
Cahaya dan kegelapan. Dua hal yang selalu berseberangan.
Tanpa cahaya kita tidak mengenal apa itu kegelapan, tanpa kegelapan kita tidak mengenal apa itu cahaya. Mereka saling memperkenalkan satu sama lain tanpa mereka sendiri yang menjelaskan.
Begitu yang tertulis di sebuah buku tua bersampul merah kusam. Kertasnya telah menguning dan ujungnya sobek, entah itu dimakan serangga atau dilakukan seorang pengunjung yang nakal.
Buku itu bercerita tentang sebuah petualangan seru dunia dongeng. Isinya membedakan kebaikan dan kejahatan dengan cahaya dan gelap. Tapi apakah cahaya selalu baik dan gelap selalu buruk? Misalnya jika kau terlalu lama di bawah cahaya matahari, itu tidak bagus untuk kulit, dan justru gelap di malam hari membantu orang-orang untuk tidur terlelap. Gadis yang sedang membaca buku merah tua itu tidak menyukai konsep cerita buku itu. Terlalu mutlak mencap sesuatu.
Gadis rambut merah jahe ini lebih suka Yin dan Yang. Sebuah konsep ada putih dalam hitam dan ada hitam dalam putih, diilustrasikan dengan gambar lingkaran seperti kecebong yang berputar menempel mengejar ujung ekor satu sama lain.
Sebuah perpustakaan tua di pinggir kota. Telah berdiri di sana sekitar lima puluh tahun. Bukan sebuah perpustakaan yang besar. Dinding-dindingnya kusam dengan beberapa bagian terkelupas. Tumbuhan rambat liar hidup di sepanjang dinding. Saat tumbuhan rambat liar itu berbunga, dinding yang rusak jadi tampak sedikit enak dipandang mata. Dinding yang kusam dan suram tertutupi oleh keindahan bunga kecil-kecil berwarna amethyst.
Gwanaelle sering pergi ke perpustakaan itu. Biasanya dari jam tiga sore hingga diusir karena sering lupa diri. Walau luarnya tampak bobrok, bagian dalamnya menakjubkan. Didominasi oleh kayu tua coklat awet tidak seperti dinding luar perpustakaannya, di dalam juga banyak tanaman hias dalam pot, dari yang tinggi hingga pendek. Suasananya tampak dekat dengan alam. Hanya ada 2 lantai di dalam bangunan itu dan sebuah tangga melingkar menghubungkan kedua lantai.
Perpustakaan tua itu jarang dikunjungi orang-orang. Dalam seminggu bisa dihitung dengan jari berapa jumlah yang datang. Tidak sampai lima. Jika perpustakaan itu punya penghargaan bulanan untuk kategori pengunjung paling setia, maka Gwanaelle pasti dapat satu.
Karena hal ini, ketua setempat meminta pengurus perpustakaan untuk memindahkan buku-bukunya agar bisa dibangun sesuatu yang lebih bermanfaat di lahan itu. Lahan itu memang punya pemerintah setempat. Perpustakaan yang dibangun didanai oleh pemerintah sekitar enam puluh tahun yang lalu. Pengurus perpustakaan yang menandatangi surat perjanjian setuju untuk memindahkan buku-bukunya ke perpustakaan yang baru. Ditambah juga dengan buku-buku sumbangan dan beberapa dari pemerintah.
Awal saat dibukanya perpustakaan itu, orang-orang ramai berkunjung. Jarimu tidak akan cukup digunakan untuk menghitung jumlah orang yang datang. Hingga beberapa tahun kemudian orang-orang mulai tertarik dengan kehidupan di ibukota yang maju. Mereka kebanyakan memutuskan untuk pindah. Kini bisa dibilang kota Arcadia adalah kota yang cukup sepi. Namun, mungkin itu yang menjadi daya tarik kota ini. Suasanya tidak bising seperti di ibukota. Cocok untuk orang-orang yang ingin mencari ketenangan jiwa.
Di pinggiran kota Arcadia adalah hutan pinus yang luas. Pohonnya tinggi menjulang ke langit, terkadang saat cuaca dingin, bagian atasnya diselimuti kabut. Orang-orang biasanya berkunjung ke hutan Arcadia untuk sekedar menikmati alam atau berburu sesuatu, seperti hewan dan tumbuhan liar.
