
Tidak ada yang lebih pedih dari sebuah perpisahan, apalagi jika perpisahan itu terjadi bersama orang yang paling disayang. Berat, namun harus kutanggung pedihnya sebuah perpisahan ini. Aku bahkan belum bisa menopang tubuhku sendiri, belum mampu melangkah apalagi berdiri. Akan tetapi, dengan terpaksa dan tanpa sebuah penolakan, perpisahan ini harus terjadi.
"Mi, Julia tidak akan begini selamanya. Untuk mencukupi keperluan Aleeya, aku harus pergi."
"Nak, Ummi dan Bapak tidak akan melarangmu. Kalau memang, kamu akan bekerja ke Bandung. Pergilah Nak, biarkan Aleeya di sini. Ummi dan Bapak akan merawatnya."
"Bapak hanya berpesan, agar kamu hati-hati dan jaga dirimu di sana. Jaga kehormatanmu, jaga sholat lima waktu dan membaca Al-Qur'an."
"Iya, Julia akan selalu menjaga kepercayaan Ummi dan Bapak. Nanti, semua keperluan Aleeya akan Julia kirimkan ke Surade."
Mama memberikankku pada Ummi, terpaksa aku harus menerimanya. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Mam meninggalkanku. Enam bulan berlalu begitu saja, Mama pergi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Aku menangis, tentu saja. Tanganku mencoba menggapainya, tapi Mama sudah berlalu menaiki bus meninggalkan aku dengan ummi serta bapak.
Bapak menyeka air matanya, tapi ummi sesegukan menangis saat melihatku menangis ditinggalkan Mama. Saat itu, usiaku enam bulan. Belum cukup kuat untuk ditunggalkan, bahkan tidak akan pernah sanggup menahan pedihnya kehilangan dan kepergian Mama.
Aku tidak mengerti Tuhan, rencana apalagi yang hendak Engkau hadiahkan untukku. Tidak cukupkah ayahku pergi? Kenapa harus Engkau bawa juga Mamaku? Aku bayi mungil yang tidak tahu apapun dan bahkan tidak mengerti dengan cara apapun. Hanya saja, ini adalah sebuah takdir yang digariskanNya kepadaku.
"Nak, maafkan Mama. Maafkan karena harus pergi meninggalkanmu. Kamu harus kuat, kamu harus sabar. Insya Allah, Mama akan memenuhi semua keperluanmu. Mama menyayangimu, Nak. Hanya saja, Mama tidak bisa membersamaimu. Mama percaya, ummi dan bapak akan membesarkan kamu dengan baik," ucap Mama kala itu sebelum pergi.
__ADS_1
Aku merasakannya Ma, aku merasakan kepedihan dan perpisahan yang terjadi. Aku merasakan kehilanganmu. Aku berjanji akan menjadi anak yang kuat, anak yang tangguh. Bersama ummi dan bapak, aku akan menjadi gadis impianmu.
Perpisahan itu ibarat jatuh tertimpa tangga masuk ke dalam kolam ikan, sudah sakit basah pula. Siapa yang mengharapkan sebuah perpisahan? Siapa yang ingin itu terjadi dalam hidup seseorang. Tentu saja tidak ada, tidak akan pernah ada.
Tidak ada seorang anak yang ingin berpisah dengan orang tuanya, begitu pula sebaliknya. Tidak akan ada yang mau menerima itu. Hanya saja, saat itu terjadi begitu saja. Inilah yang dikatakan takdir dari Allah.
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)
Hari ini, Mama benar-benar pergi meninggalkanku. Aku seorang diri, ibarat anak sebatang kara yang tidak memiliki kedua orang tua. Ayah, Mama semua pergi. Kini, hanya Ummi dan Bapak yang membersamaiku. Tuhan, takdir apalagi? takdir yang mana lagi?
"Nak, mulai sekarang, kamu akan tingga bersama Ummi dan Bapak. Kamu akan bersama dengan kami, meskipun tanpa ibumu," ucap ummi.
Aku tidak benar-benar paham saat itu, tidak benar-benar memahami apa yang terjadi padaku. Aku hanyalah bayi enam bulan saat Mama pergi meninggalkan.
