Aletheia : Mengikuti Kilauan Sang Buih

Aletheia : Mengikuti Kilauan Sang Buih
BAB III


__ADS_3

Kota tanpa penghuni adalah legenda yang berasal dari wilayah barat ibukota. Legenda ini dikisahkan dalam sebuah buku berbahasa kuno yang bercerita tentang sebuah tempat yang memiliki infrastruktur modern, namun tak ada seorangpun yang hidup di kota itu.


Sangat tidak masuk akal saat kota yang terlihat sangat modern itu justru tidak memiliki penghuni. Karena itu semua orang menganggap legenda ini sebagai omong kosong yang diceritakan oleh seseorang yang sedang dalam keadaan tidak sadar.


"Wow, ini lucu." Celetuk seorang gadis ber-iris Amethyst dengan nada datar.


Gadis itu lantas menutup buku bersampul polos yang baru saja dibacanya dengan kasar. Baginya tempat-tempat seperti itu adalah mungkin untuk mereka benar-benar ada. Mungkin saja ada orang modern yang membangun infrastruktur di kota itu, namun karena membutuhkan biaya dan waktu yang banyak orang itu memilih meninggalkan kota itu.


Hal itu tidaklah mustahil bukan? Satu atau dua pendapat bisa saja dikesampingkan tapi bisa juga tidak. Karena di dunia yang begitu luas ini, ada banyak tempat yang belum diketahui secara teori tentang keberadaannya.


Gadis itu berdiri, ia berjalan ke arah rak buku yang berada di sebelah kanan darinya duduk. Ia berjalan menelusuri rak itu, berharap menemukan sesuatu yang 'layak' untuk dibaca.


Langkah kecilnya berhenti setelah iris Amethyst itu menangkap buku yang menarik perhatiannya. Diambilnya buku bersampul merah maroon itu dari sesaknya ruang dalam rak buku.


Ia membaca judul yang tertera di sampul bukunya yang tertulis dalam bahasa Jerman.


'Geschichte'


Ia mengerutkan keningnya, dirinya merasa tidak pernah membeli buku itu. Untuk apa ia belajar soal sejarah? Terlebih itu dalam bahasa Jerman? Tidak masuk akal.


Ingin mengabaikannya, namun tangannya bergerak membuka buku itu, lembar demi lembar ia telusuri dengan lembut. Layaknya sebuah seni yang harus diperlakukan dengan baik.


Gerakannya terhenti saat saat membaca sebuah nama yang tak asing, 'Attienne'. Diikuti sebuah kalimat yang ia tidak mengerti apa maksudnya.


"Kenapa namaku…?"


Benar, Attienne atau lebih lengkapnya Lettarialzy Attienne adalah nama dari gadis pemilik iris Amethyst itu.


Saat Attienne tengah mencoba memahami kalimat yang mengikuti namanya, sebuah ketukan membuyarkan lamunannya. Ia menoleh cemas, dan bergegas meletakkan buku itu ke tempat asalnya.


"Anne, berkemaslah sekarang." Ujar suara dingin yang mengikuti pintu yang terbuka.


Seorang pria paruh baya dengan iris ruby yang mengintimidasi dan surai perak panjangnya yang tertata rapi, masuk dengan kalimat yang membingungkan.


Attienne menatap pria itu bingung, "Apa maksud anda dengan berkemas, Ayah?"


Michael Arrendo, pria yang dipanggil ayah itu menatap Attienne dingin. "Jangan membantah. Lakukan apa yang aku katakan." Cecarnya dingin.


"Tapi, untuk apa saya harus berkemas?"


"Kau akan pergi dari sini." Michael berjalan menatap buku-buku yang tersusun rapi.


Attienne semakin tak mengerti dengan ucapan ayahnya itu, lantas kembali bertanya. "Kenapa saya harus pergi?"

__ADS_1


Michael tak menjawab pertanyaan itu, ia malah berjalan semakin dalam menelusuri ruangan yang digunakan putrinya itu. Iris ruby nya menatap datar botol-botol kaca berbentuk tabung kecil yang tersusun rapi didalam lemari kaca besar yang berada di sudut ruangan.


