
'Plaaakkkk!!!!'
Bapak menampar lelaki itu, amarahnya memuncak. Perasaannya terbakar, lelaki tak berperasaan. Meminta sang bayi dibelah? Tentu saja dia akan mati sia-sia. Kejam.
"Ayah macam apa kau, meminta anak dibelah dua. Kau pikir dia buah kelapa yang bisa kau belah dua seenakknya. Dia manusia, anakmu akan mati jika kau belah."
"Pak, aku hanya ingin anakku. Aku mohon, biarkan dia tinggal bersamaku. Biarkan aku membesarkannya."
"Dengar Rudi, sampai kapun pun juga aku tidak akan pernah memberikan cucuku padamu. Aku tidak akan sudi memberikannya pada lelaki sepertimu."
"Aku ayahnya, Pak. Aku ayah dari bayi yang dilahirkan Julia."
"Kau mengakui di anakmu? 9 bulan anakku mengandungnya, kau ke mana saja? Pernah kau memberikannya nafkah untuk keperluan anakmu? Pernah kau datang untuk membantu persalinannya?"
"Aku? Kenapa aku yang salah? Bukankah Bapak yang sudah membuat aku berpisah dengan Julia?"
"Ya, tentu saja. Aku tidak akan sudi membiarkan anakku hidup sengsara bersamamu. Bahkan mahar pernikahan saja tidak kau berikan padanya? Pantaskah itu, Rudi? Aku tertipu oleh keluguanmu."
Persiteruan hebat antara Bapak dengan Rudi, ayahku terus berlanjut. Lelaki itu ayahku, lelaki itu mencariku. Tapi aku akan aman dibawa lari oleh Uwak. Tidak akan ada yang rela membiarkan aku dibawa olehnya.
"Ya Allah, Nak. Sungguh malang nasibmu, sedari bayi harus mengalami kesulitan. Tetapi wajar saja kehadiranmu diperebutkan, kamu anak yang hebat. Bahkan saat keributan itu terjadi, kamu tetap diam tak menangis," ucap uwak sambil menimangku.
Aku diam, Uwak menimangku agar aku tertidur. Aku tetap terjaga meskipun banyak keributan di luar sana.
"Rudi, sudahlah! Jangan membuat keributan di sini. Kau harusnya malu, semua orang melihatmu. Lebih baik kita pulang saja!" ajak Wak Yan, Uwak dari pihak ayahku.
"Yan, bawa segera dia dari sini. Dia sudah membuat malu dan membuat keributan di rumahku!" perintah bapak padanya.
__ADS_1
"Iya, saya minta maaf karena sudah membuat keributan di sini."
"Kau jelaskan padanya, aku tidak akan memberikan cucuku."
"Baik, Pak."
"Ayo, Rudi! Kita pergi dari sini."
"Aku akan pergi, aku bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah ini lagi. Tapi, aku berjanji akan merebut dan mengambil anakku."
"Terserah, lakukan saja sesukamu. Aku tidak peduli padamu dan aku tidak akan pernah takut dengan semua ancamanmu."
Ayahku pergi dibawa oleh Wak Yan, dialah orang yang merasa bersalah dengan sikap ayahku. Dialah yang berusaha meminta maaf atas keributan yang terjadi padanya.
Kelahiranku tersenyembunyi dari ayahku, tetapi dia sering mangkal di pasar Surade atau sekadar belanja. Tentu saja, ayahku tahu mengenai kelahiranku dari tetangga yang juga penjual buah di pasar.
Setelah ayah dan uwak pulang, keadaan lebih tenang. Uwak membawaku kembali ke rumah. Aku merasakan haus yang teramat, sehingga ibu segera menyusuiku. Aku aman berada dalam dekapan Ibu serta perlindungam Ummi dan Bapak. Tidak ada yang lebih nyaman, meskipun dalam sebuah gubuk yang hampir runtuh.
"Iya, Mi. Ummi benar, ini sangat membahayakan Aleeya. Sesulit apapun, Juli tidak akan pernah memberikan Aleeya kepadanya. Aleeya akan aman bersamaku di sini."
"Siapa yang tega memberikan anakmu padanya, bapak tidak akan pernah melakukan itu," ujar bapak.
"Tentu saja, Pak. Anak ini akan ditelantarkannya, aku tidak setega itu. Bahkan, meninggalkannya untuk bekerja saja aku tidak tega, apalagi jika harus melepaskannya."
