
"Kenapa membawa buku ini kemari?"
Daniel menutup buku tuanya. "Topik yang Anda bawa di kelas sejarah kemarin sangat menarik. Saya kira kita bisa mendiskusikan hal itu dengan membawa buku ini."
Joerrel mengusap dagunya. Merasa tertarik. "Dari mana kau mendapatkan buku ini?"
"Ini diberikan oleh kakekku."
Tentu saja itu bohong. Daniel bahkan tidak pernah mengenal kakeknya.
Joerrel masih diam, menunggu Daniel untuk melanjutkan.
"Dia mendapatkan buku ini dari ekspedisi yang pernah dia lakukan di masa mudanya bersama para timnya. Dia pergi ke berbagai belahan dunia demi mendapatkan buku ini."
Joerrel berdiri dari kursinya dan pergi ke meja. Menyeduh dua cangkir teh kemudian membawa salah satunya ke hadapan Daniel. Daniel meminum teh itu lalu melanjutkan ceritanya.
"Di akhir hidupnya, dia berpesan pada keluarganya untuk menjaga buku ini dengan baik. Maka itu dia lebih memilih membiarkan kami yang menyimpannya dari pada di serahkan ke museum."
Joerrel mengangguk. "Kalau begitu, apa yang ingin kau ketahui dari buku ini?"
Daniel: "Mengenai iblis dan malaikat. Gabungan kedua kekuatan yang dikatakan menentang kebijakan alam semesta."
Joerrel menatap tajam Daniel. Hal ini kemungkinan ada diceritakan di dalam buku. Tapi sangat jarang dibicarakan. Keberadaan dari gabungan kedua kekuatan itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Untuk apa Daniel menanyakan hal ini?
"Ahh, kenapa kau ingin tahu tentang hal ini Daniel?"
"Randomly hanya karena aku tertarik, Sir. Ha ha ha."
Joerrel menopang dagunya. "Sepertinya isi buku ini sangat menarikmu ya. Sayangnya aku sama sekali tidak tahu tentang hal ini."
Daniel kecewa, dia menghela napas. Mungkin wajar saja jika Joerrel tidak tahu. Lagi pula tidak pernah ada yang membicarakan hal ini selama seratus tahun. Mungkin orang-orang sudah melupakannya dan tenggelam.
"Sayang sekali... tapi hal ini memang tidak pernah ada yang membahasnya pasti akan sangat sulit untuk dicari tahu. Bukan begitu, Sir?"
"Hm, benar." Joerrel menyeruput tehnya kemudian melanjutkan, "Apa hanya itu yang ingin kau tahu?"
Daniel terdiam sebentar. Tampak berpikir. Apakah ada hal lain yang ingin Daniel tahu?
Setelah beberapa menit, dia masih diam. Lalu tiba-tiba menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sir. Kurasa hanya itu saja."
Joerrel mengangguk.
Daniel bangkit dan memasukkan kembali buku tua itu ke dalam tasnya. Tapi kemudian dia duduk lagi, menyambar cangkir teh dan meminumnya hingga habis.
"Terimakasih tehnya, Sir. Joerrel!"
Joerrel berdiri, "Tidak masalah."
"Kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih atas waktu Anda."
Pintu tertutup, meninggalkan Joerrel di dalam kembali sendirian.
Dia ingat seseorang yang sangat dia kagumi. Orang itu pasti mengetahui banyak hal tentang ini. Tapi Joerrel tidak bisa begitu saja mengatakan hal ini pada Daniel tanpa seizin orang tersebut.
Orang yang agak gila, suka mengurung dirinya di lab yang penuh buku. Pria tua itu, walau umurnya sudah lewat setengah abad, penampilannya masih tampak muda. Dia juga memiliki seorang anak perempuan. Yang kemarin malam dia ganggu.
Attiene.
Di dalam sebuah ruangan klub. Attiene mengikuti Gwenalle untuk membantu aktivitasnya. Gwenalle dengan senang hati mengizinkannya untuk membantu.
"Harus kutaruh di mana kotak ini?" Attiene tampak kesusahan saat mengangkat kotak perkakas di pelukannya.
"Letakkan saja di samping lemari." Attiene sedang memilah buku-buku usang. Mana yang masih layak untuk dibaca.
Bukunya sebagian sudah habis di makan rayap. Sebagian menguning karena terkena tetesan air. Itu juga mengeluarkan aroma buku tua yang tidak terawat.
