ALEEYA

ALEEYA
Terlahir Kembali


__ADS_3

Aku tidak tahu bagaimana ibu bertahan hidup dalam keadaan hamil tanpa suami. Tentu saja itu sangat sulit. Meskipun, ibu berusaha membunuhku, ia tetaplah berjuang melahirkanku. Luas biasa, kuhaturkan terima kasih kepadanya. Bertarung nyawa, menjadikan aku terlahir. Melihat dunia yang penuh sandiwara ini, mungkinkah dia juga sedang bersandiwara?


Baik, lupakan tentang sandiwara. Lupakan kenapa aku dibiarkan terlahir oleh ibuku. Ya, tentu saja aku tetap terlahir dengan berat 2,5 kilogram. Hari itu, untuk pertama kalinya aku menangis. Melalui bantuan dukun beranak, aku lahir dengan selamat.


"Alhamdulillah, Nak. Akhirnya kamu melahirkan anak perempuan," ucap ummi.


Bapak langsung menimangku, menyambut bahagia cucu pertamanya. Terang saja, beliau begitu manyayangiku. Aleeya Ningtias, itulah namaku. Nama yang diberikan ibu kepadaku.


Bayi mungli itu aku, tangisan adalah sebuah firasat kehidupan. Gadis yang dilahirkan tanpa seorang ayah, dialah gadis tangguh sejak masih dalam kandungan ibu.


"Nak, kamu tidak ingin memberitahu ayahnya? Bagaimana pun juga Rudi adalah ayah dari anakmu, tentu sana ayahnya harus tahu anaknya sudah lahir."


"Tidak perlu, Mi. Juli tidak akan memberitahunnya, bahkan melihatnya saja Juli tidak mau."


"Jangan begitu, Jul. Sampai kapan pun, nasab sang ayah tidak bisa terlepas begitu saja. Apalagi anakmu perempuan, suatu hari dia akan mencari walinya."


"Iya, Pak. Nanti saja, sekarang biarkan anak ini tumbuh bersamaku."


Ummi membantu mengurusi ibu memandikanku yang masih berlumuran darah setelah dilahirkan.


"Anak manis, dia mewaris ibu dan ayahnya. Semoga kelak, menjadi anak yang sholelah dan memberikan banyak manfaat untuk semua orang."


Ummi mendoakanku sambil memercikan air membasahi tubuh.


Beruntung, aku terlahir sempurna tanpa cacat apapun. Ibu tidak percaya dia akan melahirkanku, padahal sejak awal sama sekali tidak mengharapkanku hadir dalam hidup. Saat itu, saat aku menangis terakhir kali aku sudah melalui perjanjian suci dengan Tuhan.


"Bu, aku memang tidak pernah meminta lahir ke dunia. Aku juga tidak bisa memilih dan meminta kepada Tuhan siapa yang layak menjadi orang tuaku. Tapi, saat aku terlahir dari rahimmu, saat itulah aku berstatus anakmu," kataku.


Kelahiran aku ke dunia memberi banyak kebahagian untuk ummi dan bapak. Dengan penuh kasih, mereka menyambut kelahiranku. Meskipun awalnya ibu tak menyukainya, ia juga terpaksa harus menerima kehadiranku.


"Aku memang tak suka pada ayahmu, bahkan di dunia aku tak pernah mengharapkan kamu hadir. Tetapi, setelah kamu lahir sebagai anak pertamaku. Aku berjanji akan membesarkanmu, meski itu tanpa ayahmu," bisik ibu di telingaku.


Ah, Ibu. Sejuk rasanya aku mendengarmu menyatakan itu terima kasih sudah menerimaku. Meskipun terpaksa. Aku akan tumbuh menjadi gadis hebat, gadis kuat dan gadis kebanggaanmu. Sejauh jarak pandang di masa depanku, aku akan bernjak menjadi gadis dewasa yang akan mengubah hidupmu di masa tua.


Saat itu, setelah aku terlahir ke dunia. Ibu bekerja membantu ummi atau sekadar jualan bakso di depan rumah. Demi aku, demi anaknya.


"Nak, apa yang harus ibu lakukan? Ibu hanya pekerja serabutan. Bahkan satu minggu setelah melahirkanmu saja ibu harus tetap bekerja. Ibu harus bisa memberikanmu pakaian yang layak, makanan yang layak. Maafka ibu nak, jika tidak bisa memberikan yang lebih dari ini padamu," tangis Ibu.

__ADS_1


Aku masih terlalu kecil untuk memahamimu Ibu. Bahkan satu bulan pertama ini mataku belum bisa melihat dunia. Aku hanya bisa mendengar bisakanmu, tangisanmu dan semua yang kau ucapkan padamu. Aku tak tahu bagaimana rupamu, apalagi harus menghapus air matamu.