"Kamu yang sabar, Aleeya anak yang tangguh. Tentu saja Aleeya akan selalu bersama kita dalam keadaan apapun."
Aku terlelap, ketika ibu masih bercengkrama dengan ummi dan bapak. Betapa bahagianya, aku dalam pelindungan mereka. Dengan kompak mempertahanku bersama mereka, meskipun keadaan ibu kesulitan.
__ADS_1
Ibarat angin yang berhembus, kejadian demi kejadian yang kulami sejak lahir berlalu begitu saja. Ibu dengan sabar merawatku, menyapihku penuh kasih sayang. Tidak ada yang lebih bahagia daripada ini. Karena dialah surgaku, wanita tangguh yang kumiliki.
Hari itu berlalu begitu saja, aku menjalani hari-hari dengan ibu serta ummi dan bapak. Meskipun, keluarga bekerja serabutan. Tetapi akhlak dan budi luhur selalu ditanamkan. Bapakku, seorang imam masjid di mushola tempat tinggal kami. Mushola ini peninggalan kakek buyutku, ayah dari ummi. Kami yang hidup sederhana ini terlahir dari seorang ulama besar. Kyai Mad Yassin, adalah seorang ajengan atau ulama besar di Surade. Beliau pula yang memberi nama Surade, Sunda Ramah Tur Hade. Semua orang mengenal beliau, dan juga Kyai Elo Suhrowardi terkenal sebagai ulama yang karismatik.
Hal besar dalam hidupku, adalah keluarga yang luar biasa. Tidak pendidikan yang lebih penting daripada pondasi agama kuat. Itulah sebabnya, banyak anak yang gagal padahal ia terlahir dari keluarga utuh dan jauh dari konflik. Karena pondasi agama mereka tidak begitu kokoh.
Bapak, memang memisahkan ayah dengan ibu. Bukan tanpa sebab, tentu saja karena ada landasan yang kuat. Jika saja aku berada di tangan ayahku, belum tentu didikan agama itu kudapatkan. Tentu saja. Tidak ada yang lebih nikmat daripada itu, memiliki sebuah keluarga luar biasa, meskipun kadang ada perasaan yang menyiksa batin. Bapak selalu berkeyakinan bahwa setiap yang hidup sudah terjamin rezekinya. Itulah mengapa, dalam kepayahan yang nyata sekalipun, bapak selalu bersyukur.
Pernah suatu hari bapak pergi berdagang memikul beban garpu dan cangkul di pundak. Menelusuri satu kampung ke kampung yang lain menjajakan perabotan yang banyak dibutuhkan petani. Setelah seharian berjualan, barang bapak habis. Ia bergegas pulang, ada recehan uang untuk ongkos ojek, tapi tidak bisa diberikan untuk keperluan ummi. Diperjalanan mencari ojek, seorang nenek tua melintas menjual pucuk daun singkong yang dijajakan ke kampung-kampung.
"Jang, daun sampé, ye. Beli atuh jang, Nini ti isuk jualan nteu laku-laku," kata sang nenek mengharapkan belas kasihan bapak.
Itulah, uniknya bapak. Meskipun beliau susah, tapi hatinya tulus penuh kasih sayang. Tidak ada yang percaya sifat bapak kepada orang lain dan keluarga yang jauh berbeda.
"Sabarahaeun atuh eta teh, Ni?"
"Beli we atau kabeh, Jang. Lima rebueun we."
Bapak merogoh saku celananya, seribu dua ribu dihitungnya. Cukup, untuk membeli daun singkong nenek ini.
"Ieu atuh, Ni. Ngan sakieu-sakieuna, urang beli we kabeh."
Keduanya melakukan akad jual beli, bapak berjalan pulang membawa daun singkong tadi. Dipinggir jalan, ada ojek yang datang. Bapak pun pulang menaiki ojek tersebut. Sesampainya di rumah, bapak seperti biasa meminta ongkos ojek kepada ummi. Dan seperti biasa, ummi memberikan ongkosnya.
"Ari ieu naon, Pak? Mawa daun sampe loba-loba teuing?"
"Tadi, aya nini jualan. Karunya geus kolot, can laku daganganna."
__ADS_1
"Astaghfirullah, Bapak. Urang teh butuh duit lain daun sampe, kawas teh doma ngadaharaan daun sampe."
"Keun wae atuh ngeunah diangeun. Ke ge aya gantina rezeki mah ti Allah."