Bersama beberapa anggota klub lainnya, mereka membersihkan ruangan di gedung selatan yang tidak pernah digunakan. Berencana untuk mengubah ruangan itu untuk aktivitas klub organisasi.
__ADS_1
"Gwenalle, kamu sangat keren..."
Gwenalle menoleh pada Attiene. "Hah, kenapa?"
"Aku tidak pernah ikut hal-hal seperti ini sebelumnya..."
Gwenalle, "Dan menurutmu ini keren?"
Attiene mengangguk.
"Kau sendiri tidak mengikuti kegiatan apapun di universitasmu yang sebelumnya?"
Attiene menggelengkan kepala.
"Ahh, biar kutebak itu berarti kau tipe mahasiswa kupu-kupu ya?"
Attiene menelengkan kepalanya. Bingung. "Kupu-kupu...?"
Gwenalle tertawa, dia mengangkat buku yang telah disortir ke atas meja.
"Kuliah pulang - kuliah pulang. Itu sebuah singkatan. Artinya, seseorang ke kampus hanya untuk mengikuti mata pelajaran dan tidak melakukan hal lain. Yah, tapi itu bukan hal buruk kok. Tidak perlu merasa buruk, Attie."
Attiene: "Tetap saja... kamu bisa bertemu begitu banyak orang dan membuat teman..."
Gwenalle: "Mulai sekarang kamu juga bisa melakukannya. Bukankah benar begitu?"
Attiene: "Aku tidak terlalu pintar dalam bersosialisasi. Kau tahu..."
"Hmm... kurasa kau tidak seburuk itu. Lihat kita, berkat kau kita menjadi teman sekarang."
Wajah Attiene memerah, dia menutupi wajahnya. "Itu tidak benar! Itu karena Elle adalah orang yang baik. Jadi aku..."
Gwenalle tertawa.
Braak!
Semua orang melihat ke satu arah. Daniel berdiri di depan pintu itu.
Dimana ada Daniel, di situ ada keributan.
Sekarang kata-kata ini sudah tertanam di kepala Gwenalle dengan baik.
"Kau harus mengganti pintu itu jika rusak." Gwenalle menggeser kotak yang ada di belakang pintu dan mengecek apakah buku di dalamnya rusak.
"Baiklah!" Daniel masuk dan meletakkan tasnya di atas meja. "Apa yang sedang kalian lakukan?"
Gwenalle: "Apa yang sedang kau lakukan?"
Daniel menelengkan kepalanya, bingung. "Tentu saja untuk menemui teman-temanku."
Wajah Gwenalle terdistorsi mendengar pernyataan itu. Attiene tersenyum.
"Daniel, kenapa kamu tadi melewatkan kelas?"
"Kelas apa?" Daniel menggaruk kepalanya.
Gwenalle menggelengkan kepalanya dan menghelas napas.
"Biologi..."
Daniel menepuk tangannya. "Ah... aku lupa, ha ha ha."
"Karena kau sudah di sini. Bisa tolong bantu kami bawakan kotak-kotak ini ke gudang, Daniel?" Gwenalle menyerahkan sekotak penuh buku ke dalam pelukan Daniel. Daniel menerima kotak itu dengan senang hati. Buku-buku ini bukanlah masalah, ototnya bisa mengatasinya.
Anggota klub itu seperti lebah pekerja, kesana-kemari membawa kotak dan benda-benda yang sudah tak terpakai ke dalam gudang. Hingga empat jam kemudian, ruangan itu telah bersih dan rapi. Beberapa anggota yang tersisa akan mengepal ruangannya. Jadi mereka mengusir yang lain untuk keluar.
Gwenalle, Attiene, dan Daniel pergi ke kantin. Menghabiskan pagi hingga sore menjadi lebih pekerja membuat mereka dehidrasi dan kelaparan.
__ADS_1
Daniel dengan lelah duduk di kursi kantin. Diikuti Gwenalle dan Attiene yang duduk di seberang Daniel.
Mereka memesan makanan dan minuman. Makan dengan lahap seolah telah tiga hari tidak diberi makan.
Ditengah makan itu, Daniel berkomentar, "Sejak kapan kalian menjadi sangat lengket seperti ini?"
Attiene tersedak. "Ah... apa maksudmu?"
"Apa kalian sudah menjadi bestie?"
Gwenalle meminum jusnya. "Hm, ya."
