
Hai, namaku Aleeya Ningthias. Entah siapa yang memberikan nama itu. Aku terlahir dari keluarga sederhana, ibuku hanya seorang pedagang kecil di depan sekolah. Sedangkan bapakku hanyalah petani di sebuah desa pinggiran dekat pantai selatan tepatnya pantai ujung genteng.
Bagaimana aku akan memulai sebuah cerita? Kisahnya klasik, 25 tahun yang lalu. Ya, dua puluh lima tahun yang lalu. Tepatnya pada tanggal 18 Maret 1996 aku terlahir ke dunia ini. Entahlah, apa gunanya aku terlahir. Sampai hari ini masih coba kucari jalannya. Siapkan tissue sebelum dimulai.
~ Surade, 1995 ~
Ibuku, Julia dinyatakan sedang mengandung 2 bulan. Saat itu ibu dan ayah sedang proses perpisahan. Kakek membuat sebuah perjanjian kecil sebelumnya.
"Rudi, berulang kali sudah kukatakan, jangan berbohong," ucap Abdullah, kakekku.
Ayahku terdiam, dia tetap bersikeras akan berangkat ke Bogor. Katanya akan bekerja di sana, tapi kakekku tidak percaya.
"Baiklah, kalau memang kau nekat. Boleh saja pergi, tapi sebelum itu tanda tangani surat perjanjian ini. Kalau kamu melakukan kesalahan dan kebohongan lagi, maka jatuhlah talak," jelas kakek.
Ayah menyetujuinya, dia menandatangani surat perjanjian itu. Tanpa Ibu, Ayah pergi menuju tempatnya bekerja. Tapi Kakek sangat tidak mempercayainya, dia berusaha mencari tahu keberadaan Ayah. Setelah mendapati kabar, barulah Kakek tahu bahwa menantunya telah berbohong lagi.
Terpaksa, Ayah harus menanggung perbuatannya. Surat perjanjian itu menjadi bukti kuat gugurnya talak dan putusnya hubungan suami istri antara ayah dan ibuku. Sejak saat itulah, ibu harus berjuang sendirian mengandungku tanpa suami, ayahku.
"Anak tidak berguna, seharusnya kau tidak pernah ada. Anak tidak berguna, seharusnya kau mati saja. Aku tidak mau melahirkanmu, aku tidak mau," ucap ibuku sambil memukul paksa kandungan.
Dia berusaha membunuhku sedari kecil, dia mencoba meminum jamu dan ramuan untuk menggugurkan kandungannya. Tapi aku, masih bertahan di dalam perut ibu.
"Ah, ibu. Apa salahku?"
Ingin aku teriak saat itu dan memaksa ibu untuk menghukum diriku. Aku tidak bersalah, aku tidak pernah meminta hadir di dunia ini. Aku tidak pernah meminta ada dalam kehidupan ibu ataupun ayah.
"Kenapa kau harus ada? Aku tidak pernah menyukai ayahmu. Mati saja, mati saja kau."
Ibu terus memukul perutnya, memaksa aku untuk keluar dari sana. Sungguh, tega ibu. Pantaskah surgaku di bawah telapak kakimu, sementara Engkau sengaja membuat aku harus mati sia-sia.
__ADS_1
Aku menangis, tentu saja. Di dalam kehidupan sana aku terluka. Tubuh kecilku berguncang hebat, tak kuasa menahan penderitaanku sejak dalam kandungan. Inikah ibuku? Mengapa harus dia Tuhan? Aku berteriak.
Ibu, aku setangguh ini kau tahu? Kau tahu aku pasti akan terlahir ke dunia ini meskipun kau tak menginginkannya. Aku pasti akan lahir menjadi anak yang kuat, tangguh dan mandiri. Ibu aku membuatmu menangis karena sudah membuatku menderita. Ibu, kau akan menyesal telah membuatku kesakitan di dalam sini.
Iya, Ibu. Tentu saja aku setangguh itu. Tentu saja aku seistimewa itu. Lihat Bu, lihat. Racun itu tidak membunuhku, tapi racun itu keluar bersama air seni yang Ibu keluarkan.
"Jul, Ummi akan ikut kuli di sawah tetangga. Kita perlu makan, kita perlu bertahan hidup."
Ummi, tepatnya nenekku. Ibu kandung dari ibuku. Dia begitu sangat memperhatikan kondisi Ibu dan aku meskipun dalam kepayahan mencari sesuap nasi.