Beberapa hari yang lalu petugas hutan setempat menemukan bekas-bekas ritual yang diduga praktik sihir di dalam hutan. Hal ini sempat ramai dibicarakan oleh penduduk setempat. Penduduk hanya berpikir itu mengerikan, namun yang dikhawatirlan petugas hutan adalah kemungkinan si pelaku merusak pohon, karena ditemukan paku di batang pohon pada tempat kejadian. Belum lagi bekas cairan merah bukan darah berceceran di tempat, membuat tempat itu kelihatan seperti lokasi pembantaian. Mengerikan.
Tidak jauh dari tempat kejadian yang telah dibersihkan tersebut, seseorang dengan jubah berkerudung sedang menggambar lingkaran rumit menggunakan cairan berwarna putih kusam. Selesai menggambar, sosok itu mulai komat-kamit. Tapi kemudian dia membuka kembali matanya.
Orang berjubah itu harus mengangkat jubah panjangnya yang terseret tanah saat berjalan untuk meraih kantong celana jeansnya. Dia menarik sebuah pisau lipat dan menggores ujung jarinya hingga mengeluarkan darah, kemudian meneteskan darahnya di beberapa titik dalam garis lingkaran.
Beberapa saat kemudian lingkaran itu mulai bercahaya. Cahayanya terang hingga lokasi yang gelap dan awalnya hanya diterangi cahaya bulan, kini bersinar seolah dipasangi lampu lima puluh watt.
Kerudung orang itu menutupi sebagian wajahnya, hanya mulut dan hidung mancungnya yang terekspos. Dari balik kerudungnya, mata orang itu bisa melihat lingkaran bercahaya di depannya. Matanya melotot senang. Bibirnya tertarik, menampakkan barisan rapi gigi.
Angin dingin berhembus masuk melalui jendela terbuka di samping meja Gwanaelle duduk. Rambut merah jahenya berkibar dan lembaran buku tua di tangannya terbalik beberapa lembar. Gwanaelle memeluk dirinya. Bukan karena kedinginan, tapi dia merasakan ada yang aneh dengan angin itu, membuat dadanya berat dan hatinya gelisah. Gwanaelle bangkit dari tempat duduknya dengan alis berkerut. Dia meraih jaket dan tas selempang cokelatnya. Meninggalkan perpustakaan terburu-buru.
Dia pernah merasakan ini sebelumnya. Seperti burung yang terbang meninggalkan perburuan mereka dan kembali ke sarang dengan gelisah karena mendeteksi akan adanya badai. Tapi Gwanaelle tidak kembali ke rumah karena perasaan ini, dia berjalan memasuki hutan pinus yang gelap dan dingin.
Dulu saat gadis bermata sapphire ini merasakan insting bahaya yang tiba-tiba seperti ini, dia gemetar hebat dan matanya melotot ke segala arah, berusaha mencari sesuatu. Kakaknya Zayn, kebingungan. Apa yang terjadi dengan bocah ini? Apa dia kesurupan? Setelah itu Zayn menyarankan orang tuanya untuk membawa Elle ke pastor untuk dilakukan pengusiran setan, tapi orang tuanya malah memukul kepala Zayn dan membawa Elle masuk.
Gwanaelle tidak akan pernah melupakan perasaan itu. Pada waktu itu dia hanya anak berumur 7 tahun, tapi sekarang berbeda. Dia bisa bertindak seperti yang dia inginkan. Dia tidak lagi gemetaran dan hanya melotot ke segala arah. Dia bisa melangkahkan kakinya untuk mencari apa itu.
Mata Gwanaelle hanya fokus pada rintangan di depannya. Saat ada pohon, dia lewati, saat ada batang kayu tertidur di tanah, dia lompati. Hanya instingnya yang memandu dia ke arah yang ingin dituju. Semakin dekat Gwanaelle dengan titik lokasi, kulitnya semakin meremang. Rasanya Gwanaelle seperti berjalan di atas angin, tidak, itu lebih seperti dialah yang menjadi angin, bergerak dengan cepat ke depan, lincah berbelok ke sana kemari menghindari batang pohon pinus yang tinggi di gelapnya malam.
Hutan pinus malam ini tidak sepekat semalam. Karena hari ini tidak ada awan yang menutupi bulan purnama, jadi cahayanya dapat menerangi kota Arcadia.
Gwanaelle terhenti saat dia melihat cahaya terang di depannya.
Gwanaelle merasa seperti seekor ngengat yang tertarik kepada cahaya. Dia berjalan perlahan mendekati cahaya itu. Matanya dipenuhi cahaya di depannya, seolah dia telah dibutakan. Tapi kemudian matanya menangkap sosok berjubah di sebrang cahaya itu. Sosok itu mulai mengangkat tangannya. Seketika Gwanaelle merasa seperti kucing yang bulunya menegang karena ancaman.
