleh Redva. Tapi masih ada tanda tanda kehidupan.

__ADS_1


"Zen! Seranglah ular ini!" Ucap Redva pada Zen


Zen mencoba bangkit dan memberi sentuhan terakhir menggunakan pedangnya pada kepala ular itu.


Srek...


Pedang zen menancap di kepala ular itu membuat ular itu terbunuh. Zen pingsan setelah membunuh ular itu.


'Aku heran kenapa tidak langsung dibunuh saja oleh Redva tadi dan menyuruh zen untuk memberi serangan terakhir?'


"Apakah membunuh monster itu suatu keuntungan Redva?" Tanyaku


"Apa tuan tidak tahu? Bila membunuh monster, Tuan akan mendapatkan XP dari monster itu yang membuat anda menjadi lebih kuat"


"Oohh... Pantas saja zen semakin mejadi kuat dalam sekejap!"


"Iya itu benar tuan! Tapi apa yang akan kita lakukan pada zen sekarang?" Tanya Redva sambil menatap zen yang pingsan


"Rawat dia sampai bangun kembali!"


"Baik tuan!"


Redva mengobati luka zen dan membuatnya berbaring di pahanya. Selang 10 menit, Zen membuka matanya dan bertanya apa yang terjadi, "Apa yang terjadi pada ular itu!!". "Tenanglah Zen, Kamu sudah membunuhnya kamu ingat!" Ucapku pada Zen. Zen diam sejenak dan berbicara, "Benar juga...".


"Zen kamu istirahatlah dulu sejenak" Ucapku


"Baiklah tuan, Maafkan aku membuat tuan menunggu!"


"Tidak masalah..."


Kami beristirahat selama 20 menit dan kemudian lanjut perjalanan kembali. Di perjalanan zen tidak mengulangi kesalahannya kembali jika bertemu monster yang kuat. Zen memilih membandingkan kekuatannya dulu baru dia mau menyerang monster yang bisa ia lawan. Di sepanjang jalan, Zen mengalahkan monster yang lemah dan sedang, sedangkan Redva melawan monster kuat dengan mudah.


Akhirnya kami keluar dari hutan tersebut dan melihat sebuah tebing yang sangat dalam setelah berjalan 2 Kilometer dari hutan. Dan menurut cerita dari Redva, tebing ini di sebabkan oleh kemarahan dewa karena manusia terlalu serakah dan berperang secara terus menerus di sekitar tebing ini yang pada awalnya adalah padang rumput luas.


Tidak ada jembatan disini, melainkan harus berputar mengelilingi tebing jika ingin menyeberang. Tapi aku memilih meloncat tebing itu sedangkan Redva menggendong zen di punggungnya dan meloncat juga.


"Uuaahhh... Hebat!!!" Ucap Zen kagum saat masih berada di udara karena Redva meloncat dan masih belum mendarat.


Tak... Tak...


Suara hentakan kakiku dan kaki Redva mendarat terdengar. Zen turun dari punggung Redva dan melihat seberapa dalam tebing yang tadi dia loncati.


"Halo...Lo...lo...o..." Suara zen menggema dan aku mengambil kesimpulan kalau dari suara gema yang dihasilkan zen itu kedalaman tebing ini sekitar 340 m/s di kali 20 detik : 2 \=3400 meter atau 3,4 kilometer kedalaman tebing ini.

__ADS_1


"Zen, ketinggian tebing ini 3,4 kilometer loh! Apa kamu tidak takut..." Ucapku membuat Redva dan Zen kaget dan mulai menjauh dari tebing


"Kenapa kamu malah mundur zen? Dan juga... Redva! Kamu juga!!?" Ucapku mengejek zen tapi ternyata Redva ikutan takut


"Bagaimana kami tidak takut tuan! Itu dalam banget tau!" Ucap Zen padaku


"Iya, itu benar tuan! Sebaiknya tuan juga mundur!" Ucap Redva khawatir padaku


"Oohh... Baiklah baiklah..." Ucapku dengan santai sambil berjalan ke arah mereka berdua


"Tapi... Bagaimana cara tuan mengetahui kedalaman tebing ini?" Tanya Redva penasaran


"Iya itu benar! Apa jangan jangan tuan bohong!" Ucap Zen cemberut


"Tidak aku tidak bohong! Aku menghitung lama baliknya suara gema zen dan mengalikannya dengan kecepatan suara yang kita hasilkan lalu dibagi 2!"


"Itu terlalu rumit tuan!" Keluh Redva dan Zen


"Sudahlah, Ayo lanjut!" Ucapku berjalan lagi


"Yaahhh!!!" Seru Redva dan Zen


Kami akhirnya sampai pada wilayah kerajaan unity kingdom. Dan kami mengambil jalan berputar karena tempat hutannya berada di sebelah kanan dari kerajaan dan kotanya unity kingdom. Aku bisa melihat walau dari luar, banyak sekali berbagai macam ras berada di dalam kota. Tapi aku tetap ingin tinggal di sebuah hutan terlebih dahulu.


Akhirnya kami berada di dekat hutan terkuat di benua selatan yaitu hutan kematian karena banyak sekali petualang yang mati di sini.


Aku memasuki hutan itu dengan zen dan redva yang berada di depanku untuk berjaga jaga bila ada monster yang menyerang.


"Kamu didepan Redva bersama zen lalu carilah tempat yang strategis!" Aku sekarang berada dibelakang mereka


"Baik tuan!" Ucap Redva tegas


Rooaarr!!!!


"Astaga, Baru saja kita berjalan selama 10 menit!" Ucapku


"Biar saya yang menghadapi monster itu tuan!" Ucap Redva


"Baiklah!!!" Aku membiarkan Redva menyerang monster itu, sementara aku dan Zen mencari monster lain untuk XP zen


"Ikut aku zen!" Aku memegang tangan zen yang hampir sama dengan ukuran tanganku


"Iya tuan!" Ucap Zen

__ADS_1


__ADS_2