ALETA NARASA

ALETA NARASA
ALETA NARASA ZACHARY


__ADS_3

Gadis itu menatap rumah mewah didepannya dengan pandangan datar, dirinya telah mengetahui apa yang terjadi saat ini setelah keadaan membaik beberapa hari yang lalu. Yang ia tahu saat ini adalah dirinya hidup bukan sebagai Alena Naraya tapi sebagai Aleta Narasa Zachary. Yah, sepertinya transmigrasi itu memang nyata dan itulah yang terjadi padanya. Lamunannya buyar setelah seorang wanita paruh baya menyentuh pundaknya. Ia menolehkan wajahnya menatap wanita satu-satunya yang peduli padanya, bibi Ana. Wanita yang telah membesarkannya setelah ibunya meninggal dunia saat ia masih berusia 4 tahun.


"Bibi tahu nona tidak mengingat apapun saat ini, tapi yang pasti saat ini adalah nona harus menjadi gadis yang kuat. Jangan biarkan nona dianggap lemah, dan bibi akan selalu ada untuk nona." ucap bibi Ana.


Yang ia tahu Aleta mengalami amnesia karena koma, Aleta juga tidak banyak bicara membuatnya yakin ditambah dengan apa yang dokter katakan bahwa kemungkinan Aleta akan mengalami amnesia ringan akibat dari kecelakaan yang menimpa Aleta.


Ia sungguh merasa kasihan pada nona mudanya ini, selama ini tidak ada yang peduli padanya bahkan saat ia sedang terbaring lemah dirumah sakit.


"Ini rumah Aleta?" gumam Alena yang kini telah menjadi gadis lain bernama Aleta.


Bibi Ana tersenyum saat mendengar gumaman Aleta, ia merindukan nona mudanya yang sangat suka merengek padanya hanya karena perkara ice cream. Bibi Ana mengangguk dan mengelus rambut Aleta dengan lembut.


"Yah, ini rumah non Aleta." jawab bibi Ana dan tersenyum.


Aleta kemudia menatap lagi rumah mewah yang dominan bercat putih itu, pandangannya semakin menajam saat mengingat sebuah ingatan yang membuatnya seakan ingin menghancurkan rumah mewah itu.

__ADS_1


"Ayo, mari kita masuk non Aleta harus istirahat." ajak bibi Ana sembari menarik lembut lengan Aleta lalu membawanya masuk kedalam rumah yang entah bagaimana keadaan didalamnya.


Aleta hanya diam dan berjalan perlahan bersama bibi Ana, kesan mewah dan elegant menjadi hal pertama yang Aleta lihat didalam rumah tersebut. Lalu pandangannya jatuh pada dua orang pria berbeda usia, yang satu pria paruh baya sedang duduk santai sambil memandang koran ditangannya. Dan pria satunya lagi sedang memainkan ponselnya, ia duduk tidak jauh dari pria paruh baya tadi. Kemudian Aleta memandang seorang gadis yang baru keluar dari kamar yang berada di lantai dua, gadis itu akan turun ke lantai utama namun ia membatu saat matanya tak sengaja menatapnya. Matanya terlihat membelalak saat menatap, seakan terkejut saat melihat dirinya.


"Permisi tuan Adam, tuan Al" sapa bibi Ana.


Di ingatannya Adam Zachary adalah ayah Aleta sementara Alkaezar Zachary adalah kakak laki-laki Aleta lalu gadis lain yang berada dilantai dua adalah adik angkat Aleta, Vera Kania Zachary.


Adam menatap bibi Ana dan beralih pada gadis yang baru dilihatnya setelah beberapa bulan yang lalu, matanya sedikit memperlihatkan keterkejutan namun hanya bertahan beberapa detik ia lalu memandang putri kandungnya dengan tatapan dingin. Kemudian ia berdehem membalas sapaan dari bibi Ana.


Aleta tak menjawab pertanyaan Adam, ayahnya yang entah kenapa pertanyaan itu terkesan seakan hanya basa-basi saja yang menurutnya tidak penting.


Alkaezar mengernyit saat melihat adik perempuannya terlihat tidak berminat menjawab pertanyaan sang ayah membuatnya memandang sinis Aleta.


Sementara Vera yang berada dilantai dua dengan cepat ia turun dan menatap lamat Aleta yang terlihat baik-baik saja setelah koma dua bulan lamanya, tidak ia tidak suka saat Aleta masih terlihat membaik ia harus melakukan sesuatu agar Aleta, gadis yang sangat ia benci sejak kecil itu harus pergi dari rumah ini.

__ADS_1


"Kak Aleta, sudah pulang?" seru Vera seakan-akan merasa senang Aleta telah kembali kerumah. Walaupun ia muak, tapi dengan begini ia pasti terlihat sebagai adik yang baik terhadap kakaknya.


Aleta beralih menatap gadis yang memiliki tubuh lebih pendek darinya pandangannya tetap sama, yaitu datar. Ia ingat gadis ini adalah sumber masalah dihidupnya setelah ibu dari gadis itu. Melihat pandangan yang seakan ia adalah gadis polos yang lugu membuatnya seakan mual, gadis ini begitu pintar dalam memainkan perannya membuat siapa saja bisa tertipu dengan topeng busuknya.


"Aleta! ayah dan adikmu bertanya padamu!" geram Adam saat melihat Aleta yang tak menjawab pertanyaan darinya dan Vera membuatnya geram terhadap Aleta.


Aleta menatap ayahnya itu, walau umur ayahnya tidak muda lagi namun wajahnya masih terlihat tampan dan segar. Pantas saja Alkaezar dan Aleta memiliki wajah yang sempurna ternyata ayahnya saja memiliki wajah tampan yang rupawan.


"Aku rasa kalian semua tidak bodoh dengan bertanya seperti itu." celetuk Aleta dingin.


Adam dan Alkaezar terpaku mendengar ucapan yang keluar dari mulut Aleta. Aleta seakan berbeda sekarang pandangannya yang datar dan nada bicaranya yang terdengar datar membuat mereka seakan tidak sedang berhadapan dengan Aleta.


Setelah mengatakan hal itu Aleta mengajak bibi Ana mengantarkannya ke kamarnya, sungguh saat ini ia sudah sangat lelah lalu harus berhadapan dengan orang yang menurutnya tidak penting. Karena itu sangat membuang waktunya yang sangat berharga.


Lain hal dengan Vera, ia membatu dan terus menatap tubuh Aleta yang menjauh hingga memasuki kamarnya. Entah kenapa ia seakan merasa sedikit takut saat Aleta memandangnya tadi, aura Aleta seakan membuat tubuh tidak dapat bergerak ditambah dengan tatapan tajam yang menusuk membuatnya merasa cemas. Ia tidak boleh takut dan kalah dari Aleta biar bagaimanapun hanya dirinya yang harus menang. Harus!.

__ADS_1


__ADS_2