
Kulihat langit pagi nampak cerah berwarna lazuardi, nampak elegan dengan awan putih beriringan. Layaknya pawai kenaikan kelas mengarak seantero langit Sukabumi bagian selatan. Ibu sedang mengolah makanan saat aku membuka mata. Terdengar sayup-sayup suara bapak mengisi pengajian di Ahad pagi, seperti biasa. Kudengarkan, meskipun terdengar sedikit sendu.
Bapak seperti bungklon, beliau menjadi ayah saat di rumah. Kadang kala, beliau menjadi petani saat di ladang. Akan tetapi, beliau menjadi pedagang saat menjual barang. Namun, saat berada di dalam masjid, beliau menjadi imam masjid dan Kyai Abdullah. Semua orang menghormati dan menghargai beliau, kecuali saudara.
Bapak tidak pernah marah melihat anaknya tak bisa mengisi tugas matematika. Tetapi, beliau begitu sangat marah ketika belum bisa membedakan huruf hijaiyah. Itulah mengapa, bapak tidak pernah mendukung anak-anaknya sekolah. Harapan bapak, anak-anaknya tinggal di pesantren dan bisa melanjutkan posisinya di kemudian hari. Namun, setelah anak-anak beranjak dewasa, tak ada satupun yang melajutkan perjalanan beliau.
"Nak, tumbuhlah menjadi gadis dewasa yang hebat. Tidak apa-apa saat ini kita di pandang sebelah mata, kelak kamulah yang akan menyilaukan pandangan mereka," ujar Mama pagi itu.
Aku tersenyum, tentu saja. Doa ibu seperti sebuah anak panah yang bisa cepat sampai sasaran, ibu seperti senjata ampuh untuk menggapai jannah. Bahkan tanpa rida darinya, seolah langit jatuh menimpa. Apapun bisa saja terjadi, begitu dahsyat.
"Kau tahu Ma, aku beruntung dan bersyukur. Engkau ada dalam setiap pagiku dan helaan napasku. Sekejap saja, bibirku yang tak begitu manis tersenyum takkan hambar. Sebab pagiku selalu ada wajahmu yang menawarkan rasa madu bercampur anggur. Aku terbang jauh menggapai semesta untuk menangkap aroma kasturi menapaki tangga nirwana," kataku menjelitkan mata, menyambut paginya.
Ah, ya. Aku lupa, Mama takkan bisa memahamiku. Sekeras apapun kuungkapkan rasaku, saat itu akulah bayi kecilnya yang tidak tahu apa-apa. Mama kembali menatapku, mendongakkan wajahnya memberiku senyuman. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, saat mataku samar-samar menangkap wajahmu. Dialah ibu, orang yang telah menjadi musabab aku terlahir ke dunia.
"Pagi anakku, terima kasih sudah menjadi anak Mama yang pintar," katanya.
__ADS_1
Aku tersenyum, wajahku nampak bercahaya menampakkan keomponganku.
"Anak Mama sudah bisa melihat, sekarang. Selamat datang ke dunia barumu, Nak. Inilah semesta yang sebenarnya, lihatlah dengan seksama," ucap ibuku lagi.
Aku bisa melihatnya, Ma. Aku bisa merasakan aroma baru dalam hidupku. Udara segar menyambut meneteskan embun pagi menyejukkan. Kuraih wajahnya, dia mengecup tanganku. Lalu, dengan sengaja menggelitiki tubuhku, hingga aku tertawa terpingkal-pingkal.
"Hai, Jul. Pagi sekali sudah menjemur anak," kata tetangga yang melintas depan rumah.
"Iya sengaja, biar anaknya sehat."
"Alhamdulillah kalau sehat."
Surade, sunda ramah tur hade. Begitulah orang terdahulu menamai tempat ini. Orang Surade terkenal sopan, dengan siapa pun mereka saling sapa. Kenal ataupun tidak, mereka tetap menebar senyum. Di sini sangat ramah, terlalu ramah. Sehingga, akan dikatakan orang itu tidak sopan jika melewati orang lain tidak menyapa atau permisi.
Namun, mereka terlalu ramah. Saking baik dan ramahnya, mereka selalu ikut campur urusan orang lain. Selalu ingin tahu urusan orang lain.
