
~ Pantai Selatan, Ujung Genteng Surade 2019 ~
"Rambati, rata!!!!"
Teriak para Nelayan sambil mendorong perahu ke laut. Aku ikut berteriak mengikuti alunan perahu yang di dorong. Setelah perahu masuk ke dalam air dan siap untuk pergi ke laut mencari ikan. Aku meninggalkan mereka dan melanjutkan bermain sekitar pantai.
Tahun-tahun yang telah aku lewati menjadikan aku gadis yang berani, kuat dan tangguh. Rasanya baru kemarin ummi menjelaskan tentang siapa orang tuaku. Tahun yang kuhabiskan tanpa seorang ibu, tanpa seorang ayah. Tahun yang telah banyak memberiku banyak harapan dan pembelajaran. Tahun yang memberikanku banyak impian untuk diwujudkan, saat itu.
Akan tetapi, saat aku berhasil tumbuh dan berkembang menjadi gadis yang hebat dan kuat. Gadis yang memberikan banyak arti untuk keluarga. Saat itu, aku sadar bahwa hadirku di dunia ini tentu ada sebabnya. Untuk itulah aku tetap terlahir meskipun tidak diharapkan awalnya.
"Aleeya."
Seseorang melambaikan tangan padaku. Dia Bian, teman masa sekolahku. Usianya satu tahun di atasku, tapi dia terlambat. Sehingga dia menjadi adik kelas di sekolah. Lelaki jangkung dan putih, dulu di mataku dia tampan. Tidak sekarang, ada yang lebih daripadanya. Bian bukan hanya sekadar teman, dia.. Ah sudahlah, aku enggan mengatakannya. Itu adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan saat masih sekolah.
"Aku mencarimu, katanya mau di kongsi," katanya.
Aku membuat janji, setelah bertemu dengan ayah, aku main ke pantai. Jaraknya tidak begitu jauh dari tempat ayahku tinggal.
"Bau amis, aku gak tahan dengan bau amis ikan. Jadi aku lanjutkan saja ke pantai Cibuaya. Sepertinya di sini lebih menyenangkan, airnya juga sedang pasang."
"Al, sudah lama pulang, tapi kenapa tidak mengabari ada di Surade?"
"Apa untungnya untukku?" jawabku ketus.
"Aku tahu Al, selama ini aku sudah menyakitimu. Aku benar-benar minta maaf soal itu, aku menyadari bahwa kamu adalah perempuan istimewa. Tidak ada yang lebih baik darimu, kamu adalah mantan terindah untukku."
"Bi, aku minta maaf. Tapi harus kukatakan padamu bahwa apa yang terjadi di antara kita saat itu adalah suatu kebodohan terbesar yang pernah aku lakukan. Jika saja boleh kuputar kembali, tentu saja aku tidak mau melakukan kesalahan itu lagi"
"Apa yang membuatmu merasa bahwa bertemu aku adalah kesalahan?"
"Mencintaimu di waktu yang salah adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Jika boleh aku ingin lupakan, tapi tidak. Tentu saja aku tidak akan bisa melakukan itu. Semua terjadi begitu saja."
__ADS_1
"Maaf, jika mencintaku adalah sebuah kesalahan. Tapi aku benar-benar minta maaf karena sudah membuat sebuah kesalahan dan membohongi kamu saat itu. Tapi, jika masih ada satu lagi kesempatan untuk aku bisa kembali dan menebus semua kesalahanku. Aku ingin kamu kembali."
"Tidak akan pernah ada lagi kita di antara kamu dan aku. Sampai kapanpun, itu adalah sebuah hubungan palsu."
"Hatimu memang sudah tertutup untukku."
"Aku tidak akan membuka hatiku untuk sesuatu yang salah, aku sudah memilih jalan hidup yang jauh lebih baik daripada yang sudah terjadi."
"Apa aku tidak bisa menjadi masa depanmu?"
"Tentu saja, tidak."
Aku melihat Bian tertunduk diam, aku pun diam. Angin pantai menerbangkan ujung jilbabku dan memainkan rambut gondrong Bian. Semuanya hening, kecuali angin laut berhembus sepoi-sepoi. Tidak ada yang aku dan Bian bahas lagi, ada sedikit penyesalan bagiku karena menyetujui bertemu dengannya hari ini.
