ALETA NARASA

ALETA NARASA
PERBINCANGAN DUA GADIS ASING


__ADS_3

"Aku membutuhkan mu, untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ini."


"Maafkan aku, karena membawamu ke kehidupanku yang begitu kacau ini…."


Mata biru laut indah itu memandang datar gadis yang sangat mirip dengannya, bahkan mata mereka pun begitu mirip sekarang, sementara mereka hanya dua orang asing yang dipertemukan dengan takdir gelap dan menyedihkan ini.


"Apakah kau sudah mati?"


Gadis dihadapannya itu menunjukkan raut sedih saat mendengar gadis yang memandang datar dirinya mengatakan hal itu.


"Aku….memang sudah mati sejak awal kecelakaan itu."


Mendengar hal itu gadis yang bertanya tadi menghelah nafas pelan dan menyentuh pelipisnya, merasa lelah dengan semua ini.


"Apa yang harus aku lakukan saat menjadi dirimu? Sungguh aku merasa tidak percaya semua ini akan terjadi, ini benar-benar diluar dugaan."


"Itu, bisakah kau bersikap seolah kau memang aku? Aku ingin kamu membantuku meluruskan semuanya."


Gadis itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.


"Aku akan membantumu, tapi untuk menjadi seperti dirimu ku rasa aku tidak akan melakukannya. Aku ingin membantumu dengan caraku sendiri."


"Baiklah jika itu keinginanmu. Tapi kuharap kau bisa memaafkan ayahku dan tidak menyakitinya."


"Kenapa? Kau masih berharap ayahmu itu akan peduli padamu? Ck, kau menyedihkan."


"Aku tahu, tapi aku selalu tidak bisa membenci ayahku bahkan jika dia membunuhku, aku tetap menyayanginya."


"Itu karena kau sangat bodoh."


"Maaf…."


"Aku tidak akan menyakiti ayahmu melebihi batas bagaimana ia menyakitimu, selagi ia tidak membuat tubuh ini terluka maka aku akan menahan rasa ingin membunuh pada ayah bajingan mu itu."


Gadis yang mendengar ucapan darinya itu hanya bisa mengangguk dengan pelan.


"Terimakasih karena mau membantuku, dan maaf sudah merepotkan mu." sesal gadis itu.


"Yah, tapi jangan merasa aku melakukan ini hanya karena membantumu."

__ADS_1


"Apa….kau juga menginginkan sesuatu?"


"Hm, tapi kau tidak perlu tahu."


"Ah yah, maaf sudah ikut campur dengan urusanmu."


"Yah tidak masalah. Baiklah aku harus pergi sekarang, dan maaf atas ucapanku tentang ayahmu tadi."


"Mm, tidak masalah. "


Gadis itu mengangguk mengerti.


"Aku pergi." pamit gadis berekspresi datar itu.


"Hati-hati." balas gadis itu sembari melambaikan tangannya.


.....


Aleta membuka matanya pelan saat sebuah cahaya mengenai wajahnya membuatnya merasa terganggu, ia menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Seraya mengingat perihal apa yang terjadi saat dirinya tengah tidur.


"Dia….Aleta?" gumamnya dengan sangat pelan. Saat sedang memikirkan hal itu, atensi Aleta tertuju pada suara ketukan dipintu kamar miliknya.


"Iya bi, sebentar." balas Aleta yang kemudian beranjak membuka pintu.


"Ada apa bi?" tanya Aleta saat dirinya telah membuka pintu dan menatap bibi Ana yang berdiri dihadapannya.


"Emm, maaf non. Tapi bibi tadi mau bangunin non Aleta takut non telat ke sekolahnya."


"Makasih bi, Aleta udah bangun kok tadi."


"Yaudah kalo gitu bibi kebawah dulu, non Aleta jangan lupa siap-siap ke sekolahnya yah."


"Iya bi." Aleta mengangguk dan menutup pintu saat bibi Ana telah pergi.


.....


Bibi Ana yang sedang berjalan kedapur terhenti saat tuan Adam yang sedang berada dimeja makan memanggilnya.


"Bi? Dimana Aleta?"

__ADS_1


"Oh itu non Aleta nya masih siap-siap, tuan."


"Hm yah, baiklah. Kau bisa pergi."


"Baik tuan." setelah mengatakan hal itu bibi Ana melanjutkan jalannya ke dapur.


"Ada apa ayah menanyakan Aleta?" tanya Alka yang sejak tadi mendengar percakapan ayahnya dan bibi Ana tentang Aleta, saat dirinya sedang berjalan di anak tangga bersama Vera dibelakangnya.


"Kalian sudah turun Alka? Vera?" bukannya menjawab pertanyaan dari sang putra Adam lebih bertanya pada mereka, membuat Alka memutar matanya. Alka dan Vera kemudian duduk dikursi masing-masing.


"Pagi ayah." sapa Vera dengan ceria pada ayahnya.


"Pagi sayang, ayo sarapan dan berangkat ke sekolah." ucap Adam dengan lembut pada Vera yang tersenyum senang. Merasa bahagia dengan perhatian Adam padanya.


"Ayah, ayah tidak menjawab pertanyaan ku." sungut Alka melipat tangannya, dan menatap datar ayahnya yang menghelah nafas pelan.


"Alka, ayah hanya sekedar bertanya. Apa salah jika seorang ayah menanyakan keadaan anaknya?"


Ucapan Adam seketika membuat Alka dan Vera terdiam, ayahnya yang dulu tidak pernah peduli pada Aleta kenapa tiba-tiba seakan mengkhawatirkan Aleta?.


"Pagi."


Suara yang terdengar datar tiba-tiba membuat mereka tersadar dan menatap dimana suara itu berasal. Aleta yang telah selesai bersiap kini mendudukkan dirinya dikursi yang beberapa hari ini ia tempati. Tanpa mengatakan apapun Aleta mengambil sarapan dan mulai memakannya tanpa memperdulikan tatapan orang yang duduk bersamanya di meja makan tersebut.


"Pagi kak Aleta." balas Vera dengan senyuman manisnya. Sementara Adam dan Alka tak mengatakan apapun, mereka lebih tertuju pada ekspresi Aleta yang begitu datar tidak seperti dulu. Ada apa dengan Aleta?.


"Kamu sudah turun Aleta?" tanya Adam menatap Aleta yang sedang mengunyah sarapannya.


"Hm."


Adam menghelah nafas saat mendengar jawaban dari putri kandungnya itu, entah kenapa hatinya merasa sedikit tercubit saat melihat Aleta yang terlihat seperti tidak peduli dan tidak pernah lagi menunjukkan wajah cerianya seperti dulu. Namun ia memilih untuk diam dan mulai memakan sarapannya. Berbeda dengan Alka yang


"Kau sangat tidak sopan pada ayah, Aleta." sinis Alka


Aleta menghentikan kunyahan nya lalu menatap dingin Alka.


"Maaf jika aku tidak sopan. Tapi aku mau bagaimana lagi, aku tidak punya orangtua yang mengajarkanku caranya bersikap sopan pada seseorang." balas Aleta datar.


Alka, Adam, dan Vera membisu mendengar ucapan Aleta yang entah kenapa terdengar menyedihkan sekaligus menyakitkan secara bersamaan.

__ADS_1


"Aku selesai." Aleta beranjak meninggalkan ruang makan dengan kesal, moodnya sangat tidak bagus saat ini karena kejadian tadi.


__ADS_2