"Kau masih menyimpan benda menjijikan ini." Ujar Michael remeh, tanpa mempedulikan pertanyaan putrinya itu.


"Ayah." Suara Attienne terdengar datar.


Masih dengan tatapannya yang mengarah pada lemari besar itu, Michael kembali membuka suara. "Anne. Terkadang kau harus mengerti bahwa membuka mulutmu untuk mempertanyakan sebuah perintah adalah sikap yang buruk." Ujarnya menatap bayangan Attienne dari pantulan kaca lemari dengan tajam.


Attienne terkekeh hambar. "Tidak Ayah. Mempertanyakan sesuatu bukanlah sikap yang buruk. Malahan ayah yang menyembunyikan sesuatu hal yang seharusnya saya ketahui, adalah sikap yang buruk." Attienne tidak ingin kalah dari ayahnya.


Michael tersenyum miring mendengarnya. "Hal yang seharusnya kamu ketahui? Jangan bercanda. Tidak ada hal yang perlu kamu ketahui." Ujarnya meremehkan Attienne.


Attienne menatap itu lelah, ayahnya akan tetap seperti itu apapun yang ia lakukan. "Ayah sendiri tau kan, serapat apapun ayah menyembunyikan sebuah bangkai, yang namanya bangkai tetaplah menimbulkan bau yang menyengat."


Michael menoleh menatap putrinya yang semakin kurang ajar setiap harinya. "Kau tak akan bisa mencium bau apapun saat kau tertidur."


Tak ingin berdebat lagi dengan ayahnya, Attienne bergerak untuk mengemasi barang-barang yang akan ia bawa. Tapi, sebentar. Kemana ia akan pergi?


"Ayah, kotanya…"


"Arcadia, sebuah kota pinggiran."


Mendengar itu Attienne menatap ayahnya tak percaya. "Ayah, kota itu–" ucapannya terhenti saat ia mendapatkan tatapan yang amat tajam dari ayahnya itu. Tatapan yang sangat ia benci.


Michael berjalan ke arah pintu, namun langkahnya terhenti dan ia berbalik menatap putrinya. "Satu lagi,"


Attienne dengan sigap menangkap benda itu, ia melihatnya penasaran. Saat tau apa itu Attienne menatap ayahnya malas.


"Ayah melakukannya lagi?"


Michael mengangkat bahunya acuh, ia melanjutkan langkahnya yang sebelumnya tertunda.


Setelah pintu ditutup, Attienne mengamati benda yang diberikan ayahnya. Sebuah tabung kaca kecil berisi cairan berwarna merah. Ia berjalan ke arah lemari besar yang menjadi tempat ayahnya berada beberapa saat lalu.


"Apa ini hadiah perpisahan? Dasar ayah bodoh."


✯✯✯


Aku tau, cepat atau lambat aku akan meninggalkan Algeria. Tapi aku tidak berharap akan meninggalkan Algeria ke kota yang sangat aku hindari, Arcadia.


Arcadia adalah satu dari sekian kota yang tidak akan aku datangi untuk kedua kalinya. Aku sangat membenci Arcadia, karena udara sejuk di Arcadia memiliki bau yang sangat manis.


Mungkin bagi banyak orang, udara sejuk di Arcadia itu menyenangkan. Tapi bagiku, udara berbau manis itu benar benar menjijikan. Terakhir kali aku pergi ke Arcadia adalah 5 tahun lalu, saat aku mengikuti ayah untuk melakukan penelitian di kota pinggiran itu.

__ADS_1


Dan saat itu juga, aku berpikir kalau aku tidak akan pernah datang ke Arcadia lagi. Udara yang sejuk namun berbau manis, perjalanan yang membutuhkan waktu yang lama, hahh... itu tidak menyenangkan sekali.


Tapi sekarang, seakan mendapatkan karma. Aku justru berakhir di tempat ini lagi, Arcadia yang manis. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan selama 2 hari penuh, akhirnya aku sampai ditempat ini. Arcadia, tempat yang akan aku tinggali beberapa tahun kedepan.