Gwanaelle berlari tanpa pikir panjang, melewati kilauan cahaya yang muncul dari tanah. Menargetkan sosok berjubah di depannya, Gwanaelle mendorong sosok itu hingga jatuh ke belakang. Gwanaelle juga ikut terjatuh dengan lutut mendarat terlebih dahulu.
Cahaya di belakangnya semakin terang. Gwanaelle melotot. Ini bukan saatnya dia meringis kesakitan. Dia bangkit dan menghancurkan formasi garis di tanah dengan menyapukan sepatunya hingga garis itu menghilang. Semakin banyak garis menghilang, semakin redup cahaya itu.
Saat Gwanaelle sedang sibuk seperti banteng marah menyebabkan debu tanah kemana-mana. Sosok berjubah yang ternyata seorang pemuda itu menatap gadis di depannya dengan heran. Walau pantatnya agak sakit karena itu yang mendarat duluan tadi, dia tidak peduli. Pemuda itu segera bangkit dan membersihkan pantatnya.
Pemuda itu berjalan mendekati Gwanaelle lalu meletakkan tangannya di pundak gadis itu, "Hei."
Gwanaelle yang masih mengamuk menampar tangan pemuda itu, menatap pemuda itu dengan marah.
__ADS_1
"Siapa kau, hei gadis asing?" Pemuda itu mengusap tangannya yang baru saja ditampar.
Gwanaelle terdiam marah, kemudian menjawab, "Apa ini?" dengan suara rendah yang tertahan. Dia sangat ingin mengeruk tanah di bawah kakinya dan membuangnya ke laut, kemudian melakukan sidang pada pemuda di depannya. Dengan alasan apa yang dilakukan pemuda ini membuat dirinya merasa buruk.
Jika ini benar-benar dibawa ke pengadilan, mungkin Gwanaelle akan diseret ke rumah sakit jiwa.
"Kurasa sudah jelas apa ini. Ini sebuah ritual penyihir, Nona." Pemuda itu menyapu kerudung yang menutupi wajahnya ke belakang. Menampakkan rambut blonde dengan bagian tengah berwarna coklat tidak dicat. Lalu melanjutkan, "Nona sendiri, apa yang kau lakukan masuk ke tengah hutan begini? Mendorong seorang pemuda hingga cedera dan menghancurkan mahakaryanya seperti kesurupan?"
Gwanaelle terdiam di tempat. Masih menatap pemuda itu, tapi terlihat sudah lebih tenang.
Pemuda itu maju selangkah dan mengulurkan tangannya ke wajah Gwanaelle. Gwanaelle mundur selangkah. Pemuda itu memeriksa suhu tubuh gadis itu dengan menempelkan telapak tangannya yang dingin, membandingkan dengan suhu tubuhnya sendiri. "Apa kau sakit, Nona?"
Gwanaelle mundur dan memalingkan wajahnya. "Tidak!" Dadanya naik turun karena kelelahan.
Pemuda itu berbalik dan mengutip barang-barangnya. Kemudian dia kembali pada Gwanaelle. Gwanaelle masih menatap sisa-sisa garis putih di tanah.
"Hei, Nona."
Gwanaelle mengangkat kepalanya dan menatap pemuda itu. Pemuda itu membuat wajah kesakitan dan mengusap-usap pinggangnya seperti seorang pria tua yang menderita encok. "Berkat kau pinggangku sakit, ini cedera. Kemungkinan akan semakin buruk jika tidak dirawat."
Gwanaelle melirik pinggang pemuda itu. "Apa itu sakit sekali?"
"Ya. Mau lihat?" Daniel ingin mengangkat bajunya dan menurunkan sedikit celana jeansnya, tapi langsung dihentikan Gwanaelle.
"Tidak perlu. Aku minta maaf." Gwanaelle menutup matanya, sedikit menunduk.
"Permintaan maaf tidak akan menyembuhkan pinggangku. Benarkan, Nona?" Pemuda itu memiringkan kepalanya, menatap Gwanaelle dan tersenyum menyebalkan.
"... Aku akan membayar biaya perawatannya."
"Sekarang katakan padaku. Apa yang seorang gadis manis sepertimu lakukan di hutan pada malam hari seperti ini? Juga, silahkan jelaskan tindakamu tadi."
Gwanaelle terdiam beberapa saat sebelum menjawab. "Itu adalah sebuah ritual..."
Pemuda itu diam, menunggu Gwanaelle melanjutkan.
