ALETA NARASA

ALETA NARASA
TRISTAN ORVID


__ADS_3

*kantin sekolah*


Aleta mengerutkan keningnya merasa bingung dengan keadaan sekolah yang terasa sangat gaduh dari biasanya. Banyak siswi yang terlihat begitu antusias entah karena apa, ia kemudian menatap Naira yang sibuk dengan makanannya.


"Ada apa dengan mereka?"


Naira menatap Aleta bingung siapa yang ia maksud mereka, namun saat akan bertanya Aleta kembali menatap segerombolan siswi yang berada tidak jauh dari mereka. Naira pun melakukan hal yang sama kemudian menghelah nafas pelan.


"Akan ada birthday party besok malam, dan semua orang disekolah diundang." ucap Naira dan melanjutkan makannya.


"Birthday party?"


"Hm, katanya sih birthday party buat anak pemilik sekolah ini. Lo tau, partynya bakalan dilakukan diclub terkenal dikota ini. Njir pasti ngeluarin duitnya banyak banget, tapi namanya juga holkay gak ada yang gak bisa kalau udah main duit. Ya gak?''


Celetukan Naira membuat Aleta sedikit menarik ujung bibirnya, ia juga membenarkan ucapan Naira. Entah masalah apapun itu jika sudah mencampurkan dengan uang maka semuanya akan cepat terselesaikan.


"Lo tau siapa anak pemilik sekolah ini?"


"Um….dia cowo, kalo gak salah namanya Tristan Arvid. Orangnya ganteng cuy pake banget malah." Naira terus tersenyum saat mengatakan hal itu membuat Aleta menatap datar dirinya.


"Terus dia dimana?"


Ucapan Aleta membuat Naira menatap curiga padanya.


"Lo ngapain nanyain dia? Lo naksir? Gue saranin mending lo tahan deh rasa suka lo sama dia, saingan lo satu sekolah belum lagi orang luar sana yang ngefans banget sama dia."

__ADS_1


Aleta berdecak dan melanjutkan makanannya namun sebelum itu Aleta kembali berucap dengan datar.


"Siapa juga yang naksir."


"Terus ngapain lo kepoin dia?" sewot Naira masih dengan tatapan curiga yang membuat Aleta sangat ingin mencolok matanya.


"Nanya doang."


"Beneran nih? Ga boong lo?" goda Naira yang mana membuat Aleta menatapnya malas dan mempercepat makannya dan bergegas pergi.


"Eh, tungguin ih. Aleta!?" teriakan Naira membuat semua orang yang berada di kantin menatapnya aneh. Namun Naira tidak peduli ia dengan cepat menyusul Aleta yang telah menjauh darinya.


"Ck, pake ninggalin segala tu anak."


….


"Sudah aku katakan pa, aku tidak ingin ada pesta kekanak-kanakan seperti itu." ucap seorang pemuda yang ternyata anak dari pria paruh baya yang tengah memegang pelipisnya. Ia terlihat menyerah menghadapi tingkah anaknya itu.


"Tristan, keputusan papa sudah bulat." ucap pria paruh baya dengan nada lemah.


"Ck, terserah papa." pemuda itu berdecak lalu pergi meninggalkan sang ayah yang menatapnya datar lalu menghelah nafas.


"Dia selalu saja keras kepala."


Pria paruh baya itu adalah George Arvid sedangkan pemuda tadi adalah anaknya,Tristan Arvid.

__ADS_1


….


BRAKK


"Astagfirullahalazim! Astaga tu anak apaan dah?!" teriak seorang pemuda saat mendengar gebrakan yang yang membuat mereka terkejut.


Tristan memasuki kelas dengan penuh amarah yang mana membuat semua orang yang berada didalam kelas menatapnya takut, namun Tristan sama sekali tidak peduli. Ia berjalan mendekati mejanya dan mendudukkan dirinya di bangku miliknya.


Pemuda yang tadi berteriak bergerak mendekati Tristan dengan bingung. Melihat sang sahabat yang terlihat sedang marah membuatnya merasa merinding.


"Tan, lo gak papa? Lo kok kayak orang lagi kerasukan gitu, masuk-masuk udah bikin orang jantungan aja." ucap pemuda itu dengan nada kesal.


"Lo lagi ada masalah?" tiba-tiba pemuda lain datang dan mendudukkan dirinya dihadapan Tristan.


Tristan tak menjawab ia lebih memilih memainkan ponselnya dengan wajah datar andalannya.


Kedua pemuda tadi saling melirik dan menghelah nafas pelan, sahabat mereka ini sifatnya bisa bikin orang naik darah.


Mereka adalah sahabat Tristan yang sudah bersama sejak smp hingga sekarang, Liam Carson dan Elvin Diaskara. Kedua pemuda yang sudah terbiasa menghadapi sifat sahabat mereka yang dinginnya seperti es kutub Selatan ini dengan sabar.


"Habis dari ruangan bokap lo?" tanya Elvin menatap Tristan yang sibuk dengan ponselnya. Namun ia kemudian menatap datar Elvin sebelum menjawab.


"Hm."


Jawaban dari Tristan membuat Liam dan Elvin terdiam, sepertinya kemarahan Tristan berawal dari sana. Mereka sudah sangat mengenal sahabat mereka dengan baik, Tristan pasti akan menolak adanya birthday party untuknya. Terlebih Tristan adalah orang yang sangat tidak menyukai keramaian apalagi sebuah pesta, itu hal paling Tristan benci.

__ADS_1


__ADS_2