ALEEYA

ALEEYA
Tuhan Mengapa Aku


__ADS_3

Hidup memang terlalu sulit untuk dijalani, tapi sesakit apapun akan tetap ditempuh demi mencapai semua yang diharapakan. Mama benar-benar pergi dari hidupku, aku tidak mengerti alasannya. Akan tetapi, setiap hal yang jalankan adalah rahasia Tuhan yang sedang aku jalankan.


Di sini, pada sebuah negeri antah berantah, saat aku yang masih berumur 6 bulan hari terpisah jauh dari kedua orang tua. Bukan tidak berat rasanya, tapi aku tidak bisa melawan takdir Tuhan. Siapa aku yang bisa membantah kehendak Ilahi, aku hanya hamba kerdir yang tidak tahu apapun. Aku memang tidak bisa memilih siap kedua orang tuaku, itu adalah kehendak Tuhan.


“Aleeya, ayo main!” ajak seorang lelaki muda yang tidak peranh kukenal namanya.


Si mas gondrong yang selalu mengajakku bermain di pesiri pantai, mengajakku ikut mendorong perahu yang akan diturunkan oleh nelayan. Sesekali, lelaki ini menjajaniku sebuah permen mint kesukaanku.


Aku membalikian tubuhku menghadapnya, aku mengambil uluran tangannya dan tertawa ria mengikuti arah riak ombak pantai Ujung Genteng. Sampai mencai kerang atau kekadar mengumpulkan batu karang kercil yang indah belum tersentuh manusia.


Sudah tiga tahun sejak Mama meninggalkanku, sejak saat itu aku ikut Ummi dan Bapak jualan di pesisir pantai. Biasanya para nelayan akan mampir setelah turun ke laut atau sebelum turun ke laut. Aku tidak tahu pekerjaanku, selain bermain dan menghabiskan waktu di pantai sambil menunggu ummi dan bapak selesai berjualan.


Siang itu, setelah dagangan ummi habis, kami pulang. Kami pulang menaiki angkot kuning ke dari pantai ke Surade. Jaraknya tidak terlalu jauh hanya beberapa kilo meter saja. Sepulang dari pantai, aku mendapatkan kabar, Mama akan menikah lagi. Kau tahu apa yang aku rasakan saat itu? Tentu saja hatiku sangat hancur.


Tidak ada kabar, sekalinya pulang untuk memberikan kabar akan menikah. Aku tidak mengenal lelaki baru yang akan hidup bersama Mama. Harapan kecilku hanya satu, bahwa aku juga akan mendapatakan hak dan cinta Mama selayaknya aku harus mendapatkan itu.


“Ma, jika aku menikah, apakah Mama akan membawaku?” tanya pada Mama sore itu.


“Mama belum bisa memastikan itu, nanti Mama akan memberitahu lagi.”


“Mama, kalau Mama menikah dan punya anak, Mama tidak akan menyangiku lagi?”


Mama terdiam, dia menatapku.


“Tidak sayang, tentu saja kasih sayang Mama akan tetap sama sekalipun kamu memiliki adik baru.”

__ADS_1


“Biasakah Mama berjanji untuk itu?”


“Ya, Mama berjanji padamu.”


Percakapan kecil dengan Mama begitu sangat terkesan, aku berharap pernikahan ini akan membawaku pada tempat baru sebuah rumah yang paling nyaman. Aku bosan hidup di sebuah desa terpenci;, dikucilkan oleh orang lain dan tidak mendapatkan tempat terbaik dalam hidupku. Tapi Mama memberikan aku setetes harapan untuk aku mendapatkan posisi terbaik yang dalam hidup Mama.


Aku seperti anak lainnya, ingin bermain dengan anak lain dan mengikuti permianan mereka. Sayang sekali, aku hanyalah gadis miskin yang dikucilkan oleh teman-teman sepermainanku.


“Sana, kamu pergi saja Aleeya. Kami tidak mau bermain denganmu, kamu busuk.”


“Iya, pergi saja. Kamu gadis yang kumuh, tidak pantas bermain dengan kami.”


Aku terdiam, lalu berbalik arah kembali ke rumah. Aku menangis di rumah, mengadukan kepada tanteku bahaw aku di usir oelh teman-temanku.