__ADS_1
Mama adalah seorang wanita yang tangguh, sejak kecil. Bagaimana tidak, dari ketiga adiknya, yang mengalami banyak kesulitan adalah Mama. Pernah suatu hari, Mama akan berangkat sekolah. Tapi, Mama tidak memiliki uang sama sekali. Untuk itu, Mama berjualan gorengan. Keliling kampung sebelum sekolah, Mama menjajakan jualannya yang ia taruh di atas kepala.
Bukan hanya sekadar itu, sejak kecil Mama harus ikut membantu Ummi di ladang menjadi buruh tani. Baik itu menanam padi maupun memanennya. Akan tetapi, mama seorang wanita tangguh, semua itu tetap dijalani demi membantu ummi. Sejak dulu, bapak memang tidak memberikan kecukupan apapun. Hidup sulit tinggal di saung reot beratapkan jerami pernah ummi lalui, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mendapatkan pekerjaan dan kelayakan hidup yang tiada hasil. Bahkan, semua warisan yang dimiliki ludes terjual dan ada yang hilang begitu saja, tertipu orang lain.
Kesulitan hidup yang ummi jalani bersama bapak melibatkan Mama dan uwak, anak bapak dari istri sebelumnya, dengan adik Mama, bibiku. Yang paling banyak mengalami kesulitan adalah mama dan uwak. Karena kesulitan inilah yang membuat uwak tidak bisa melanjutkan sekolah seperti orang lain, Sekolah Negeri sekalipun. Begitu juga dengan Mama, di akhir ujian sekolah Mama tidak datang untuk ujian. Akhirnya, Mama berhenti sampai di Madrasah Tsanawiyah. Berbanding terbalik dengan mamang dan bibikku, bungsu ummu dan bapak. Keduanya selesai sampai tingkat Madrasah Aliyah Negeri atau setingkat Sekolah Menengah Atas.
Untuk memberikan kehidupan layak, mama merantau ke Bandung menjadi buruh pabrik bersama adik pertamanya, Bi Aah, namanya Robi'ah. Keduanya bekerja di sana dan menjalani hidup bersama. Namun, karena usia yang tidak lagi muda, Mama harus dinikahkan dengan ayahku. Mungkin, itu sebabnya Mama tidak begitu menyukai ayah. Karena pernikahan yang dipaksakan, karena takut didahului oleh bibi. Begitu takdir membawanya, lalu membawaku terlibat pada keadaan yang rumit ini.
Kegigihan dan kerja keras ummi diwariskan kepada Mama. Itulah sebabnya, Mama begitu sangat tangguh. Mungkin aku harus sekuat keduanya. Kehilangan ayah sejak dalam kandungan. Bahkan diperebutkan, hingga ingin dibagi dua. Jika saja aku bisa berteriak saat itu, aku ingin menangis sekuatnya. Aku ingin menangis dengan ujian hidupku. Entah dengan jalan dan cara aku bertahan, baru awal saja aku merasa lelah.
"Nak, meskipun Mama mengalami banyak kesulitan dalam hidup. Mama berharap, kelak kamu tidak mengalami kesukitan yang sama. Mama ingin kamu menjalani hidup layak dan dipenuhi dengan banyak kebahagian," ucap Mama padaku.
Saat itu, aku masih bayi yang tidak tahu apapun. Saat itu, aku hanya seorang anak kecil yang tidak memahami keadaan hidup. Aku hanya menangis saat lapar, lalu tertawa saat melihat kebahagian atau lelucoan konyol bapak yang mengajakku bermain.
"Nak, hidup yang sulit ini tidak akan mudah bagimu. Maka, biarkan Mama saja yang menanggungnya, jangan kamu. Jangan Nak, jangan pernah," tangis Mama.
__ADS_1
Aku tidak tahu, aku terdiam tak benar-benar memahami semua yang dikatakan Mama padaku. Yang aku tahu, inilah hidup baruku. Menawarkan banyak aroma, pesonanya seindah lazuardi di atas semesta.
"Ma, aku setangguh engkau. Buktinya, aku masih bisa bertahan meskipun banyak jamu dan semua ramuan berat untuk membunuhku yang sengaja engkau minum. Engkau tak ingin aku hidup, tak ingin aku terlahir ke dunia. Tapi Ma, harapanmu dan takdir Tuhan berbeda. Sekeras apapun Mama berusaha membunuhku, Allah tetap menakdikan aku hidup. Aku yakin bukan tanpa musabab, bukankah begitu?"