
"Elle." Attiene mengejar Gwenalle dari belakang. Hari ini mereka masih membawa payung. Gerimis sangat rapat. Dari langit akan tampak seperti jamur berjalanan kesana-kemari, semua orang membawa payung.
"Attie." Gwenalle menoleh dan menunggu Attiene untuk mengejarnya. "Bagaimana bukumu kemarin malam?" Mereka lanjut berjalan berdampingan.
"Boleh aku menumpang payungmu?" Attiene menutup payungnya dan bergabung dengan payung Gwenalle. "Aku sudah menyelesaikan buku itu. Pada akhirnya aku pulang pukul sepuluh malam."
"Begitu ya." Hidung Gwenalle agak memerah dan membeku ketika disentuh. "Hari ini dingin ya. Langitnya selalu ditutupi awan."
Attiene menatap wajah Gwenalle, memperhatikan hidungnya yang memerah, mengingatkannya pada rusa berhidung merah. Attiene tertawa. Gwenalle menatapnya tersenyum, kebingungan.
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa."
Dari belakang, seseorang tiba-tiba menabrak mereka. Kedua gadis itu hampir jatuh tersungkur ke depan.
"Aku numpang payung kalian ya!" Daniel tiba-tiba muncul dari belakang dan menginvasi payung mereka. Attiene segera mendorong payungnya pada Daniel.
"Ini, gunakan saja ini."
Daniel menatapnya sebentar lalu menyambar payung itu tanpa malu. "Terimakasih, Attie!"
"Y-ya..."
Gwenalle mengerutkan alisnya, "Kenapa kau tidak bawa payung?"
Daniel membuka payung milik Attie, "Payungku terbang terbawa angin dan ditabrak bus. Itu rusak."
Gwenalle: "Yang benar saja..."
Daniel: "Benar!"
Daniel berjalan melewati kedua gadis itu. "Aku akan mengembalikan payung ini nanti. Aku duluan ya!"
Begitu, Daniel pergi seperti angin ribut. Tiba-tiba suasana menjadi tenang lagi. Attiene kembali tertawa.
Gwenalle kembali heran melihat Attiene. "Sepertinya suasana hatimu hari ini baik, ya?"
"Hmm... ya, tidak buruk." Attiene melirik Gwenalle, "Kau dan Daniel teman baik ya." Ucap Attiene dengan nada iri. Matanya menatap genangan-genangan air yang mereka lalui. Merefleksikan diri mereka dengan kasar, bayangan mereka hancur oleh rintikan hujan.
Gwenalle hampir tersedak ludahnya sendiri. "Aku bahkan baru kenal dia sekitar seminggu yang lalu."
Attiene tampak terkejut, "Benarkah? Tapi kalian tampak begitu dekat."
Gwenalle menghela napas, "Itu tidak benar. Orang itu yang selalu menghampiriku."
__ADS_1
"Mungkinkah dia suka padamu?" Attiene mendekatkan wajahnya tertarik.
Gwenalle merasa mual, "Yang benar saja." Dia mempercepat langkahnya, hampir meninggalkan Attiene kehujanan.
Ruangan Sir. Joerrel pagi ini gelap, pria itu sendiri tengah duduk di kursinya menatap hujan melalui jendela kaca ruangannya. Dia tersenyum mengingat sesuatu.
Tadi malam, Joerrel dengan bosan berkeliling kota Arcadia dan tidak sengaja melihat Attiene, salah satu muridnya di kelas sejarah, memasuki sebuah perpustakaan bobrok. Joerrel yang tertarik ikut masuk ke dalam perpustakaan itu diam-diam.
Bagian dalamnya tidak sebobrok bagian luarnya, Joerrel memberi sedikit pujian di hatinya. Dia melihat Attiene menelusuri rak buku dari jauh. Dia tetap bersembunyi di titik yang tidak dapat dilihat. Matanya menatap Attiene sejenak, kemudian beralih pada buku-buku di depannya.
Tak lama kemudian dia melihat Gwenalle, gadis yang sangat dia ingat karena rambut merah jahenya. Gadis itu masuk dan mulai menelusuri buku-buku. Dia melihat Attiene menyadari kehadiran Gwenalle. Tapi Attiene pura-pura tidak melihatnya, kemudian dia mendekati Gwenalle sambil berpura-pura mencari buku, kemudian secara tidak sengaja tangan mereka bersentuhan. Joerrel hampir tertawa terbahak-bahak melihat itu.
Setelah itu dia melihat ke dua gadis itu berbincang-bincang di salah satu meja. Mereka tampak menjadi dekat. Joerrel menatap mereka dengan tertarik, dan berakhir di sana untuk waktu yang cukup lama, berdiam diri, mengawasi mereka.
Dia menatap Attiene yang tampak tertarik, kemudian tertawa, lalu mengerutkan alisnya ketika berbicara dengan Gwenalle. Menarik.
Selain berprofesi sebagai dosen, Joerrel juga ahli dalam stalking. Dia berdiam diri di sana mengawasi ke dua gadis itu hingga mereka pulang. Tapi hanya Gwenalle yang pulang, Attiene masih duduk di sana membaca bukunya.
Setelah Gwenalle meninggalkan perpustakaan, sesuatu muncil di kepala Joerrel. Dia berjelan ke salah syau rak buku tidak berlampu, lalu dengan sengaja menjatuhkan salah satu buku. Itu menarik perhatian Attiene. Attiene menolehkan kepalanya, mencoba melihat asal suara. Tapi kemudian kembali membaca bukunya. Jadi Joerrel membuat suara yang lebih keras dengan menjatuhkan beberapa buku sekaligus. Suaranya keras hingga Attiene memutuskan untuk berdiri dan mendatanginya. Joerrel tersenyum puas.