Wajah Attiene memerah. Daniel yang melihat itu ingin mengganggunya. "Ah! Lihat itu, kau membuat Attie malu, ckckck."
Gwenalle menatap Daniel tajam. "Apa maksudmu? Dia malu berteman denganku?"
Daniel tertawa terbahak-bahak hingga terjatuh dari bangkunya.
Attiene tampak panik dan menegang lengan Gwenalle. "I-itu tidak benar! Aku... aku sangat senang bisa berteman denganmu kok!"
Wajah Daniel memerah karena tertawa, dia kembali mengunyah makanannya dengan sedikit tawa.
"Bukankah Daniel juga sekarang temanku dan Gwenalle?" Ucap Attiene dengan suara yang sangat kecil hingga sulit terdengar. Untungnya Gwenalle yang duduk di sebelah Attiene bisa mendengarnya dengan baik. Daniel yang duduk di seberang samar-samar mendengar Attiene mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu apa itu, jadi dia bertanya.
"Dia bilang, bukankah kau sekarang juga teman kami."Gwenalle menyampaikan, kemudian kembali mengoreksi, "Itu Attie yang bilang."
"Wow, Attie, kamu ini benar-benar gadis yang baik dan imut. Gwenalle, kamu harus mencontoh Attiene. Ha ha ha."
Gwenalle pura-pura tidak mendengar.
Attiene menyelesaikan makanannya dan membawa kembali nampan makannya. Dia kembali untuk pamit kepada Gwenalle dan Daniel karena dia tiba-tiba harus pergi karena ada urusan. Mereka pun berpisah di sana, meninggalkan Gwenalle dan Daniel.
Untuk beberapa menit, tidak ada percakapan di antara mereka. Mereka hanya fokus untuk mengunyah makanan. Tapi diam-diam saling waspada. Siapa yang akan membuka mulutnya duluan? Dan apa yang akan dikatakan? Itu membuat suasana menjadi sedikit tegang.
Tapi Daniel tetaplah Daniel. Dia membuka mulutnya duluan.
"Aku tahu dirimu."
Gwenalle hampir tersedak mendengar itu. "Apa?"
"Tapi kau tidak perlu khawatir, Gwenaelle. Aku tidak memiliki maksud apapun." Baru kali ini Gwenalle mendengar nada bicara Daniel yang terdengar normal dan serius, kulitnya merinding. Biasanya caranya biacara selalu terdengar agak kocak. Dipenuhi canda.
Gwenalle masih diam, beberapa kali melirik Daniel. Lalu dia membuka mulut. "Baiklah?"
"Jadi kau mengakuinya ya? He he."
Gwenalle menyesal. Karena Daniel tadi terlihat sangat serius, dia jadi ikut terbawa suasana.
"Maaf, tapi aku serius. Aku hanya ingin membantumu, itu saja."
Kali ini Gwenaelle terdiam, hanya fokus menyendokkan makanannya ke dalam mulut.
Daniel: "Aku tidak tahu kau ini termasuk yang jenis apa, tapi yang pasti kau..."
Gwenalle mengangkat wajahnya dan menatap Daniel. Gwenalle tertawa, tidak tampak kesal sama sekali. "Jenis..." Gwenalle tertawa mendengar kata itu. "Kau kira aku ini semacam spesies?"
Daniel: "Hmmm, bisa dikatakan begitu, kan? Atau lebih tepatnya ras?"
Gwenalle merasa itu sangat lucu, dia jadi teringat anjing milik temannya. Temannya sering me-mention ras anjingnya. Walau Gwenaelle mengerti apa yang dimaksud Daniel, dia hanya merasa lucu karena teringat hal ini.
Daniel ikut tertawa.
"Tidak perlu sungkan. Aku serius..." Daniel menatap Gwenalle, tidak ada candaan di wajahnya. Gwenalle yang sekali lagi melihat itu merinding. Daniel versi serius agak membuatnya ingin mundur. Gwenalle memalingkan wajah.
Daniel melanjutkan, "Aku tidak tahu sebanyak apa kau tahu tentang dunia di luar manusia, mungkin kau lebih tahu banyak. Tapi aku sendiri juga percaya diri bahwa aku memiliki banyak pengetahuan tentang itu. Kita bisa mendiskusikannya dan aku akan berusaha membantumu."
Gwenalle meletakkan sendoknya. "Kenapa kau ingin membantuku?"
__ADS_1