"Juli akan membantu Ummi," jawab ibuku.
Sepagi mungkin Ummi, Ibu dan uwaku, kakak ibu. Pergi ke ladang padi yang sudah siap dipanen. Segera ibu dan nenek memotong ujung padi untuk dipanen. Mereka bergantian menggebuk padi, ummi dengan ibuku.
Setelah siang hari mereka di ladang, cuaca sangat panas. Kulit mereka menghitam dijemur sinar matahari. Padi yang sudah selesai dipanen pun diliter oleh pemilik sawah. Alhamdulillah, hasilnya satu karung bisa dibawa pulang.
"Mad, ieu pare ganongnya ka imah," kata Ummi dengan logat Sunda yang kental dan khas daerah Surade.
Dia bukan anak Ummi, tapi anak bapak dari pernikahan sebelumnya. Sejak usia 7 tahun Uwa dibesarkan oleh Ummi, itulah sebabnya Uwa menganggap ummi sebagai Ibu kandungnya sendiri.
Aktivitas itu seolah menjadi rutin, dalam kondisi mengandungku. Ibu harus berjualan atau menjadi kuli di ladang membantu Ummi mencari sesuap nasi.
Aku memang sudah terlatih sejak kecil untuk menjadi anak kuat. Buktinya saja dari dalam kandungan aku dibawa ibu untuk mencari nafkah, bekerja susah payah. Bapak, dia kakekku. Pekerjaannya hanya penjual perabotan seperti pacul, golok, garpu, dan lain-lain. Selain itu, bapak biasa mengisi pengajian dan menjadi imam masjid di depan rumah. Masjid ini peninggalan almarhum kakek buyutku, bapaknya ummi. Sebagai menantu kesayangan dan lulusan sebuah pesantren klasik, Bapak dipercaya menjadi penerus tempat ini.
Sesekali, Ibu harus jualan bakso di depan rumah untuk mendapatkan penghasilan jika tidak ada job kuli di ladang. Ibu wanita yang hebat. Meskipun kadang kerap menyiksaku, tapi dia terus berjuang untuk bertahan hidup.
"Kalau gak laku gak usah jualan lagi, Jul," kata Ummi.
"Iya, Mi. Kalau Julia gak jualan anak ini gimana? Bapaknya? Enggak, Mi. Julia tidak mau berhubungan lagi dengan dia."
__ADS_1
"Mau kamu jauhkan dia dengan anakmu sejauh apapun, secara nasab dia tetaplah bapak dari anakmu ini."
"Julia akan besarkan sendirian, tidak akan pernah sedikit pun menerima bantuan darinya."
"Terserah kamu. Sebagai ibu, Ummi hanya mengingatkan kamu. Keputusannya, terserah kamu."
"Gara-gara nikah sama dia Julia kehilangan pekerjaan di Bandung, memulai kembali itu tidak mudah."
"Iya, Ummi tahu. Nanti juga akan ada masanya, Insya Allah."
"Jalan hidup Julia harus serumit ini, Mi. Dari kecil susah payah kerja jadi kuli, jualan gorengan, kerja di pabrik. Sampai sekarang tidak ada perubahan, semuanya masih sama."
"Sabar, gusti Allah itu tidak tidur. InsyaAllah nanti akan ada ganti yang jauh lebih baik dari ini."
"Ummi, Julia kasihan dengan Ummi. Dari hidup susah, tinggal di gubuk. Pindah sana sini hanya untuk mendapatkan hidup layak. Bapak juga tidak punya pekerjaan yang menjanjikan."
"Mi, Mi, bayar ongkos ojek," teriak bapak dari luar.
"Itu bapakmu, ceritanya jualan. Pulang bukan bawa uang justru minta uang."
Terpaksa ummi harus mengeluarkan uang hasil kuli nyuci baju hari ini untuk ongkos ojek bapak.
"Pak, Pak. Nyari uang bukanya bawa uang malah minta."
"Uangnya habis buat ongkos, barangnya juga habis diambil. Mereka kredit semua, yang lama belum pada bayar."
"Ya kalau kredit ditagih, Pak. Bapak beli barang, tapi dijual malah kredit."
"Nanti juga akan ada gantinya lagi."
__ADS_1
Begitu terus setiap hari, bapak dan ummi bertengkar masalah ekonomi. Tidak pernah ada hasil dari jualannya, padahal barang tidak pernah kembali ke rumah.
"Mau sampai kapan hidup kita begini, Pak?"