Menyedihkan sekali aku harus berakhir ditempat yang bahkan tidak cocok untuk ku. Hm, tapi ini masih lebih baik daripada harus bersama pria tua itu.


"Bukankah kampus ini cukup menarik?"


Aku bergumam seperti orang bodoh, ditengah hujan deras ini ada banyak hal yang aku sadari. Bahwa Arcadia itu, benar-benar tidak cocok untukku!


Aku mengerutkan kening, mengapa bau manis ini semakin menyengat saat hujan turun? Rasanya aku ingin pergi dari tempat ini saat ini juga!


"Sial! Apa-apaan dengan bau manis ini?" Kesalku seraya menutup hidung.


Aku tidak mengerti kenapa semua orang bisa bersikap biasa saja dengan bau manis kota ini. Tidak, mungkin aku sendiri sudah mengetahui jawabannya. Aku pikir aku hanya perlu menahannya. Yah, untuk beberapa tahun kedepan tentunya.


Ngomong-ngomong, kampus kali ini cukup menarik. Berbeda dengan kampus-kampus yang sudah pernah aku tempati, kampus ini terasa menyenangkan namun itu bukan sebuah kesenangan melainkan keganjilan yang tersamarkan.


Atau bisa saja hanya perasaanku.


✯✯✯


Attienne melangkah semakin jauh ke dalam gedung universitas itu, sembari menatap sekelilingnya hanya untuk mengalihkan rasa tidak nyaman akan bau manis yang ia cium.


Mata indahnya yang bergerilya kesana kemari, tak sengaja menangkap pemandangan yang menurutnya sangat menarik. Pemandangan seorang gadis dan seorang pemuda yang terlihat tengah bercengkrama akrab, meski raut sang gadis terlihat tidak suka.


Gadis yang terlihat terganggu dan pemuda yang gencar menjahilinya, merupakan pemandangan yang cukup manis dan juga lucu.


Namun, bukan hal itu yang membuat Attienne tertarik berlama-lama menatap keduanya. Attienne justru terfokus pada rambut sang gadis yang memiliki warna unik, yaitu merah jahe. Bagi Attienne yang tinggal di kota pelabuhan yang mana penduduknya rata-rata berambut hitam atau coklat, tentu itu adalah pemandangan yang menakjubkan.


Ahh, meskipun demikian, ada hal lain selain rambut itu yang membuat Attienne semakin memfokuskan tatapannya pada dua orang itu.


"Hmm, pemuda itu…" gumaman Attienne terhenti sesaat, digantikan dengan seringaian puas yang ia tunjukkan.


"Dia cukup menarik, untuk seukuran manusia." Kekehnya pelan.


Lalu tatapannya beralih pada gadis di hadapan pemuda itu, berbeda dengan reaksi Attienne yang menatap pemuda itu, kau ini tatapannya justru terlihat sangat tajam.


"Gadis itu, benar-benar hal yang buruk." Ujarnya tanpa ekspresi. Ia mengerutkan keningnya dalam seakan menimang ucapannya barusan ia tersenyum lirih. "Hmm.. bisa juga menjadi hal yang bagus." Lanjutnya menatap tajam gadis berambut merah jahe itu.


Tatapan mata Attienne terus mengikuti setiap pergerakan dari kedua orang yang tengah bercengkrama itu, seakan mencari tempat dimana celah kecil itu muncul. Celah yang bisa ia gunakan untuk bisa mengetahui tentang dua orang itu.


Saat menemukan celah itu, Attienne tersenyum miring. Ia merasa seperti tengah memenangkan sebuah lotre, "Dapat!" Ujarnya puas.

__ADS_1


Attienne kemudian berjalan pergi mengabaikan kedua orang itu, setelah ia mendapatkan apa yang ia mau. Yah, untuk sekarang celah kecil itu sudah cukup untuk mencapai tujuan kecilnya. Untuk alasan keberadaan dirinya, akan ia urus nanti saat ia sudah lebih terbiasa dengan bau manis Arcadia.


"Oh, Arcadia yang manis!" Gumamnya datar.


__ADS_2