
Aku berjalan keluar guild dengan mengantongi lencana rank SS ku. Aku diberi tau oleh paman jika lencana tidak bisa direbut oleh siapapun dan menjadi barangku selama lamanya.
"Apa redva sudah selesai membeli rumah baru ya?" Aku mencari redva dengan indera tingkat god ku untuk mengetahui keberadaannya
"Disana!" Aku berjalan ke arah yang sudah ku ketahui dimana letak keberadaannya
Aku berjalan melewati jalan kota dan menyempatkan diri untuk membeli camilan dan makanan Isekai. "Uhh!!! Enaknya..." Aku terbuai dengan kelezatan makanan dari dunia lain dan membeli setiap penjual makanan satu makanannya untuk ku cicipi.
Makanan Isekai yang kumakan adalah
- Sate monster
- Sate kelelawar, yang pada awalnya aku ragu ragu untuk memakannya tapi aku paksa dan ternyata sangat enak dan gurih
- Daging ayam api dan ayam angin
- Telur burung gunung
- Sate Ikan goreng, Yang pastinya ikannya kecil tapi gak terlalu kecil amat
- Soto daging
- Dan masih banyak lagi...
Aku ingin memberi kalian sesuatu lagi! Dan itu adalah gambar makanannya!!!!
"Inilah yang kunamakan kenikmatan hidup!!!" Ucapku yang masih terbuai dalam makananku
Aku juga membeli sebuah cincin penekan aura. Dan makanan dan cincin itu semua senilai dengan 1 koin perak, 5 koin besi, dan 3 koin tembaga.
Aku berjalan dengan bahagia. Melihat sekeliling supaya terbiasa dengan dunia lain bernama titanies ini.
Di jalanan kota terdapat banyak sekali orang orang yang berjalan. Ras merekapun bermacam macam, Seperti : Manusia, Elf, Half human, Monster yang dijadikan partner, Pedagang, dan dwarf.
'Benar benar Isekai! Apakah dahulu ada yang bisa balik ke bumi ya? Karena aku penasaran kok bisa sepersis ini karya manga buatan mereka!'
"Lupakan! Lupakan!" Aku menggeleng gelengkan kepala lalu lanjut berjalan
Di tengah perjalananku, Aku mendengar suara tangisan dari jarak 10 meter.
Hiks...
'Tangisan? Aku lihat dulu dia!' Batinku kasihan dan berjalan ke sumber suara lalu menemukan anak laki laki yang sedang menangis di gang kecil seperti anak yang terlantarkan. Dia memiliki rambut putih dan wajah lumayan menurutku, Dan berusia sekitar 7 tahun.
__ADS_1
Hiks... Hiks...
"Kenapa kamu menangis?" Tanyaku pada anak laki laki itu membuat dia melihatku
"Hiks... Aku di usir dari rumah dan Hiks... Tidak makan selama 3 hari, Hiks..." Jawabnya sambil menangis kembali dan memelukku
·Peluk·
Aku melihat anak laki laki itu yang menangis di dadaku, "Kamu tenanglah, Aku akan memberimu pekerjaan di rumahku, Apa kamu bersedia?". Seketika anak laki laki itu berhenti menangis dan menghapus air matanya, "... Apa anda tidak berbohong...". Aku hanya menjawabnya dengan singkat dan membelai kepalanya, "Iya". "Terimakasih tuan!" Ucapnya dan melompat senang ke arahku lalu memelukku lagi.
Meskipun dia memakai pakaian kotor dan bau, Aku tetap menyukai dia karena aku bisa melihat senyumannya.
"Kapan aku bisa mulai bekerja tuan?" Tanyanya yang sudah tidak sedih lagi
"Udahlah, Ayo makan dulu!" Ucapku membuat dia kaget lalu berterima kasih lagi padaku
"T-Terimakasih tuan! Tuan sangat baik hati padaku!" Dia membungkuk padaku
"Tidak usah sungkan sungkan padaku, Tapi... Siapa namamu?" Tanyaku karena bingung mau memanggilnya seperti apa.
"Namaku zen!" Jawabnya tersenyum
"Namaku Albar, salam kenal!"
"Salam kenal, tuan!" Kami berjabat tangan lalu membeli beberapa makanan untuk dimakan zen.
Zen sangat senang hari ini dan sampai dia mengalirkan air matanya saat memakan makanan. Aku menenangkannya dan meminta maaf pada semua orang disekitarku. Mereka hanya tersenyum melihat tingkah kami dan berjalan kembali seperti biasa.
Aku dan zen akhirnya sampai pada sebuah rumah sederhana bertingkat 3 dengan tanah lapang di belakangnya yang memiliki panjang dan lebar; 100 meter : 80 meter. Panjang rumah ini adalah 100 meter dan lebar 50 meter.
Aku mengecek kembali apakah redva ada didalam, "Redva!". "Selamat datang tuan! Siapa dia tuan?" Dia muncul dengan meloncat dari lapangan luas di belakang rumah yang tidak bisa dilihat dari depan.
"Dia sekarang akan menjadi bagian dariku! Rawat dia dan latih dia menjadi kuat Redva! Dengan bayaran aku akan melatihmu juga jika aku ingin!" Perintahku pada redva karena dia bertingkah seperti sedang melayani tuannya meskipun aku baik baik saja jika ia bersikap seperti biasanya, Tapi dia menolak.
"S-Saya.. Apa itu benar tuan!" Ucapnya dengan mata berbinar
'Aku tahu wajahmu itu! Hahaha... Jadi nostalgia pada anime Overlord!'
