
Vera menatap binar Devon dkk yang memasuki area kantin, ia dengan cepat berjalan mendekati mereka.
"Hai kak Devon." sapa Vera dengan ramah jangan lupakan senyum manis yang membuat siapa saja terpesona. Terlebih dengan penampilannya yang terlihat seperti gadis luga yang polos menambah kesan imut padanya.
"Eh hai Vera." balas Kevin dan tersenyum sementara yang disapa tidak menjawab ia memilih mendudukkan diri ke bangku kantin membuat mereka melakukan hal yang sama begitu juga dengan Vera.
"Kalian mau pesan apa? Biar aku pesenin sekalian mau belum minum." ujara Vera menawarkan.
"Kita samain aja Ver, nasi goreng sama es teh. Tapi kita gak ngerepotin kan?" tanya Kian merasa tidak enak.
"Gak papa kok, yaudah aku pesenin dulu."
"Makasih ya dedek Vera." Usil Kevin pada Vera yang beranjak pergi, Vera hanya tersenyum membalasnya.
"Dev, lo masih gak mau nih nerima Vera? Dia udah baik banget loh mau-mau aja bantuin Lo." ucap Kevin pada Devon yang sedari tadi diam.
"Gue gak pernah ngomong kalo dia udah sering bantuin gue, gue bakal nerima dia kalo lo tahu." ujar Devon datar.
"Ck, lo sebenarnya sukanya sama siapa sih? Gue jadi curiga Jangan-jangan lo gay lagi!?" curiga Kevin yang lansung mendapat pukulan dikepalanya dari Kian membuatnya mengaduh.
"Jangan sembarangan lo, ntar ada yang denger jadi pada nuduh Devon yang gak bener lagi." celetuk Kian.
"Ya habisnya gue gak pernah liat dia deket gitu sama cewek padahal yang mau ama dia banyak mana cakep-cakep lagi, kan mubazir." cibir Kevin
"Vin, tangan gue gatal nih." ujar Devon datar seraya menatap Kevin yang meringis mendengar ucapannya.
"Iya, maap deh. Gue gak bakal ngomong gitu lagi." Kevin menutup mulutnya rapat karena takut mendapat bogeman mentah dari tangan Devon yang katanya gatal itu.
__ADS_1
" Dasar lembek." cibir Rafka yang sedari tadi diam memerhatikan mereka membuat Kevin menatap malas padanya.
"Makanya kalo ngomong itu disaring dulu." ledek Kian yang terkekeh melihat Kevin yang takut pada Devon.
Yah biar bagaimanapun Devon adalah ketua mereka, tapi mereka tidak menganggap hubungan mereka sebagai pemimpin dan anggota atau semacamnya. Mereka sudah seperti saudara karena kebersamaan mereka sejak kecil. Orangtua mereka adalah teman bisnis tapi Kian juga sebenarnya adalah sepupu Devon, sementara Kevin dan Rafka mereka berteman sejak kecil karena pertemanan para orangtua mereka.
…
Vera akhirnya datang bersama pelayan kantin yang membawa makanan pesanan mereka kemeja yang mereka tempati.
"Hai, ini pesanan kalian." ujar Vera dengan senyum manisnya. Ia kemudian mendudukkan dirinya dihadapan Devon yang mana terdapat meja diantara mereka.
"Wah! Akhirnya datang juga, gue udah laper banget nih dari tadi." ujar Kevin yang mengambil pesanan miliknya.
"Ini pesanan kamu kak Devon." Vera mendorong piring yang berisikan nasi goreng dan gelas es teh milik Devon.
"Kamu gak makan Ver?." tanya Kian menatap Vera yang selalu menatap Devon sejak ia datang.
"Em…aku udah makan kok tadi, kak Kian makan aja aku gak papa." Vera tersenyum saat mengatakan hal itu.
"Oh yaudah." balas Kian
Beberapa menit kemudian Vera yang sedang memainkan ponselnya sembari menunggu mereka selesai makan namun ucapan Devon membuatnya mengalihkan wajahnya pada Devon begitupun Kian den Kevin.
"Raf, gue mau ngomong sesuatu sama lo sebelum jam masuk." ujar Devon pada Rafka yang sedang khidmat memakan nasi goreng miliknya.
Rafka mengernyit menatap Devon yang mengatakan hal itu tanpa menatapnya, namun ia hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
__ADS_1
"Lo mau ngomong apaan? Kok sama Rafka doang?" tanya Kevin sembari mengunyah nasi gorengnya. Kian pun mengangguk membenarkan ucapan Kevin, tumben sekali Devon ingin bicara berdua dengan Rafka biasanya mereka selalu berbincang bersama jika ada masalah walaupun hanya masalah kecilpun.
"Iya, tumben gak ngajak kita. Ada masalah apa lo berdua?" tanya Kian menatap bergantian Devon dan Rafka.
"Kak Devon lagi ada masalah yah sama kak Rafka?" timpal Vera.
Devon mengakhiri makannya dan meminum es teh miliknya lalu menatap datar Kian, Kevin, dan Vera. Sementara Rafka ia masih sibuk mengunyah makanannya.
"Gue ada urusan pribadi sama Rafka, jadi gak usah banyak tanya." dingin Devon lalu beranjak berdiri.
"Gue tunggu lo di tempat biasa." setelah mengatakan hal itu Devon melangkahkan kakinya pergi.
"Ck, tu anak emang gak ada manis-manisnya kalo ngomong." gerutu Kevin, sementara Kian ia hanya menghelah nafas. Lalu Vera, ia menatap punggung Devon yang menjauh dengan sedih.
"Udah Vin, makan aja. kayak gak tahu aja lo gimana Devon, dan kamu Vera mending kamu ke kelas aja 15 menit lagi jam masuk." Ucap Kian pada Vera yang cemberut saat Devon pergi meninggalkan mereka.
"Hmm, yaudah deh aku ke kelas dulu ya kak."
"Iya, semangat belajarnya dek Vera." seru Kevin yang dibalas senyum terpaksa dan mengangguk lalu beranjak pergi.
Setelah Vera pergi Kian dan Kevin menatap Rafka yang telah selesai memakan makanannya. Merasa sedang diperhatikan Rafka menoleh pada pada dua K itu dan mengangkat keningnya.
"Lo lagi ada masalah sama Devon?" tanya Kevin dengan serius.
"Iya, Devon kayaknya lagi serius mau ngomong sama lo." sambung Kian.
"Gue gak tau, tanya aja sama yang ngajak." datar Rafka lalu beranjak meninggalkan Kian dan Kevin yang berusaha menahan sabar menghadapi es kutub itu.
__ADS_1
"Gue kayaknya gak perlu kulkas dirumah kalo ada Rafka pasti dah cukup." tutur Kevin membuat Kian terkekeh. Mereka akhirnya ikut meninggalkan kantin menuju ke kelas karena tidak lama lagi jam masuk berbunyi.