"Julia, jangan melamun terus. Anakmu butuh air susu, makanlah untuk menambah energimu," ujar ummi.


Ibu meninggalkanku sebenar untuk menyantap makanannya. Hanya nasi dan tempe goreng yang ia santap, itu saja sudah membuatnya sangat bersyukur.


"Mi, Julia bingung," katanya.


"Kenapa?"


"Bagaimana Julia akan membesarkan Aleeya dan mencukupi semua keperluannya, sedangkan pekerjaanku serabutan."


"Sabar, insya Allah ada jalan keluar dari semua kesulitanmu ini. Kamu juga tahu pekerjaan ibu hanya buruh dan serabutan, kita bisa tinggal di gubuk reot ini saja sudah alhamdulillah."


"Iya, bu. Julia berpikir begitu."


"Lalu, kamu mau apa?"


Ibu terlihat berpikir, dia ragu menjaskan keinginannya kepada Ummi. Tapi, kemudian Ibu akhirnya menyampaikan keinginanannya untuk mencari pekerjaan di kota.


"Boleh saja, tapi jangan sekarang."


"Kenapa, Bu?"


"Anakmu masih kecil, tunggulah sampai enam bulan. Dia masih membutuhkan ASI-mu."


"Ibu benar, aku masih harus memberikan ASI untuknya. Baiklah, aku akan tunggu sampao Aleeya enam bulan."


"Habiskan makananmu, ibu akan pergi ke kampung sebelah untuk mengambil cucian."


"Baik, Bu."


Aku bermain sendirian, bibi dan mamangku masih sekolah. Biasanya mereka yang mengajakku bermain. Samar-samar, dark luar aku mendengar suara keributan. Ada apa ini?


Ibu menghentikan suapannya, aku mendengar ummi dan bapak ribut mencariku. Bapak langsung mendekapku dan membawaku lari. Uwak, keponakan ummi mengambiku dari tangan bapak.


"Mang, sudah sini. Biarkan Aleeya aku bawa, urisi saja mereka," kata Uwak pada Bapak.

__ADS_1


Aku digendong dan dibawa pergi ke rumah uwak. Bingung, tak tak harus melakukan apa. Layaknya bayi yang tidak tahu apapun, aku juga begitu. Dari satu tangan ke tangan yang lain aku dibawa, tapi aku diam saja. Betapa baiknya, aku tidak menangis apalagi berontak. Aku mengikuti ke mana mereka membawaku pergi.


Suara keributan itu terdengar jelas, seorang lelali sedang dikerumini oleh banyak orang. Ia sedang terbakar amarah, matakanya memerah menahan kesal. Siapa dia?


"Di mana dia, di mana bayi itu? Di mana anakku? Ke mana kalian sembunyikan anakku?" tanyanya.


Lelaki itu datang menghampiri bapak dan memakinya, memarahinya sambil mencari bayi. Siapa bayi dia maksud? Siapa anaknya itu? Apakah bayi itu aka? Apakah dia ayahku?


Bapak ikut terbakar emosi, ibu ketakutan di dalam rumah. Bersama ummi, ibu bersembunyi tanpa melihat lelaki itu.


"Anak? Bayi? Apa yang kau katakan?" tanya Bapak padanya.


"Jangan berpura-pura, aku sudah tau semuanya. Kalian berusaha memisahkan anak dengan bapaknya."


"Jangan mengada-ada kamu, pergi dari sini. Tidak ada anakmu, tidak ada bayi di sini. Cepat pergilah."


"Aku mau anakku."


"Tidak ada siapapun di sini."


"Jangan berbohong!! Cepatlah kembalikan anakku!!"


Bapak bersikeras mengatakan tidak tahu apapun mengenai anak yang dimaksudnya. Tetapi lelaki itu terus saja mencari anaknya, menanyakan keberadaan bayi yang diakui anaknya.


"Sudah kukatakan berulang kali, tidak ada siapa pun di sini," kata bapak sekali lagi.


"Sudahlah, pak. Jangan sembunyikan anakku, aku tidak mau mencari keributan di sini. Aku hanya ingin anakku."


"Tidak ada anakmu di sini, pergi dari sini."


"Aku tidak akan pergi sampai melihat anakku."


"Sudah katakan berulang kali, tidak ada anakmu di sini."


"Belah dua saja anak itu kalau kalian bersikeras tidak mau memberikanya padaku. Belah dua saja agar aku bisa memilikinya dan kalian bisa memiliki anak itu."


PLAK!!!!

__ADS_1


__ADS_2