ALEEYA

ALEEYA
Tuhan, Takdir Apalagi?


__ADS_3

~ Surade 2008 ~


Akhirnya, kubiarkan hidupku berjalan begitu saja tanpa mendebat Tuhan. Tidak, lebih tepatnya aku pasrah pada sebuah takdir yang mengujiku. Ya, ini hanyalah ujian hidup. Sebab setiap orang punya takdir hidupnya masing-masing bukan? Aku juga, dan inilah takdirku yang sebenarnya.


Hari yang pernah aku takuti, yang pernah aku hindari. Saat itu, aku terlalu kecil untuk memahami Mama kebutuhannya. Tapi, mengapa terasa buruk untukku? Mama menikah lagi. Aku pasrah, aku menyerah. Kulewati episode demi episode hidupku.


“Pokoknya, kamu tidak perlu sekolah lagi. Sudah cukup saja sampai Sekolah Dasar, yang penting sudah bisa baca dan menulis dan itu sudah cukup.”


Aku tertunduk dia, ingin menangis dan menjerit hari itu juga. Bapak menuturkan pada agar aku tidak melanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama. Tapi inilah aku yang keras kepala dan keras kepala. Hari itu, setelah lulus Sekolah Dasar aku ikut teman-temanku untuk mendaftarkan diri ke SMPN 1 Surade, sekolah yang bersebelahan dengan pendidikanku sebelumnya.


“Pokoknya, aku mau lanjut sekolah. Titik,” ujarku pada Bapak dan Ummi hari itu.


“Jangan keras kepala, masih untung kamu bisa sekolah di SD. Siapa yang akan membiayaimu? Sudah tahu ayahmu tidak bertanggung jawab, harusnya kamu berpikir.”


“Pak, tidak ada masa depan hanya lulusan SD saja. Aku tidak mau, Leeya mau lanjukan sekolah ke SMP.”


Lagi-lagi aku menantang kakek dan nenekku. Meskipun aku tahu, perjalanan duduk di sekolah dasar saja sangat rumit. Bagaimana tidak, aku bahkan harus jualan untuk menambah uang jajan. Dari es lilin, cilok, memo, kerudung, manset dan banyak hal. Hanya cukup untuk jajan saja.


Ya Allah, aku tidak ingin menyerah begitu saja. Ada masa depan yang ingin aku perjuangkan, bukan hanya sekadar gelar. Aku malu, malu karena dihina sebagai orang miskin. Maaf, Tuhan. Bukan aku tidak menerima takdirku atau hanya sekadar tidak bersyukur. Akan tetapi, aku tidak mau menjadi orang miskin yang juga bodoh.

__ADS_1


“Kita sudah miskin, Mi. Kita tidak punya apapun bahkan harta untuk dibanggakan, tapi setidaknya aku ini tidak bodoh dan mudah dibodohi orang. Percayalah, tidak akan sia-sia menuntut ilmu.”


“Terserah kamu saja, tapi kita juga harus melihat diri sendiri dan kemampuan kita. Benarkan kita mampu? Atau justru itu akan membuat kita semakin sengsara. Wajah saja bodoh, kita hanya orang kecil.”


Yang dikatakan Ummi benar, apapun cita-cita dan harapan besar yang dimiliki. Tetap saja, tidak bisa buta untuk melihat kemampuan diri. Untuk itu, aku sering merasa cemburu kepada mereka yang mampu dan memiliki segalanya. Sayang sekali, jabatan dan kekayaan orang tua itu hanyalah sebuah alasan untuk menyombongkan diri tapi lalai terhadap tanggung jawab.


“MI, kita hanya bisa pasrah dan meminta kepada gusti Allah. Tapi, bukan berarti kita harus menyerah dan putus asa. Aleeya yakin, suatu hari akan ada hasil yang berdampak baik selama kita terus berada di jalan Allah.”


“Nak, andai saja ayahmu melihat semua harapan dan impianmu ini. Entah apa yang membuatnya bisa menerimamu. Bahkan hingga kini, ayahmu tidak pernah lagi datang ke rumah ini. Setidaknya untuk melihat kamu, menjenguk kamu. Kamu kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis hebat.”


Sungguh, aku menitikan air mata. Takdirku sangat mengkhawatirkan, tapi melihat Ummi dan Bapak yang tidak pernah meninggalkan aku membuat keyakian itu tubuh dalam hatiku. Yakin bahwa perjuanhan ini tidak akan sia-sia.


“Al, kalau kamu mau sekolah di SMPN 1 Surade saja, janga ke MTsN Pasiripis. Ke SMP bisa jalan kaki, jad kamu tidak perlu ongkos,” ucap Mama dari seberang sana.


“Iya, Ma. Baiklah kalau begitu.”


Aku mengalah, menyimpan harapan dan menutup egoku. Tidak ada pilihan lain saat itu kecuali mengikuti ucapan keluargaku. Sebenarnya aku lelah, sangat lelah dengan perjalanan dan penderitaan ini. Hanya saja, aku yakin hujan pasti ada redanya.


Bukankah Tuhan menguji seseorang sesuai dengan kemampuan hamba-Nya? Ya, kenapa aku meragukan itu. Tuhan tidak pernah salah alamat menyampaikan risalah kebaikan atau memberikan takdir. Tentu saja semua ini adalah bagian daripada rencana Tuhan.

__ADS_1


{Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”} Surah Al-Baqarah ayat 286.


“Al, kamu itu termasuk yang palingaa beruntung dari orang lain. Di luar sana, banyak orang yang tidak beruntung seumur hidupnya tidak tahu orang tua. Dia tinggal di jalanan, tidak bisa sekolah dan untuk sesuap nasi saja sulit,” ujar Bibi siang itu.


“Ya, tapi tetapi saja aku juga ingin merasakan memiliki orang tua utuh dan tinggal bersama mereka.”


“Itu sesuatu yang tidak bisa terjadi, mamamu sudah punya pilihan hidup dan memiliki suami. Begitu pula dengan bapakmu, semua itu ada garis takdirnya.”


Kutundunkan kepalaku, Bibi benar. Semua sudah tercatat dalam takdir hidupnya masing-masing. Tapi saat itu, aku hanyalah gadis 12 tahun yang tidak tahu apapun selain keinginan memiliki takdir yang sama dengan teman sepermainanya.


“Sudahlah, jangan berpikir tentang sesuatu yang tidak penting. Kamu itu gadis tangguh, sayanga. Percayalah, akan ada pelangi setelah hujan.a kamu juga harus ingat bahwa bunga mawar tidak salah tempat untuk mekar apalagi sampai kehilangan tempat asalnya.”


“Iya, Bi. Aku tahu itu, hanya mungkin aku merasa bahwa di antara saudaraku yang lain, hanya aku yang tidak beruntung dan bernasib buruk.”


“Buruk bukan berarti sangat buruk, bisa dikatakan bahwa takdir itu adalah batu loncatan untuk kamu menyongsong masa depan.”


Kuanggukan kepala, bibiku benar. Ini hanya batu loncatan. Jika ujiannya besar, pastilah hadiahnya lebih besari dari ini. Kenapa aku harus takut? takdir baik itu akan segera tiba.


Terlalu sulit memahami sebuah takdir Tuhan, hingga aku merasa bahwa air mataku sudah habis berurai. Sedari kecil, nasibku benar-benar menyedihkan. Ayahku tidak peduli, Ibu juga pergi dariku.

__ADS_1


Tuhan, apakah ini? Banyak tanya yang tak kudapatkan jawabannya hingga kini.


__ADS_2