"Bi, aku sudah menemukan hidupku. Tolong, jangan pernah kamu usik lagi aku dan jangan membuat aku kembali pada masa lalu bersama kebodohon dan kesalahanku."
"Al, kamu benar-benar sudah banyak berubah setelah pergi menyebrang pulau. Perubahan itu membuat aku menyadari bahwa kesalahan terbesarku adalah menyia-nyiakanmu. "
"Kamu tidak pernah salah, aku yang salah."
"Aku salah, karena itu tidak benar."
Bian kembali diam, kami bersikukuh dengan melakukan perdebatan tidak penting. Aku ingin pergi segera dari sini, ini sangat memuakan bagiku. Kami tertahan untuk tidak mengatakan apapun lagi, tetapi Bian terus saja memandang ke arahku.
Sengaja, aku duduk di atas pasir pantai. Ombak menerjang kaos kaki dan ujung gamis yang kukenakan. Biarkan saja dia basah, aku tak peduli. Kupandangi laut lepas sambil memercikan air laut atau hanya sekadar melemparkan batu karang ke dasar laut.
"Al, aku datang ke sini untukmu. Bahkan, aku belum libur sama sekali. Tetapi, mendengar kamu pulang aku segaja ambil cuti agar bisa bertemu denganmu. Aku sama sekali tidak mengharapkan hasil yang begini."
"Aku bahkan tidak pernah memintamu untuk berjuang apapun agar bisa mendapatkanku kembali. Salahmu menjatuhkan terlalu banyak harapan. Siapa yang lebih bodoh?"
"Aku, iya aku. Aku tahu aku memang sangat bodoh melakukan ini. Karena kamu, kamu yang telah membuat aku merasa menjadi lelaki bodoh."
__ADS_1
"Kamu sudah mengatakannya padaku sekali, tidak perlu diulang kembali."
"Aku perlu kamu, Al."
"Tetapi aku tidak, tidak akan pernah sekonyol itu mencintaimu lagi."
"Dengar Bian, kamu sudah meretakkan hatiku dan menghancurkannya berkeping-keping. Hati itu seperti cermin yang retak, jika kamu hancurkan sekali. Tentu saja takkan pernah bisa membuatnya utuh kembali," lanjutku.
"Aku akan perbaiki sekali lagi, berikan aku kesempatan."
Kali ini, kuberanikan menatapnya, lalu kusobekan kertas di dalam tasku.
"Lihat ini Bian, ini kertas yang mulus dan bersih."
"Aku tahu, aku bisa lihat itu."
Aku meremasnya, lalu kertas yang kuremas itu kuberikan kepadanya.
"Pegang ini, sudah kuremas kertasnya. Bukalah, apakah dia utuh kembali?"
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Kertas ini tidak utuh lagi bukan? Tentu saja. Begitu pula dengan hatiku yang sudah tidak sama seperti pertama kali kita bertemu."
Aku meninggalkan Bian, kubiarkan dia menatap sendirian pasir pantai. Pergi pada arah lain, arah yang ingin aku tuju. Kuarahkan setapak dua tapak kaki di atas pesisir pantai. Setelah 20 tahun lamanya, aku baru menatap lagi pesisir pantai. Aku memanglah gadis pesisir pantai. Dulu, di sini aku bermain dan menghabiskan waktu.
Angin pantai berhembus, aku duduk di atas batu karang sambil menatap laut lepas. Memutar kembali memori masa silam yang terjadi. Sejak kepergian ibu bulan keenam aku terlahir, aku menghabiskan waktu bersama bibiku. Suatu ketika, dia pernah pernah menulis.
"Suatu hari, aku punya keponakan yang lucu dan menyenangkan. Aku begitu menyayanginya."
Bibirku tersungging, mengingat kekonyolan bibiku. Tentu saja, sejak ibuku tidak ada, aku bersamanya. Dia membersamaiku sejak usia 6 bulan itu. Semua dia lakukan, untuk membantuku. Kulirik jam di tangan kananku, sudah hampir sore.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus segera kembali."