Langit itu terasa mendung, sebagaimana perasaan dan hatiku saat ini. Aku merasakan sakit dan pedihnya sebuah perpisahan. Aku baru saja mengecap rasa asin manis makanan, bahkan belum benar-benar siap terlepas dari ASI sebagai sumber gizi utama.
__ADS_1
Ingin aku teriak, jangan pergi, Mama. Jangan pernah tinggalkan aku. Jangan pernah lari dari hidupku, jangan walau hanya sekali. Tetapi aku tak berdaya, begitu pula dengan Mama. Untuk dapat memberikan aku makanan, pakaian dan mendandaniku dengan perhiasan. Mama harus pergi dariku demi mencukupi kebutuhanku.
Ini tak adil Tuhan, takkan pernah adil bagiku. Kenapa aku Tuhan? Kenapa? Kenapa harus aku yang menanggung pedihnya sebuah perpisahan dengan kedua orang tuaku. Dan sejak saat itu, bahkan aku tak pernah lagi melihat wajah kedua orang tua untuk membersamaiku. Sekali lagi, aku terhentak. Seakan dunia akan runtuh sementara, ingin rasanya aku masuk ke dalam dasar bumi atau hanya sekadar menapaki tangga lain menggapai arasy. Agar aku bisa berjumpa dengan Tuhan, lalu menanyakan apa yang tertulis di samping singasanaNya, di dalam lauhul mahfudz.
Bolehkah Tuhan? Kuintip buku catatannya? Agar aku tahu, rencana apalagi yang hendak Engkau timpakan padaku. Ah, tidak. Itu mustahil, benar. Bahkan Jibril saja tidak akan sampai ke arasy apalagi mencuri buku catatan, sekalipun iblis mencuri dengar takkan mampu menembus sampai ke atas sana. Terlalu rahasia, terlalu mustahil untuk mencuri skenario hidup-Nya.
Aku menghentakan kakiku, lalu menghentakan kepala ke dinding. Aku marah, sangat marah. Kepada takdir yang telah menghukumku. Benarkah ini adalah hukuman? Atau ini hanya sekadar catatan kecil untuk menyambut masa depanku penuh kesuksesan? Tidak, aku tidak pernah tahu.
Di sini, takdirku dimulai. Takdir baru yang akan membuatku merasakan kemelut baru dalam hidup. Inikah sebuah hitam putihnya hidup? Mengapa terasa seperti meminum wisk yang memabukan? Aku berpasarah Tuhan, aku menyerahkan.
Catatan baru dalam hidupku sudah terbuka, isinya buram dalam pandanganku, tetapi jelas dibacakan malaikat. Aku memekik menahan sesakku. Rasa yang tumpang tindih dalam hidupku, ini pedih rasanya. Bahkan, sembilu saja tidak akan cukup memberikan rasa sakitnya, ini lebih pedih dari itu.
Aku menangis, menahan segala sesak. Ummi memberikan botol susu formula padaku. Uh, rasanya aneh. Jauh berbeda dengan ASI ibuku. Tentu saja.
"Cup.. Cup... Janga nangis ya, anak sholehah, anak pintar. Minum susunya banyak-banyak, agar kamu tumbuh besar dan sehat," ujar Ummi berusaha menenangkan aku.
Aku menangis sesat kemudian terdiam, perutku sudah kenyang rasanya. Cukup untuk membuat perutku yang kosong ini terisi. Ah, memang tidak ada gantinya. Tapi, tidak ada pilihan lain selain tetap meminumnya. Meski hanya susu formula, kuteguk saja untuk menghilangkan lapar dan dahagaku sesaat. Entah, aku masih bisa merasakan dekapan Mama lagi, atau tidak akan pernah sama sekali. Bukan hanya ASI yang kuinginkan, tetapi kehadiran Mama tentu saja harapan terbesarku.
__ADS_1
Mungkinkah aku akan tumbuh kembang seorang diri? Ya, tentu saja. Karena dia pergi, mereka pergi. Aku ditinggalkan untuk selamanya, benar. Ingin aku marah dan mencegah, tapi apalah daya tanganku tak sampai. Takdir ini begitu keras, hingga aku tak sanggup melawan kehendak Illahi.
"Tuhan...."