Saat Attiene berusaha melihat apa yang membuat buku-buku itu jatuh. Joerrel yang berdiri di dalam kegelapan menyapukan tangannya seolah mengusir lalat, tapi sapuan itu menghasilakan angin kencang dan menjatuh semua buku di rak seperti domino ke arah Attiene. Attiene yang melihat itu tampak kebingungan. Gadis itu mengerutkan alisnya dan memutuskan untuk meninggalkan perpustakaan.
Joerrel kecewa. Dia mengharapkan Attiene melakukan sesuatu, tapi malah pergi begitu saja. Gadis itu kemungkinan sudah tahu apa yang sedang terjadi.
Tok, Tok.
Daniel menatap ruangan itu seperti sakit mata.
"Ya ampun, Sir. Kenapa ruangan ini gelap sekali?"
Joerrel masih hanya duduk diam di sana menatap Daniel.
Daniel melanjutkan, "Aku yakin tidak sedang mati listrik." Daniel mencari-cari saklar lampu di dinding. Suasana menjadi awkward karena dia tak kunjung menemukan saklar lampu dan Sir. Joerrel hanya tetap duduk menatapnya di sana.
Joerrel berdiri dan berjalan ke arahnya. Dia menjulurkan tangannya dan memencet sesuatu, seketika ruangan itu menjadi terang benderang. Daniel menyipitkan matanya untuk beradaptasi dengan perubahan cahaya yang tiba-tiba ini.
Joerrel tadi sedikit membuat Daniel merinding. Seorang pria yang duduk di tengah ruangan gelap, duduk diam menatapnya. Dahi Daniel berkeringat dan hatinya tak tenang. Tapi sekarang dia bisa melihat dengan jelas sosok pria itu. Wajahnya kalem menatap Daniel, masih berdiri di depannya.
"Ada apa?" Tanya Joerrel.
Daniel lupa apa tujuannya pergi ke kantor Joerrel, wajahnya tampak bodoh. "Ah... yaampun, Sir. aku lupa tadi kesini mau ngapain."
Joerrel tertawa, "Apa yang kau khawatirkan sampai bisa lupa begitu?"
Daniel ikut tertawa dan menggaruk kepalanya. "Maaf, Sir. Kalau begitu aku akan kembali setelah ingat apa yang mau kusampaikan tadi."
__ADS_1
Joerrel menahannya, "Tunggu. Ayo duduk dulu."
Ruangan itu masih sama seperti kemarin. Terasa nyaman. Tapi saat gelap, ruangan ini memberikan kesan yang menyeramkan. Belum lagi ditambah seseorang duduk di sana seperti hantu mengawasi manusia.
Daniel tidak menyangka dia akan dibuatkan teh oleh Sir. Joerrel. Dosen muda itu membawa dua cangkir porselen di tangannya. Asap hangat mengepul dari dalam gelas itu.
"Yaampun, Sir. Anda tadi bisa menyuruhku saja untuk membuat teh, ha ha ha. Tidak perlu repot-repot begini." Daniel dengan sibuk membantu meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja kaca hitam.
Joerrel duduk di sebrang meja. Mengangkat cangkir ke bibirnya, cangkir itu berdiam sebentar di sana kemudian di letakkan kembali.
Daniel ikut meminum tehnya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik, Daniel?"
Daniel hampir menyemburkan tehnya. "Y-ya, Sir..."
"Ah, hati-hati, itu panas." Joerrel berdiri untuk mengambil tisu. "Apa kau baik-baik saja?" Tisu itu untuk mengelap air teh di meja. Daniel meminta tisu dan mengelap mulutnya.
"Ya, Sir."
Joerrel kembali duduk. "Nah, apa sekarang kau sudah ingat apa yang ingin dibicarakan denganku?"
Semua basa-basi dan siksaan ini membuat otak Daniel kembali memutar mesin roda kerjanya. "Ya, Sir."
Daniel merogoh tas hijau armynya. Mengeluarkan sebuah buku besar dan meletakkannya di atas meja.
Joerrel mengerutkan dahinya melihat buku tua itu.
"Ini?"
Di luar. Gwenalle dan Attiene mencapai lorong kampus. Mereka menutup payung dan mengeringkan diri. Untungnya udara di lorong terasa hangat. Mereka berjalan ke kelas.
Di dalam ruangan sudah ramai, bangku-bangku telah terisi oleh mahasiswa. Kelas itu berisik seperti penggorengan.
"Hei, bukankah tadi Daniel jalan duluan? Kenapa dia belum ada di kelas?" Mata Gwenalle menelusuri bangku-bangku.
Attiene: "Hmm... mungkin dia harus mampir ke kamar mandi dulu?"
Kembali ke kantor Joerrel.
"Bagaimana bisa kau memiliki buku tua ini?" Joerrel berdiri dengan tiba-tiba. Dia menutupi mulutnya dan mengerutkan alis.
Daniel menatapnya. Menyelidiki reaksinya.
"Anda tahu buku ini Sir." Daniel tersenyum.
__ADS_1
Tentu saja Joerrel tahu. Buku yang dikabarkan hanya sebuah legenda dan sangat berharga. Menyimpan berbagai informasi mengenai alam semesta dan mahkluknya. Bagaimana bisa seorang pemuda seperti Daniel memilikinya?
Joerrel menatap tajam Daniel. Daniel balik menatapnya.