"Itu berbahaya." Gwanaelle melirik pemuda itu dengan alis berkerut. Hutan itu sunyi, suara angin memenuhi telinga jika kau tidak bicara. Karena cahaya lingkaran tadi telah hilang, maka kini yang menyinari mereka berdua hanya cahaya bulan yang redup. Menampakkan diri mereka satu sama lain dengan samar, tapi sangat jelas mereka bisa melihat dan merasakan tatapan satu sama lain. Pemuda itu sedikit menundukkan kepala agar bisa menatap Gwanaelle, dan Gwanaelle harus sedikit mendongakkan wajahnya untuk melihat orang didepannya.
"Bagaimana kau tau itu berbahaya? Dan bagaimana caramu bisa sampai ke sini?"
Jalan untuk ke lokasi pemuda itu tidak mudah untuk ditemukan. Karena jalannya yang rumit dan tidak ada jalan setapak yang mengarahkan seseorang untuk ke tempat itu. Lokasinya juga jauh dari pinggiran kota, sehingga tidak mungkin seseorang bisa melihat cahaya tadi. Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke lokasi itu.
Begitu banyak kesunyian di antara mereka. Kesunyian itu kembali menghilang saat Gwanaelle membuka mulutnya. "Aku tahu, hal seperti ini merupakan hal yang biasa untukku. Caraku sampai ke sini, aku ...." Gwanaelle kembali menutup mulutnya.
Gwanaelle merasa pria di depannya bukanlah seseorang yang berbahaya, tapi dia tidak bisa begitu saja membuka mulutnya dan menjelaskan tentang bagaimana dia bisa sampai ke tempat ini. Pemuda ini pasti akan curiga. Walau sebenarnya dari awal dia memang sudah mencurigakan, dia tidak mau menambahkan kecurigaan.
Pemuda itu sendiri tidak memaksa Gwanaelle untuk menjelaskan. Dia mengulurkan tangannya. Membuat pose ingin berjabat tangan di depan Gwanaelle.
"... Apa ini?" Gwanaelle menatap telapak tangan yang terbuka di depannya.
"Aku Daniel."
Gwanaelle mengerti, dia menjabat tangan pemuda itu. "Gwanaelle."
"Ahh ...." Daniel mengingat sesuatu. "Gwanaelle ... Gwanaelle D'archy ... jadi itu kau ya."
Alis Gwanaelle kembali berkerut. "Apa?"
__ADS_1
Daniel tertawa saat melihat ekspresi Gwanaelle. "Hei, Elle. Kau harus kurang-kurangi mengerutkan kening seperti itu. Nanti wajahmu cepat keriputan."
Gwanaelle semakin mengerutkan keningnya, bingung dengan kata-kata Daniel, seolah orang ini mengenalnya. Daniel semakin tertawa terbahak-bahak. Kini bukan hanya kerutan yang muncul di wajah Gwanaelle, tapi juga urat wajahnya.
"Kenapa kau bicara seolah mengenalku!" Gwanaelle menutup matanya kesal, berusaha menahan diri agar tidak berteriak lebih keras kepada pemuda berkepala kuning didepannya.
"Kita berada di kelas sejarah dan biologi yang sama, Elle."
"Berhenti memanggilku Elle!"
"Bukannya itu bagaimana orang-orang memanggilmu?"
"Hanya temanku yang boleh memanggilku seperti itu."
"Bukannya aku temanmu?"
Gwanaelle menggertakkan giginya dengan mata memelototi Daniel. Daniel tertawa dan berbalik untuk mengambil tasnya dan juga ember hitam berisi barang-barang seperti tali dan pisau. Daniel menyodorkan ember itu ke pelukan Gwanaelle. Gwanaelle yang melihat isi ember merasakan punggungnya dingin, wajahnya menjadi horror seolah melihat seorang pembunuh. Daniel yang melihat ekspresi Gwanaelle tertawa, lalu menjelaskan bahwa itu bukan seperti apa yang otak kecil Gwanaelle pikirkan. Itu digunakan untuk ritual tadi. Talinya digunakan untuk membuat batas di luar lingkaran.
Gwanaelle sangat ingin melemparkan ember itu ke kepala Daniel, tapi dia tidak mau menambah hutang. Lagi pula setelah sampai di luar hutan, dia tidak akan melihat pemuda ini lagi. Dia akan mentransfer uangnya saja. Jadi harus menahan diri.
Di sepanjang jalan, Daniel mengoceh tentang bagaimana Gwanaelle tidak memperhatikan seorang pria keren seperti dirinya di kelas. Lalu membuat rencana untuk mengajak Gwanaelle makan siang bersama di kantin besok. Gwanaelle yang mendengar itu langsung merinding dan ingin kabur. Bagaimanapun, ini akan menjadi terkahir kalinya dia harus mendengarkan ocehan orang ini.