"Iya, itu benar jika kamu berhasil membuat dia menjadi anak baik dan kuat!" Aku menepuk pundak zen
"Pasti saya akan melatihnya seperti yang anda inginkan tuan!" Ucapnya dan tersenyum senang dan dengan mata yang masih berbinar
"Anu..." Ucap zen bingung melihat kami yang sedang bertingkah seperti tuan dan budak
"Ada pertanyaan zen?" Tanyaku pada zen
"Siapa orang itu?" Tanyanya sambil menunjukkan jarinya pada redva
"Aku adalah pelayan setia tuan albar dan seorang vampire ras murni!" Dengan cepat Redva menjawab penuh bangga karena menjadi pelayanku
"Vampir!!!" Zen kaget
__ADS_1
"Iya, ada apa?" Tanyaku
"Tidak, Aku hanya kaget mendengar kata vampire karena aku pernah mendengar ras vampire tidak suka cahaya dan bertuan!"
"Itu sebenarnya tidak salah! Tapi aku ini ras vampire berdarah murni membuatku bebas berjalan kemana saja tanpa takut dan bisa melakukan apapun yang ku suka!" Jelas Redva
"Jadi begitu... Kapan aku bisa mulai bekerja?"
"Sekarang! Dan kamu akan dipandu oleh Redva! Nikmati saja hidupmu zen, Redva!" Ucapku pada mereka untuk menikmati hidup nya
"Baik tuan!" Tegas Redva
"Baik albar-sama!" Ucap zen sambil tersenyum
"Ayo zen, Ikuti aku!" Ucap Redva mengajak zen untuk memberi tahu zen tentang cara menjadi pelayanku dan bagaimana menjadi kuat dengan latihan yang akan Redva berikan pada zen
Redva dan Zen pergi ke arah dalam rumah lalu pergi kearah belakang rumah yang terdapat sebuah lapangan luas untuk tempat berlatih.
Aku masuk ke dalam rumah baruku ini. Aku melihat betapa indah dan naturalnya rumah ini. Aku kagum pada rumah ini, Seperti yang ku harapkan dari Redva.
"Hacchuu..." Bersin Redva di lapangan belakangan rumah. Zen bertanya pada redva, "Ada apa kak Redva?" Zen entah mengapa memanggil Redva dengan sebutan kakak. "Entah mengapa aku seperti sedang dibicarakan" Ucap Redva sambil menggosokkan jarinya di hidungnya
"Jadi begitu..." Mereka melanjutkan pelatihannya
Aku memilih tinggal di lantai dua daripada lantai tiga karena lebih strategis. Aku memilih kamar yang paling pojok kiri dari 3 kamar yang ada di lantai 2.
Didalam kamar terdapat sebuah kasur, meja beserta kaca, jendela, lemari baju, sebuah peti penyimpanan yang bisa menyimpan benda mati apapun seluas 5 meter kali 5 meter.
Aku langsung saja berbaring di kasur itu yang empuk.
"Haa~, Enaknya~" Aku berguling guling di kasur empuk itu
"Aku ingin tahu apa yang diajarkan Redva pada Zen! Wow... Mereka sekarang sedang berlatih pedang!" Aku melihat mereka beradu pedang dan Redva mencoba memperbaiki kuda kuda zen dan serangan zen yang terlalu banyak celah lalu istirahat sebentar dengan ceramah Redva tentang cara menjadi pelayan yang benar.
Aku hanya bisa tersenyum melihat mereka dan membayangkan masa depan mereka, "Akan jadi apa mereka di masa depan ya? Mungkin menjadi pria terkuat? Kuharap mereka tetap baik hati dan menjadi kebangganku!" Aku kembali ke kasurku dan menatap cincin yang ku beli tadi.
Aku memakai cincin itu dan tiba tiba aku merasa seperti kehilangan sesuatu. Dan aku sadar bahwa auraku menghilang saatku pakai dan auraku kembali saat aku melepas cincin itu.
"Ini cincin hebat amat! Dan mengapa cincin ini hanya dihargai 1 perak? Apa pedagang itu tidak mengetahui kalau cincin ini bukan untuk menekan aura malahan lebih hebat dari itu yaitu penghilang aura.
Kehilangan bukanlah sesuatu yang berharga bagi kehidupan. Karena aura hanya digunakan saat mengintimidasi lawan dan sebagai identitas diri seperti aura Redva yang membuatku tahu letak keberadaannya.
Aku sangat kagum pada cincin ini dan aku sangat beruntung juga mendapat item berharga dengan harga 1 koin perak.
Aku memutuskan untuk menyimpannya saja di peti untuk sementara waktu karena aku tidak terlalu membutuhkannya.
Aku sekarang menyuruh mereka berhenti karena sudah malam dan menyuruh mereka pergi ke ruang makan lantai 1.
"Hoy!!! Sudah malam, berhenti dulu dan makan di lantai 1!" Perintahku
"Baik tuan!" Ucap mereka serempak karena mungkin ini salah satu ajaran Redva pada Zen untuk selalu menjawab dengan serempak
__ADS_1
Kami pergi menuju ruang makan dan Redva membuatkan makanan untuk kami. Disana aku tidak terlalu banyak bicara karena mulai mengantuk dan selesai makan terlebih dahulu lalu pergi ke kamar dan MELONCAT!!!
Maksud dari meloncat ini adalah meloncat ke arah kasur yang empuk dan seketika tertidur. Aku bisa langsung tidur setelah membenarkan tidurku. Dan, Tertidur pulas!