“Jangan sedih, nanti juga kamu akan memiliki teman lain,” ucap Tanteku dengan santai.


“Al, kamu dengan mereka berbeda. Jangan ikut-ikutan judes dan tidak mau menghargai mereka, wajar kalau kamu dikucilkan.”


“Aku hanya ingin mendapatkan teman, Tante.”


“Kamu mau main apa? Tante akan temani kamu, asak kamu tidak bermain dengan mereka. Kamu itu hanya diakali agar tidak malakukan sesuatu.”


“Tapi Tante.”


“Sudah tidak ada tapi, ayo mandi!”

__ADS_1


Aku menuruti ucapakan tante, seperti biasa tante memandikanku. Dialah tante terbaik yang aku punya saat ini. Tidak ada yang menyayangiku melebihinya, entah Mamaku. Kedekatanku pada Mama tidak begitu akrab, aku sendiri tidak tahu. Hanya saja, aku menikmatinya begitu saja.


Kehidupan terus berputar, ada yang menangis karena aku dan ada yang membiarkan aku hidup sendiran tanpa pengasuhan. Di mana ayah dan ibu saat aku membutuhkan mereka, tidak ada ayah dan ibuku entah menghilang ke belahan bumi yang mana hingga aku tidak bisa menggapainnya. Mungkin memang aku anak yang tidak diharapkan dalam kehidupan ayah dan ibuku, tapi aku yakin bahwa nanti akan menjadi anak yang membanggakan.


“Aku mau main,” ujarku meminta izin kepada keluarga.


“Gak usah, nanti pulang-pulang kamu nangis. Sudah di rumah saja,” kata Bapak padaku.


Bapak memang menyebalkan, aku menjadi anak rumah dan dikukung dalam sebuah sangkar seperti seekor merpati. Aku juga ingin terbebas dan hidup lebih luas, memiliki teman sepermainan seperti yang lainnya. Tapi tidak, bapak benar. Percuma saja aku bermain, ujung-ujungnya dimusihi, lalu aku menangis.


Ah, aku memang gadis yang cengeng. Mudah menangis dan tidak suka melawan ketika bertengkar. Bapak dan ummi sangat jelas melarangku bermain, sebab kami memang keluarga yang sering dihina oleh orang lain. Sering kali aku bepikir, kenapa? Ada apa? Tapi sampai hari ini, aku tidak tahu jawaban pasti dari semua pertanyaanku itu.


“Aleeya, duduklah di sini. Nak.”


Ummi memanggilku, aku menghampirinya dan duduk bersama keluargaku yang lain.


“Ya.”


“Ini, Mama membelikanmu mainan.”


Betapa girangnya aku saat diberikan boneka barbie yang cantik, aku mengambilnya dan langsung bermain dengan boneka barbie baruku.


Inilah aku dan masa kecilku yang dipenuhi air mata dan kesedihan, wajahku kusam dan tidak terurus. Mengandalkan tante tang masih sekolah untuk mengurusiku. Kadang kala, aku berpikir. Tuhan kenapa aku? Ya, mengapa aku yang harus menanggung beban kepedihan hidupku. Cinta Mama hanya sekadar saja, aku melihat itu dan merasakan itu. Apa yang salah padaku? Apa yang salah pada diriku? Salahkah aku terlahir kedunia.


Pertanyaan konyol itu terus menyerangku, sekali lagi aku bertanya. Tuhan mengapa harus aku? Diantara aku dan yang lain, kenapa harus aku? Saat itu, aku terlalu kecil untuk berpikir tentang aku dan mengapa aku. Akan tetapi, sekipun kulontarkan banyak pertanyaan, tetap saja tidak akan kudapatkan jawabannya. Aku masih terlalu kecil untuk merasakan pahit dan getirnya dunia, sakit dan terlukanya hati. Tapi, jiwa kecilku terguncang dan merasakan semua itu tidak pada waktnya.

__ADS_1


Tuhan mengapa aku? Rahasia apa yang sedang terencana dalam hidupku, hingga tak ada bedanya bagiku lahir ataupun tidak ke dunia ini. Seolah aku ingin berkata, seharusnya aku tidak pernah terlahir ke dunia ini.


"Tuhan, aku tidak meminta terlahir ke dunia ini. Lantas mengapa aku yang harus menanggung beban hidup begini?"


__ADS_2