Gwanaelle mengikuti Daniel dari belakang sambil memeluk ember. Sepanjang jalan Gwanaelle berpikir tentang kejadian barusan.
Daniel bisa melakukan ritual pemanggilan dan tadi itu hampir berhasil jika dirinya tidak muncul. Pasti orang ini bukan orang biasa. Apa tujuannya melakukan ritual ini? Pertanyaan ini terus mengelilingi kepala Gwanaelle. Dia ingin bertanya, tapi takut bahwa pertanyaannya ini mungkin akan mengekspos hal lain. Daniel sendiri tampaknya juga tidak bermaksud untuk membahas masalah ini lebih lanjut. Walau sedikit lega, Gwanaelle juga khawatir.
Pemuda di depannya sibuk mengoceh dan Gwanaelle sibuk dengan pikirannya sendiri. Gwanaelle menatap kepala Daniel dengan rambutnya yang melambai-lambai dibelai angin.
Cuaca malam ini ternyata cukup dingin, Gwanaelle yang tersadar baru ingat bahwa jaketnya hilang. Berpikir mungkin itu tertinggal di lokasi tadi, tapi kemudian melihat ternyata jaketnya dipakai Daniel. Dia tidak sadar karena pikirannya tadi kacau oleh situasi itu.
Gwanaelle marah-marah kepada Daniel dan meminta jaketnya kembali, mengatai Daniel tidak sopan. Tapi Daniel yang tidak punya urat malu meminta Gwanaelle untuk berhenti marah-marah dan membiarkan dia memakai jaketnya, dengan alasan udara dingin tidak baik untuk cedera pinggang. Jaket Gwanaelle adalah jaket oversize yang fashionable, cocok untuk wanita dan pria.
"Bagaimana bisa kau membiarkan seorang gadis kedinginan dan kau sendiri seorang pria berbadan besar mencuri jaket gadis itu dengan egois untuk menghangatkan diri sendiri?!" Gwanaelle menunjuk-nunjuk wajah Daniel yang tebal.
"Tenang, Elle. Aku mendukung kesetaraan gender."
"Kesetaraan gender pantatmu!"
Malam itu, hutan yang sepi menjadi agak ramai dengan suara dua orang bergaduh. Sesampainya di luar hutan. Gwanaelle meminta nomor rekening Daniel dan kontaknya. Meminta Daniel untuk mengabari berapa biaya yang harus dia bayar. Daniel kooperatif dan memberikan yang Gwanaelle minta. Tidak lupa dia mengembalikan jaket Gwanaelle. Gwanaelle masih mengatainya tidak tahu malu.
"Orang-orang akan heran, kan, jika melihat ada orang yang tiba-tiba keluar hutan dengan mengenakan jubah sekte seperti itu."
"Kalau begitu jangan dipakai!"
"Tapi aku ingin menggunakannya saat ritual, terlihat keren."
Urat di dahi Gwanaelle hampir putus. Tapi dia merasa lega saat berpikir dia akan segera berpisah dengan makhluk wajah tebal ini. Soal pertanyaan di kepalanya, bisa diurus nanti. Dia harus menyelamatkan kesehatan mentalnya dulu. Gwanaelle berpisah dengan Daniel dengan perasaan lega untuk saat ini. Dia berencana menemui Daniel lagi minggu depan untuk membicarakan hal ini.
Daniel masih berdiri di tempatnya, menatap Gwanaelle yang berjalan semakin menjauh darinya. Dari jauh Daniel bisa melihat rambut merah jahenya berkibar ditiup angin malam.
Kejadian malam ini bukan suatu hal yang bisa dia lupakan begitu saja. Seorang gadis muncul dengan tiba-tiba di lokasi Daniel berada dan dengan panik menghapus lingkaran yang dia buat. Dia tidak membicarakannya lebih lanjut karena tahu bahwa hasilnya hanya akan menjadi buruk jika diteruskan. Dilihat dari bagaimana situasi dan reaksi gadis itu. Daniel mengambil embernya dan berjalan ke arah yang berlawanan. Menghilang saat dia berbelok di balik gedung yang gelap tanpa lampu jalan.
***
Keesokan paginya saat Gwanaelle sampai kampus, Daniel sudah berdiri di sana dan menyapanya seolah mereka sudah kenal sejak lahir.
"Hai, Elle~"
__ADS_1